Restoran Khusus Tofu Tidak Terbatas Vegetarian

Tempo hari, saya diundang makan malam bersama oleh suatu kumpulan volunteer yang peduli orang asing di Nagoya. Sebagai mahasiswa asing, acara-acara seperti ini sering sekali saya ikuti. Pada waktu itu, karena yang diundang dari berbagai negara, Restoran Khusus Tofu ini dijadikan tempat pertemuannya, mengingat tidak semua orang asing bisa mengkonsumsi daging babi atau pun daging sapi.

Kalau diterjemahkan secara bebas, di kertas undangan tercantum Acara Silaturrahim antara mahasiswa asing dan orang-orang Nagoya. Tercantum juga angka nominal 500 Yen untuk mahasiswa asing dan 2500 Yen untuk selain mahasiswa asing. Kalau dipikir, aneh ya, diundang kok tetap suruh bayar. Itulah kebiasaan mereka, tidak ada yang gratis dan semuanya serba pas. Oleh karena itu, seminggu sebelum hari H-nya si penerima undangan harus memastikan bisa datang atau tidak kepada penyelenggara, untuk keperluan booking tempat. Bagi saya hal ini baik, paling tidak, kemubaziran akibat makanan tersisa yang over order bisa dihindari. Karena itu tidak ada acara bungkus membungkus seperti halnya di Indonesia. Sebetulnya hal itu baik juga sih, karena ada tujuan untuk mempererat kekeluargaan. Saya pikir, ada plus minusnya tergantung sikon.

Tempat pertemuan di Restoran Khusus Menu Tahu 豆腐レストラン専門店 Tofu Resutoran Senmonten ini yang  menjadikan ringan langkah kaki saya untuk memenuhi undangan itu. Tentu saja, siapa yang tidak akan memanfaatkan momen ini, karena biasanya untuk bisa makan dengan jamuan makan lengkap seperti ini, harus mengeluarkan kocek lebih dari 2000 Yen.

町家膳のイメージ

Sumber; http://www.tousuiro.com
Bisa dicontohkan, Menu Lengkap seperti di atas ini harganya 2.205 Yen. Kecuali acar dan nasi, semuanya berbahan dasar tahu, termasuk juga makanan penutupnya. Contoh Menunya, antara lain seperti berikut.

Sumber:  http://ja.wikipedia.org

Gambar kiri, miso shiru sup miso. Gambar tengah, miso dengaku seperti nugget tahu yang dibakar. Gambar kanan hiyayakko tahu dingin dengan topping jahe parut halus, irisan daun bawang dan serutan ikan katsuo kering.

Restoran-restoran semacam ini mulai dari dulu punya kelas tersendiri di kalangan masyarakat Jepang, terutama bagi penganut vegetarian. Tetapi, karena disajikan secara cantik, penataan ruang yang apik, dan tempat yang strategis, tidak hanya kaum vegetarian saja yang mengunjunginya, sampai saya yang orang asing dan bukan vegetarian pun menjadi ketagihan. Cuman karena harganya, untuk mengeluarkan Yen makan di restoran seperti itu, masih mikir mikir. Untuk itu biasanya dengan membeli bahan dasarnya di supermarket dekat apartement, saya membuatnya sendiri. Karena memang saya dan suami, walaupun belum sepenuhnya menjadi vegetarian, setidaknya sudah mempunyai niatan ke arah sana.
Japanese SilkyTofu (Kinugoshi Tofu).JPG

Sumber: http://ja.wikipedia.org

Gambar di atas, adalah contoh 3 jenis tahu yang banyak dijual dan sering saya memasaknya untuk sehari-hari. Gambar kiri, kinu tofu tahu sutra yang tidak bisa digoreng, biasanya dimasukkan sup atau dimakan begitu saja dalam keadaan dingin dengan topping daun bawang dan kecap asin shoyu. Gambar tengah, abura age tahu goreng tipis, untuk masakan tumis atau oseng. Gambar kanan, age tofu tahu goreng tebal, jenis ini yang biasa saya beli,  kalau pas pengen makan tahu petis. Selain contoh di atas, masih ada berpuluh lagi jenis tahu. Saya pikir, cukuplah tahu ini bisa menghibur hati,  jika mengingat tempe yang susah didapat dan jangan tanya tentang harganya, karena masih harus ditambah dengan ongkos kirim atau ongkos kereta.

木屋町本店 店頭の写真 祇園店 店頭の写真

Sumber: Sumber; http://www.tousuiro.com

Gambar  restoran ini contoh dari Restoran Khusus Tofu di Kyoto. Kalau sudah bicara Kyoto, selain menjadi pusat wisata, terkenal juga sebagai surga para vegetarian dari belahan dunia lain. Mungkin karena Kyoto menjadi pusat agama Budha di Jepang, pada  awal abad ke 5. Karena ada pantangan untuk memakan hewan berkaki 4 bagi para Biksu, dengan begitu makanan seperti tofu yang berasal dari negeri Cina ini, menjadi tren pada jaman itu. Dan ternya kepopulerannya tidak lekang oleh waktu, dan menyebar ke daerah-daerah lain. Berawal dari tofu ini, saya berharap menjadi vegetarian yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s