Trik Menghadapi “Kejujuran” Mahasiswa Jepang

Saat ini saya juga sedang membuat soal Ujian Akhir Semester sebuah mata kuliah di universitas swasta cukup ternama di wilayah Jepang Tengah. Universitas ini satu-satunya yang menyelenggarakan perkuliahan Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Program untuk mahasiswa semester 1 dan 2 Jurusan Studi Asia.

Setiap kali membuat soal ujian, angan ini melayang begitu saja pada Indonesiaku tercinta. Di negara kita, pada setiap tahunnya bisa dipastikan selalu merebak berita yang tidak mengenakkan berkenaan dengan penerimaan siswa pada jenjang apa pun. Berita tentang ketidak jujuran mengerjakan soal ujian, berita joki, berita jual beli soal, dan lainnya. Membuat hati ini miris, seberapa tinggi kita memandang sebuah kejujuran itu.

Sekarang saya akan cerita tentang kejujuran itu. Tantangan saat saya membuat soal ujian adalah, bagaimana soal ini kembali ketangan dalam keadaan terisi jawaban. Kenapa begitu?? Para mahasiswa itu punya kecenderungan mengosongkan jawaban jika merasa tidak bisa mengerjakan soal ujian tersebut. Jadi mereka akan menghabiskan waktu ujian dengan tidur, sampai jam ujian berakhir. Dan tidak merasa segan mengumpulkan kertas ujian dalam keadaan kosong melompong.

Untuk menghindari hal ini, beberapa cara sudah saya lakukan. Misalnya dengan memberitahukan soal ujian ini sebelum waktunya. Kemudian pada tatap muka terakhir, ada waktu konsultasi bagaimana cara mengerjakan soal itu. Mahasiswa yang rajin, pasti akan menggunakan waktu konsultasi itu dengan baik, sehingga waktunya mengerjakan UAS, mereka seaakan tinggal menulis ulang. Supaya terkesan seperti UAS beneran, saya menyediakan jumlah soal lebih banyak, dan mahasiswa bebas memilih sesuai dengan yang sudah mereka siapkan. Dengan cara ini, tidak diketemukan selembar pun kertas jawaban kosong.

Itulah salah satu trik untuk menghadapi “kejujuran” mahasiswa Jepang ini. Pasti akan timbul pertanyaan, apakah mereka semuanya seperti begitu? Jawabannya, tidaklah semuanya begitu. Mahasiswa bisa berbuat jujur seperti itu, tergantung juga dari kualitas institusinya. Komponen sebuah institusi pendidikan, terdiri dari para mahasiswa dan pengajar. Dan kejujuran itu laksana magnet. Oleh karena itu. jika semua komponen dari institusi tersebut bisa “dekat” dengan sebuah kejujuran, maka semuanya juga akan mengikutinya aliran magnet dari kejujuran tersebut.

Kebetulan tempat saya mengajar ini termasuk universitas yang berkelas, maka hal-hal yang berhubungan dengan kecurangan itu prosentasenya lebih sedikit, Di tempat lain, kecurangan bisa jadi ada. Tapi, yang jelas karakter mereka sudah terbentuk sejak kecil. Jika ditegor karena kecurangan, bukan rasa berdosa, tetapi cenderung bersalah yang mengakibatkan rasa malu karena semua mata memandang dirinya. Oleh sebab itu, di kampus tempat mengajar, waktu pekan ujian akan tertempel poster besar dimana-mana. Poster itu bergambarkan mata dan bertuliskan, “Malu pada Kecuranganmu, karena semua mata akan melihatmu”

Pada akhirnya semua kembali pada kita. Saya pribadi, sangat berharap, slogan-slogan yang sering terdengar dan menjadi guyonan di kalangan mahasiswa Indonesia, seperti misalnya “Kejujuran berujung kehancuran” atau “Tempat duduk menentukan IPK”, bisa segera tergantikan oleh slogan yang lebih positif, misalnya “Kejujuran berujung kepuasan diri”.

20130714 Akaike, jelang sahur 02:00,…lumayan,…turun dari 36 siang tadi menjadi 29…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s