Di sini Tak Ada Orang Jual Takjil

“Gimana puasa di sana?” …”Takjilnya apa?”…” Musim panas kayak gini katanya panjang ya?”… “Orang Jepang tahu ga kalau lagi berpuasa?” bla.. bla..bla…hehehe,…begitu banyaknya pertanyaan teman-teman dari tanah air yang sempat aku kumpulkan.

Puasa kali ini bertepatan dengan puncak musim panas di Jepang ini bersuhu rata-rata sekitar 36C. Tentu saja sahur kalau gak bangun jam 2, gak nututi karena imsaknya jam 3 pagi. Bukanya, jangan ditanya deh,….jam 7 kurang, masih terang benderang. Kalau mikir kayak gini, masih mendingan lah dibandingkan dengan teman-teman lain di belahan bumi yang lain, katanya ada yang lebih parah lagi.

Kalau masalah takjil, mungkin bisa diatasi, karena makanan yang dijual saat ini, sesuai dengan musimnya. Ini keuntungannya kalau puasa pas musim panas, karena selain musim panas gak dijual, misalnya nata de coco yang tren 5 tahun terakhir ini. Juga sirop-sirop beraneka rasa untuk es pasrah kakigori banyak dijual. Yang susah didapat, misalnya degan, cincau, blewah,..jangan tanya deh,…kita cuman bisa mbayangin aja.

Kalau cuman makanan sih mungkin kita bisa memaksimalkan dengan bahan-bahan yang ada, lha tapi kalau situasi dan kondisi melawan panas ini, bagaimana?. Beberapa kali merasakan puasa di sini akhirnya terbiasa dengan menghadapi ritme yang aneh banget menurut orang Jepang. Aku katakan pada mereka, kami bukannya tidak makan sama sekali, tapi, hanya memajukan jam makan pagi. Kemudian, menggabungkan makan siang dan  makan malam di waktu buka. Aku katakan pada mereka, bahwa waktu buka dan waktu sahur ini merupakan kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan-kenimatan seperti inilah yang tak bisa dinalar oleh mereka. Jadi kalau ketemuan ama orang Jepang di café, kalau orangnya paham ya ikut-ikutan ga makan, hanya pesan makanan aja trus dibawa pulang.

Kalau pas hari itu dituntut aktivitas tinggi, mengambil jarak waktu yang panjang itu yang aku lakukan. Misalnya kalau harus naik kereta, menambahi waktu 30 menit lagi dari jam biasanya keluar rumah, agar tidak tergesa-gesa. Misalnya tidak perlu berlarian mengejar bis atau kereta, gak ada ojek, becak atau bajaj sih. Berjalan perlahan pada jalan-jalan yang menanjak ini juga perlu diperhatikan. Jalan-jalan di Jepang kontur tanahnya banyak yang naik turun, karena gunung vukanik banyak. Dan fasilitas umum seperti sekolah, kampus, perpustakaan atau pun kantor Pemda selalu di bangun di tanah yang tinggi, sekaligus untuk evakuasi bencana. Jadi, sekali lagi, kuncinya ga boleh kesusu. Ternyata energi waktu orang lagi tergesa-gesa itu besar sekali. Kalau berjalan dengan santai, waktu  berpuasa pun masih juga bisa naik turun tangga masuk stasiun, bahkan sampai ke lantai 8 seperti biasa yang aku lakukan saat tidak berpuasa.

Minggu pagi 11.30,…puasa masuk hari ke 4, glundang nglundung ber3,…mendung 32C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s