Gallery

Berbangga pada Pisang dan mangga (revised)

1373490346635438287137348990075252716

Baru saja nonton acara TV バラエティ番組baraeti bangumi (Variety TV program). Acara ini mempertontonkan hal-hal yang mengalami perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang dari tahun ke tahun. Nara sumbernya dari kalangan selebritis ini, yang namanya mencuat dikarenakan 3 jenis buah yang awalnya tidak ada di Jepang, Yang menarik adalah cara penamaan pada masing-masing kelompok yang saling berdiskusi ini disesuaikan dengan jenis buah-buahan yang masuk ke negara ini dan menjadi tren. Banana Jidai ババナ時代,kelompok Pisang, anggotanya orang-orang yang berusia 50an keatas, Kiwi Jidai キウィ時代, kelompok Kiwi, orang-orang yang berusia 30-40an, dan Manggo Jidaiマンゴ時代 kelompok Kiwi, berusia 10-20 tahun.

 

Sepanjang menonton acara itu aku mbayangin, berarti 50 tahun yang lalu pisang itu barang sangat langka dan tentu saja mahal banget. Sekarang sudah jadi makanan rakyat biasa. Aku perhatikan pisang yang dijual 24 tahun lalu (waktu itu ada di Hokkaido, Jepang Utara), dan pisang yang dijual 14 tahun lalu (waktu di Saitama, propinsi dekat Tokyo) dan sekarang ini hidup di Nagoya, sangat berbeda dalam segi kualitasnya. Kepopuleran pisang ini semakin melejit setelah ada selebritis yang meluncurkan bukunya tentang pengalaman keberhasilan diet banana. Disambung dengan meluncurnya produk oleh-oleh khas Tokyo, yakitu Banana Tokyo yang memanfaatkan momen peresmian menara SkyTree di Tokyo. Beriku

Pisang yang dijual di pasaran umum sekarang ini manis banget dan gak gampang busuk tertutama waktu musim panas. Itulah hebatnya Jepang, begitu diprediksi layak masuk dalam pasaran, langsung membina dengan baik perkebunan-perkebunan pisang di Filipina. Hal ini tentu saja disertai dengan teknologi hasil penelitian yang ga habis-habisnya. Dan yang lebih penting lagi, pemerintah dan masyarakat Filipina sangat menyambut dan mau ngopeni hubungan baiknya dengan investor pisang dari Jepang ini.

Kalau bicara tentang pisang, orang-orang Jepang masih banyak yang bingung ga bisa mbayangin pisang itu bisa di goreng. Mereka banyak yang tidak tahu, bahwa pisang goreng, dalam bahasa Jepang バナナ天ぷらbanana tempura. Itu bahan dasarnya dari pisang pisang yang memang tidak bisa dimakan secara langsung. Kalau kita cerita tentang jenis, berbagai ukran, bermacam warna, mereka sangat terheran-heran. Dulu pisang hanya di jual per batang, jadi yang kebayang oleh anak-anak Jepang itu pisang tidak berbentuk sisir,..hehehe lucu… mereka baru mudeng ketika lihat ensiklopedi bergambar, atau meluangkan waktu pergi ke rumah kaca khusus melihat pohon pisang berbuah. Ketika aku home stay, dengan bangganya aku ceritakan bahwa di halaman rumah pun ada pohon pisang. Dan ada berbagai jenis makanan yang ga bisa lepas dari daun pisang, termasuk cerita bahwa tempe pun dibungkus pake daun pisang. Tapi kayaknya sekarang udah berbeda ya….wah bakal gak ada yang bisa dibanggakan dengan pisang ini lagi, kalau plastik sudah mengantikan fungsi daun pisang ini.

 

Mereka juga banyak yang gak ngerti lho, kalau pisang itu manjur tuk kelancaran urusan toilet di pagi hari, Dulu aku pernah ngotot untuk cari papaya, karena rasa pisang yang gak karu-karuan, menjadikan aku ogah untuk memilih pisang ini untuk mengatasi masalah toilet. Waahh ,..ternyata harga pepaya itu 3 kali lipat separuh sisir pisang, untuk papaya sebesar kepal tangan dewasa, dan rasanya …jangan ditanya,…gak enak sama sekali. Kalau papaya ini, di Okinawa (Jepang selatan) ada, dan bahkan ada masakan oseng papaya muda. Tapi, sampai sekarang rasa papaya itu ga ada perubahan, Mungkin papaya dianggap bukan buah dari luar, jadi mereka pikir rasa asli papaya itu ya begitu rasanya. Jadi, papaya kurang populer dibandingkan dengan pisang.

Ada cerita yang bagi aku ga terlupakan, waktu tinggal di Sapporo, Hokkaido. Sepulang kampus menuju apartemen mampir belanja di konbini (semacam mini market). Ada nenek-nenek usia 70 tahun-an. mendekati kami berdua yang lagi ngomong bahasa Jawa. Dia menyapa dan bercerita, bahwa suami pernah menjadi serdadu di Sumatra,…cerita yang cukup menyedihkan. Tapi, aku salut sekali dia menutup pertemuan singkat ini dengan memasukan pisang ke dalam tas belanjaan kami, katanya untuk sekedar ngobati kerinduan dengan tanah air. Waahh,..jadi terharu…ternyata pisang yang mahal pada jaman itu, dan belum tentu dia sering makan juga, menjadi penyambung antar hati manusia.

Cerita manga lain kagi, yang bikin heran, adalah harga manga. 14 tahun lalu satu biji mangga itu bisa mencapai 4000 en (400.000 Rp). Manisnya rasa mangga ini, dirasa pas oleh lidah Jepang, apalagi pas musim panas. Karena teknolgi hasil penelitian yang bagus, menjadikan daerah Miyazaki (di pulau Kyushu), menjadi tempat produksi manga terbesar di Jepang, hingga sekarang mangga menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Dan mereka lebih membayangkan bentuk mangga yang dibelah beserta kulitnya dan dikerat-kerat menyerupai bentuk bunga, ketimbang bentuk aslinya.

Nglantur banget kali ini alur pikirku, Cuman pengen cerita tentang kebanggaanku atas buah-buah yang mulai merajai Negara si Oshin ini. Ada harapan besar pada pisang dan mangga ini, agar masih menjaga citranya sebagaibuah lokal yang tetap mejadi tuan rumah di negeri sendiri sampai kapan pun juga. Karena bagaimana pun juga sesuatu yang lokal itu jika diurus, dirawat dan dicintai juga akan menjadi bernilai tinggi.

sumber foto:

 

http://cookpad.com/recip

kanjukumango.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s