“Malu” Penyebab Facebook Kurang Ngetren di Jepang

Apa yang kira-kira faktor penyebab Facebook kurang ngetrend dikalangan orang Jepang? Itu menjadi salah satu obrolan ringan kita berenam, Sabtu sore kemarin. Sengaja kami sekeluarga, meluangkan waktu untuk bersilaturahim dengan 2 orang pasangan suami istri, di daerah Okazaki, prefektur Aichi, kira-kira 1,5 jam arah timur dari kota Nagoya. Keduanya termasuk orang Jepang yang interes terhadap orang asing, mungkin karena mereka pengajar bahasa asing di salah satu universitas.

Bicara ngalor ngidul, sampai pada pembicaraan Facebook. Hasil penelitian perusahaan Sharp, pengguna Facebook di Jepang kurang dari 2% dari pengguna internet di Jepang.  Berawal dari itu,..obrolan mengalir, begini ceritanya…

Bagi orang Indonesia, untuk bisa menjadi “teman”, tidak mesti harus mengenalnya dulu. Dalam arti, sebelum tertulis dalam daftar teman, tidak saling kenal sama sekali pun bisa saling meminta pertemanan. Lha,..hal seperti ini yang tidak cocok bagi orang Jepang. Mereka terbiasa ada yang mengkoneksikan untuk terjalinnya sebuah hubungan. Jadi, dengan cara mendapatkan rekomendasi dari seseorang, barulah dia bisa berteman. Cukup ribet ya,…kenapa bisa begitu?

Adanya pemikiran 個人情報を守るkojin joho wo mamoru (menjaga privasi orang lain) inilah, yang menjadi salah satu faktornya. Di antara mereka sepertinya ada perjanjian tak tertulis, misalnya, saling meminta ijin. jika akan upload foto setelah melakukan aktivitas bersama. Karena diangap bisa mengakibatkan suatu ketidaknyamanan. Misalnya, jika suatu saat disapa seseorang yang merasa tidak dikenalnya di jalan, mereka akan merasa malu, padahal sebetulnya orang yang menyapanya itu sudah berteman di Facebook.

Faktor lain adalah penulisan nama ID Facebook. Salah satu sifat orang Jepang “patuh” ini, membuat mereka terkesan mudah dibodohi oleh perintah tuk mengisi nama di Facebook dengan nama yang asli. Dan mereka kuatir akan muncul masalah penyalahgunaan nama. Ya memang, kehidupan keras kesehariannya, menyebabkan, mereka berusaha menghindari keterlibatan dari suatu permasalahan. Kalau orang Indonesia mungkin lebih berpikir ke arah menghindar karena buntut permasalahannya berkaitannya dengan hukum. Beda dengan orang Jepang yang berpikiran menghindari permasalahan yang bisa berbuntut “ke-malu-an”nya terusik.

Sudut pandang dalam menyikapi rasa malu mereka ini, sepertinya berbeda dengan kita. Jarak komunikasi non verbal mereka, secara fisik lebih dari 70cm. Dan hal ini mempengaruhi sewaktu berinteraksi. Mereka sangat memperhatikan 距離を取るkyori wo toru (arti: menjaga jarak) dalam segala jenis komunikasi. Dan rasa malu ini erat sangat kaitannya dengan hal ini. Jika ada seseorang yang tak dikenalnya masuk dalam area jarak yang sedang “dijaganya”, dirinya akan merasa “malu”, dan “ke-malu-an” ini, bertahan sampai akhir hidupnya. Itulah sebabnya, angka kematian bunuh diri tinggi, karena jika ketahuan dirinya berbuat tidak baik, tidak ada jalan lain selain, tidak bertatap muka pada orang yang terkena imbas karena kesalahannya.

Kembali menyoal Facebook, sebetulnya kalau kita pandai-pandai memanfaatkannya, tidak sedikit keuntungan yang bisa kita ambil. Selama 2 tahun terakhir ini saya memakai Facebook untuk berburu responden, dimulai dari responden tuk data percobaan, berlanjut pada data II yang respondennya orang Jepang. Saya berhasil mendapatkannya berawal dari Facebook. Mungkin karena foto, beberapa karya dalam note, dan juga jumlah mutual friends, saya merasa pantas dipercayai,..hehehe🙂

 Tentu saja tidak mutlak karena faktor ini saja. Tapi setidaknya, kita bisa memanfaatkannya untuk 場を提供するba wo teikyo suru (memfasilitasi suatu kegiatan). Dan inilah yang membedakan kita dengan orang Jepang. Kita bisa mengadakan kegiatan yang anggotanya sama sekali tidak saling kenal, atau dari berbagai kalangan dengan mudahnya. Tetapi, beda dengan orang Jepang. Mereka memulai kegiatan dari komunitas yang anggotanya punya ketertarikan yang sama, dari komunitas yang sudah tertata. Jadi nyadar, kita dengan mereka ternyata sama-sama punya “malu”, tapi bagaimana pun juga jenis dan tingkat “ke-malu-an”nya, sangat berbeda dari sudut pandang sosial masyarakatnya.

Gambar

Suasana ngobrol, lokasi di The Okazaki City Library and Community Plaza – “Libra” (dok. pribadi)

Akaike 20130701,… 08:50,…mendung 26 C,…rumahnya bau terasi,….lg bikin sambal skala besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s