Perkara Nama, Cewek Jepang Ogah nikah

Gambar

Ilustrasi: Pengantin Jepang ala busana tradisonal. (sumber: http://www.kekkon-j.com)

Apa sih arti sebuah nama,..namaku aja sejak beberapa tahun hidup di Nagoya, menjadi ‘rusak’. Jenis huruf dalam Bahasa Jepang, tidak bisa mengakomodasi setiap huruf pada namaku. Dalam huruf kana yang secara bacanya seperti huruf HaNaCaRaKa, berbunyi per suku kata, mengakibatkan dari nama yang cantik Parastuti, berubah menjadi pa ra su to u te ィ i, (Parasutoutei) nah lhooo,…rusak kan.

Tak apalah, memang begitu adanya. Selain itu karena sistem dari nama mereka yang terdiri dari dua kata, maka seperti aku ini yang berposisi Warga Asing, dan hanya punya nama satu kata, terpaksa ngikuti aturan sistem isian computer yang berlaku dalam adminstrasi apa pun. Jadinya, waktu mereka mengisi namaku dalam suatu isian, ada yang mengulang menjadi Parastuti Parastuti. Wah ini mah masih mending, bahkan ada yang memutusnya menjadi seperti berikut: Parastu Ti,atau  Pa Rastuti, atau pun Parast Uti,..wah payah deh.

Balik ke judul ya,…Kenapa mereka (baca: cewek-cewek Jepang) alot banget tuk memutuskan menikah, akhir akhir ini aku bisa pahami mereka. Ternyata,.. tidak hanya kekuatiran pada masalah karier yang bisa diteruskan apa tidak setelah mereka menikah. Tidak hanya juga ritme kehidupan yang akan berubah jadi 180 derajat. Tetapi, ada yang lebih penting dari itu, yakni, perubahan nama. Yaa…!!! Nama marga/ keluarganya berganti dengan nama marga suami. Seberapa jauh pentingnya sebuah nama ini, mengelitik rasa penasaranku. Jika masih dalam lingkungan formal (mis. kerja) walau cukup akrab pun, mereka memakai nama marga itu, bukan nama kecilnya.

Uwaaahhhh,..bisa dibayangkan, begitu menikah, semuanya berubah!!! Dari sini keribetan sudah dimulai, diawali pengurusan ganti nama di kantor pemda, dan bikin 印鑑 inkan (cap tanda tangan) dan lain sebagainya. Lha, bagaimana dengan jati diri yang tak terlihat, secara psikologis apakah dijamin tak juga ikut berpengaruh? Beberapa teman, mengakui secara jujur, karena namanya berubah, sepertinya jati diri juga berubah.

Yang lebih penting lagi, jika nantinya meninggal. Abunya akan dimasukkan jadi satu tempat dengan keluarga si suami. Kalau hubungan selama hidup mereka tidak menunjukkan baik-baik aja, misalnya, keretakan antara ibu mertua dan menantu perempuan, ….iiihh ngeri, bisa jadi ada ketidak-ikhlasan terbawa ke alam kubur. Belum lagi jika terjadi perceraian dan keretakan dalam rumah tangga. Seorang teman, sangat tidak menyukai nama keluarganya, karena bapaknya meninggalkan ibunya dan kedua adiknya saat masih SD. Dan nama itu sangat mengusik hatinya, karena setidaknya, sampai dia menikah, masih juga melekat sebagai identitas bagian dirinya.

Dalam hal perngantian nama ini ada istilah 「お嫁にいく」o-yome ni iku si perempuan masuk keluarga laki-laki. Atau, jika tak memilik anak laki-laki dan dikuatirkan nama marga itu akan musnah, maka keluarga perempuan akan meminta Muko Yoshi wo mukaeru 「婿養子を迎える」, yakni, meminta kesediaan menantu laki-laki untuk memakai nama keluarga istrinya.

Berhubungan dengan nama ini ada beberapa cerita, salah seorang profesor di kampusku sekarang ini, memutuskan menikah pada saat bersamaan dengan penerimaan ijazah S1, walaupun sebetulnya belum merasa siap berumah tangga. Pada saat itu beliaunya memutuskan untuk menjadi peneliti dan pengajar. Tujuannya, agar jika nantinya karya-karya ilmiahnya mulai dikenal khalayak umum, namanya sudah berganti.

Masih berkaitan dengan nama, ada satu lagi cerita, pada saat kita naik kendaraan umum. Tidak sedikit yang menyebutkan nama petugas/ pembawa kendaraan tersebut. Ga kebayang kalau di negara kita ada suara yang berkumandang dari speaker seperti ini “ Selamat pagi para penumpang yang terhormat, saya Paidjo, sopir bis ini, akan membawa anda ke tempat tujuan anda, dan saya akan menjalankan kendaraan ini dengan aman, silahkan menikmati perjalanan anda”…hehehe kalau pesawat, wajar aja, tapi ini bis,..!!! yang berjarak tempuh cuman 15 menit. Setelah adanya suatu penelitian, ternyata dengan menyebut nama, si penumpang merasa betul-betul bisa merasa nyaman dan aman. Dan si petugas/ sopirnya juga merasa, “yossh bismillah (mungkin sama dengan ucapan ini).. aku kan mulai pekerjaan ini dengan penuh tanggung jawab”.

Sebetulnya, secara pribadi, menurutku, semuanya berpulang pada kita semua,..mau menyebutkan dengan lantang atau berseru dalam hati berniat dengan baik. Begitu juga mau berganti nama atau pun tidak berganti. Jika semua dijalani dengan keihklasan dan penuh tanggung jawab akan membawa suatu kebaikan. Pro dan kontra tentang perubahan nama dalam sosial masyarakat Jepang ini masih berlangsung sampai sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s