Semuanya punya hak menjaga miliknya

Foto tempat naruh payung ini aku ambil waktu pergi ke kota Otaru, Hokkaido waktu liburan Golden Week akhir April lalu. Pagi itu hujan rintik-rintik, yang menjadikan hampir tiap orang membawa payung. Padahal di Indonesia, hujan kayak begitu, dijamin deh gak ada yang membawanya. Pada awalnya anakku juga dulu begitu. Lagak-lagaknya aja sok jagoan, sok laki-laki, yang kalau pakai payung jadi gak terlihat gentle.

Ternyata,…keliru,…., kalau kita kehujanan dikit aja terutama pada musim-musim yang suhunya naik turunnya drastis,…bisa-bisa 風邪を引くkaze wo hiku, terkena flu yang sangat mengganggu akitivitas banget. Bayangkan karena ada 4 musim, dengan begitu perpindahan musimnya jadi 3 kali, bukan sekali seperti Indonesia yang hanya dua musim. Maka dari itu di sini gak ada main hujan-hujanan yang sangat jadi nostalgik banget jika mengingat-ingat masa kecil kita. Dalam hal ini kita masih beruntung, punya memori indah dengan hujan.

Perhatikan fotonya ya,…ada 4 payung, yang depan payung putih itu payung cepekan (payung yang dijual di toko “Serba ada 100 yen”), Dan yang ada di baris tengah, payung yang bagus. Masih banyak cerita tentang payung ini,…akan aku ceritakan dilain waktu. Lokasi foto ini gedung bekas kantor cabang sebuah bank 日本銀行小樽支店Nihon Ginko Otaru shiten, yang sudah tidak dipakai, diperuntukan menjadi museum. Bagus banget penyajian museum ini, jadi banyak belajar tentang uang dan perekonomian, padahal aku termasuk orang yang gak tertarik sama sekali lhoo dengan yang namanya ilmu ekonomi aja, sangat bisa menikmatinya.

Balik lagi masalah payung ya,…Di tempat fasilitas-fasilitas umum berupa gedung yang pintu masuk dan pintu keluarnya berdekatan, misalnya gedung konser, museum, kantor pemda, dll pasti ada tempat naruh payung sekaligus tatakannya tuk nampung tetesan air hujan. Dan yang bikin aku mikir,…masing-masing lubang tempat masukkan payung itu berkunci. Gak perduli payung yang harganya hanya ratusan yen ataukah berharga ribuan yen,…semua mendapatkan hak yang sama (asal masih ada tempat kosong). Semua orang boleh naruh di situ, dan membawa kunci tuk disimpan rapi dalam saku. Mereka membuat sistem yang semua orang berhak menjaga miliknya, bagaimana pun kondisinya.

Dari tempat payung ini saja, sudah terefleksi, akan arti sebuah pemerataan, dalam hal pelayanan yang lain pun begitu adanya. Pemerataan juga terlihat pada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, transportasi umum dan lainnya. Jadi menerawang jauh,…..pembelajaran semacam ini masih harus banyak-banyak dipelajari oleh bangsaku….

Gambar

Tempat naruh payung di 日本銀行小樽支店博物館 Museum Japan Bank Otaru Branch, Golden Week  2013, April 30. Perginya berempat dengan keluarga Homestay Takada Fam

Akaike, 20130611, pagi mendung, 24 derajat, katanya besok ada Topan no 3,
二人で揃って、息子と一緒に勉強するところ(中間テストシースン)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s