Celotehan penerus generasi Jepang

Hari ini pun, sama seperti hari-hari kemarin, celoteh keriangan anak-anak usia SD menggelitik kupingku kembali. Setiap hari Senin pada semester ini aku mempunyai waktu agak longgar, karena aktivitas rutin baru dimulai setelah makan siang.

Posisi apartement yang aku tinggali sejak 16 bulan lalu ini, jendela dapurnya persis menghadap barat. Bisa bayangkan kalau pas musim panas. Mulai sekitar jam 2 siang sampai jam 7 sore, matahari langsung menyentrong masuk dapur. Sejak akhir musim semi (awal Mei) ini, jendela dibiarkan terbuka siang malam. Gak takut ada maling masuk yak..

Celoteh anak-anak itu terdengar dari apartement besar dan mewah dari seberang sana. Sambil beberes dapur setelah bikin bento bekal makan siang suami, aku nikmati celotehan mereka. Berlari-larian, bercengkerama, sambil bawa ransel dan bertopi kuning. Yaa..pemandangan seperti ini tidak bisa kujumpai setiap saat, kalau tidak pas jam-jam mereka berangkat sekolah.

Mereka ini lagi menunggu jam untuk berangkat bersama-sama (sekitar jam 08.00). Karena apartement seberang itu mempunyai ruang yang cukup dipakai menunggu (lobby luarnya cukup besar), maka diputuskan oleh pihak sekolah untuk dijadikan tempat mangkal. Kalau anggota sudah lengkap dan sesuai dengan jam yang ditentukan, mereka berangkat bersama-sama. Ada sekitar 12-15 anak. Semuanya berjalan kaki, tak ada acara antar-mengantar. seperti yang telah menjadi suatu kewajiban para orang tua Indonesia, terutama yang hidup di kota-kota besar.

Yang aku heran, jarak tempat ngumpul itu dan lokasi sekolah tidak jauh lhoo…dan kalau pun mereka berangkat sendiri pun tak kan ada masalah. Mungkin hanya sedikit kesulitan, waktu menyeberang jalan besar, Tapi, itu pun sudah ada penyeberangan bawah tanah, yang memang dibikin khusus untuk itu.

Tidak ada seorang pun yang mendahuluinya. Semuanya ngikuti aturan yang dibikin pihak sekolah. Aturan semacam ini hanya untuk anak SD. Negara ini memang membuat sistem aturan membuat kokoh pondasi. Dengan cara ini, semuanya serba mudah terkoordinasikan dalam segi apa pun. Dan yang terpenting mereka sudah terbiasa dengan aturan yang demikian, mungkin sudah mendarah daging. Tidak menganggapnya lagi sebuah aturan, yang terkait dengan suatu kewajiban. Dengan begitu melakukannya pun dengan ringan tanpa beban (*bedakan dengan rasa iklas). Bukan keharusan, tapi, memang yang ada itu seperti ini, ya harus dilakoni. Sempat terpikir olehku,..ini sebuah aturan yang menghasilkan doktrin atau doktrin yang menghasilkan sebuah aturan…ya..

Akaike 2013 06 10, 09:00,..25 derajat
*cerah juga nggak, mendung juga nggak,…aahhh.. cuaca yang nanggung… (m
´・ω・`)m,…dibikin tanoshii yuukk (@⌒―⌒@)

3 thoughts on “Celotehan penerus generasi Jepang

  1. Komen dari Yati Samita Respati via FB => Mbak Tuti, saat di Jepang aku merasakan aliran kepatuhan pada aturan. Aku tak bisa membedakan apakah itu karena keikhlasan ataukah memang sudah terdoktrin seperti itu. Ketika lampu merah untuk pejalan kaki menyala, walaupun jalanan kosong melompong, tak satupun dari orang orang itu melanggar, padahal itu jalan lebarnya hanya 5 sd 6 meteran. Hebatt… (Atau cenderung tak efektif ?) Andaikan konsep itu diterapkan di Indonesia yang punya landasan keikhlasan dan keTuhanan, ooohhhh alangkah bagusnya… Oohhh kita punya sumber daya manusia yang hebattt, lebih harmonis, tidak kaku,… tapi… Kenapa ? Ooohhh… Sepanjang di Jepang yang hanya sejenak, seringkali kata ooohhh disertai rasa kecewa (iri) atas yang menurutku baik ini terucap… Oooohhh… Atau. Andaikan,,,, Subhanalloh

  2. Jadi ga salah ya,…kalau sikap mereka pada Senpai sangat berpengaruh pada kehidupan mereka nantinya, karena sudah terbiasa sejak kecil, pada pada Hancho (ketua regu)-nya yg notabene ya salah satu senpai (senior)nya,….*makasih ya masukannya,…maklum anak udah gede waktu masuk dunia Jepang ini.

  3. Anonymous says:

    Bener banget mbak gak ada satupun yg melanggar..kelas 1 sangat patuh ama senpaitachinya..:)) hebat ya dr kecil dah diajarin patuh peraturan..:) bahkan kl ada yg belum dateng sesuai waktu yg ditentukan hanchou (ketua regu) nya jemput kerumah si anak yg terlambat tadi..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s