Yang dekat, yang berbobot berat

Akhir-akhir ini ada keinginan jalan dari satu stasiun ke stasiun dan mencoba mengenali apa pun yang ada di sekitar stasiun itu pada saat hari libur. Dengan begitu aku, berdua dengan suami, betul-betul merasa merasakan gesekan secara langsung dengan suasananya. Kali ini stasiun bukan sasarannya, tapi berjalan memutari danau irigasi Miyoshi, biasa disebut Miyoshi-ike みよし池. Lokasi danau dekat banget ama apartment lama (Eiraku-sho), tapi entah kenapa, dulu waktu tinggal di situ tak pernah sekali pun mencoba jalan mengelilingi danau irigasi itu, yang ternyata setelah dilakoni waaahh lumayan,..4,5 km.

Danau itu menjadi pusat kegiatan olah raga dan salah satu tempat rekreasi warga Miyoshi. Saat ini bertepatan dengan awal musim panas, jadi ada berbagai kegiatan. Dalam waktu yang bersamaan, ada pertandingan persahabatan base-ball dewasa, latihan pencarian bibit untuk olah raga dayung tingkat SMP, kegiatan pramuka tingkat SD, jalan sehat yang diselenggarakan pemerhati penderita down-syndrom. Dan di bagian danau yang paling masuk, kayak seolah-olah masuk hutan lindung kecil, kami temukan beberapa pemancing.

Berdua, kami sempat mengamati masing-masing kegiatan. Diawali dari sistem fungsi secara fisik danau irigasi yang menurut kacamata suami, bagus banget penanganannya. Dari sisi pintu air yang dialirkan untuk sawah-sawah yang besarnya biasanya tidak ‘besar’ (semuanya berukuran kecil, jika dibandingkan dengan sawah-sawah di Indonesia), di seberangnya, ada satu pintu satu lagi untuk menampung aliran air dari pengolahan pusat pengolahan limbah rumah tangga sekitar danau itu. Dan memang waktu kita membayar tagihan air bersih untuk keperluan rumah tangga, selain pemakaian air bersih dikenakan juga biaya pengolahan air limbah sesuai dengan jumlah pemakaian masing-masing. Patut diacungi jempol,…dengan sistem seperti itu, kita sebagai konsumen juga ikut bertanggung jawab akan limbah yang sudah kita hasilkan. Dengan begitu, pada saat pakai akan berhati-hati, mengingat kita harus bayar bagian pasca pemakaian.

Waktu melintasi lapangan tempat pertandingan baseball, aku jadi bisa merasakan bahwa mereka sangat menjaga komunitas yang sudah mereka rintis sejak lama. Padahal hanya pertandingan persahabatan antar klub-klub dewasa yang sebagian sudah menjelang manula. Tapi terlihat tertata rapi banget. Pada masing-masing team didirikan tenda untuk para keluarga yang datang menjadi suporter, sekalian untuk menggelar bento bekal makan siangnya. Yaa,…mereka bekerja dengan perencanaan yang matang, sekali pun itu hal kecil menurut orang di luar komunitas tersebut.

Waktu akan memulai mengelilingi danau pandanganku tertuju pada beberapa perahu kecil, mirip sebuah kano, banyak sekali bertebaran di tengah-tengah danau. Sesekali terdengar teriakan-teriakan penyemangat. Ooo,..ternyata mereka lagi latihan pertandingan untuk mencari bibit atlit dayung. Aku jadi berpikir,…kerja keras mereka ini yang menjadikan Jepang menjadi besar, bukan ujug-ujug, tapi dimulai tataran terendah pun keseriusan terlihat tajam. Dan tentu saja fasilitas yang disediakan pemerintah daerah sangat mendukung, Misalnya di dekat home-base kegiatan dayung itu ada tempat penyimpanan puluhan atau bahkan ratusan kano beserta juga tempat perawatannya. Dan rupanya tiap individu terbiasa bertanggung jawab dengan apa saja yang dipegangnya, terlihat cara memperlakukannya sangat baik

Waktu berpapasan dengan penderita down syndrome itu, yang cukup mengagetkan, pesertanya terdiri dari berbagai usia. Orang-orang sekeliling penderita berusaha menampilkan si penderita seolah-olah bukan orang yang kekurangan. Sepertinya ada kewajiban seorang anggota keluarga yang menyertai si penderita. Seolah penderitaan yang bersangkutan berbagi dengan orang-orang terdekat.

Ada bagian danau yang seperti masuk kawasan hutan, setelah diperhatikan, bagian danau itu mungkin danau yang asli, dan digabung dengan danau irigasi. Oleh sebab itu nyaman banget suasananya untuk memancing. Beberapa terlihat pemancing dengan alat pancing yang woow…, dan rata-rata mereka datang bermobil.

Sampai pada ujung danau, terlihat para pramuka cilik, lucu sekali. Dan seragamnya gugus yang satu dengan yang lain, tidak sama. Jadi inget anak-anak kita yang tiap hari tertentu memakai seragam pramuka, tapi bukan sebagai anggota pramuka yang sebenar-benarnya. Hanya mengikuti aturan sekolah saja.

Semua yang aku lihat, aku rekam dalam pikirku, bukanlah semata untuk merasakan suatu ketidak-puasan sebagai anak bangsa, bangsa Indonesia. Bukan,…tapi lebih kearah suatu pembelajaran cara pikir yang mungkin bisa diadopsi sesuai dengan karakter bangsa kita yang beragam tapi tetap bersatu. Misalnya, cara pengolahan limbah air rumah tangga mungkin bisa diterapkan, untuk secara tidak langsung mengurangi bahaya banjir, karena penanganan limbah sudah dicontohkan dengan melibatkan situasi rumah yang merupakan skup terkecil masing-masing individu bangsa.

Yang lain adalah, cara pemanfaatan yang maksimal dari semua fasilitas yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah daerah. Dan tentu saja, pemerintah dengan bangganya menunjukkan fasilitas yang terwujud utuh sesuai anggaran. Dan yang lebih penting lagi, pembelajaran cara pikir yang menghargai apa pun itu, bukan merupakan tanggung jawab segelintir tapi setiap individu bangsa. Ya,…mulailah dari yang terdekat dengan kita, yang terdekat adalah yang berbobot berat, karena yang terdekat itu yang setiap saat tertangkap mata kita.

Posting, Akaike 9 Juni, 30 derajat C
Memori Miyoshi Minggu, 2 Juni

*Ini foto Danau irigasi Miyoshi-ike yang diunduh dari wikipedia, bentuknya lucu, satu putaran kira-kira 4,5 km

Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s