Kura-kura Ninja bertopi Kuning

Gambar

Segerombolan bocah-bocah itu berjalan dengan membawa tas ransel yang bentuknya seragam. Cara mereka berjalan mirip tokoh Kura-kura Ninja dalam sebuah filem animasi (flimnya bukan produksi Jepang, cuman namanya saja pinjam bahasa Jepang). Terlihat besar di punggung dan di tangan kiri membawa termos air dan tangan kanannya membawa te-sage, tas kecil untuk berisi perlengkapan menunjang kegiatan hari itu. Persis kura-kura ninja yang membawa senjata katana, tongkat kayu, dan sebagainya.

Warna ransel, dulunya hanya terbatas pada merah untuk perempuan dan hitam untuk laki-laki, tetapi sekarang sudah beragam warnanya. Yang bikin heran adalah kekuatan itu bertahan dari sejak masuk kelas 1 sampai lulus kelas 6. Dan konon ceritanya ada lembaga LSM yang mengurusi ransel-ransel bekas ini  pada akhir tiap tahun ajaran dikirim ke negara-negara yang membutuhkan, seperti Afganistan dan lainnya. Harganya, jangan heran, karena bisa bikin pusing kepala, sekitar 15.000~40.000 Yen (1,5~4 juta Rup). Baju mereka tidak berseragam, tapi yang wajib pake topi kuning, warna dan bentuknya seragam lebih dipertimbangkan untuk keselamatan, karena warna kuning menyolok.

Namanya bocah, mereka berjalan saling canda, dan yang aneh, dalam kondisi apa pun tetap patuh pada rel rutenya. Karena tidak bakal ada antar mengantar dari orang tuanya, mereka mengikuti rute yang sudah ditentukan pihak sekolah, sesuai dengan posisi rumah masing-masing. Dari serombongan itu ditunjuk satu pimpinan kelas 5 atau kelas 6 yang selalu memantau dan yang diberi tanggung jawab. Biasanya juga ada toban (semacam giliran piket) salah satu orang tua yang ngikuti kerompok tersebut sampai ke halaman sekolah.

Entah kenapa setiap berangkat kampus dengan bis kururin milik pemerintah daerah, naik yang terpagi (keluar rumah 07 :15) selalu saja senyumku tersunging manis ketika melihat segerombolan bocah-bocah mungil yang sedang berjalan sepanjang trotoar. dan jika sudah sampai di perempatan besar terdekat yang dengan lokasi sekolah (sekitar jam 07:45), dari segala penjuru perempatan itu akan bergabung dengan gerombolan yang lain. Kadang masih terheran saja walaupun beberapa kali melihat pemandangan seperti ini. Luar biasa memang sistem sosial masyarakat yang dibangun oleh orang-orang Jepang, dalam hal ini.  Rasa penasaranku mengenai bocah-bocah itu semakin menjadi. “Apa kira-kira yang ada dibenak kepalanya mereka, yang harus dilakukan untuk negaranya dalam jangka waktu 10~15 tahun mendatang?”

Jika di tanya, “Apa cita-citamu?” jawaban mereka banyak yang tidak pernah terbersit dalam benak kita sebagai orang Indonesia. Kalau anak-anak Indonesia kebanyakan akan menjawab, dokter, insinyur, pengacara, direktur, ilmuwan, presiden, astronot. guru, dll. Ya tentu saja yang menjawab seperti itu juga ada. Tapi apakah pernah terdengar jawaban seperti 花屋さんになりたいhana-ya san ni naritai, ingin jadi penjual bunga. Rasanya ga masuk akal ya, banyak di antara mereka yang ingin jadi penjual buah-sayuran, pembuat beras (menjadi petani). Kalau jawaban mereka ingin jadi atronot atau pembuat mobil atau ahli komputer, atau ilmuwan, mungkin wajar sesuai dengan anggapan kebanyakan orang asing terhadap orang Jepang ini, yakni karena mereka tidak memiliki alam yang kaya.

Dalam cara pandang mereka, terutama meraka yang memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan waktu duduk di bangku sekolah SD dan SMP (sesuai dengan jenjang wajib belajar). mereka tidak perlu bersekolah di jenjang yang lebih atas (SMA dan PT), kalau dirasa tidak diperlukan dalam dunia kerja. Oleh sebab itu tidak ada yang menjawab ingin jadi insinyur, kalau memang tukang kayu sudah menjadi cita-citanya. kata “insinyur” itu hanya dipakai pada pekerjaan seseorang yang memiliki ketrampilan salah satu teknik, bukan untuk menjadi salah satu jenis gelar seperti yang ada dalam bahasa Indonesia.

Kenyataannya memang begitu, tanpa melalui jenjang sekolah SMA pun, mereka bisa hidup berkeluarga, bisa bermobil, berumah, walaupun angsuran tiap bulan dengan nominal besar seumur hidup masa produktifnya (sekitar 30 tahunan). Sebetulnya bukan karena ketidakadaan biaya yang menyebabkan tidak lanjut ke SMA, tetapi mereka berpikir bahwa jenjang SMP itu sudah cukup. Sebagian dari mereka berpikir, bahwa melanjutkan sekolah hanya akan membuang waktu dan biaya saja. Karena salah satu sistem bekerja di negara ini adalah, kesenioritasan berbanding searah dengan pengalaman kerja sesuai jam terbangnya. Dan itu pada beberapa perusahaan besar masih berlaku sistem seperti itu sampai sekarang.

Apa sih tujuan kita belajar sampai tinggi? Sebetulnya bukan untuk mencari gelar semata (karena memang kita masih dilingkupi dengan dengan budaya gelar). Yang lebih penting dari pemerolehan gelar adalah, proses berpikir dewasa yang sangat diperlukan seseorang untuk bekal terjun ke masyarakat.

Kembali pada orang-orang Jepang itu, apakah mereka memiliki kedewasaan seperti itu? kalau diperhatikan seseorang pekerja biasa di perusahaan yang biasa pula, terlihat jelas mereka kurang dalam pencapaian kedewasaan itu, jika dibandingkan dengan orang-orang yang lulusan pada PT tertentu. Tetapi jangan salah sangka dulu, mereka termasuk orang-orang sangat konsisten dengan apa apa yang sudah terbikin oleh pendahulunya, baik yang tertulis atau pun yang tidak tertulis. Jadi, kalau mereka mau ngikuti alur yang yang sudah terbikin, amanlah dia selama tidak keluar dari arus aliran tertentu tersebut. 

Jadi, alangkah baiknya jika kita bisa mengoptimalkan kemampuan diri untuk menciptakan sebuah lapangan kerja. Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Yang terpenting, tetap merasa memilki sebuah kesempatan untuk bisa belajar pada jenjang tertentu, dan tetap menyadari dengan tujuan kuliah itu untuk pendewasaan diri, ditambah lagi kesadaran akan kekuatan budaya lokal yang dimiliki. Dengan begitu cara pikir yang menggantungkan diri pada sesuatu pilar perusahaan tertentu, akan luntur, tergantikan dengan kebanggaan pada kemampuan akan suatu penciptaan.

Selama beberapa tahun sempat tertangkap oleh mata. Di sekitar perumahan penduduk jika ada sejengkal lahan, dan tepat pada musimnya bisa ditanami sesuatu yang menghasilkan, pastilah sudah digarap dan menghasilkan sesuatu. Dan tentu saja dengan segala peralatan yang terjangkau dan mudah segalanya untuk didapat, dan yang terpenting hasilnya mudah untuk ditribusikan. Yang ditekankan di sini, bukan jamannya kita mengeluh karena ketiadaan fasilitas dan kemudahan-kemudahan. Tetapi justru yang kita butuhkan hanyalah mengoptimalkan segala keterbatasan yang kita miliki.

Dan satu lagi yang terpenting adalah, orang-orang Jepang ini memiliki anggapan pemikiran, hasil suatu produk ini jika semakin dekat antara konsumen dan produsenya, semakin bernilai tinggi. Karena unsur kepercayaan semakin besar, oleh karena itu misalnya apel, jeruk atau sayuran rebung, jamur akan jauh lebih mahal produksi lokal daripada yang diimpor dari negara lain.

Yang patut digaris bawahi, ketidakadaan fasilitas pendukung dan sistem yang bagus bukan halangan untuk bisa menjadi menghasilkan sesuatu yang berguna. Dari si Kura-kura bertopi kuning ini kita bisa belajar pengoptimalan sesuatu potensi diri dengan cara melihat cara pikir orang lain, dan cara mewujudkannya tetap menyesuaikan pada kemampuan diri.

*gambar diunduh dari: kzldge.com

Kenkyushitsu, 14:00 mendung berawan, 25C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s