CABANGnya sekuat BATANGnya

Setahun lalu, ada gadis remaja yang siap menyongsong masa depannya kirim inbox. Isinya kegalauannya tuk memilih PT yang cocok tuk dirinya. dan tulisan ini teinspirasi isi inbox itu.

Aku selalu bikin suatu Cabang itu sekuat Batang. jadi jika ada 2 jalan tuk menuju satu tujuan, aku pasti mempersiapkan keduanya sama baiknya, dan sama kuatnya. Yaaa… kebiasaan jelek itu aku sadari, setelah merasakan kelelahan, karena keduanya harus berjalan bareng. Waktu menjalaninya asyik-asyik aja, kayak sedang menghadapi sesuatu permainan yang mengasyikan. Tapi, sebetulnya resikonya juga besar. Karena belum tentu keduanya memiliki hasil yang bagus jika kita sudah pada saatnya memilih. Malah kadang-kadang keduanya jadi ambruk secara bersamaan. Lebih baik satu dikuati, satu lagi juga dipersiapkan, jika dalam keadaan darurat harus memilh cabangnya, kita tinggal memolesnya, tidak perlu mengawali dari nol.

Dan pada gadis itu aku utarakan “Bikin cabang-nya tak perlu sekuat batang-nya, biar kita ga kelelahan di tengah perjalanan”. Misalnya, kita tidak perlu memilih PT yang sama-sama ‘besar’nya, biar ga alami kelelahan. Dan ini berkaitan banget dengan kenyataan bahwa garis hidup manusia itu misterius banget.

Ada cerita begini,….yang waktu duduk di bangku kuliah tidak berada di atas, setelah beberapa waktu berlalu dengan segala permasalahan dan ketepatan cara ambil jalan penyelesaianya….menjadikan dirinya tetep stabil dalam kehidupannya. Sebaliknya yang ada di atas, dengan IPK yang sellau top, kehidupannya kurang stabil pun ada. Bagaimana pun itu semua tergantung manusianya.

Jadi ada suatu yang lebih dipentingkan waktu mengambil keputusan menentukan PT itu. Misal, kalau tujuan kita pada tahun itu harus kuliah, dalam arti tidak mau menunda, dikarenakan usia atau tahun berikutnya giliriran adiknya dengan begitu dananya harus diatur jadi tahun itu kita harus cari jalan tuk kuliah. Dan karena bagaimana pun kita harus dapatkan PT negeri (karena pertimbangan dana), …ya kita harus ‘melirik’ juga PT lain yang miliki peluang tinggi memungkinkan kita bisa masuk.

Intinya, sekolah di mana aja itu sama, tinggal kita memoles dan mengasah kepekaan kita tuk bekal hidup masuk ke masyarakat. Ini semua sudut pandang aku sebagai seorang pengajar PT yg tidak begitu ‘besar’. Hal ini pun terjadi pada waktu bimbingan tulis skripsi. Banyak mahasiswa yang menuntut tuk dibimbing supaya hasil penelitian skripsinya bisa berguna waktu kerja nanti. Itu cara pikir yang semuanya belum tentu betul, jadi, sebaiknya ambil sebatas kemampuan. Olah informasi yang sempat tertangkap otak itu waktu di kelas, dan bayangkan bagaimana materi itu bisa berguna waktu kerja (dan tentu saja sebatas kemampuan juga).

Dengan begitu ga perlu menggantungkan sepenuhnya ke dosen, tapi belajar bertanggung jawab pada diri. Karena dosen hanya membimbing sebatas dinding kelas, begitu keluar kelas, pada waktu itu juga si individu belajar bertanggung jawab tuk mengolahnya. Dan bagaimana cara berlatih mengolahnya itu, perlu latihan yang tidak singkat, setidaknya perlu 8 semester.

Akaike 20130523, mendung 27C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s