Komunikasi ala origami

Gambar

Kemarin, Sabtu tanggal 18 mei 2013, aku sempatkan untuk memenuhi ajakan Handa sensei. Beliau adalah kepala sekolah jidoukan じどうかん 児童館, tempat untuk berkumpulnya anak-anak sepulang dari sekolah. Di Jidoukan ini anak-anak bebas bermain, di monitor oleh beberapa guru pengasuh dengan fasilitas-fasilitas yang memadai. Misalnya jika si anak tertarik menari, maka akan pelatih yang didatangkan dan mereka berlatih di ruangan yang ada kaca besarnya. Atau juga jika mereka tertarik sepak bola, ada fasilitas lapangan bola di dekat Jidoukan ini. Dan pelatih-pelatih itu bisanya anak-anak mahasiswa sebagai kerja sambilan. Sepertinya dana untuk menyelenggarakan itu dari pemerintah daerah setempat.

Yang ingin aku ceritakan, bukan sistem dari penyelenggaraan Jidokan sebagai contoh sekolah non formal. Tetapi aku ingin, bercerita kenapa mereka lebih suka masuk pada komunitas yang sama. Mungkin ini juga sebagai awal muasalnya kenapa mereka suka bergerombol membentuk komunitas yang sejenis. Atau mungkin karena cuaca yang sering kali tidak menentu sehingga mereka lebih mudah dikumpulkan untuk pengantisipasian jika terjadi sesuatu supaya mudah untuk mengkoodinasinya.

Yang jelas mereka suka sekali membuat simpul-simpul tempat berkumpul yang semakin sering ketemu akan semakin akrab, dan sifat simpulannya semakin erat tidak mudah terurai, Beda dengan orang Indonesia, lebih terbuka untuk menerima orang yang baru dikenal, dan terkesan lebih kwantitif, jumlah teman yang ditekankan, bukan kualitas pertemanannya.

Untuk itu salah alasan mengapa Handa sensei lebih mendalami Origami sebagai alat untuk menjalin pertemanan. Ya, Sabtu lalu aku diajak tuk melihat pameran origami yang diselenggarakan oleh sebuah NPO yang konsen pada mengkoleksi mainan tradisional dari seluruh dunia, terutama dari Asia Afrika, terutama jenis mainan yang belum tersentuh teknologi digital. Jenis permainan yang terkumpul dan terpajang, betul-betul asli dari masyarakat lokal dan di buat dengan teknolgi tepat guna yang mengupayakan budaya dan apa yang ada di lokal tersebut. NPO itu dikelola oleh K sensei. Kedua sensei ini termasuk orang-orang yang sangat memperdulikan sebuah kreatifitas tumbuh dari persentuhan tangan dengan benda di alam sekitar. Dan kreatifitas yang sehat adalah yang bisa mempertautkan hati di antara individu-individu yang pada saat itu sedang melakukan sebuah aktivitas bersama.

Seperti halnya yang dikemukakan Handa sensei, beliau lebih konsen pada origami yang simple, satu karya terdiri dari 2 atau 3 kertas dengan warna beda. Bentuk yang simple dan yang bisa dibuat dan ditiru orang lain, lebih dipentingkan. Dengan kertas bisa saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Sesuatu yang mencontoh karya orang lain adalah perbuatan cela, ini berlaku pada hukum dunia mana pun. Tetapi tidak berlaku pada origami. Dalam kegiatan origami ini ada orang yang mengajari satu lipatan, dan ada orang yang menirukannya, sehingga terjadi segala jenis komunikasi, bahkan komunikasi tanpa verbal pun akan bisa terlaksana.

Yang dipentingkan bukankah suatu karya yang spektakuler, misalnya, satu lembar kertas bisa menjadi satu dinosaurus yang menyerupai aslinya. Akan tetapi karya yang membuat sistem bagaimana si anak yang sudah diajari ini bisa menularkan mengajari pada orang lain. Tentu saja yang karya dinosaurus itu masih lebih lebih bagus daripada si anak bermain game digital, misalnya. Walaupun sama-sama menggerakkan ujung-ujung jari-jarinya, tetap tidak sama. Pada permainan game digital, yang aktif hanya ujung jari untuk menekan-nekan tust. Sedangkan origami, selain menggunakan ujung jarinya, juga mengoptimalkan kemampuan untuk membaca dimensi ruang.

Aaahh jadi keinget masa-masa kuliah dulu, dua puluh delapan tahun silam. Karena suka banget membuat lipatan-lipatan origami, jadi punya banyak teman. Yang awalnya hanya iseng melipat-lipat, jadi mengajari orang lain, dan orang itu akan mengajari juga ke orang lain,.jadi banyak berkomunikasi dengan dengan banyak orang. Karena yang aku lipat-lipat itu boneka kecil berkimono,..itu salah satu daya tariknya.

Seneng banget,…dari selembar kertas yang mungkin bagi orang lain tak berarti, tapi, bagiku menjadi memiliki suatu kenangan. Dan yang terpenting aku belajar, bahwa dalam dunia pendidikan, terciptanya suatu maha karya (sekali pun) bukan merupakan target. Tetapi, dengan karya yang tercipta itu bisa menstimulus orang lain mengajari orang lain juga, itu tujuan utamanya.

Akaike, 20130520, Matahari tersenyum manis 26 C 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s