Oleh-oleh (*おみやげ) menjadi Ore-ore (*オレオレ詐欺)

Bagaimana kalau lafal “Oleh-oleh” diucapkan orang Jepang?. Walhasil menjadi “ore-ore”,..yang miliki makna beda banget. Maunya enak dapatkan “oleh-oleh”, jadi terlibat “ore-ore (sagi)”, yang tidak menggenakkan.

Gambar poster adalah contoh poster peringatan オレオレ詐欺 ore-ore sagi, salah satu kejahatan dengan modus penipuan uang.

Lagi-lagi terkena efek nonton TV. Kali ini muncul karena sempat tertangkapnya kuping, melihat adegan penipuan untuk transfer uang jumlah besar, setelah dapatkan telpon dari sekolah, katanya anaknya kecelakaan dalam sinetron “Tukang Bubur Naik Haji”. Kemudian muncul rasa penasaran, apakah di Jepang juga ada kasus macam begitu? Karena mengingat Jepang termasuk Negara yang ‘jauh’ dari segala macam bentuk kejahatan dibandingkan dengan Negara lain.

Jadi teringat waktu ngobrol dengan teman kuliah orang Jepang (perempuan, 6o tahun-an) yang awam sekali dengan Indonesia. Saya serahkan oleh-oleh dari Surabaya. 「お土産ってインドネシア語では?」”’omiyage’ dalam bahasa Indonesia itu apa?” tanyanya. Aku jawab “oleh-oleh”,…eehhh dianya malah ngakak. Berawal dari kata ‘omiyage’ yang berarti ‘oleh-oleh’ (karena tidak memiliki huruf “L”, dalam lafal bahasa Jepang menjadi ‘ore-ore’), cerita ini aku tulis.

Ada beberapa modus penipuannya, juga mirip-mirip yang terjadi di Indonesia. Cuman yang menjadi sasaran penipuan, rata-rata adalah usia 70 tahun keatas, terutama yang tinggal sendiri, jauh dari anaknya.

Yang pertama 連れ回し詐欺tsure mawashi sagi, ini kayak kasus penculikan terus minta uang tebusan. Yang kedua, 上京 詐欺 Joukyo sagi, si penipu berhasil memaksa untuk pergi ke kota besar, menyerahkan uang cash. Yang ketiga, 振り込め詐欺 furikomi sagi, penipuan dengan sarana telpon, dan memaksa untuk mentrasfer ke rekening bank.

Dari cerita teman ini yang awalnya dalam benakku orang-orang Jepang itu individual banget, sehingga terkesan sudah tidak memperdulikan lagi orang lain, tapi ternyata tidak. Mereka ternyata masih juga manusia biasa. Begitu ada telpon yang menyatakan orang-orang terdekatnya ada masalah, gampang aja mereka melepaskan uangnya. Untuk itu dihimbau sekali untuk menelpon secara lebih rutin dan lebih sering terutama pada orangtua nya yang hidup seorang diri.

Dan karena kasus penipuan seperti itu semakin marak akhir-akhir ini. sampai-sampai di mana-mana ada poster gede sebagai ganti papan peringatan, terutama di tempat-tempat mesin ATM. Yang patut dicontoh, katanya di shinkansen (kereta buletrain super cepat) yang menuju ke kota-kota besar, juga berkali-kali disiarkan, “Apakah kedatangannya ke kota tujuan itu tidak karena penipuan?”, begitu kira-kira isi peringatannya.

Akaike, 20130514,. berawan 28CGambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s