Berbangga pada Pisang dan Mangga

Baru saja nonton acara TV (バラエティ番組). Acara ini mempertontonkan hal-hal yang berubah dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang dari tahun ke tahun. Yang menarik adalah cara penamaan pada masing-masing kelompok yang saling berdiskusi ini sesuai dengan jenis  buah-buahan yang masuk ke Negara ini. Banana Jidai ババナ時代 anggotanya, orang-orang yang lahir jaman 50 ~ 60 tahun-an keatas, Begitu juga Kiwi Jidai キウィ時代 (jaman 30~40 tahun-an ke atas), dan Manggo Jidai マンゴ時代 jaman 10 ~ 20 tahunan ke atas.

Sepanjang menonton acara itu aku mbayangin, berarti 50 tahun yang lalu pisang itu barang sangat langka dan tentu saja mahal banget. Sekarang sudah jadi makanan rakyat biasa. Dan aku perhatikan pisang yang dijual 24 tahun lalu (waktu itu ada di Hokkaido), yang dijual 14 tahun lalu (ada di Saitama) dan sekarang ini, sangat berbeda dalam segi kualitasnya. Sekarang manis banget dan gak gampang busuk tertutama waktu musim panas. Itulah hebatnya Jepang, begitu layak masuk dalam pasaran, langsung dibina dengan baik perkebunan-perkebunan pisang di Filipina, tentu saja disertai dengan teknologi hasil penelitian yang ga habis-habisnya. Dan yang lebih penting lagi, pemerintah dan masyarakat Filipina sangat menyambut investor pisang dari Jepang ini.

Kalau bicara tentang pisang, orang-orang Jepang masih banyak yang bingung ga bisa mbayangin pisang itu di goreng. Pisang goreng, dalam bahasa Jepang バナナ天ぷらbanana tempura. Mereka banyak yang tidak tahu bahwa pisang yang digoreng itu pisang yang memang tidak bisa dimakan langsung. Kalau kita cerita ada pisang panjangnya 40 cm (pisang tanduk) dan ada juga yang cuman 10 cm, sangat terheran-heran. Dulu pisang hanya di jual per batang, sehingga mereka baru mudeng lihat buku, atau pergi ke rumah kaca untuk melihat secara khusus pohon pisang berbuah. Ketika aku home stay, waktu itu aku ceritakan bahwa di halaman rumah pun ada pohon pisang. Dengan bangganya aku bisa cerita bahwa tempe pun dibungkus pake daun pisang. Tapi kayaknya sekarang udah berbeda ya….wah bakal gak ada yang bisa dibanggakan dengan pisang ini lagi, kalau plastik sudah mengantikan fungsi daun pisang ini.

Mereka juga banyak yang gak ngerti kalau pisang itu manjur tuk kelancaran urusan toilet di pagi hari, Dulu aku pernah ngotot untuk cari papaya, karena rasa pisang yang gak karu-karuan, menjadikan aku ogah untuk memilih pisang ini untuk mengatasi masalah toilet. Waahh ,..ternyata harga pepaya itu 3 kali lipat separuh sisir pisang, untuk papaya sebesar kepal tangan dewasa, dan rasanya …jangan ditanya,…gak enak sama sekali. Kalau papaya ini, di Okinawa ada, dan bahkan ada masakan oseng papaya muda juga ada. Dan sampai sekarang rasa papaya itu ga ada perubahan, atau mungkin bukan buah dari luar, jadi mereka pikir rasa asli papaya itu ya begitu rasanya. Jadi papaya kurang populer dibandingkan dengan pisang. Apalagi setelah ada selebritis meluncurkan tulisannya yang menceritakan pengalamannya atas keberhasilan diet banana.

Ada cerita yang bagi aku ga terlupakan, waktu hidup di Sapporo, Hokkaido. Sepulang kampus menuju apartemen mampir belanja di toko kecil (semacam konbini). Ada nenek-nenek usia 70 tahun-an. mendekati kita berdua yang lagi ngomong bukan bahasa Jepang. Dia menyapa dan bercerita, bahwa suami pernah menjadi serdadu di Sumatra,…cerita yang cukup menyedihkan. Tapi, aku salut sekali dia menutup pertemuan singkat ini dengan memasukan pisang ke dalam tas, katanya untuk sekedar ngobati kerinduan dengan tanah air. Waahh,..jadi terharu…ternyata pisang yang mahal pada jaman itu, dan yang belum tentu dia sering makan juga, menjadi penyambung antara hati manusia.

Kalau Kiwi ceritanya lain lagi. Anak-anak Jepang tahunya Kiwi itu asli buah dari Jepang, karena memang bisa diproduksi secara besar-besaran di daerah tertentu. Mungkin karena cuaca yang mendukung.

Yang bikin heran, adalah mangga, 14 tahun lalu satu biji mangga itu bisa mencapai 4000 en (400.000 Rp). Rasa mangga ini dirasa pas oleh lidah Jepang, dan di daerah Miyazaki di pulau Kyushu, ini memungkinkan untuk ditanami mangga, sejak itu mangga juga akrab dengan kehidupan sehari-hari. Dan yang menarik, mereka lebih membayangkan mangga yang dibelah beserta kulitnya dan dikerat-kerat menyerupai bentuk bunga, ketimbang bentuk aslinya.

Nglantur banget kali ini alur pikirku, Cuman pengen cerita tentang kebanggaanku atas buah-buah yang mulai merajai Negara Jepang ini. Ada harapan besar pada pisang dan mangga ini, agar masih akan mejadi tuan rumah di tanah air tercinta sampai kapan pun. Karena bagaimana pun juga sesuatu yang lokal itu jika diurus, dirawat dan dicintai juga akan menjadi bernilai tinggi.

Akaike 20130513, cuaca yang pas (ga terlalu panas dan ga dingin)

2 thoughts on “Berbangga pada Pisang dan Mangga

  1. Mencintai pekerjaan, merawat sesuatu yang ada, adalah tanggung jawab yg bersangkutan. Begitu petani penghasil mangga. Dan yang lebih penting lagi, harus ada pihak yang bertanggung jawab, bagaimana dengan pendistribusian produk tersebut sehingga bisa kembali ke petani produsen dengan nilai yang sesuai.

  2. “sesuatu yang lokal itu jika diurus, dirawat dan dicintai juga akan menjadi bernilai tinggi”

    wah mangga di sana sangat mahal ya bu, disini kalau lagi musim mangga bisa anjlok harganya. memang semua itu perlu diurus dirawat dan dicintai agar menjadi sesuatu yang berharga.

    sangat menyenangkan membaca cerita dari bu paras.

    -bisma-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s