Buah tangan: seberapa besar? seberapa ikhlas?

*ini buah tangan yang paling terkenal dari Hokkaido, cookies dengan white chocolate

GambarSeberapa tepat kita membawakan buah tangan untuk seseorang? Memberi dan menerima sesuatu semestinya disertai dengan rasa ikhlas. Hari ini rasa ikhlas itu juga berseteru lagi dengan perasaan hatiku. Karena sebetulnya yang dinamakan memberikan dengan ikhlas itu tidak disertai dengan perasaan waswas takut diomong karena pemberian itu tidak berkenan, atau tidak juga disertai dengan perasaan takut kalau pemberian kita beralih tangan pada orang lain. Pada dasarnya memberikan sesuatu itu sama dengan kita melepas hajat pagi, begitu bangun tidur di toilet. Begitu dilepas, lega, dan ga perlu ‘dilihat’ lagi.

Memberikan oleh-oleh dalam pandangan suami masih tetap tak berubah. “Jika memberikan sedikit saja, apa artinya?” Nah,..si suami ini rupanya masih terpancang pada pemikiran aslinya, yang hidup dalam masyarakat heterogenitas tinggi dan yang dibesarkan dalam lingkungan berlebih sebagai keluarga pamong sekaligus keluarga petani.

Pagi ini suami berangkat ke tempat kerja dengan membawa oleh-oleh dari jalan-jalan ke Hokkaido beberapa hari lalu. Hal ini pun rasanya aku sudah berulang kali cerita, bahwa cara memberi sesuatu pada orang Jepang sangat beda banget dengan cara kita. Wajarlah,..sesama orang Indonesia pun sangat berbeda, dan sangat dipengaruhi juga oleh pribadi masing-masing.

Perbedaan yang paling mendasar adalah memberikannya harus sesuai dengan jumlah kepala, dalam arti, kurang tidak boleh, tapi juga sebaiknya tidak lebih. Jadi bukan kwantitas yang banyak, tetapi sedikit saja dengan kualitas kemasan yang cantik pada tiap-tiap piecesnya. Biasanya hanya sebesar satu potongan kecil, satu kali masuk mulut, itu sudah cukup. Oleh sebab itu ada istilah “kimochi dake” hanya sekedar perhatian kecil saja, itu kira-kira artinya.

Ini juga berlaku waktu kita bertamu atau pun di datangi tamu teman Jepang. Jika kita menyuguhi dengan yang berlebih, akan menjadikan tidak baik bagi yang dijamu, karena merasa yang tersaji itu harus atau setidaknya disisakan hanya sedikit saja. Jadi kalau terlalu banyak, akan membuat kesan si tamu untuk terpaksa menghabiskan yang disajikan. Seperti pengalaman tahun lalu, ada satu kuliah yang setiap kali selesai kuliah kita tea-break  dengan disertai kue-kue secara bergiliran kita membawanya. Dari situ aku betul-betul memahami bagaimana mereka menyajikan suatu suguhan. Suatu kali ada seorang teman membawa kue yang tidak terbungkus tunggal pada masing-masing pieces, jadi otomatis, terbagi rata pada masing-masing orang. Eehh,…dia sangat-sangat merasa malu dan merasa salah, karena sudah memaksa orang lain untuk mengeluarkan waktu ekstra untuk menghabiskan kue.

Pernah juga aku juga berpikir, “Uuhhh… pelit banget ni.. si Jepang, menyajikan kue kok terkesan dijatah”. “Lha kalau si tamu itu berkenan dan pengen makan lagi, gimana?”. Ternyata ada banyak alasan mengapa mereka mempunyai kebiasaan seperti itu. Kalau menerima sesuatu dan terlalu banyak, mau dikemanakan? Kalau kita mungkin memiliki pemikiran ‘mubazir’ dan ‘sedekah’. Dan yang terpenting lagi untuk tidak menjadi mubazir itu ada pipa penyalurannya. Mungkin karena negara ini semuanya terkesan homogen, jadi memberikan pada seseorang jadi perlu berpikir berulang kali. Dimakan sendiri, ga nututi perutnya, mau berbagi ke orang lain, penyalurannya tidak sesimpel cara kita.

Bukan berarti mereka tidak memiliki saling tukar menukar makanan atau hantar mengantar oleh-oleh atau makanan. Mereka sama dengan kita, memiliki budaya membelikan atau membawakan omiyage atau buah tangan atau oleh-oleh itu. Hanya cara menentukan seberapa besar jumlah oleh-oleh itu yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s