Di antara 21 dan 22

Gambar

Renungan ini keluar begitu aja dalam perut si burung besi yang membawaku  dan suami dari Shin-Chitose ke Centoria (1 Mei 2013)

Persis pada angka dua puluh satu tahun, aku panjatkan doa pada kaki-kaki kokoh Kabah. Sejauh ini kami berjalan tak juga merasa temukan dengan cepat jalan pintas tuk tengahi pebedaan bawaan lahir dan pengaruh lingkungan sebelum kami bertemu. Dan aku merasa malu pada Allah,..karena Dia mendengarkan dan mengabulkan permintaan-permintaanku tuk tetap bisa bersama mengarungi samudra dengan gelombang-gelombang perkawinan kami. Karena….sebetulnya aku tahu, tanpa kita minta pun Allah akan memberi. Dan yang kita perlukan hanyalah berusaha mengikuti laur gelombang itu dengan ikhlas. Dimana ukurun sebuah keikhlasan ini dan bagaimana tanda keikhlas ini tercapai hanya rahasia Allah semata dan diri sendiri yang merasakan.

Dan sekarang ini pada angka menjelang dua puluh dua, perasaan itu masih ada aja. Cuman semakin ringan, karena celetukan dan komentar-komentar dari anak sudah semakin rasional. Dan yang terpenting lagi sudah bisa menyadari bahwa anak sudah menjadi bagian dari masyarakat sosial.

Orang bilang usia 0~5 tahun adalah usia paling rawan dalam sebuah perkawinan. Kalau Parastuti bilang,…bukaannn!!! Karena usia perkawinan muda itu wajar saja kalau gampang patah. Tapi diusia perkawinan yang mendewasa ini kan wajarnya bertambah kuat, tapi justrus disinilah ujiannya.

Aku merasa, usia rawan dalam sebuah perkawinan dimulai dari sejak si anak sudah mandiri dan orang tuanya merasa sudah siap si anak tuk dilepas masuk dalam hutan rimba masyarakat sosial. Sejak itu terasalah rasa lelah letih yang sebetulnya kalau mau jujur, sudah sejak lama banget, pengen tu si beban lepas dari bahu, tapi ga kita rasakan . Kayak kita melakukan perjalanan jauh aja,..waktu melakukan sih ga terasa, begitu kita duduk istirahat,…terasa keletihan kita.

Pada saat itu kejenuhan tingkat tinggi mulai merangsek. Kejenuhan itu bisa semakin tajam ketika kita merasa sudah semakin tua, menyebabkan ketidak pedean pada urusan yang paling rahasia bagi sebuah pasangan suami istri. Dipertajam lagi adanya itung-itungan yang selama ini sudah dilakukan dan merasa dirinya sudah melakukan tuk keluarga lebih berat dari dari pasangannya. Dan akan lebih lebih menjadi tajam lagi, jika saling merasa kalau pasangannya sudah tidak bisa diajak ngomong dengan enak.

Kalau sudah begitu, sebetulnya cuman ada satu jalan. Lebih saling menyadari kalau pasangan adalah bagaimana pun juga bukan bagian dari diri. Tapi pasangan adalah sebuah individu tersendiri yang bagaimana pun juga memiliki otorita sendiri. Saling menghormat otorita masing-masing dan menyadari bahwa pasangan kita, bukan ‘bagian’ tapi hanya ‘mitra’ yang saling berjalan beriringan menyusuri rel tuk menuju stasiun yang sama.

Moony Kanie,…melewatkan malam tuk mengakhiri libur Golden Week 2013,…masih juga terasa dingin, padahal sakura sudah sebulan lebih berlalu…2013 05 05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s