Gallery

Raudhah di Nabawi

Nabi Muhammad saw gemar sekali dengan tempat ini, dan beliau menyebutnya dengan Raudhah (secara harfiah bisa diterjemahkan dengan Taman Firdhaus). Raudhah ada di dalam Masjid Nabawi (Medinah), tepatnya antara mimbar dan makam Nabi Muhammad Saw. Ada satu keyakinan yang tertanam di hati para penziarah ini. Kalau berdoa di tempat ini, akan lebih ‘didengar oleh Allah’, tapi sayang sekali banyak yang salah tangkap maksud, sehingga ada yang berniat juga ‘nandur foto’. Ini adalah cerita salah teman, aku sendiri tidak melihat secara langsung. Di sudut area Raudhah ini ditemukan beberapa KTP atau foto-foto dengan maksud si penitip foto bisa datang memenuhi undangan Allah, karena sudah disebut oleh orang yang dititipi doa dan foto itu. Hehehe,.. niatan seseorang tuk datang ke sini patut diacungi jempol ya,…cuman caranya …..

Beda banget dengan suasana Masjidil haram, Masjid Nabawi ini terkesan seperti menerima jamaah yang dalam kondisi travelling daripada menjalankan suatu kewajiban dari suatu ibadah.

Pada saat malam, setelah magrib dan Isya, terutama malam jumat (malam panjangnya di negara ini), pelataran masjid berubah menjadi taman kota. Banyak banget orang bersama keluarganya berdatangan dan yang ABG juga saling bercengkerama. Sempat bingung juga, walau pakai cadar pun mereka bisa saling mengenalinya. Payung-payung raksasa di pelataran masjid yang menjadikan ciri khas dari masjid ini hari sebelumnya kuncup pun, malam itu bermekaran menahan titik-titik hujan yang sempat menghampiri Madinah. Dan memang sekeliling Masjid penuh dengan mall cantik dan hotel-hotel mewah.

Kembali menyoal Raudhah. Alhadullillah, hanya sekitar 1 jam~1,5 jam menunggu setelah sholat Isya, udah berhasil sholat sunnah hajat san sholat sunah taubat di area Raudhah ini. Padahal cerita teman-teman yang lain, ada yang sampai jam setengah satu mulai abis Isya baru bisa terlaksana, dan kondisinya berdesak desakan. Jadi bisa dikatakan ga mesti harus begitu kok, kalau pas rejekinya ya biasa aja kok, persis kayak Thowaf di Masjidil Haram, sama sekali sikon gak bisa tertebak. Aku pakai istilah area ini karena, Raudhah bukan berupa ruangan yang berdinding dan menjadi bagian penting dari masjid Nabawi ini. Ada kubah kecil warna hijau, kalau dilihat dari luar bangunan masjid yang menandakan itu sudah dekat dengan area Raudhah. Pada jam-jam Jemaah wanita berziarah, Raudhah seperti dilokalisir, supaya tidak langsung bertemu dengan jamaah laki-laki. Dan kayaknya ribet banget. Kalau laki-laki sih setiap selesai sholat lima waktu bisa masuk, beda dengan perempuan. Hanya sehabis sholat Subuh sampai menjelang Dhuhur, sesudah sholat Ashar dan sesudah sholat Isha, jam 22.30, pintu masuk masjid sudah di tutup.

Tanggal 2 Nov (hari terakhir, sebelum balik ke Nagoya), sejak maghrib sudah duduk manis, berniat tuk bisa mencapai tempat Raudhah, oleh karena itu ber-dua dengan teman, merangsek ke shof yang bagian depan. Setelah Isya baru oleh laskar dikelompokan berdasarkan suku bangsa, jadilah bareng juga dengan Jemaah Malaysia (kelompok melayu). Sambil menunggu kelompok jamaah dari suku bangsa lain, kami menunggu sambil diberi informasi seputar ziarah kubur oleh laskar. Sebetulnya kalau mau ngikuti, semuanya bisa jadi lancar kok. Dan sebetulnya kalau udah satu kali  berpengalaman, bisa kok berjalan sendiri, gak serumit yang kita bayangkan.

“Allahu Akbar,..kau berikan tuk mengasah rasa kegakumanku pada kemegahan rumahMu”, tak henti-hentinya rasa syukur itu muncul, selama menunggu giliran masuk area Raudhah itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s