Perputaran ekonomi dan gigi gingsul

Pandangan umum, cewek gingsul itu terkesan manis dipandang, terkesan juga gadis yang smart, ga hanya di Jepang aja, di Indonesia juga begitu,…udah dari duluu. Karena aku punya adik cewek juga gingsul, kalau tersenyum manis sekali. Malah waktu awal-awal kuliah dia pernah diledekin sama dosennya, ”wah gimana nih kalau dokter giginya ga beraturan, apa pasiennya mau datang”,…hehehe ini cerita beberapa tahun silam,..sekarang alhamdullillah sebagai dokter gigi, gak kekurangan pasien kok.

Balik menyoal gigi gingsul. Akhir-akhir ini, di Jepang ada trend gigi tak beraturan, jadi yang tadinya sudah rapi dari lahirnya, dengan sengaja, giginya dibuat berantakan. Dengan cara menempelkan gigi palsu di bagian gigi taringnya. Hehehehe…jadi banyak ada terlihat gadis-gadis usia SMP/ SMU  semua pada bertaring kalau tersenyum. Beda ama di Indonesia ya,…orang rame-rame pasang behel, walau giginya tak bermasalah sekalipun. Kontradiktif banget, di Jepang, gigi rapi dibikin berantakan, di Indonesia, gigi rapi lebih dirapikan lagi. Kedua fenomena ini bertujuan sama, hanya untuk menarik perhatian lawan waktu berkomunikasi, atau hanya untuk menutup kekurangan pada bagian diri yang lain

Fenomena di Jepang ini muncul, karena salah satu personil AKB 48 (Sakano Tomomi) dan pe-golf muda (Arimura Chie) yang gingsul ini karier dan debutnya melejit. Hal tersebut menjadikan trend-trend baru dalam masyarakat Jepang. Dalam bidang bahasa, kata “Yaeba girl” 八重歯ガールini menjadi kosa kata baru dalam Bahasa Jepang. Kata ini kurang lebih berarti gadis-gadis manis (ガール) yang ber gigi gingsul (Yaeba 八重歯).

Dalam bidang ekomoni dan juga kesehatan gigi berdampak besar sekali rupanya. Anak-anak Jepang usia remaja ini jadi tidak wegah untuk mendekati klinik gigi. Sejak kecil memang mereka akrab dengan dokter gigi. Kebiasaan merawat gigi sejak dini ini patut diacungi jempol. Tapi semakin mereka beranjak remaja, berkurang kebiasaan baik ini. Disamping pondasi gigi yang terawat ini sudah bagus, juga karena kegiatan selain sekolah bertambah, misal, arubaito (kerja part time).

Harga-harga yang tercantum tuk pasang gigi tiruan gingsul ini pun tidak seberapa mahal kok. Terjangkau sekali dengan hasil mereka kerja part time, apalagi ada semacam diskon khusus bagi yang membawa Kartu pelajar. Kebanyakan klinik-klinik tersebut, rata-rata mematok harga sekitar 10.000 yen ~ (1,2 jt Rp). Yang sebetulnya aku pengen tahu, kalau udah ga nge-trend, apa bisa ya di copot dengan mudahnya balik asal.

Begitulah Jepang,….ada apa sedikit aja sudah merebak,…hhmmm baik jg tuk perputaran ekonomi….ya. Sebetunya, gak hanya Jepang sih, Indonesia juga begitu. Yang diuntungkan ya pelaku-pelaku bisnis ini, apalagi jika dikaitkan dengan jumlah penduduk. Sekali meluncurkan produk, bisa meraup keuntungan besar. Tak apalah jika perubahan itu kearah kebaikan, tapi jika yang sudah rapi ini dibikin tak teratur,…yah apa mau dikata,…fashion adalah fashion yang punya masa trend tertentu tuk booming dan akhirnya tenggelam tergantikan dengan trend yang lain. Dan adanya trend ini juga berkorelasi dengan adanya suatu perubahan

51Uo24c1f1LSalah satu anggoto AKB, Tomomi Iano
(sumber:
itanotomomgaz.blog94.fc2.com)

Posting 19 des 2012 (Akaike, pagi cerah, 6 C)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s