Plus minus berbendera Jepang

Plus minus di bawah bendera Jepang. Paspor ditahan sejak kedatangan di bandara Jeddah tanggal 17 Oktober malam, 2012, dan si paspor itu baru dibagikan di bis waktu perjalanan dari Mekkah ke Madinah, tanggal 31 Oktober 2012. Rencana ini pun udah tertunda 24 jam lebih, masih dengan sisa-sisa kesabaran kita menunggu kepastian kapan datangnya bis. Kenapa begitu?? Ya, kalau mau ‘ikut’ Jepang, memang gitu, coba kalau ‘ngikut’ Indonesia semuanya kayaknya serba ada yang mengatur dan membimbing (pa lagi, kalau mau ngikut yang ‘plus’).

Pegupon omah’e doro, melu Nippon tambah soro (pegupon rumah burung doro, ngikut Nippon tambah sengsara),..hehehehe dalam hal ini sih ada benernya, tapi, ada gak benernya juga kok.

Memang sih kita kesannya kayak di-cul alias di-umbar, begitu nyampe di Mekkah. Memang ada sih beberapa kali pertemuan, tapi infomasi yang didapat gak maksimal. Tempat lobby penginapan gak memadai sebagi tempat pertemuan dan info-info penting, disampaikan pake beberapa bahasa (Jepang, Indonesia, Inggris, Urdu, Arab). Hebat kan,…jadi, kita yang tadinya gak seberapa ngerti, ya tambah ga ngerti sama sekali hehehe…😦 . Tapi begitulah manusia,…begitu dihadapkan tembok, yang ada cuman bagaimana bisanya melewati tembok ini, tuk sampai di seberang tembok itu. Begitulah,..semakin kita merasa tertantang tuk merasakan asyiiknya napak tilas perjuangan Nabi Muhammad menyiarkan agama Islam, termasuk saat beliau hijrah dari Mekkah ke Madinah. Juga waktu Siti Hajar hilir mudik Shofa-Marwah yang akhirnya temukan sumber air zamzam. Dan juga merasakan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim ketika anaknya Nabi Ismail berucap, dirinya rela berkorban jika itu kehendak Allah,..Subhanallah.

Masih kembali menyoal transportasi yang tak ada henti-hentinya bermasalah. Tapi kita tetep mencoba bersabar dan memahami. Maklum travel yang kita ikuti ini hanya 1 dari 2 travel yang ‘direstui’oleh pemerintah Arab Saudi untuk membantu orang-orang seperti kita yang berniat pergi dari negaranya si Doraemon. Dan tentu saja jamaahnya berbagai Negara. Dan tentu saja jika tahun-tahun sebelumnya ga pernah sebanyak tahun ini jumlah pesertanya, wajar (kalee…) berkali-kali temui permasalahan yang fatal. Karena berhubungan dengan transportasi yang sangat berhubungan erat banget dengan masa tinggal kita yang sangat sedikit ini di tanah suci ini.

Konon menurut kabar burung, baru kali ini jumlahnya lebih dari 250 orang, travel itu kayaknya kewalahan. Apalagi teman-teman dari Negara lain itu kalau udah complain, cara menyampaikannya cukup bikin ati ciut juga. Jadi sering juga dalam keadaan pengap, karena AC yang tak bagus, capek, karena berdiri berjam-jam (pernah ada yang 8~9 jam berdiri) sedangkan teman-teman dari Negara lain ini ga punya rasa toleransi sama sekali, masih sering kita disuguhi pemandangan teman-teman dari negara lain ini marah-marah satu sama lain juga ke sopir bisnya yang memang bukan asli orang Arab

Kadang kita harus menunggu baris rapi nunggu bis datang, tapi ternyata bis baru datang setelah kita udah menunggu berjam-jam. Pada saat perjalanan ke Madinah, udah naik pun masih juga dipindah-pindah sesuai dengan list-nya, tapi lumayanlah udah gak bersama dengan teman dari negara lain yang suka bikin resek karena gak bisa sabar. Dan yang penting semuanya bisa duduk. Sebetulnya niat baik dari travel ini untuk memperbaiki diri ini terlihat kok waktu city tour Madinah tanggal 2 november di perkebunan kurma, Jabar Lut, Masjid Quba dan Masjid Qibalatani. Semuanya dapat tempat duduk, gak seperti waktu puncak menjalankan ibadah haji ini, banyak yang berdiri lebih dari 8 jam, tanpa dapatkan toleransi dari teman dari negara lain yang masih gagah-gagah tanpa malu tuk duduk tanpa menawarkarkan diri tuk gantian berdiri.

Selama perjalanan dari Mekkah ke Medinah, menurut informasi adik yang sehari lebih dulu menuju Madinah, hampir semua rest area kondisi kamar mandinya kotor. Tapi ternyata syukurlah beberapa kali berhenti di rest area, masih juga bisalah ditolerir.

Waktu mau pergi ke Mina, kita sempat berebut bis dengan teman semaktab yang nota bene ONH plus dari Indonesia juga, yang travel nya tidak memiliki angkutan bis sendiri. Waktu mau naik ada teriakan “itu yang orang-orang Jepang jangan boleh masuk!!”,…Ya Allah, mau teriak aja rasanya, kenapa gak tunjukan pada mereka sebuah sambutan yang hangat yang menujukkan bahwa Islam itu damai dan saling berbagi. Dan untungnya para mualaf Jepang dan Korea ini, mungkin tak sempat mendengar nada-nada teguran itu, tapi kami yang hanya nunut bendera mereka dan sebetulnya sama-sama orang Indonesia dengan orang yang menegur tadi sempat sakitlah hati ini.

Satu lagi waktu di Mina juga sepulang lempar jumroh mendekati malam, ada orang bagikan air mineral, tapi begitu lihat tas berbendera Jepang, dia rebut lagi air itu, Ya Allah…, hanya bisa elus dada.

Tapi ya alhamdullillah juga karena dapatkan sambutan in person raja Arab Saudi ini, tadinya tertentukan maktab 73 pindah ke maktab 118, lumayan…bisa merasakan tenda VIP, bareng dengan travel-travel ONH plus yang ternama di Indonesia. Makannya pun berasa lidah Indonesia. Dengar cerita-cerita adik yang kebetulan maktabnya tetanggaan, banyak dari teman-teman ONH plus ini yang masih mengeluh AC, matras tempat tidur yang gak nyaman dlsbnya, padahal masih banyak yang tidak seberuntung kita dapatkan maktab VIP ini.

Dengan adanya tas berbendera Jepang yang selalu tergantung di bahu ini banyak juga peristiwa-peristiwa lucu. Sering juga suami disapa dengan “nakamura”,..atau pun disalami dengan seseorang. Dan kalau aku juga ingin nimbrung merespon, jika itu orang Arab asli, dengan sengaja mereka tidak mau memperhatikan aku. Tapi jika itu non Arab, misalnya Mesir, apalagi orang itu berpengalaman pergi ke Jepang, akan senang sekali mereka mengobrol sesaat.

Pada intinya kita sering jadi pusat perhatian, karena jamaah “Jepang” ini tergolong minoritas. Dan aku secara pribadi akan merasa lega dan senang jika mereka menyambut dengan hati yang hangat pada keminoritasan Jemaah Jepang ini.

diposting 04 Des 2012 Akaike 01:45Gambar

2 thoughts on “Plus minus berbendera Jepang

  1. Saya baru tahu kalau kita pindahnya k maktab plus karena sambutan raja. Soalnya, seingat saya orang travelnya bilang dia bayar uang lebih buat mindah k plus ini, smacam traktiran karena dia sudah 10 thunan bisnis ini d Jpg. Akhir2 kmrn baru tahu kalau mutawwif yg lama sbenarnya “nahan” paspor utk dipindah k mutawwif yg baru, biasa urusan bisnis. Tapi ga tahu juga sih Bu, gimana benarnya ^^. Hasil dari ngorek orang travel d akhir2 ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s