Gallery

Semua yang tertera, jauh dari realita

Semua yang tertera, jauh dari realita.  Jangan takut akan kesulitan. Karena pada kenyatannya, semua yang terencana tidak sesuai dengan realitanya. Ya,..ini adalah salah satu hal menyadarkan aku,…yang terencana dengan baik oleh manusia, bisa brubah drastis oleh keadaan, atas kehendak Allah. Hehehe,…jauh banget ya dengan apa-apa yang biasa kita hadapi di negara Jepang ini.

Pada waktu beribadah ini, Jangan takut karena ga bisa baca Al-Quran dengan baik, ibadah kita ga diterima. Jangan takut karena merasa banyak dosanya, disana nanti akan terima balasannya. Jangan takut karena biasa tidur cukup dan teratur, disana jadi tambah pusing-pusing. Jangan takut karena tidak bisa pup-pup dengan lancar, jadi tambah berdarah-darah. Dan lain-lain, dan lain-lain….

Memang segalanya menjadi berbeda, apalagi yang biasa hidup dengan serba keteraturannya. Kita seperti disadarkan segalanya itu tidak kekal, segalanya perlu usaha, segalanya perlu ikhlas dan sabar. Jangan takut dengan segala ketakutan yang sebetulnya kita bikin sendiri. Jangan takut dengan pengetahuan kita yang minus banget tentang ibada haji ini, ternyata semuanya bisa dilakoni dan dijalani dengan perlahan-lahan tapi pasti.

Karena sebetulnya kita ga pantas sama sekali tuk mengeluh dengan hal-hal yang sebetulnya masalah kecil dibandingkan dengan mereka. Banyak jamaah yang membawa anak-anak balita bahkan batita mereka. Banyak jamaah yang ternyata mereka tidak punya tempat tinggal pemondokan tetap, sehingga sepanjang jalan mulai dari pelataran Masjidil Haram sampai ke seberang jalan bukit berbatu, penuh bergeletakan manusia.

Pada saat mendekati waktu puncak haji, mulai sekitar tanggal 8 dzul/ 24 Okt banyak orang berdatanganan seperti tumplek blek, dimana-mana sampah (walaupun pihak masjid berulang kali menyapu dengan bulldozer mesin sapu), dimana-mana bertebaran orang. Dan bukit berbatu seberang masjid memutih,..ya,,,mereka menjemur kain ihkromnya. Apakah mereka tinggal juga di situ? Waallahu alam. Yang jelas mereka juga bisa berjuang untuk bisa mengikuti aturan rukun dan wajib haji.

Dimulai tanggal 24 Okt/ 8 dzul (Rabu) semua bergerak dari Mekkah ke Mina untuk menginap di tenda-tenda. Semakin tinggi nomer maktabnya, semakin dekat dengan lokasi lempar jumroh (jamarat).

Tanggal 25 Okt/ 9 Dzul (Kamis) pagi berangkat dari tenda menuju ke padang arafah untuk Wukuf (perenungan) sampai selepas maghrib, tapi karena sopirnya bukan orang Arab, satu dari 3 rombongan bis, kesasar-sasar, sampai terancam tuk kembali ke Mina, akhirnya nyampe juga di padang arofah tuk wukuf.

Tgl 26 Okt/ 10 dzul (Jumat) dini hari sebetulnya harus sudah di Muzdalifah tuk mabit (melewatkan malam), berangkat dari Mina setelah Isya. Tapi karena jalan menuju ke sana dipenuhi lautan manusia, terancam tidak bisa mencapai batas area Muzdalifah sampai batas sholat subuh, akhirnya masing-masing orang bertanya pada diri sendiri, maunya gimana, karena pimpinan rombongan juga udah give up,…karena itu, 3 rombangan bis ini sudah tercerai berai. Aku sendiri terpisah dari suami, dan akhirnya nyampe juga dan sempat nututi setengah jam sebelum subuh, walau berjalan kaki terseok-seok dalam kegelapan malam, penuh debu dan dalam keadaan tubuh tidak fit.

Tgl 27/ 11 Dzul (Sabtu) balik ke tenda Mina dari Muzdalifah, ternyata penumpang bis kami (kebetulan dengan suami sama bis) terbagi dalam beberapa rombongan kecil. Semua turun, akhirnya bisa bersatu lagi dan naik bis yang sama. Disini ada cerita lagi. Rupanya sopir bisnya yang bukan orang Arab itu sudah jenuh, semalaman terjebak macet ga gerak sama sekali dan di tambah adanya gerutuan nada-nada kemarahan teman dari Negara lain, memuncaklah emosi si sopir. Dan ngambek-bek, gak mau pegang stir nya lagi…kita terpaksa turun di tengah-tengah area petendaan Mina. Hehehe…ga ada yang salah deh,…maklum pemandangannya hampir serupa semuanya di sana sini,..jadinya gak salah si sopir muter-muter aja di tempat yangg sama. Alhamdulillillah bisa nyampek tenda juga. Dan menyelesaikan, menuntaskan pada sore harinya lempar Jumrah Aqobah (yang paling ujung), dan alhamdulllillah, luruhlah semua yang berkaitan dengan larangan-larangan waktu ber-ihkrom, ditandai dengan pemotongan/ pencukuran rambut.

Mulailah si badan terserang demam, malam harinya dikeroki seorang teman, agak enakan… Besok paginya karena pertimbangan pengen cepat menuntaskan rangkaian rukun dan wajib haji ini kami bersepakat untuk menunda istirahat, padahal masih harus semalem lagi mabit (melewatkan semalem di tenda Mina. Sebagian teman-teman menggunakan waktu ini untuk istirahat, dan esoknya berangkat ke Majidil Haram dan tak perlu balik lagi ke Mina. Tapi karena keinginan kuat kami yang sebetulnya tidak sebanding dengan kuatnya badan, setelah Thowaf dan Sa’i masih harus balik lagi ke Mina untuk mabit dan lempar jumrah sekali lagi,  bertepatan dengan hari-hari tasyrik. Malah, beberapa teman ada yang masih tertinggal di tenda Mina ini sampai hari Tasyrik yang ke tiga (naufal akhir), mereka memaksimalkan betul-betul kesempatan emas ini dengan melakukan sholat sunnah di beberapa masjid di sekitar Mina, Luar biasa,…jempol tuk mereka.

Keluar dari tenda ke tempat lempar jumrah Ula, Wustha, Aqobah yang pertama (besoknya masih harus melempar yag ke dua kalinya) berangkat jalan kaki pagi harinya 6,5 km dari Mina ke Masjidil Haram. Sampai di masjidl Haram langsung thowaf If’adah, lanjut Sa’I di selingi sholat wajib dhuhur, setelah itu, sempat mampir hotel, ganti sepatu, karena kaki sudah mulai melepuh, dapat kabar menyenangkan pada awalnya, karena kami ga perlu jalan kaki lagi dari hotel balik ke tenda Mina, ada angkutan, dengan bayar 20 real per orang. Tapi apa daya,…angkutan itu cuman berputar-putar kota Mekkah, katanya ga boleh masuk sampai ke area pertendaan Mina. Padahal menurut info seorang teman yang menumpang bis umum balik ke tenda Mina, turunnya pangkalan bis lebih dekat ke tempat lokasi lempar jamarat, yang berarti juga udah mendekat tenda ViP tempat menginap. Ya, jamaah yang datang dari Jepang ini dijamu khusus dari kerajaan Arab Saudi, jadi kami digabungkan dengan para ONH plus dari travel-travel ternama dari Indonesia.

Balik lagi menyoal ke angkot tadi, apa daya,…akhirnya masih berjalan lagi 30~40 mnt dengan kondisi mulai demam dan kaki melepuh. padahal kalau berjalan cuman satu setengah jam. Alhamdulillah nyampe juga di tenda,…aku paksa makan mie instan cup, tanpa antri makanan dan langsung tertidur. Lewat tengah malam, sudah mulai sepi kamar mandinya baru tertatih-tatih ambil Isya dan bersihkan badan. Sempat juga ditengok adik kandung yang ada di maktab tenda sebelah.

Keuntungan kami yang sudah menyelesaikan tuntas rukun dan wajib haji ini, bisa dengan lega meninggalkan Mina asal tidak lebih dari waktu maghrib, teman-teman yang belum melakukan, pagi hari ada yang tidak sarapan langsung berangkat. Hari itu selain persiapan pulang, kami hanya melakukan jamarat Ula Wustha Aqobah yang kedua. Kali ini ini minta tolong suami untuk mewakilkan lempar jamarat.

Dari sini masih diuji lagi kesabarannya. karena kaki melepuh, suami mendaftarkan naik bis bersama anak-anak dan para orang-orang sepuh. Sangat disayangkan sekali, di dalam bis gak ada seorang pun yang bisa jadi mahkrom kita para perempuan dan anak-anak yang dianggap kaum lemah ini. Nah bener khan,..setelah beberapa jam terjebak kemacetan (padahal kalau berjalan kaki hanya diperlukan satu setengah jam),…ditengah keramaian kota Mekkah, si Aki mobil giliran yang ngambek, walhasil berjam-jam nunggu gak boleh jalan sendiri ke arah Masjidil Haram, karena dianggap tidak bermakhrom. Tapi setelah melihat kondisi yang semakin gak mungkin, akhirnya diijinkan tuk jalan ke arah Hotel yang memang sudah mendekati Masjidil Haram. Allahku Akbar,…masih juga Kau beri kekuatan tuk menggandeng anak-anak dan kaum sepuh ini, sampai  hotel dengan selamat.

Cerita semacam ini masih berkelanjutan pada waktu akan berpindah dari Mekkah ke Medinah,…dan gak tanggung-tanggung, big delay,…karena lebih dari 24 jam delay-nya…jadinya mau ke Masjidil Haram, takut di tinggal bis, tapi juga akhirnya kehilangan tuk menikmati masjid Nabawi di Medinah lebih awal…

Setelah nyampe di Nagoya,…sempat bersyukur juga,…petualangan kami ini mungkin tidak seseru yang dialami teman yang lain, tapi bisa jadi lebih seru dari teman lain. Yang jelas…semuanya yang terencana tertera di atas kertas  tidak mesti sama dengan realitanya.

Diposting 13Nov2012 10:00 Akaike.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s