Gallery

Ihrom…oh ihrom…

Kalau perempuan sih pada dasarnya sama dengan baju atau kostum yang dipake saat sholat, asal tertutup seluruhnya, kecuali terbuka pada muka/ wajah dan telapak tangan. Berdasar itu di Indonesia, toko-toko yang menjual perlengkapan haji menawarkan baju-baju ihrom perempuan yang sudah berupa i set. Sebetulnya tak membelinya pun tak jadi soal. Waktu mudik hari raya kemarin. aku pun sempat membeli beberapa stel.

Ternyata,..ternyata tidak begitu berfungsi bagi aku yang berangkat dari Negara yang jemaahnya berbagai terdiri berbagai Negara dan kebiasaan ini. Pada saat itu pandangan langsung terlihat dan terbagi dua, sebagian dari kami berpakaian ihrom berwarna hitam dan dengan dasar kain yang padat dan tentunya tidak nerawang. Beda dengan yang di bawa dari Indonesia, walaupun nutupi tubuh sampai lutut, tapi berbahan kain yang agak nerawang. Trus, kalau belu yang 1 set itu, dilengkapi dengan “beberapa asesoris perlengkapan haji” tapi ternyata tidak begitu berfungsi. Misalnya, asesoris telapak tangan yang lepasan hanya dipakai waktu sholat, bagi aku, gak berfungsi terlalu banyak. Trus juga dilengkapi kantung kerikil tuk cari kerikil di muzdalifah, ini pun juga ga berfungsi banget. Mungkin karena udah terlalu di siapkan, pada akhirnya tiba tuk dipake, tambah kesingsal/ketlingsut entah kemana, ujung-ujungnya pake kantong sembarang (tas kresek) yang penting si kerikil itu tidak ilang.

Trus juga baju dalem yang berkantung, aku bawa juga sih, tapi tidak begitu berfungsi maksimal. Beberapa teman mengfungsikan untuk tempat HP dan dompet, karena paspor kan di simpan oleh siapa aku juga tahu, yang jelas waktu setibanya di Jeddah setelah prosess imigrasi, sudah di minta tuk dikumpulkan oleh pihak travel, begitu aja di tumpuk. Ya Allah kayaknya paspor itu ga bernilai, trus beberapa teman memberi tas kresek biar ga tercecer. Padahal selama ini beberapa kami berpendapat, bahwa paspor itu “nyawa” bagi kami yang bepergian jauh dari negara.

Setelah itu rupanya ada beberapa pemeriksaan berlapis tuk chek paspor dan visa itu. Sebab sebelum masuk Mekkah, subuh tanggal 18 Okt hari kamis itu sempat di beberapa tempat kita menunggu lama banget di bis. Aku gak seberapa ingat. Karena, begitu ada info kalau begitu nyampe di Mekkah kita langsung umroh dan terus dilanjut kegiatatan yang berurutan yang memakan energ, untuk itu sebaiknya jika ada waktu digunakan tuk saving energy.

Sebelumnya sekitar jam 11 malam tgl 17 Okt waktu Jeddah sempat beli kartu telpon Mobily, gampang banget kok mengoperasikannya, kayak Indonesia aja sistemya ga kayak jepang yang mbulet gitu. Dan saranku pake aja HP yang bisa-biasa aja gak perlu yang canggih-canggih asal bisa tuk komunikasi, terutama jika pergi dengan pasangannya. Kami bawa 2 Hp dari Indonesia, tp olala,… yang satu gak bisa dipake, ya jadinya tu HP hanya tuk komunikasi monittor dengan anak yang ada di Nagoya dan sesekali menelpon orangtua di Surabaya dan yang penting lagi karena Hp itu, aku bisa bertemu dengan adikku kandng yang memang hampir datang bersamaan waktunya. adik datang dengan ONH plus. Jadi aku juga bisa langsung membandingkan dengan fasilitas yang diterimanya. Sepertinya segalanya bisa terlaksana sesuai dengan yang direncanakan. Subhaballlah,…yah ono rego ono rupo begitu kata eyangnya anakku, kata orang Jawa, wong bayar mahal ya tentu aja dapatkan sesuatu yang sesutai dengan biaya yang dikeluarkannya.

Balik lagi menyoal baju ihrom perempuan ya,…sebaiknya pakai deh baju panjang semata kaki (gak perlu sampai glembreh-glembreh, yang ada ntar tambah ribet karena kesrimpret waktu pake escalator) ntar disambung pake kaos kaki. Gak perlu pake kaos kaki yang ujung bagian kakinya bisa di buka tuk wudhu (aku juga sempat bawa dari Surabaya), kaos biasa yang biasa kita pake aja cukup. Sebaiknya pake kaos kaki yang untuk fuyu (musim dingin) jadi agak tebal dan kuat dan tidak nerawang. Beruntung aku bawa banyak, karena hamir tiap berangakat sholat ke masjid selalu ganti kaos kaki.

Trus yang biasanya ga pake kerudung besar, perlu menyiapkan jilbab besar sebatas perut nutupi dada. Dan biasanya aku dobeli lagi pake mukena bagian atasanya saja. Yang setiap harinya sudah terbiasa berbusana gamis atau abaya, hitam-hitam biasanya dengan kerudungnya yang lebar, dan itu sudah begitu aja kalau sholat, praktis banget. Jadi terlihat pemandangan yang beraneka ragam banget. Yang dari Indonesia atau Malaysia akan berputih-putih ria,  dan yang lain akan berhitam-hitam ria. Atau yang dari daratan Cina atau bekas Negara pecahan Rusia, tidak berwarna hitam, tetapi warna khaky atau abu-abu atau biru muda polos. Yang penting nyaman dipake karena kalau sholat di Masjidil Haram kan lakilaki dan perempuan campur ga ada batas.

Trus yang baju ihrom laki-laki, memang harus khusus, bagaimana cara pakenya, banyak kok caranya bisa liat di youtube, atau nanti saling liat temennya pada waktu ambil MiQot. Pada saat thowaf ada tuntunan yang harus diperhatikan, yakni bahu kanan dibiarkan terlihat.

Pada awalnya kita pikir jika udah pake ihrom, harus tetep dalam keaadaan suci alias tetep keadaan wudhu. Ternyata tidak kok, hanya saat sholat dan Thowaf aja yang harus keep wudhu. Trus boleh kok ganti pakaian. Kalau tuk laki-laki, bawa aja 3 potong, ntar yang bawah kotor, yang atas turun ke bawah dan yang atas ganti yang masih baru.

Kalau pas ada kesempatan nyuci sesudah Unroh di Mekkah, jangan lupa, dinamai, biar ga saling ketuker. Trus karena karena gak boleh berjahit, otomatis, juga gak perlu nyiapkan celana dalam dispossable segala, ya begitu aja gak pa pa kok, malah lebih ringkes, menurut pengakuan suami.

Trus karena keterbatasan infopada saat itu, semua info yang terdengar, aku coba turuti, Awalnya semuanya serba non parfume dengan segala macamnya tetek bengeknya, termasuk sabun cuci baju, body soap dan cuci rambut. Walhasil, rambut jadi rontok dan kulit jadi besisik ga karuan. Setelah berdiskusi dengan teman lain. Yang gak boleh Itu, kalau udah pake, lha mandi dan cuci rambut khan sebelum pake, ya sah-sah aja menurutku. Tapi ada untungnya juga lhoo, karena info itu aku temukan di 100 en shop tulisannya FUKIN ARAI  sabun batangan khusus tuk cuci lap dapur, logikanya kan penuh minyak dan kotor. Jadi memang mujarab banget begitu aku coba pake mencuci baju ihrom yang aku pake waktu ke padang Arofah nyambung Muzdalifah. Gak perlu rendam, bisa cepat ilang tu noda-noda lumpur, debu.

Beberapa baju dan celana yang aku bawa, beli di Uniglo atau GU (sorry, jadinya sebut merk), cari yang agak gombrong tidak berupa jeans legins. Itu aja cukup kok, gak perlu harus dengan sengaja minta kiriman dari tanah air.

Diposting 13Nov2012 16:00 Akaike

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s