Gallery

“Dari mana?”

Ibu dari mana? …mbak dari mana?

Pertanyaan ini sederhana, yang tentunya jawabannya juga ga ribet. Tapi kali ini pertanyaan ini tidak sesederhana biasanya. Karena kali ini aku ber-identitas tak hanya ganda tapi juga bisa kwartet. Jawabannya itu bisa berbagai ragam. Bisa dari Jepang, dari Nagoya, dari Indonesia, dari Surabaya,..Lhoo kog bisa,..ya ini ceritanya.

Hari pertama tgl 16 Oktober (Waktu Arab, selisih 6 jam lebih tua dari Nagoya) 2 Dzul, kami saling tatap muka kali pertama di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kami mulai bertegor sapa dan saling mengenal satu sama lain, karena luaaammaa banget hampir 10 jam, sebelum diantar ke penginapan Mekkah. Karena ternyata proses imigrasi, claim bagasi (bagasinya ada yang kesingsal nyelip di penerbangan lain), sampai penyambutan oleh raja Arab secara khusus karena jamaah dari Jepang yang minoritas ini cukup banyak makan waktu.

Jumlah grup dari travel yang kami ikuti ada 253 jiwa, berbagai usia, mulai yang bayi umur setahun. Rombongan ini terbagi 2 pemberangkatan, dari Kansai Osaka dan dari Seoul Korsel, kami bertemu di Istambul waktu transit dan ambil miqot (batas untuk menentukan pakai baju ihrom dan berniat umroh atau haji)

Seseorang bertanya ”dari mana?” jawabannya, kalau gak Korea ya Jepang. Baru kemudian Jepangnya mana? Atau Koreanya mana? Nah untuk sementara udah clear nih jawabannya. Giliran sampai di Mekkah, jika tetangga shaf sholat di Masjidil haram, orang Indonesia, pasti akan juga nanya, nah di sini agak repot jawabnya. Lama-kelamaan aku temukan jawaban. Jadi kalau ada pertanyaan senada, aku jawab dari “Surabaya”, tapi berangkatnya dari Jepang, karena untuk sementara bertempat tinggal di Nagoya.

Rombongan dari travel ini terdiri dari sebagian besar (mungkin 80%) orang Indonesia yang sedang studi, kerja, atau pun pasangan hidup mereka orang Jepang atau orang Korea. Yang 20% terdiri berbagai Negara yang juga studi, kerja dan pasangan hidup mereka orang Jepang, misal India, Bangladesh, Pakistan, Mesir, Sudan, dll. Dan ada juga beberapa muallaf dari orang Jepang, Filipin, Korea, Kamboja kira-kira 15 orang, yang sebagian besar pasangan mereka orang asing. Ada juga beberapa diantaranya yang berhaji sekeluarga (anak-anaknya usia SD) dan juga yang membawa balita, dan juga beberapa diantara jemaah ada yang lagi hamil. …Subhanalaah,..mereka semuanya baik-baik aja sampai kembali ke Jepang/ Korea. Padahal medannya begitu berat.

Jamaah perempuannya lebih banyak, mungkin prosentasenya 6:4. Jamaah perempuan ini harus mempunyai mahrom, biasanya mereka gabung dengan seseorang yang berhaji dengan pasangannya. Ada juga jamaah sepuh-sepuh yang datang dari Indonesia, yang anak-anak mereka juga bagian dari rombongan haji travel ini.

Bagaimana mereka bisa datang, itu adalah rahasia Ilahi,..rasanya kalau udah panggilanNya, dari mana pun juga bisa. Konon menurut kabar burung, mulai tahun depan, pemerintah Arab Saudi ini lebih selektif lagi tuk bikinkan visa Haji ini. Pertama-tama katanya Visa akan diperikasa lebih dulu, ijin tinggalnya harus sedikitnya setahun, orang yang sudah berhaji kalau mau pergi lagi setidaknya harus menunggu 5 tahun. Dan yang ‘single-single’ (tanpa pasangan) ini, orang yang berusia 45 tahun diprioritaskan dan yang membawa orang tuanya dari tanah air ini juga mulai diseleksi

ditulis dan diposting 09/11/2012 jam 1:15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s