Gallery

Kelapa??… Salak??… Bawang Bombay??…

Kelapa??.. Salak??..atau Bawang bombay??…Heyyy,…ada di manakah kita sekarang ini? Di pasar kah?? Di supermarket kah?? Sebetulnya kita sedang tidak kemana-mana, kita hanya ada di dalam hati kita sendiri.

Tulisan ini terlintas begitu aja ketika aku mengingat awal-awal kedatanganku, waktu musim panas lima tahun lalu saat aku diminta tuk bicara tentang Jepang dari kacamata mahasiswa asing yang tinggal di kota Togo (kota kecil tetangga Nagoya)

Inilah salah satu gambaran orang Jepang dari kacamata orang asing. Banyak orang bicara, tuk bisa masuk dan diterima dalam masyarakat Jepang tidak semudah membalik telapak tangan. Mereka seperti KELAPA, keras diluar, tapi begitu batok terpecahkan, dengan mudah mendapatkan isinya. Diperlukan perjuangan tuk merobek ‘sabut’nya, yang tak mudah tercerabut. Diperlukan tenaga tuk memecah ‘batok’nya, yang tak mudah tertotok.  Susah?.. Ya!!…

Mereka tidak mudah tuk mempercayai orang asing yang hidup dinegaranya, tapi mudah tuk dibohongi begitu keluar dari negaranya. Mereka terkesan menutup diri, dan juga menutup komunitas yang dimiliki, terhadap orang yang menurut mereka patut di’asing’kan. Tapi, mereka akan menjadi ‘lengket’ (*bedakan dengan istilah ‘akrab’) begitu penerimaan dimulai. Sehingga, lahir istilah si kutu loncat yang bernada negatif, bagi orang yang ingin memperlebar jaringan silaturrahmi dengan kelompok komunitas lain.

Kenapa begitu??..Budaya mereka mengajarkan tuk menghargai lawan dan tidak menyakiti lawan dengan cara ‘menahan’ segala apa yang ingin diucapkan. Dengan bertambahnya anggota dan melebarnya hubungan interaksi, belum tentu mereka siap menerima, karena dengan bertambahnya komunitas interaksi, porsi penahanan diri ini akan bertambah juga.

Dan bagaimana dengan pandangan orang Jepang terhadap orang Indonesia?  Ooo.. ternyata,… seorang Jepang yang sudah berinteraksi dengan Indonesia selama puluhan tahun mengibaratkan dengan SALAK. Kulit salak terkesan menjijikkan seperti kulit ular, tapi dalamnya putih kekuningan, warna yang bisa bikin ati tenang, begitu dia berusaha menjelaskan pada orang Jepang lain. Ya,..karena orang Indonesia miliki hati yang tulus dalam berinteraksi dengan sesamanya (*walau yang disertai pamrih juga tidak sedikit, wajarlah,…karena manusia biasa, tapi setidaknya itulah yang di tangkap oleh mereka). Tidak perlu ‘casing’ tuk menutup diri yang berlebihan, mudah tuk menjadi akrab sekalipun dengan orang yang baru aja ditemui.

Hehehehe,…susah ya kalau mau menjelaskan KELAPA dan SALAK pada orang Jepang yang belum tentu tahu. Kalau aku lebih suka mengibaratkan mereka dengan BAWANG BOMBAY. Kenapa begitu?? Semakin kita masuk dalam kehidupan masyarakat Jepang, sepertinya semakin mengerti akan ketidak pahaman kita yang sebetulnya tidak pernah tamat. Satu lapisan kulit luar kita kupas, kita akan temukan lapisan-lapisan kulit lain yang senada. Selapis demi selapis kita kupas, semakin merasa tidak menemukan jati diri mereka yang sebenarnya,..dan akhirnya tiba suatu saat ujug-ujug pemahaman kita terhadap orang Jepang itu menghilang, tanpa kita sadari pada lapisan yang keberapa. Dan sampai akhirnya pada lapisan kupasan yang terakhir, merasa semakin tidak paham.

Sekarang tergantung darimana kita meng-identifikasi sebuah jati diri, mau jadi si KELAPA kah? si SALAK kah? atau si BAWANG MOMBAY kah. Dan kemudian men-setting-nya, mau ditempatkan di pasar tradisional yang becek kah atau di pasar modern yang bersih kah. Semuanya balik tergantung pada diri kita….

Akaike//2012.07.28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s