Gallery

Arti senyum itu bagi-ku

 

Hari ini aku diskusi banyak banget dengan seorang teman Jepang, seorang bapak-bapak pensiunan perusahaan Toyota. Bapak tersebut sangat perhatian banget dengan Indonesia, aktif juga diperkumpulan volunteer pemerhati Indonesia. Beliau sangat paham budaya dan pemikiran orang Indonesia. Pada saat itu beliau menunjukan artikel tentang pengalaman beberapa polisi Indonesia yang berkunjung dalam rangka studi banding ke Jepang.

Judul artikel itu kalau ga salah, “Belajar Senyum dari Negeri Sakura”.

 “Saya tidak sepenuhnya setuju dengan judul ini” spontan aku nyatakan kejujuranku, begitu aku baca judul itu

“Kenapa begitu?” tanyanya.

“Karena aku merasa, hampir tidak pernah menemukan ketulusan senyum itu”. Senyum seperti itu dimiliki orang-orang yang paham akan prinsip ‘arti melayani’ dan ‘arti kerja terutama dalam bidang jasa’. Jadi, senyum itu adalah bagian dari kerja mereka. Aku tidak pernah menemukan senyum itu setelah keluar dari arena dan situasi kerja itu, padahal pelaku senyum itu orang yang sama sekalipun.

Orang Jepang sangat patuh dan taat peraturan. Dan aturan kerja, terutama dalam  bidang jasa adalah melayani pelanggan dengan baik. ‘Melayani dengan baik ’ berarti, harus dengan ramah tamah dan harus disertai senyum.

Waktu aku masih tinggal di Miyoshi, di dekat apartemen ada show room mobil. Mereka akan mengantar pelanggannya sampai keluar toko. Dan kalau pelanggannya membawa mobil, akan menyetopkan mobil lain untuk minta kesempatan. Dan membungkukan badan sampai si pelanggan hilang di tikungan atau tertelan keramaian. Ini berlaku bagi pegawai perempuan juga. Bayangkan dengan pakaian rapi ber-blazer dan ber-jas ala kantoran, melakukan yang biasa dilakukan oleh pak parkir di Indonesia. Dengan begitu, kesan yang tertinggal dibenak pelanggan itu akan mancep dan tidak akan kelain hati (baca: ke lain show room) kalau memang ada yang diminati.

Begitu juga seorang polisi, yang dalam bayangan kita bermuka seram dan berhobi nyemprit. Karena mereka paham akan posisi seorang polisi sebagai pengayom dan pelayan masyarakat. Rata-rata dari mereka sangat baik dan ramah, tidak ketinggalan selalu tersenyum sewaktu menjalankan kewajiban kerja. Karena itu, saat orang tertilang, si pelanggar akan dengan penuh kerelaan melepas SIMnya. Dengan cara mengantarnya sendiri ke kantor polisi pada waktu yang tidak sama dengan hari pelanggaran terjadi. Disambut polisi juga dengan ramahnya dan terkesan telaten banget ngadepi si pelanggar. Juga masih dengan senyumnya.

Sepertinya ada rangkaian yang erat antara, sebuah kejujuran dan keramahtamahan disertai senyuman, dan sebuah peraturan

Senyum dan keramah tamahan itu lahir, karena memahami sebuah prinsip kerja itu. Dan yang aku rasakan, ternyata beda banget dengan seseorang yang tersenyum atas dasar ketulusannya.

Aku hanya membayangkan, betapa lebih harumnya dan mewanginya senyum orang-orang Indonesiaku yang terkenal akan keramah-tamahannya, jika mereka mau belajar memahami prinsip melayani karena suatu pekerjaan. Karena, pada dasarnya orang Indonesia adalah bangsa yang memiliki ketulusan dalam senyum itu dalam situasi apa pun

AikyouDai library 3 Juli 2012, hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s