Gallery

P U I S I pengisi jiwa

SATU

(Sutardji Calzoum Bachri)

kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku

ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu

arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku

ANTARA TIGA KOTA
Oleh : Emha Ainun Najib

Di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk

kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu

kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga

Surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya

kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Dalam Doaku

(Sapardi Joko Damono, 1989)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit

yang semalaman tak memejamkan mata,

yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,

yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,

yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja

yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,

yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin

yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,

yang setia mengusut rahasia demi rahasia,

yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

ASMARADANA

(Goenawan Mohamad)

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,

karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.

Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Ia ucapkan perpisahan itu.

Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,

ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,

karena ia tak berani lagi.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Aforisme Sekuntum Mawar

  (Jamal T. Suryanata)

pada duri yang menjaga tidurmu

kupinjamkan sebait sajak cinta

dunia kata yang menerbangkan mimpi

menuju keasingan demi keasingan

kota yang membawamu ke puncak peradaban

“aku hanya ingin menjadi diriku

selalu terjaga di antara duri-duri

rahasia yang tak perlu kaupahami

maka sudahilah,” katamu dengan mata nanar

seakan menyangsikan keakanan yang jauh

sekarang tak lagi kutulis sajak cinta

tapi kerinduan itu telah menghanguskan segala

bahkan mantra pun telah kehilangan tuahnya

“aku hanya ingin menjadi diriku

selalu terjaga di antara duri-duri,”

ulangmu sekali lagi dengan galau di dada

kalaupun tak lagi kutulis sajak cinta

cahaya rindumu sudah terpantul di situ

pada damai suara keilahian

1995

Pastoral

Acep Zamzam Noor

Kabut yang mengepungmu

Telah runtuh menjadi kata-kata

Rumah kayu hanya menyisakan dinginnya

Dan sunyi mengendap di sana

Maut bukanlah kabut yang mengendap-endap

Tapi salju

Yang berloncatan bagai waktu

Dan menyumbat pernapasanmu

Beranjaklah dan jangan menengok

Ingin kusaksikan tubuhmu telanjang

Tanpa mantel keyakinan

Menjauh dan semakin menjauh

Kubah mesjid dan runcing menara katedral

Tenggelam di balik perbukitan

Senja mengental dalam gelas kopiku

Dan kureguk sebagai puisi yang pahit

Beranjaklah dan jangan menangis

Obor malam akan mengantarmu pergi

Melintasi jalan kesabaran

Menerobos hutan

Maut bukanlah kata-kata

Tapi doa

Yang memancar bagai cahaya sorga

Dan membakarku tiba-tiba

1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s