Gallery

Nama yang diganti,…Nama yang disebutkan

Kenapa mereka (cewek-cewek Jepang) alot banget tuk memutuskan menikah,..akhirnya aku bisa pahami mereka. Ternyata,.. tidak hanya kekuatiran pada masalah kerja yang bisa diteruskan apa tidak. Tidak hanya juga ritme kehidupan yang akan berubah jadi 180 derajat. Tetapi, ada yang lebih penting dari itu, yakni, perubahan nama. Yaa…!!! Nama marga/ keluarganya berganti dengan nama marga suami. Seberapa jauh pentingnya sebuah nama ini,…mengelitik rasa penasaranku. Jika masih dalam lingkungan formal (mis. kerja) walau cukup akrab pun, mereka memakai nama marga itu.

Uwaaahhhh,..bisa dibayangkan,..begitu menikah, semuanya berubah!!! Dari sini keribetan sudah dimulai, diawali pengurusan ganti nama di kantor pemda, dan bikin 印鑑 (cap tanda tangan) dlsb. Lha,..bagaimana dengan jati diri yang tak terlihat, secara psikologis apakah dijamin tak juga ikut berpengaruh???

Yang lebih penting lagi, jika nantinya meninggal. Abunya akan dimasukkan jadi satu tempat dengan keluarga si suami. Kalau hubungan selama hidup mereka tidak menunjukkan baik-baik aja (mis, antara ibu mertua dan menantu perempuan), ….iiihh ngeri, bisa jadi ada ketidak ikhlasan terbawa ke kubur. Belum lagi jika terjadi perceraian dan keretakan dalam rumah tangga. Seorang teman, sangat tidak menyukai nama keluarganya, karena bapaknya meninggalkan ibunya dan kedua adiknya saat masih SD. Dan nama itu sangat mengusik hatinya sampai setidaknya dia menikah.

Dalam hal perngantian nama ini ada istilah 「お嫁にいく」”o-yome ni iku” si perempuan masuk keluarga laki-laki. Atau, jika tak memilik anak laki-laki dan dikuatirkan nama marga itu akan musnah, maka keluarga perempuan akan meminta “Muko Yoshi wo mukaeru”「婿養子を迎える」, yakni, meminta kesediaan menantu laki-laki untuk memakai nama keluarga istrinya.

Berhubungan dengan nama ini ada beberapa cerita, salah seorang prof di kampusku sekarang ini, memutuskan menikah pada saat bersamaan dengan penerimaan ijazah S1, walaupun sebetulnya belum merasa siap berumah tangga. Pada saat itu beliaunya memutuskan untuk menjadi peneliti dan pengajar. Tujuannya, begitu karya-karya ilmiahnya mulai dikenal khalayak umum, dia sudah berganti nama.

Satu lagi cerita, pada saat kita naik kendaraan umum. Tidak sedikit yang menyebutkan nama petugas/ pembawa kendaraan tersebut. Ga kebayang kalau di negara kita ada suara yang berkumandang dari speaker seperti ini “ Selamat pagi para penumpang yang terhormat, saya Paidjo, sopir bis ini, akan membawa anda ke tempat tujuan anda, dan saya akan menjalankan kendaraan ini dengan aman, silahkan menikmati perjalanan anda”…hehehe kalau pesawat, wajar aja, tapi ini bis,..!!! yang berjarak tempuh cuman 15 menit. Setelah adanya suatu penelitian, ternyata dengan menyebut nama, si penumpang merasa betul-betul bisa merasa nyaman dan aman. Dan si petugas/ sopirnya juga merasa, “yossh bismillah (mungkin sama dengan ucapan ini).. aku kan mulai pekerjaan ini dengan penuh tanggung jawab”.

Semuanya berpulang pada kita semua,..mau menyebutkan dengan lantang atau dalam hati berniat dengan baik. Atau mau berganti nama atau pun tidak berganti, jika semua dijalani dengan keiklasan dan tanggung jawab akan membawa suatu kebaikan

2 thoughts on “Nama yang diganti,…Nama yang disebutkan

  1. tiwikpr says:

    Halo Tut, senang baca tulisan-tulisanmu. Ikut di milis keluargaunesa dong, supaya juga bisa ikut sharing pengalamanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s