Gallery

Titik beda KETAKUTAN antara orang Jepang dan orang Indonesia

Ketakutan akan KESENDIRIAN kah?

Orang Jepang rela mengeluarkan 5~8 ribu yen (sekitar 600rb~900rb) per setengah hari untuk menyewa orang. Mereka bisa meminta tolong pada 便利屋さんkalau diterjemahkan secara harfiah, toko yang menyediakan jasa apa saja bisa,…hehehe jelek sekali ya terjemahannya dalam bahasa Indonesia, habis di budaya Indonesia hal yang kayak gitu tidak lazim sih.  Mereka butuh orang untuk membunuh KESENDIRIAN itu dalam konteks kekeluargaan kehidupan sehari-hari. Dan orang yang disewa, akan berperan sebagai anak, cucu, teman ngobrol…Ooo,…begitu mahalnya arti sebuah kebersamaan. Di Indonesia, kita dengan mudahnya mendapatkan teman. Dan menghadapi KESENDIRIAN pada masa tua lebih mudah, karena ada kata mujarab si `silaturrahmi`.

Ketakutan akan RASA DIRI yang terlalu KUAT kah?

Karena budaya orang Jepang yang kalau menonjolkan diri  yang dianggap suatu yang tak pantas, banyak orang tenggelam pada ketidak percayaan diri. Yang dimaksud adalah, menunjukan kemampuan diri yang sedikit menonjol diantara komunitas dimana dia beraktivitas sehari-hari. Mereka menganggap bahwa satu individu dengan yang lain adalah sama. Karena mereka dibesarkan dalam lingkungan sekolah yang berfasilitas yang sama hampir diseluruh penjuru negara. Sehingga mereka tidak berani berharap pada lawan untuk memaklumi atau memahami suatu perbedaan walau perbedaan yang kecil sekalipun, Indonesia karena kaya (bahkan terlalu banyak) perbedaan memaklumi posisi lawan lebih mudah, Tapi susahnya juga banyak ya, kalau sudah berseteru jadi seru banget.

 
Ketakutan akan SISI GELAP DIRI yg bakal terungkap kah?

Ada teori ilmu budaya Jepang dalam buku Pedang Samurai dan bunga Seruni yang ditulis oleh Ruth Benedict. Buku kuno sih, tapi rasanya masih berlaku juga kok. Ada istilah 恥の文化 haji no bunka/ budaya malu dan 罪の文化 tsumi no bunka/ budaya dosa.

Jika sisi gelap diri terungkap yang ada dalam pikiran orang Jepang adalah budaya malu yang mengharuskan melenyapkan muka dari khalayak umum. Banyak caranya, misalnya mundur dari suatu jabatan atau bunuh diri. Kembali pada sudut pandang kita yang beragama, karena bunuh diri perbuatan terlarang, kalau kita melakukannya jadi nambahi dosa. Dan orang Jepang ada juga yang berpendapat jika mundur dari jabatan, seolah-olah tidak gentle, karena terkesan tidak bertanggung jawab menuntaskan permasalahannya selama dia menjabat. Pada pola pikir orang yang beragama, kesalahan yang diperbuat bisa hilang jika kita memohon ampun pada Tuhan, tetapi ada kalanya juga terkesan mengkambing hitamkan atas nama Tuhan untuk menyelesaikan permasalahannya

Sekarang terserah pada DIRI kita dalam bersikap untuk menghadapi ketakutan akan kesenDIRIan, rasa DIRI yang terlalu kuat, dan sisi gelap DIRI yang bakal terungkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s