Gallery

Peningkatan Penguasaan Huruf Kana melalui Pembelajaran Kooperatif

Tulisan ini pernah di muat di Jurnal Pendidikan FIP Unesa thn 2006

Peningkatan Penguasaan Huruf Kana melalui Pembelajaran Kooperatif

Parastuti*

 Abstrak

Tujuan Penelitian ini adalah, untuk mengetahui apakah pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan penguasaan huruf kana. Dan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif agar siswa dapat menyerap materi pembelajaran huruf kana. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Laboratorium Surabaya. Instrumen Penelitian berupa lembar pengamatan dan wawancara, hasil tes. Penelitian ini memberikan hasil bahwa, waktu belajar lebih efisien, siswa lebih aktif karena pengajar hanya sebagai fasilitator, suasana kelas menyenangkan dan dinamis, kepercayaan diri siswa meningkat, siswa paham pada prinsip kerja sama dalam suatu kelompok.

Kata kunci: Pengusaan huruf kana, hiragana, katakana, pengajaran kooperatif

Abstract

The purpose of the reseach is knowing the application of co-operative method in order to be able to absorped by a student of kana letter, knowing the response of student against application co-operative of instruction mastering in kana letter method. Subject of this research are students of class of VII SMP of Laboratory Surabaya. Instrument of this research are sheet of perception and interview, test result. This study give result that studying time is more efficient, students more active because instructor only as facilitator, atmosphere of class pleased and dynamic, confident of student improved, student understood team work principle.

Key word: mastering of kana letter, hiragana, katakana, co-operative instruction

Ada suatu pemikiran, bagaimana pun pandainya seseorang dalam bidang akademis, jika tidak mampu berkerja sama dalam kelompok kerjanya (team work), maka tidak akan bisa berprestasi dengan baik. Dalam atmosfir kerja perusahan Jepang pun, sangat dibutuhkan adanya team work yang baik. Untuk itu alangkah baiknya sejak dini diperkenalkan kerja kooperatif dalam bidang apa pun, termasuk dalam bidang pendidikan dan pengajaran bagi pembelajar bahasa Jepang.

Pembelajaran bahasa Jepang terbagi menjadi dua, yakni menggunakan huruf dan tanpa menggunakan huruf. Keduanya mempunyai sisi baik tergantung pada kebutuhan si pembelajar. Untuk pembelajaran Bahasa Jepang jangka panjang, agar tujuan pembelajaran bisa tercapai secara optimal dan maksimal, sebaiknya belajar dengan menggunakan huruf-huruf bahasa Jepang tersebut. Ada pun jenis huruf-huruf bahasa Jepang adalah huruf kana yang terdiri dari hiragana, katakana, huruf kanji dan huruf roma-ji.

Menurut pengalaman dan observasi peneliti yang didapat dari MGMP Bahasa Jepang, banyak pengajar Bahasa Jepang mengalami kesulitan pada saat mengajar Bahasa Jepang tingkat awal untuk mengenal, menghafal dan kemudian menggunakan huruf-huruf tersebut dalam kerampilan membaca dan menulis. Cara yang selama ini dilakukan oleh mereka adalah cara konvensional, yaitu siswa hanya disuruh menirukan dan menyalinnya. Dengan cara pengajar mendemonstrasikan di papan tulis dan siswa hanya melakukan peniruan, banyak siswa yang melupakan begitu saja, begitu keluar kelas, sehingga tujuan belajar tidak bisa tercapai secara optimal. Cara-cara tersebut dirasakan membosankan dan monoton bagi siswa, karena tanpa variasi-variasi yang bisa menarik minat siswa untuk berpikir.

Beberapa alasan mengapa pengajaran huruf bahasa Jepang tidak mudah bagi pembelajar pemula adalah huruf-huruf dalam bahasa Jepang memiliki karakteristik yang unik. Alasan pertama, terdapat tiga versi cara baca jika ditulis dengan menggunakan alfabet (roma-ji), yaitu sistem hepburn, sistem kunrei, dan sistem Nippon (Harlpen; 1990:1758-1759). Terdapat banyak kata-kata yang berbeda sama sekali jika ditulis dengan menggunakan alfabet (roma-ji). Perbedaan tersebut tidak hanya mengakibatkan salah baca, tapi juga salah arti, misalnya kinen (arti: kenangan) dan kin’en (arti: dilarang merokok). Dua kata tersebut jika ditulis dalam huruf Jepang, sangat mudah sekali untuk dibaca dan dipaham. Alasan kedua, cara baca huruf-huruf bahasa Jepang tersebut berdasarkan silabi (suku kata).

Menurut Kitazaki (1992: 638) dan Shirazaki (2001), banyak pengajar yang memutuskan tidak menggunakan huruf kana, dengan pertimbangan agar siswa lebih mudah menangkap tata bahasa, karena tidak perlu direpoti dengan bentuk tulisan yang sama sekali asing bagi siswa. Tetapi sebetulnya pendapat tersebut keliru, semakin siswa dapat menguasai huruf-huruf kana, semakin siswa lebih mudah menguasai kanji pada pembelajaran bahasa Jepang tingkat lanjut

Berdasarkan beberapa alasan diatas dan mengingat betapa penting penguasaan huruf kana pada pembelajar pemula Bahasa Jepang ini, peneliti kali ini menerapkan dan memadukan beberapa teknik dan metoda pembelajaran, yakni pembelajaran kooperatif, untuk memecahkan masalah yang dihadapi para guru untuk pembelajaran Bahasa Jepang tingkat awal. Yang dimaksud pembelajar tingkat awal menurut Kimura (1992: 633) adalah jam belajar kira-kira 200-300 jam dan tidak terbatas pada usia. Subyek penelitian kali adalah siswa kelas VII SMP Laboratorium Surabaya.

Tujuan Penelitian ini adalah, untuk mengetahui apakah pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan penguasaan huruf kana. Dan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif agar siswa dapat menyerap materi pembelajaran huruf kana.

Penelitian ini memberikan kontribusi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya penerapan pembelajaran kooperatif pada penguasaan huruf kana siswa SMP. Dan memberikan informasi kepada para guru mengenai variasi metode dan teknik pengajaran, khusunya pengajaran huruf kana pada pembelajar bahasa Jepang tingkat pemula.

Pembelajaran dalam arti umum adalah suatu upaya terciptanya kondisi yang memungkinkan seorang siswa dapat belajar untuk mendapatkan suatu informasi, upaya untuk membangkitkan inisiatif siswa dan upaya pemotivasian diri siswa. Pembelajaran yang yang baik, lebih menekankan bagaimana upaya pengajar untuk memfasilitasi siswa belajar dalam upaya mengkondisikan siswa agar bisa mengkonstruksikan pengetahuan bagi dirinya, bukan merupakan hasil transformasi dari pengajar.

Metode pembelajaran kooperatif memfokuskan pada pembelajaran berdasar pengalaman, yang didasari asumsi, bahwa pengalaman adalah suatu kejadian yang telah merubah atau membuat suatu perbedaan dalam tingkah laku seseorang, sehingga pengetahuan menjadi lebih bermakna (Ibrahim, 2000: 17). Hal ini juga dinyatakan seorang ahli pendidikan Jepang, Nintosa (1992:643), bahwa pembelajaran kelompok atau grup bisa meningkatkan kemampuan siswa, karena diantara anggota grup tersebut bisa saling berbagai pengalaman. Dan karena belajar adalah sebuah proses yang bersifat pengalaman yang dialami oleh seseorang.

Model pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut: (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, yaitu, penguasaan huruf kana (terdiri dari hiragana dan katakana) dalam jangka waktu 3 bulan. (2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan beragam, yakni pengalaman belajar sebelumnya, dan nilai dari hasil tes mata pelajaran serumpun (mata pelajaran bahasa Inggris). (3) Penghargaan lebih ditekankan pada hasil kerja kelompok daripada hasil kerja per individu.

Terdapat enam tahapan dalam pembelajaran kooperatif yang harus diperhatikan pengajar, akan diuraikan sebagai berikut sesuai dengan pendapat Ibrahim (2000: 10,11). Yaitu, penyampaian tujuan dan pemotivasian siswa, penyajian informasi, pengorganisasian siswa dalam pembentukan kelompok dan siap membantu setiap kelompok. Pembimbingan kelompok pada saat mereka mengerjakan tugas dan pengevaluasian sangat diperlukan. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam pembimbingan kelompok, misalnya dengan cara masing-masing individu diarahkan untuk mempresentasikan hasil kerja, dan kemudian merevisinya sebagai tugas kelompok, penghargaan diberikan saat presentasi hasil revisi kelompok.

Dalam penelitian ini, pembelajaran kooperatif menggunakan Pendekatan Jigsaw yang dikaitkan dengan kognitif sebatas informasi akademik sederhana. Hal ini sesuai dengan materi ajar, yaitu pengenalan huruf yang hanya dialokasikan 50% dari waktu yang tersedia dalam satu semester. Karena pengajaran huruf adalah hal yang penting dalam pembelajaran bahasa Jepang tingkat pemula, jadi mengambil porsi separuh waktu dari waktu yang disediakan ini. Pada bagian awal pengajaran huruf, saat praktek latihan baca, dibantu dengan buku pendamping bertuliskan alphabet. Dan untuk tahap selanjutnya diharapkan siswa bisa lepas dari buku pendamping yang bertuliskan alphabet tersebut.

Dalam hal pendekatan jigsaw ini, harus diperhatikan, apakah materi yang akan diajarkan secara alami yang dapat dibagi menjadi beberapa sub topik. Pada pengajaran materi huruf kana ini dapat dibagi secara alami, disamping jumlah huruf (masing-masing 46 huruf), aturan-aturan cara membacanya memungkinkan materi ini dapat dibagi secara alami. Struktur tim terdiri dari kelompok yang betul-betul heterogen dengan menggunakan pola ‘kelompok asal’ dan ‘kelompok ahli’.

Huruf kana terdiri dari: Hiragana, yang dipergunakan untuk menulis kata-kata asli Bahasa Jepang. Katakana, yang dipergunakan unruk menulis kata-kata serapan, termasuk di dalamnya nama Negara, nama orang asing, nama Tempat. Dan juga untuk menulis telegram, dan untuk menekan suatu kata dalam suatu kalimat, walaupun kata tersebut bukan merupakan kata serapan. Beberapa ahli mengatakan hal sama, diantaranya, yaitu Harlpen (1990:1947) bahwa dalam suatu kalimat bahasa Jepang dimungkinkan ke 4 jenis huruf tersebut keluar bersamaan. Dan Sistematika huruf kana terdiri dari: Voiced Sounds (dakuon), Palatalized Sounds (yoon), Suara panjang (choon), Deret bunyi k, s, t, p, bisa didobel bunyinya, dengan cara menambahkan ‘chiisai tsu’ (sokuon).

Pengajaran katakana semua mirip dengan hiragana, hanya saja pada perkembangannya, untuk memperpanjang bunyi, cukup dengan tanda ‘–‘, disebut choonfu. Karena kana ini digunakan untuk menulis kata-kata serapan, ada beberapa huruf yang disesuaikan dengan bunyi bahasa aslinya, dimaksudkan agar bisa mendekati bunyi aslinya, dibuatlah katakana. Hal ini dimaksudkan untuk bisa mengakomodasi kata-kata serapan tersebut. Pada prinsipnya kata-kata serapan tersebut ditulis dengan menggunakan katakana yang berciri khas tidak mendekati bentuk tulisan, tetapi lebih mendekati pada pengucapannya (harlpen; 1990: 1755).

Ada dua pendapat yang berbeda dalam mengajarkan kana ini, katakana ataukah hiragana yang terlebih dulu diajarkan, pendapat yang menyatakan bahwa katakana lah yang sebaiknya diajarkan dilihat dari bentuk yang lebih mudah daripada hiragana, karena katakana bentuk lebih simple dan dan tidak berupa lengkung-lengkung yang kadang menyulitkan pembelajar Bahasa Jepang tingkat pemula. Sedangkan yang menyatakan bahwa hiragana lah yang sebaiknya diajarkan terlebih dahulu, karena dilihat dari segi penggunaan. Sejak awal, 46 huruf hiragana sudah langsung berfungsi, beda dengan katakana, yang hanya digunakan pada saat menuliskan nama negara, nama orang saja. Menurut Kodama (2003:12) manakah yang lebih dulu diajarkan antara katakana dan hiragana, sebaiknya diserahkan pada pengajar disesuaikan kebutuhan dan kondisi kelas yang dihadapi. Bahkan ada juga yang mengajarkan secara bersaman sehingga pembelajar bisa langsung mengetahui perbedaan-perbedaannya.

Karateristik huruf kana sangat berbeda dengan alfabet. Kemudahannya, jumlah vokal dan konsonan relatif sedikit, struktur dan sintagmatik suku katanya sederhana, jenis suku katanya sedikit. Kesulitannya: terdapat bunyi konsonan ‘n’, terdapat konsonan rangkap, terdapat bunyi  vokal panjang, yang ketiganya dianggap sebagai satu suku kata atau satu mora atau satu ketukan pada saat pengucapan aksennya. (Kimura; 1988: 7-9). Misalnya kata ‘doraemon’, jika pembelajar orang Indonesia,  akan menghitung mora kata tersebut berjumlah 4 suku kata, yaitu, do-ra-e-mon, padahal yang betul adalah 5 suku kata, yaitu, do-ra-e-mo-n.

 

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian suatu metode pengajaran, yakni metode pengajaran kooperatif yang akan diterapkan ke Bahasa Jepang dalam penguasaan huruf kana. Penelitian ini berupa alternatif tindakan untuk memecahkan permasalahan dalam kelas, sekaligus menghasilkan peningkatan suatu pembelajaran melalui pendekatan partisipatif, kooperatif, kolaboratif antara peneliti dan praktisi. Sesuai dengan prinsip dalam Pelitian Tindakan Kelas, penelitian ini terdiri dari empat tahap

Tahap perencanaan, yaitu (1) urutan pemberian materi ajar, (2) penyusunan kelompok besar dengan dasar pengelompokan keterogenitas sesuai dengan kondisi siswa, (3)  pembagian kelompok dengan pendekatan jigsaw, menitik beratkan pada sistem pengelompokan pola ‘kelompok asal’ dan ‘kelompok ahli’.

Tahap pelaksanaan, yaitu (1) guru memberikan waktu bimbingan secara individual, (2) siswa maju ke papan tulis untuk mempresentasikan materi yang telah menjadi tanggung jawabnya, (3) siswa memperhatikan temannya yang maju ke papan tulis, sembari mengisi tabel kosong sebesar folio, (4) guru juga membuat tabel yang sama di papan tulis yang sudah dibagi dua, dimaksudkan untuk menyempurnakan bentuk huruf yang telah dipresentasikan masing-masing siswa, (5) siswa mencatat untuk latihan penghafalan, dan menyalin secara keseluruhan sehingga menghasilkan produk berupa daftar huruf kana yang lengkap.

Tahap pengamatan, dilaksanakan oleh peneliti pada saat pelajaran berlangsung, dan oleh guru mitra begitu selesai proses belajar mengajar. Pengamatan-pengamatan tersebut meliputi, (1) semangat siswa ketika bimbingan individual sebelum presentasi, (2) rasa percaya diri siswa pada saat presentasi, (3) tingkatan kesalahan siswa pada saat presentasi dan mengisi tabel, (4)suasana kelas pada saat mengisi table, (5) antusias siswa pada saat menyalin tabel tersebut menjadi daftar huruf kana yang lengkap.

Tahap refleksi Refleksi dilaksanakan oleh guru mitra dan peneliti, berupa, (1) hasil observasi pada saat siswa presentasi, (2) hasil observasi pada saat siswa mengisi tabel kosong kana, (3) hasil tes siswa.

Instrumen penelitian berupa (1) Lembar Pengamatan untuk memperoleh data hasil observasi efektifitas pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif berupa daftar kana. (2) Lembar hasil wawancara untuk memperoleh informasi tentang efektifitas penerapan metode Pembelajaran Kooperatif dalam penguasaan kana, berupa komentar-komentar dari guru mitra dan siswa. (3) Tes hasil belajar untuk mendapatkan data yang signifikan dalam peningkatan penguasaan kana.

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Laboratorium Surabaya. Siswa tersebut akan mendapatkan pelajaran Bahasa Jepang sejak kelas VII sampai kelas IX. Subyek Penelitian berjumlah 24 siswa, di bawah bimbingan ibu Kirti Wardati, S.Pd, sebagai pengampu mata pelajaran Bahasa Jepang. Mata Pelajaran ini merupakan muatan lokal, dan dilaksanakan seminggu sekali.

Beberapa faktor yang diteliti adalah, (1) Faktor pembelajar, dari segi aktifitas dan respon pembelajar saat proses belajar mengajar bahasa Jepang dengan pembelajaran kooperatif, dan kemampuan siswa untuk menguasai Kana dalam mata pelajaran bahasa Jepang dengan pembelajaran kooperatif. (2) Faktor pengampu, cara guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas dan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif.

Hasil penelitian dan Pembahasan

Siklus Pertama difokuskan pada pengenalan dan cara menghafalkan bentuk huruf kana, yakni hiragana dan katakana. Dalam hal penyusunan kelompok kecil, satu kelas ada 24 siswa, dibagi menjadi 5 kelompok sesuai dengan deret daftar kana gojuonzu. Masing-masing huruf Kana, yaitu Hiragana berjumlah 46 huruf, begitu juga Katakana berjumlah 46 huruf. Jadi, 1 kelompok terdiri dari 4-5 siswa, masing-masing kelompok mendapatkan bagian 8-11 huruf, dengan dasar pengelompokan heterogenitas sesuai dengan kondisi siswa. Hal ini dimaksudkan untuk pemerataan kemampuan dan penyebaran informasi yang dimiliki masing-masing anggota kelompok agar tujuan pembelajaran bisa dicapai. Tujuan yang lain agar siswa bisa belajar dengan senang dan nyaman, tanpa ada rasa tekanan dan rasa kekawatiran sesuatu hal yang baru. Dan agar bisa lebih percaya diri dan lebih termotivasi untuk belajar Bahasa Jepang, karena meresa telah dipercaya oleh gurunya untuk ikut membimbing temannya yang baru mengenal Bahasa Jepang.

Menyusun rencana pembagian kelompok dengan pendekatan jigsaw, menitik beratkan pada sistem pengelompokan pola ‘kelompok asal’ dan ‘kelompok ahli’. Dalam penelitian ini, pada awalnya kelas terbagi 5 ‘kelompok asal’. Masing-masing ‘kelompok asal’ beranggotakan 4-5 siswa, mendapatkan 8-10 huruf dari 46 huruf seperti yang tertera pada daftar kana gojuonzu. Huruf-huruf yang sudah menjadi tanggung jawab mereka, dibantu dengan buku “Kana nyumon” (“dasar-dasar huruf kana edisi Bahasa Indonesia”, terbitan The Japan Foundation, Jakarta) mereka harus mempelajari mengenai: (1) Bentuk huruf, karena beberapa huruf berbentuk mirip. (2) Bunyi huruf, sesuai dengan karakter bunyi dalam Bahasa Jepang, yang terbentuk atas mora. (3) Posisi huruf dalam daftar kana gojuonzu, hal ini mempermudah pembelajar untuk lebih menghafal dan memahaminya. Karena, ada beberapa huruf yang urutannya tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Sumber pembelajar. (4) Urutan coretan dan jumlah coretan, dalam hal ini harus ditaati untuk bekal pembelajaran kanji di level yang lebih tinggi

Setelah diberikan waktu beberapa saat, dan guru memberikan waktu bimbingan secara individual, siswa maju ke papan tulis untuk mempresentasikan huruf kana yang telah menjadi tanggung jawabnya. Guru menyediakan tabel kosong sebesar folio untuk diisi oleh siswa yang sedang mendengarkan presentasi temannya. Dan kemudian, guru juga membuat tabel yang sama di papan tulis. Kemudian Siswa diminta mencatat untuk latihan penghafalan, dan menyalin secara keseluruhan sehingga menghasilkan produk berupa daftar huruf kana yang lengkap.

Setelah orang ke 1 dari ‘kelompok asal’ 1 maju untuk presentasi, dia tidak kembali ke kelompoknya, tapi langsung membentuk ‘kelompok ahli 1’ bergabung dengan ‘kelompok asal’-‘kelompok asal’ lain yang mempresentasikan lajur huruf yang sama. Hal ini membuat siswa tersebut lebih paham di mana posisi huruf yang baru saja dia informasikan/ presensentasikan pada teman yang lain. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai daftar kana gojuonzu tuntas terisi oleh semua individu di kelas. Setelah daftar kana gojuonzu hiragana tuntas, siswa diberi Pekerjaan Rumah, dan pada tatap muka yang akan datang dilanjutkan dengan daftar kana gojuonzu katakana dengan cara yang sama.

Refleksi dilakukan oleh guru mitra dan peneliti, berupa penilaian yang sesuai terhadap hasil siswa, berupa: (1) Hasil observasi yang difokuskan pada siswa yang bergiliran maju ke papan tulis untuk menjelaskan apa yang telah menjadi tanggung jawab dan juga difokuskan pada para siswa yang sedang mendengarkan penjelasan dan mengisinya pada lembar kerja siswa. (2) Hasil observasi yang difokuskan pada siswa yang bergiliran maju ke papan tulis untuk menjelaskan apa yang telah menjadi tanggung jawab dan juga difokuskan pada para siswa yang sedang mendengarkan penjelasan dan mengisinya pada lembar kerja siswa. (3) Hasil tes kesatu setelah siswa mengisi daftar Hiragana gojuonzu dan Hasil tes kedua, setelah siswa mengisi daftar Katakana gojuonzu.

Hasil pengamatan peneliti, pada saat seorang siswa menjelaskan di papan tulis dan siswa lain mengisi daftar Hiragana gojuonzu, suasana kelas terlihat menyenangkan, karena mereka saling berdiskusi dan memperhatikan dengan cermat apa yang dijelaskan oleh teman mereka. Keadaan tersebut juga terjadi pada tatap muka berikutnya, yaitu pada saat mengisi daftar Katakana gojuonzu.

Pada tatap muka selanjutnya mereka lebih merasa nyaman mengikuti pelajaran tersebut, hal ini disebabkan karena, siswa telah mempunyai pengalaman bagaimana belajar dengan pembelajaran kooperatif, jadi faktor adaptasi, faktor pengalaman merupakan hal yang penting. Selain faktor yang telah disebut di atas, dari segi substansinya, bentuk huruf Katakana, lebih mudah ditangkap karena bentuk yang lebih sederhana dan coretan yang dimilikinya lebih sedikit daripada bentuk huruf Katakana. Oleh karena itu para siswa lebih menyukai katakana, karena bentuknya lebih simple, daripada bentuk huruf hiragana.

Pada siklus pertama didapatkan hasil bahwa penguasaan huruf kana mengalami peningkatan. Pada Siklus Kedua, dilanjutkan tahap-tahap kegiatan seperti siklus pertama untuk menyakinkan hasil dan menambahi materi sistematika huruf kana dan pengenalan fungsi huruf kana (hiragana dan katakana) diaplikasikan pada cara membaca dan cara menulis huruf-huruf kana tersebut.

Tindakan pada siklus dua adalah sebagai berikut, membentuk Kelompok Sedang, dengan cara menggabungkan 5 kelompok kecil menjadi kelompok Sedang. 1 kelas dibagi menjadi 2 kelompok, sesuai dengan jenis huruf  kana, yaitu hiragana dan katakana.

Penyusunan rencana pembagian kelompok dengan pendekatan jigsaw yang menitik beratkan pada sistem pengelompokan pola ‘kelompok asal’ dan  ‘kelompok ahli’. Huruf Hiragana dan Katakana ini diajarkan secara pararel. Jadi, pembagiannya sebagai berikut: (1) ‘kelompok asal 1’ membahas dan mempresentasikan Huruf Hiragana, dan Huruf Katakana sesuai dengan urutan tahapan sistematika huruf  kana, yakni:  dakuon-handakuon. (2) ‘kelompok asal 2’, membahas dan mempresentasikan Huruf Hiragana, dan Huruf Katakana sesuai dengan urutan tahapan sistematika huruf  kana, yakni: yoon. (3) ‘kelompok asal 3’, membahas dan mempresentasikan Huruf Hiragana, dan Huruf Katakana sesuai dengan urutan tahapan sistematika huruf kana, yakni: choon-sokuon. (4) ‘kelompok ahli 1’, mengkhususkan pada huruf hiragana saja. Jadi, siswa membahas dan mempresentasikan urutan tahapannya sesuai dengan sistematika huruf hiragana, yakni: hiragana dakuon-handakuon, hiragana yoon, hiragana choon-sokuon. (5) ‘kelompok ahli 2’ , mengkhususkan pada huruf katakana saja. Jadi, siswa membahas dan mempresentasikan urutan tahapannya sesuai dengan sistematika huruf katakana, yakni: katakana dakuon-handakuon, katakana yoon, katakana choon-sokuon. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai daftar kana dakuon-handakuon, yoon, choon-sokuon, tuntas terisi oleh semua siswa.

Di akhir siklus Kedua ini diadakan kegiatan yang sifatnya hanya untuk pelengkap ketuntasan belajar Huruf kana, yaitu dengan mengajak siswa mengimajinasikan huruf kana dalam sebuah gambar dengan tujuan agar mudah mengingat bentuk dari huruf-huruf kana tersebut.  Pembagian kelompok besar ini tidak menggunakan pendekatan jigsaw. Berikut adalah contoh hasil dari kegiatan tersebut, yakni: Huruf hiragana mo diimajinasikan seperti gambar Monyet, Huruf hiragana hi diimajinasikan seperti gambar Hidung, dlsb.

Refleksi Siklus Kedua dilakukan oleh guru mitra dan peneliti adalah sebagai berikut: (1) Dari hasil wawancara, didapat informasi bahwa dalam hal kompetensi menulis, dengan cara mengisi tabel daftar Kana gojuonzu kana, bentuk huruf katakana lebih mudah diingat bentuknya. (2) Dari hasil tes menulis huruf katakana, yakni siswa disuruh menuliskan nama diri sendiri di papan tulis.

Hasil siklus kedua ini, terlihat bahwa respon siswa sangat positif, karena juga sesuai dengan karakter perkembangan jiwa mereka, dengan adanya metode pembelajaran kooperatif, dengan dasar pengelompokan heterogenitas, dan dengan teknik pengajaran dengan pendekatan jigsaw, siswa merasa senang, karena mereka bisa saling mengenal karakter teman, saling menghargai, dan saling hormat dalam sekelompoknya. Jadi kelas terkesan aktif dan dinamis dan tetap terarah.

Dari faktor pengajar, cara pengajar dalam melaksanakan pembelajaran di kelas dan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif, dinilai pengajar sudah berusaha untuk melaksanakan sesuai dengan metode pembelajaran kooperatif, tetapi keterbatasannya pengajar sebagai seorang guru masih ada. Misalnya karena baru mengenal dan baru pertama kali melaksanakan metode pembelajaran kooperatif, masih belum bisa optimal dalam mengajar. Dan yang harus diperhatikan dari pihak pengajar adalah kecermatan dalam penulisan bentuk. Dalam hal ini keterbiasaan seseorang, khususnya, pengajar bahasa Jepang dan keterbatasan kemampuan yang dimiliki seorang guru, menjadi masalah yang serius.

 

Simpulan dan saran

Mengajar bahasa Jepang untuk meningkatan penguasaan huruf Kana dengan Pembelajaran Kooperatif telah terbukti bahwa pengajar lebih bisa menggunakan waktu secara efisien, karena lebih leluasa mengatur dan mengarahkan siswanya pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini dikarenakan, peran guru hanya sebagai fasilitator, dan pembagi kelompok. Sedangkan siswa berperan aktif dengan cara presentasi di hadapan teman-temanya, dan berdiskusi dalam kelompoknya.

Jika ingin melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif ini pengajar harus betul betul paham akan kondisi siswa sebelum dilakukan pembagian kelompok, agar heterogenitas anggota kelompok bisa merata. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang kurang aktif akan tertolong oleh siswa yang pandai dan aktif dalam kelompoknya. Dan siswa yang pandai kepercayaan dirinya akan lebih tinggi karena unsur sistem tutorial dalam kelompok sedang dan kelompok besar.

Penelitian pembelajaran kooperatif ini menunjukkan hasil yang cukup efektif sebagai strategi pembelajaran, maka perlu diterapkan pada kajian yang lain, misalnya pada penguasaan huruf kanji, pada pembelajar awal bahasa Jepang.

Daftar Acuan

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Halpern, Jack. 1990. New Japanese-English Character Dictionary. Tokyo: Kenkyusha

Hayashi, Oto. 1990. Nihongo Kyoiku Handobukku. Tokyo: Oshukan shoten

Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press

Kimura, Muneo. 1988. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran Bahasa Jepang. Penerj:

Ahmad Dahidi dan Akahane Michie. Bandung: FBS IKIP Bandung dan The Japan Foundation

Kimura, Shuo. 1992. “Shokyu reberu Gakushu Mokuhyo” dalam Nihongo Kyouiku Jiten Tokyo: Oshukan shoten

Kitazaki, Junko.1992. “Yomu koto no Gakushuu Shudan” dalam Nihongo Kyouiku Jiten (ed Ogawa) Yoshio. Tokyo: Oshukan shoten

Kokusai Koryu Kikin, 1979. Nihongo KanaNyumon Indonesia go Shuppan. Tokyo: Bonjinsha

Kodama, Yasue. 2003. “Kana no Kakikata no Shido” dalam Jurnal pendidikan Nihongo Kyoiku Tsushin dai 45 go. Tokyo: The Japan Foundation

Kodama, Yasue. 2003. “Kana wo Tanoshiku Oboeyo” dalam Jurnal pendidikan Nihongo Kyoiku Tsushin dai 46 go. Tokyo: The Japan Foundation

Nintosa、yuki. 1992. “Gurupu Shido” dalam Nihongo Kyoiku Jiten (ed OgawaYoshio). Tokyo: Oshukan shoten

Sirazaki, Yuse. 2005. “Nenshosha kyoiku to wa?” dalam Jurnal pendidikan. Nihongo Kyoiku Tsushin dai 39 go Tokyo: The Japan Foundation


* Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, FBS, UNESA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s