Gallery

PENGGUNAAN KORAN ASAHI SHINBUN DALAM PERKULIAHAN HONYAKU NYUMON BERDASARKAN PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI

Tulisan ini pernah diperentasikan pada seminar yang diselenggarakanoleh: ASOSIASI STUDI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG KORWIL JAWA TIMUR THE JAPAN FOUNDATION  26 NOVEMBER 2005

ABTRAKSI

Permasalahan yang sering dihadapi para pengajar adalah mata kuliah honyaku nyumon ini adalah ketersedian bahan materi yang dipakai untuk praktek penterjemahan. Bahan ajar dalam Honyaku Nyumon (pengantar Terjemahan) sebaiknya memilki kriteria sebagai berikut: tidak lebih dari 2-3 paragraf, kalimat-kalimat yang di pakai merupakan kalimat pendek dengan konteks jelas. Pemilihan sumber belajar yang ada di sekitar pembelajar perlu dioptimalkan dalam penggunaannya, seperti misalnya surat kabar. Asahi sinbun. berupa kolom iklan. Proses Pembelajaran Berbasis Kompetensi ini dilakukan dengan cara: Metode Ceramah, Metode Penemuan, dan Metode Diskusi Kelompok. Tahapan dalam tekhnik penterjemahan dalam bahasa Jepang sebagai berikut: mencari kanji-kanji yang belum dipelajari, mengartikan kalimat per kalimat berdasarkan struktur pola kalimat Bahasa Jepang., menyelaraskan arti kalimat per kalimat dalam satu paragraph. menyelaraskan paragraph per paragraph berdasarkan konteks teks asli. Dalam tahap ini terkadang diperlukan juga buku penunjang berupa referensi yang terkait dengan konteks teks asli. Gambaran langkah-langkah pelaksanakan dijabarkan sebagai berikut: – Langkah pertama, tentang kanji dan kotoba. – Langkah kedua tentang bunsho dan danraku. – Langkah ketiga tentang happyo. Langkah-langkah tersebut di atas sesuai dengan Pembelajaran Berbasis Kompetensi yang menekankan pada ketrampilan proses untuk menemukan sesuatu (discovery), dengan cara mengeksplorasi, sehingga pembelajaran tuntas (mastery learning) bisa tercapai

A. PENDAHULUAN

Peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu nya adalah dengan cara menyediakan bahan ajar yang memadai. Yang dimaksud memadai adalah, berupa bahan ajar yang bisa menarik perhatian pemebalajar, sehingga tujuan dari proses belajar mengajar dapat tercapai.

Pengembangan dan penggunaan alat bantu, media dan sumber belajar, sangatlah diperlukan. Seperti misalnya, teknologi pembelajaran yang tepat, penggunaaan multi media, pemanfaatan buku-buku perpustakaan, dan pemakaian sumber belajar yang ada di dalam dan di luar kelas.

Dalam buku Panduan tahun ajaran 2003/ 2004, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang pada semester 5 akan mendapatkan Mata kuliah Honyaku Nyumon (pengantar Penterjemahan) dan pada semester 6 memperoleh Mata Kuliah Honyaku (penerjemahan). Permasalahan yang sering dihadapi para pengajar adalah mata kuliah honyaku nyumon ini adalah adanya beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh pengajar bahasa Jepang. Yakni, pada tahapan kedua. Pada tahapan pertama hanya menjelaskan bagaimana teori penterjemahan pada umumnya digunakan. Teori tersebut juga berlaku juga untuk bahasa-bahasa asing lainnya. Tahapan kedua menjelaskan karakteristik struktur pola kalimat Bahasa Jepang  Untuk teori tersebut di atas, hanya diperlukan 2-3 tatap muka dari 16 kali dari jumlah tatap muka. Tahapan selanjutnya, langsung praktek menterjemahkan dari bahasa sumber (BSu) kebahasa sasaran (BSa).

Selama ini buku-buku yang tersedia adalah yang dipakai praktek langsung dalam Mata Kuliah Honyaku (penterjemahan) di semester 6, buku tersebut asli belum pernah diterjemahkan dalam bahasa apa pun. Sedangkan mata kuliah honyaku nyumon (pengantar penterjemahan) ketersedian bahan materi yang dipakai untuk praktek penterjemahan sangat terbatas sekali. Dalam arti, jika mahasiswa diberi buku asli masih terlalu berat walaupun pemilihan buku sudah disesuaikan dengan jenjang kemampuan. Kendala yang lain adalah huruf dalam bahasa Jepang. Oleh karena, pertimbangan dari pengajar, selama ini buku yang dipakai adalah buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa asing lain, misalnya bahasa Inggris. Hal ini dilakukan untuk membantu siswa dalam memahami isi dari konteks teks asli dari bahasa sumber. Tentu saja hal ini mempunyai bias yang besar sekali. Karena dalam menterjemakan dari bahasa Jepang harus melakukan beberapa tahapan/ proses, sehingga pembelajar masih belum mampu untuk mentrasfer langsung dari teks asli Jepang ke Bahasa Indonesia, dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa).

Berdasarkan hal tersebut diatas, alangkah baiknya jika tersedia bahan ajar untuk mata kuliah Honyaku Nyumon (pengantar Terjemahan) ini. Dan bahan ajar ini sebaiknya memilki kriteria sebagai berikut: tidak lebih dari 2-3 paragraf, kalimat-kalimat yang di pakai merupakan kalimat pendek yang mudah dipahami, konteks jelas, yang mudah dipahami pembelajar asing. Karena, yang dipentingkan dalam penerjemahan adalah kesepadanan isi pesan teks sumber (Tsu) dengan teks sasaran (Tsa).

Seperti kita ketahui, profil manusi hasil pendidikan mensyaratkan adanya penyelenggaraan pendidikan yang memiliki tiga dimensi, yaitu dimensi proses (domain afektif), dimensi materi keilmuan (domain kognitif), dimensi aplikasi (domain psikomotorik) dalam suatu kehidupan. Hal ini sesuai dengan konsep dalam pembelajaran berbasis kompetensi (Suderadjat, 2004: 32)

B. IKLAN ASAHI SHINBUN SEBAGAI ALTERNATIF PEMILIHAN SUMBER  AJAR

Pemilihan sumber belajar yang ada di sekitar pembelajar perlu dioptimalkan dalam penggunaannya, seperti misalnya surat kabar. Asahi sinbun adalah harian pagi di Jepang yang oplahnya mencapai 80% dari jumlah penduduk Jepang. Karena ada yang selalu yang baru dalam Koran, bisa menimbulkan rasa penasaran untuk mencari apa yang dimaksud dalam kalimat- kalimat yang tertulis di Koran.

Untuk kesesuaian dengan jenjang kemampuan siswa, pemilihan materi ajar berupa kolom iklan yang hanya terdapat beberapa kalimat. Karena kolom iklan hanya berupa teks-teks pendek yang terdiri dari beberapa paragraph yang berisi kalimat-kalimat pendek, untuk mempermudah pembelajar dalam latihan menterjemahkan.

Jika sumber belajar tidak hanya dari dalam kelas, diasumsikan akan bisa menarik minat pembelajar untuk membedahnya, ada apa dibalik tulisan tersebut. Dan Karena sejak awal pembelajar sudah didudukan posisinya sebagai seorang profesioanal, yaitu manager pemasaran dari perusaahan pemasang iklan, maka diharapkan mempunyai tanggung jawab moril yang tinggi untuk mau memahami dan memanfaatkan ilmu yang telah diserapnya.

Karena keterbatasan pengadaan sumber ajar, iklan ini tidak dibatasai pada perusahaan yang sama, tetapi ditekankan pada penyeragaman dari jenis produk. Dan karena Koran yang diambil bukanlah Koran yang baru, tetapi yang sudah terbit setahun sebelumnya, maka tanggal penerbitan dan keaktualan yang merupakan cirri khas dari suatu surat khabar diabaikan. Dan ragam bahasa tidak begitu dicermati, yang terpenting adalah pembelajar bisa menangkap apa yang dimaksud dari perusahasaan si pemasang iklan.

Jika bisa praktek menterjemahan dengan baik, setidaknya 3 iklan dari jenis yang sama, diharapkan pembelajar dapat mempresentasikan dengan cara bertindak seolah-seolah sebagai manager pemasaran dari perusahaan tersebut untuk mempresentasikan produk dimana dia seolah-seolah bekerja di perusaahana pemasang iklan. Kompetensi yang ditunjukan oleh siswa inilah yang yang menjadi dasar evaluasi dari penelitian ini.

C. PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI PADA MATA KULIAH PENERJEMAHAN

Berdasarkan konsep pembelajaran siswa aktif, terjadi pergeseran dari guru sebagai pusat informasi menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa aktif. Cirri dari konsep pembelajaran siswa aktif adalah, aktivitas siswa dalam belajar dan berlatih menggunakan semua potensi yang dimilkinya sehinga bisa simultan. Berdasarkan konsep tersebut, lahir konsep pembelajaran berbasis kompetensi dengan tujuan pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup (life skill).

Karakteristik yang menonjol dari Pembelajaran Berbasis Kompetensi meliputi tiga dimensi tujuan, yaitu: tujuan yang berorientasi pada penguasaan metoda atau proses (methodological objectives), tujuan yang berorientasi pada penguasaan materi pelajaran (content objectives), dan tujuan yang berorientasi pada penguasaan aplikasi kemampuan dasar dalam kehidupan (life skill objectives), yang meliputi 3 domain, yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Ke 3 domain ini nantinya akan dituang dalam evaluasi berupa tes lisan, tes tulis, tes perbuatan (Suderadjat, 2004: 31-40).

Dalam pengajaran bahasa Pembelajaran Berbasis Kompetensi ini penyampaian materi tidak didasarkan atas unsur-unsur bahasa, tetapi didasarkan pada tema dan keterampilan fungsional. Langkah-langkah pengembangan bahan Pembelajaran Berbasis Kompetensi adalah sebagai berikut: pemilihan materi atau analisis materi bahan ajar yang nantinya wajib dikuasai pembelajar secara tuntas (mastery learning), penetapan kecakapan proses belajar akan ditunjukan si pembelajar , penetapan aplikasi kompetensi dasar dalam kehidupan yang bewawasan lingkungan (contextual learning) (Suderadjat, 2004: 51-52).

Proses Pembelajaran Berbasis Kompetensi ini dilakukan dengan cara:

a)      Metode Ceramah, pada awal perkuliahan, dimaksudkan agar diperolehan pemahaman mengenai tujuan pembelajaran, bagaimana cara pencapaiannya, cara mengukur keberhasilan pada setiap tahap pembelajaran, dan juga pada akhir pembelajaran. Metode ceramah ini hanya dilakukan pada tatap muka ke 1 dan ke 2

b)      Metode Penemuan, dimaksudkan agar pembelajaran memiliki kecakapan akademik dan menguasai metode ilmiah secara induktif. Siswa diarahkan untuk menemukan sendiri (secara individual) kata-kata yang tidak dipahami dan mengidentifikasi arti kata per kata, kemudian mencari arti kalimat per kalimat hingga secara keseluruhan arti dan makna dari paragaraf tersebut diterjemahkan sesuai dengan konteks. Bahan ajar yang akan diterjemahkan, setiap siswa tidak sama, siswa bebas memilih pemilihan jenis tema yang akan diterjemahkan. Kemudian, dari jenis tema yang sudah dipilih siswa, mencari yang serupa sejumlah 3. Jenis tema yang bisa dipilih siswa ditentukan dosen pengajar, misalnya: iklan dari sebuah toko buku; iklan dari restoran; iklan biro perjalanan dan maskapai penerbangan, dan lain sebagainya.

c)      Metode Diskusi Kelompok. Mendiskusikan hasil yang telah dilakukan pada Metode Penemuan, dan pelaksanaan bersamaan dengan pelaksanaan Metode Penemuan. Hasil yang didapat dari Metode Penemuan tersebut didiskusikan secara kelompok, untuk saling mengecek kebenaran di antara anggota kelompok diskusi

Pemantapan dalam tugas pengembangan dari ketiga metoda, yaitu pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari secara teritegrasi dari kombinasi ketiganya.

Pada akhir pembelajaran dilakukan evaluasi, perumusan evaluasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi dilaksanakan secara berkesinambungan pada setiap akhir tahapan kegiatan belajar siswa yang dirumuskan dalam setiap tujuan pembelajaran khusus. Semua siswa secara individual harus menyelesaikan semua tahap kegiatan belajarnya, dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran umum, dimana guru mengobservasi ketuntasan belajar siswa setiap tahapan dan mengukurnya sesuai dengan standar performansi yang harus ditunjuk-kerjakan siswa, seperti yang dirumuskan dalam indikator keberhasilan pemebelajaran, dengan cara pembuatan matriks evaluasi proses dan hasil belajar siswa berbasis kompetensi. Hal tersebut sesuai dengan penyataan Suderadjat (2004: 58)

Penerjemahan merupakan sebuah aktivitas tempat bersinggungan 2 bahasa yang masing-masibng memiliki system dalam dunianya sendiri. Aktivitas ini tidak ahanya pengalihan makna leksikalsaja, tetapi merupakan bentuk komunikasi yang terjadi di antara 2 sistem bahasa, termasuk juga budayanya. Untuk sedapat mungkin mendekati kesempurnaan penerjemahan, diperlukan penguasaan atas pengetahuan bahasa sumber dan bahasa sasaran yang prima (Rahmat, 2004: 92).

Menurut prndapat Machali (2000: 14, 70-74) kegiatan menerjemahkan bukanlah kegiatan yang hanya sebatas ‘pergantian teks’, karenanya pihak penerjemah harus memandang teks sebagai suatu ‘tindak komunikasi’ (tidak hanya memindahkan teks), dan dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yakni sebagai proses dan sebagai produk. Jika melalui pendekatan penerjemahan sebagai proses, diperlukan beberapa prosedur, yaitu: pergeseran bentuk, pergeseran makna, pergeseran adaptasi, pemadanan berkonteks, permadanan bercatatan. Sedangkan pendekatan penerjemahan sebagai produk, sifatnya seperti penerjemahan manasuka.

Menerjemahkan tidak hanya kata per kata, tetapi menerjemahkan dalam arti utuh dan memakai bahasa yang luwes, lugas sesuai dengan konteks. Tekhnik penterjemahan dalam bahasa Jepang agak rumit dibandingkan dengan bahasa lain. Diperlukan tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Mencari kanji-kanji yang belum dipelajari, bahkan yang baru dikenalnya pun terkadang ada, diperlukan kamus kanji: untuk mencari jumlah coretan atau makna kanji berdasarkan akar kanji, dan juga untuk mencari cara baca kanji yang terdiri dari 2 cara baca (onyomi-cara baca Cina dan kunyomi-cara baca Jepang)
  2. Mencari arti atau padanan kata per kata dalam Bahasa Indonesia, diperlukan kamus Jepang- Indonesia.
  3. Mengartikan kalimat per kalimat berdasarkan struktur pola kalimat Bahasa Jepang
  4. Menyelaraskan arti kalimat per kalimat dalam satu paragraph.
  5. Menyelaraskan paragraph per paragraph berdasarkan konteks teks asli. Dalam tahap ini terkadang diperlukan juga buku penunjang berupa referensi yang terkait dengan konteks teks asli, misalnya tentang pariwisata, budaya Jepang, dan lain sebagainya.

Gambaran langkah-langkah pelaksanakan dijabarkan sebagai berikut:

– Langkah pertama, tentang kanji dan kotoba. Tingkat keberhasilan yang akan dicapai adalah siswa mampu mengartikan kata-kata yang tidak dipahami melalui pengindentifikasian kanji yang sebelumnya tidak diketahui bain coretan maupun cara bacanya (secara individual).

– Langkah kedua tentang bunsho dan danraku.  Tingkat keberhasilan yang akan dicapai adalah siswa mampu mencari arti kalimat per kalimat hingga secara keseluruhan arti dan makna dari paragaraf tersebut diterjemahkan sesuai dengan konteks.

– Langkah ketiga tentang happyo. Tingkat keberhasilan yang akan dicapai adalah siswa mampu pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu siswa mampu berperan seolah-olah menjadi manajer pemasaran dari jenis tema iklan yang telah diterjemahkan dan telah didiskusikan .

D.  SIMPULAN

Dengan cara penterjemahan dan mempresentasikan hasil terjemahannya. Pada saat itu juga mendapatkan kosa kata dari teman lain yang sedang menterjemahkan, dan mengintisarikan apa yang diterjemahkan oleh temannya, diharapkan bisa memperkaya kosa kata, dan setidaknya pengenalan budaya juga diserapnya, dari orang lain yang beda pemilihan jenis iklannya.

Pemilihan jenis iklan diusahakan iklan yang bisa memberikan informasi jelas dan diharakan siswa mendapat gambaran tentang budaya Jepang. Misalnya sebagai berikut: iklan dari sebuah toko buku; iklan dari kantor penerbitan buku; iklan restoran masakan khas Jepang, iklan biro perjalanan dan maskapai penerbangan, iklan perusaahn gedung bioskop dan pertunjukan teater, iklan obatan-obatan, iklan klinik-klinik kesehatan, ilkan tempat-tempat kursus, iklan show room mobil, iklan toko-toko komputer dan toko-toko elektronik, iklan alat-alat kosmestik, iklan alat-alat rumah tangga, alat-alat pertukangan, alat-alat pancing, dan lain sebagainya.

Dimasa mendatang tidak hanya sesuatu yang kecil saja, misalnya kolom iklan yang dilirik siswa, tetapi juga artikel-artikel lain yang bisa membedah dan mempelajari ‘apa itu’ dan ‘siapa itu’ Jepang. Pada awalnya akan untuk diri siswa sendiri, untuk meningkatkan kemampuan diri, jika profesinya menuntut langsung berinteraksi dengan penutur asli. Pada akhirnya untuk bisa mempelajari cara berpikir mereka yang bisa menjadikan negara mereka menjadi bangsa yang besar.

Agar kemampuan pembelajar tidak terpaku pada domain kognitif yang rendah pembelajar hanya terbatas pada mengingat dan memahami dengan cara pengahafalan yang berorientasi untuk pencapaian nilai yang bagus, yang bisa mengakibatkan pemebelajar tidak mampu memanfaatkan konsep kunci keilmuan yang telah dapat unrtuk memecahkan masalah kehidupan yang ada di sekitar pembelajar. Untuk itu diperlukan Pembelajaran Berbasis Kompetensi yang menekankan pada ketrampilan proses untuk menemukan sesuatu (discovery), dengan cara mengeksplorasi, diharapkan tujuan dapat tercapai, sehingga pembelajaran tuntas (mastery learning) bisa tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar, 2002, Pokoknya Kualitatif. Dasar-dasar Merancang dan

Melakukan Penelitian kualitatif, Jakarta: Penerbit Pustaka Jaya

Machali, Rochayah. 2000. Pedoman bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo

Rahmat, Nandang, 2004, Hubungan Pemahaman Lintas Budaya Dengan Penerjemahan Dalam Bahasa Jepang, Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang di Indonesia,  Vol. 1/ No. 3, hlm. 92 – 96.

Sakri, Adjat. 1985. Ihwal Menerjemahkan. Bandung: Penerbit ITB

Suderadjat, Hari, 2004, Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Bandung: Penerbit Cipta Cekas Grafika

Suryawinata, Zuchridin. 1989. Terjemahan: Pengantar dan Teori. Jakarta: Depdikbud  proyek pengembangan LPTK

Tim Penyusun Buku Panduan tahun ajaran 2003 – 2004 Unesa, 2003, Buku Panduantahun ajaran 2003 – 2004, Unipress, Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s