Gallery

Jigsaw dalam Cooperative Learning untuk peningkatan penguasaan kana (altenatif teknik pengajaran huruf)

Jigsaw dalam Cooperative Learning

untuk peningkatan penguasaan kana

(altenatif teknik pengajaran huruf)

     Parastuti (UNESA)

1. Pendahuluan

Dalam dunia pendidikan, untuk meningkatan efektivitas suatu ketrampilan berbahasa adalah merupakan tantangan bagi seorang pengajar yang harus dihadapi demi tercapainya sebuah tujuan pembelajaran. Untuk mencapai hal tersebut di atas, salah satu caranya adalah dengan mencari inovasi-inovasi dalam metode pengajaran yang dipakai pada saat kegiatan belajar mengajar.

Kerja sama dalam suatu kelompok adalah metode pengajaran yang sangat tepat untuk mencapai dua keuntungan sekaligus. Metode ini, sangat dinamis tidak monoton bagi siswa, di samping itu juga mengajarkan pada siswa untuk selalu bekerja sama dalam suatu tim kerja yang nantinya bisa diterapkan dalam dunia kerja. Karena, bagaimana pun pandainya seseorang dalam bidang kognitif, jika tidak bisa berkerja sama dalam kelompok kerjanya (team work), maka tidak akan bisa berprestasi dengan baik. Apalagi dalam atmosfir kerja perusahan Jepang, sangat dibutuhkan adanya team work yang baik, terkadang seseorang demi agar bisa menyelami partner kerja dalam kelompok seringkali mengadakan ‘acara minum bersama’ di luar jam kerja (Hasegawa, 98: 121). Untuk itu alangkah baiknya sejak dini diperkenalkan kerja kooperatif dalam bidang apa pun, terutama dalam bidang pendidikan dan pengajaran bagi pembelajar bahasa Jepang.

Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan seorang siswa dapat belajar untuk mendapatkan suatu informasi, upaya untuk membangkitkan inisiatif dan mampu memotivasi diri untuk belajar. Pembelajaran yang yang baik, lebih menekankan bagaimana upaya pengajar untuk memfasilitasi siswa belajar dalam upaya mengkondisikan siswa agar bisa mengkonstruksikan pengetahuan bagi dirinya, bukan merupakan hasil transformasi dari pengajar.

Menurut pengalaman dan observasi peneliti sebagai pengajar Bahasa Jepang yang paling banyak mengalami kesulitan adalah bagaimana mengajar pembelajar Bahasa Jepang tingkat awal untuk mengenal, menghafal dan kemudian memakai huruf-huruf tersebut dalam kerampilan membaca dan menulis. Cara yang selama ini dikerjakan oleh pengajar-pengajar adalah cara yang konvensional, yaitu siswa hanya disuruh menirukan dan menyalinnya, sehingga banyak siswa yang melupakan begitu saja. Sehingga tujuan belajar tidak bisa tercapai secara optimal. Cara-cara tersebut dirasakan membosankan bagi pembelajar, tanpa ada variasi-variasi yang bisa menarik minat siswa untuk berpikir dan terasa monoton. Dan sebagaimana kita ketahiui pembelajaran bahasa adalah pembelajaran yang harus dinamis.

Ada beberapa alasan mengapa pembelajar disarankan untuk belajar Bahasa Jepang melalui huruf kana, tidak roma-ji, yaitu ada banyak kata-kata yang berbeda sama sekali jika ditulis dengan menggunakan alfabet (roma-ji), bisa mengakibatkan tidak hanya salah baca, tapi juga salah arti, misalnya kinen きねん(arti: kenangan) dan kin’enきんえん (arti: dilarang merokok), dua kata tersebut juga ditulis dalam huruf Jepang, sangat mudah sekali untuk membacanya dan memahaminya. Tetapi jika ditulis dengan alfabet, begitu pengajar lupa memberikan tanda petik, akan berakibat kesalahan fatal. Hal ini juga dikarenakan cara membacanya terdiri dari tiga versi, yaitu sistem hepburn, sistem kunrei, dan sistem Nippon (Harlpen; 1990:1758-1759)

Menurut Kitazaki (1992: 638) dan Hayashi (1990:59), banyak juga pengajar yang mempertimbangkan untuk menggunakan alfabet, karena pertimbangan agar siswa lebih bisa memfokuskan pada tata bahasajadi tidak perlu disibukan dengan bentuk tulisan yang sama sekali asing baginya. Sehingga bisa memberikan kesan bahasa Jepang tidak layak dipelajari. Tetapi sebetulnya pendapat tersebut keliru, karena, semakin siswa dapat menguasai huruf-huruf kana tersebut semakin siswa lebih mudah menguasai kanji, untuk pembelajaran lanjut.

Keistimewaaan fonetik bahasa Jepang ini juga mempengaruhi pada pemakaian huruf kana, khususnya katakana, dan hal ini sudah terbukti cukup menyulitkan bagi pembelajar asing. Pengucapan bahasa Jepang berdasarkan suku kata. Karateristik huruf kana sangat berbeda dengan alfabet. Ada kelebihan dan kemudahan dalam hal ini. Kemudahannya: jumlah vokal dan konsonan relatif sedikit, struktur dan sintagmatik suku katanya sederhana, jenis suku katanya sedikit. Kesulitannya: terdapat bunyi konsonan ‘n’ , terdapat konsonan rangkap, terdapat bunyi atau vokal panjang, yang ketiganya tersebut tadi, dianggap sebagai satu suku kata. Karena dianggap sebagai satu suku kata, seperti halnya konsonan ‘n’ dianggap satu mora atau satu ketukan pada saat pengucapan aksennya. Hal inilah yang membuat pembelajar asing merasa kesulitan (Kimura; 1988: 7-9). Misalnya kata ‘doraemon’, jika pembelajar Bahasa Jepang adalah orang Indonesia, dia akan menghitung mora kata tersebut berjumlah 4 suku kata, yakni, do-ra-e-mon, padahal yang betul adalah do-ra-e-mo-n ど-ら-え-も-ん.

2. Pengajaran koperatif

Pengajaran kooperatif bertujuan bisa tercapai jika siswa dapat saling bekerja sama satu dengan yang lain. Metode pengajaran kooperatif memfokuskan pada belajar       berdasarkan pengalaman, yang didasari asumsi, bahwa pengalaman adalah suatu       kejadian yang telah merubah atau membuat suatu perbedaan dalam tingkah laku       seseorang, sehingga pengetahuan menjadi lebih bermakna, pembelajaran kelompok atau grup bisa meningkatkan kemampuan siswa, karena diantara anggota grup tersebut bisa saling berbagai pengalaman, karena belajar adalah sebuah proses yang bersifat pengalaman yang dialami oleh seseorang.

Semua model pengajaran ditandai dengan adanya 3 prinsip, yaitu, struktur tugas, struktur tujuan, struktur penghargaan. Struktur tujuan kooperatif adalah salah bagian dari struktur tujuan. Jadi, tujuan bisa tercapai jika siswa dapat saling bekerja sama satu dengan yang lain. Masing-masing individu ikut andil menyumbang pencapaian tujuan tersebut. Pola pencapaian tujuan tersebut diibaratkan seperti seperti 2 orang memikul sekeranjang buah, keranjang buah tersebut bisa berpindah sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan jika kedua orang tersebut bisa bekerja sama memikul keranjang tersebut dengan kerjasama yang bagus (Ibrahim, 2000: 4).

Pengajaran kooperatif juga memfokuskan pada belajar berdasarkan pengalaman, yang didasari asumsi, bahwa pengalaman adalah suatu kejadian yang telah merobah atau membuat suatu perbedaan dalam tingkah laku seseorang, sehingga pengetahuan menjadi lebih bermakna (Ibrahim, 2000: 17). Hal ini juga dinyatakan seorang ahli pendidikan Jepang yaitu Nintosa (1992:643), bahwa pembelajaran kelompok atau grup bisa meningkatkan kemampuan siswa, karena diantara anggota grup tersebut bisa saling berbagai pengalaman, karena belajar adalah sebuah proses yang bersifat pengalaman yang dialami oleh seseorang.

Model pengajaran kooperatif, bercirikan sebagai berikut.

–         Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, dalam jangka waktu tertentu.

–         Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan beragam (yang pernah belajar, walaupun hanya pada taraf mengenal dan yang betul-betul baru mengenal huruf kana ini), bisa dilihat dari kemampuan mata pelajaran serumpun.

–         Anggota kelompok dipilih dari berbagai kelompok yang berbeda, misalnya sebagian dari mereka pernah mendapatkan pelajaran bahasa Jepang pada waktu jenjang sebelumnya.

–         Penghargaan lebih ditekankan pada hasil kerja kelompok daripada hasil kerja per individu.

Adatiga tujuan pembelajaran kooperatif yang telah dikutip oleh Ibrahim dari beberapa sumber, akan diuraikan berikut. (2000: 7-9).

–         Meningkatkan hasil belajar akademik. Hal ini telah dibuktikan oleh Coleman, di tahun 1961. Coleman menyatakan bahwa, pengajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, karena penagajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memehami konsep-konsep yang sulit. Selain Coleman, Slavin, juga menyatakan bahwa model pengajaran kooperatif mempunyai keuntungan banyak pada siswa yang pandai ataupun yang kurang. Karena siswa yang pandai memberikan pelayanan sebagai tutor bagi temannya yang kurang, siswa tersebut akan mencoba menemukan cara-cara yang mudah agar bisa dengan mudah ditangkap oleh temannya. Dan dari pihak siswa yang kurang akan memperoleh bantuan khusus.

–        Parasiswa lebih bisa menghargai dan menerima kenyataan, bahwa ada perbedaan-perbedaan di setiap waktu, tempat di dunia ini, misalnya, ras, keyakinan, kelas budaya, dan lain sebagainya.

–         Mengajarkan pada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi dan menyakinkan pada mereka, bahwa keterampilan tersebut sangat diperlukan untuk dimiliki di dalam masyarakat di mana banyak kerja orang dewasa yang sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang masih bergantung dalam keragaman budaya.

Terdapat enam tahapan dalam pengajaran kooperatif yang harus diperhatikan (Ibrahim, 2000: 10,11).

–          Tahap 1          : penyampaian tujuan dan pemotivasian siswa

–          Tahap 2          : penyajian informasi, misalnya dengan cara demonstrasi

–          Tahap 3          : pengoganisasian siswa dalam pembentukan kelompok dan siap

membantu secara individual pada setiap kelompok

–          Tahap 4          : pembimbingan kelompok pada saat mereka mengerjakan tugas

–          Tahap 5          : pengevaluasian, misalnya dengan cara masing-masing individu

mempresentasikan hasil kerja, dan kemudian merevisinya sebagai

tugas kelompok

–          Tahap 6          : pemberian penghargaan diberikan saat presentasi hasil Revisi

kelompok

3. Pendekatan Jigsaw

Adabeberapa jenis pendekatan yang bisa dipilih dalam pelaksanaan  Pengajaran Kooperatif. Misalnya, Pendekatan Student Teams Achievement Division (STAD), Pendekatan Jigsaw, Pendekatan Kelompok Penyelidikan, Pendekatan Struktural. Dengan memperhatikan karakter mata pelajaran Bahasa Jepang yang dikhususkan pada penguasaan Huruf Kana, maka pendekatan jigsaw bisa dijadikan sebagai alternatif teknik pengajaran huruf.

Pendekatan jigsaw dalam hal yang berkaitan dengan tujuan yang berkaitan dengan kognitif hanya sebatas informasi akademik sederhana. Mengapa huruf ini mengambil porsi separuh waktu dari waktu yang disediakan ini, karena huruf menjadi hal yang penting agar pembelajar bisa melanjutkan belajar bahasa Jepang.

Kerjasama dalam kelompok yang ada kaitannya dengan tujuan sosial masih sederhana, tidak begitu kompleks, karena mata pelajaran ini bagi sebagian dari mereka adalah baru sama sekali mereka kenal. Untuk pendekatan jigsaw ini harus diperhatikan, bahwa apakah materi yang akan diajarkan secara alami dapat dibagi menjadi beberapa sub topik. Pada pengajaran materi kana ini dapat dibagi secara alami, disamping jumlah huruf, aturan-aturan cara membacanya, memungkinkan materi ini dapat dibagi secara lami. Struktur tim terdiri dari kelompok yang betul-betul heterogen dengan menggunakan pola ‘kelompok asal’ dan ‘kelompok ahli’, bisa diilustrasikan sebagai berikut.

‘Kelompok asal’: beberapa anggota yang heterogen dikelompokan

A1     A2                   B1    B2               C1     C2               D1      D2

A3    A4                             B3    B4          C 3     C4                  D3      D4

‘Kelompok ahli’: tiap kelompok ahli memiliki satu anggota dari ‘kelompok asal’

A1    B1                   A2   B2                        A3     B3                            A4     B4

C1    D1                             C2   D2                 C3      D3                   C4      D4

4. Huruf-huruf Bahasa Jepang

a. Huruf Kana

Huruf-huruf yang digunakan dalam Bahasa Jepang terdiri dari Kana, Kanji, dan Roma-ji. Huruf kana terdiri dari: Hiragana, yang dipergunakan untuk menulis kata-kata asli Bahasa Jepang. Katakana, yang dipergunakan untuk menulis kata-kata serapan, termasuk di dalamnya nama Negara, nama orang asing, nama Tempat. Dan juga untuk menulis telegram, dan untuk menekan suatu kata dalam suatu kalimat, walaupun kata tersebut bukan merupakan kata serapan.

Beberapa buku mengatakan hal sama, diantaranya, yaitu Harlpen (1990:1947) bahwa dalam suatu kalimat bahasa Jepang dimungkinkan ke 4 jenis huruf tersebut keluar bersamaan, misalnya, sebagai berikut:

私①   West Inホテル④  コックをしています②。

Watashi   wa  West In   Hoteru     de    kokku    o shite imasu

à terjemahan bebas: Saya bekerja sebagai koki di Hotel West In

Keterangan:                ① 漢字                            kanji               ② 平仮名              hiragana

③ ロマ字        roma-ji    片仮名            katakana

Tabel huruf Kana disebut kana table, walaupun disebut daftar 50 bunyi (goju onju), tetapi sebetulnya hanya ada 46 bunyi, karena yang bisa dikatakan masuk dalam pengkaidahan linguistik modern Bahasa Jepang hanya sejumlah 46 bunyi, yang merupakan syllaby atau suku kata, satu-satunya konsonan, yaitu ‘n’ (Kimura; 1988: 8).

b.  Sistematika penulisan huruf hiragana:

1)      Voiced Sounds, (dakuon 濁音), huruf dari deret ‘k’, ‘s’, ‘t’, ‘h’, diberi tanda dakuten 濁点atau nigori 濁り, tanda  mirip ‘tanda petik’ disebelah kanan huruf tersebut, berbunyi berbeda, misalnya ka à ga, sa àza, taà da, haà ba. Khusus untuk deret ‘h’, selain berbunyi menjadi ‘ba’, juga berubah menjadi haà pa, jika diberi tanda mirip lingkaran kecil di sebelah kanan huruf deret ‘h‘ tersebut, disebut handakuten 半濁点. (Harlpen; 1990:1749, 1753)

2)      Palatalized Sounds, yaitu syllabi yang mengandung bunyi ‘i’, diikuti ya, yu, yo, yang bentuknya dikecilkan menjadi bunyi satu syllabi, yang sebenarnya merupakan penggabungan dua bunyi, diistilahkan  yoon 拗音 (Harlpen; 1990:1749, 1754)

3)      Suara panjang (choon 長音), semua syllabi tersebut jika ingin dipanjangkan tinggal menambah vokal ‘a’ あuntuk  memperpanjang bunyi a, vokal ‘i’ いuntuk memperpanjang bunyi ‘i’ dan ‘e’, vokal ‘u’ うuntuk memperpanjang bunyi ‘u’ dan ‘o’, vokal ‘e’ え untuk memperpanjang bunyi ‘e’, vokal ‘o’ おuntuk memperpanjang bunyi ‘o’.

4)      Deret bunyi k, s, t, p, bisa didobel bunyinya, dengan cara menambahkan ‘chiisai tsu’ 小さい っ kecil di sebelum konsonan tersebut, disebut sokuon 促音.

c. Sistematika penulisan huruf  Katakana.

Dalam pengajaran katakana semua mirip dengan hiragana, hanya saja pada perkembangannya, untuk memperpanjang bunyi, cukup dengan tanda ‘–‘ setelah huruf yang perlu panjang bunyinya, disebut choonfu 長音府. Karena kana ini digunakan untuk menulis kata-kata serapan, ada beberapa huruf yang disesuaikan dengan bunyi bahasa aslinya, dimaksudkan agar bisa mendekati bunyi aslinya, dibuatlah katakana. Hal ini dimaksudkan untuk bisa mengakomodasi kata-kata serapan tersebut. Pada prinsipnya kata-kata serapan tersebut ditulis dengan menggunakan katakana tidak mendekati bentuk tulisan, tetapi lebih mendekati pada pengucapannya (harlpen; 1990: 1755)

5. Pendekatan Jigsaw pada pengajaran kana

Dilaksanakan dalam 2 tahap, setiap tahapan membentuk kelompok dan pengelompokan berdasarkan heterogenitas  sesuai dengan  kondisi siswa. Hal ini dimaksudkan untuk pemerataan kemampuan dan   penyebaran informasi yang dimiliki masing-masing anggota kelompok agar tujuan pembelajaran bisa dicapai. Pengelompokan heterogenitas ini berdasarkan:

  • Jenis kelamin, agar siswa saling menghormati dan menghargai. Pengalaman belajar Bahasa Jepang di jenjang pendidikan formal sebelumnya, agar siswa yang pernah belajar bisa menularkan informasi sebatas pengetahuan yang dia miliki tentang huruf bahasa Jepang. Hal ini dimaksudkan agar lebih bisa menekan rasa kekawatiran dan menimbulkan rasa nyaman siswa lain yang belum pernah belajar bahasa Jepang.
  • Nilai tes bahasa asing yang diperoleh di pendidikan formal, dengan pertimbangan asumsi, jika nilai bahasa Inggris baik, maka untuk mengenal bahasa asing yang lain tidaklah sesulit yang dibayangkan sebelumnya.
  • Dapat mengimajinasikan gambar, diakhir siklus kedua ada tugas membuat daftar hiragana, katakana yang sudah dimodifikasi dengan cara mengimajinasikan suatu gambar dengan tujuan lebih mempermudah cara hafal huruf kana, dimaksudkan juga sebagai pemantapan cara menghafal bentuk huruf-huruf kana tersebut.

Pendekatan Jigsaw dalam cooperative learning yang mempunyai pola ‘kelompok asal’ dan ‘kelompok ahli’, kelas dikelompokan dengan cara sebagai berikut, setiap tahapan jumlah siswa satu kelas dibagi merata

a. Tahap Penyusunan kelompok kecil

Masing-masing huruf Kana, yaitu Hiragana berjumlah 46 huruf, begitu juga Katakana

berjumlah 46 huruf.

1) ‘Kelompok Asal’ menjadi 9 kelompok, pembahasan pada

deret daftar kana   gojuonzu かな五十音図, untuk memfokuskan pada:

  • Bentuk huruf , karena beberapa huruf, satu dengan yang lain berbentuk hampir       sama.
  • Urutan coretan, dalam hal ini harus ditaati untuk bekal pembelajaran kanji di level

yang lebih tinggi.

  • Jumlah coretan, mempermudah menghafal dan merupakan bekal pembelajaran kanji di level yang lebih tinggi.

2) ‘Kelompok Ahli’ menjadi 5 kelompok, pembahasan pada

lajur daftar kana gojuonzu かな五十音図.

  • Bunyi huruf, sesuai dengan karakter bunyi dalam Bahasa Jepang, yang terbentuk atas mora, dan jenis bunyi tidak begitu beragam
  • Posisi huruf dalam daftar kana gojuonzu かな五十音図, hal ini mempermudah

pembelajar untuk lebih menghafal dan memahaminya. Karena, ada beberapa

huruf yang urutannya tidak sesuai dengan kaidah Bahasa sumber pembelajar,

yaitu: し shi,  ちchi, つtsu, ふfu

Langkah-langkah pelaksanaan:

HIRAGANA

1)      membentuk ‘kelompok asal’ (hiragana)

2)      guru memberikan bimbingan secara individual dalam tiap-tiap kelompok, (guru telah memberikan penjelasan secara umum cara penggunaan buku “Kana nyumon. Dasar-dasar huruf kana edisi Bahasa Indonesia”, terbitan The Japan Foundation,Jakarta)

3)      guru juga membuat tabel kosong daftar kana gojuonzu かな五十音図 di papan tulis

4)      siswa maju di papan tulis untuk mempresentasikan huruf kana yang telah menjadi tanggung jawabnya. Pengkoreksian pada bentuk huruf dan coretan huruf dilakukan pada saat siswa mempresentasikan satu per satu huruf di papan tulis sebelum di salin oleh siswa lain

5)      guru membagikan print out tabel kosong daftar kana gojuonzu かな五十音図untuk diisi oleh siswa lain

6)      siswa diminta mencatat untuk latihan penghafalan, dan menyalin secara keseluruhan sehingga menghasilkan produk berupa daftar huruf kana yang lengkap.

7)      membentuk ‘kelompok ahli’

8)      seperti langkah 3 – 6

KATAKANA

Langkah sama seperti di atas

Bagan pembagian kelompok

‘Kelompok asal’:

1           2          3         4          5          6          7          8          9          10        10

あ  か  さ  た  な  は  ま  や  ら  わ  ん

い  き  し  ち  に  ひ  み     り

う  く  す  つ  ぬ  ふ  む  ゆ  る

え  け  せ  て  ね  へ  め     れ

お  こ  そ  と  の  ほ  も  よ  ろ  を

あ   か   さ  た               い   き  し             う   く  す  つ            え け せ                お こ そ

な   は   ま  や       ち   に   ひ             ぬ   ふ   む      て ね へ     と の ほ も

ら   わ   ん             み    り                     ゆ   る         め れ       よ ろ を

‘Kelompok ahli’

Contoh format tabel kosongan

A

Ka

sa

ta

na

ha

ma

ya

ra

wa

n

I

Ki

shi*

chi*

ni

hi

mi

ri

 

U

Ku

su

tsu*

nu

fu*

mu

yu

ru

E

Ke

se

te

ne

he

me

re

 

O

Ko

so

to

no

ho

mo

yo

ro

wo

b. Tahap Penyusunan Kelompok Sedang

Kelas dikelompokan dengan cara sebagai berikut, jumlah siswa satu kelas, dibagi menjadi :

1) ‘Kelompok Asal’ menjadi 3 kelompok, pembahasan pada

  • Huruf Hiragana, dan Huruf Katakana sesuai dengan  sistematika penulisan huruf  kana, yakni:  dakuon-handakuon  濁音・半濁音
  • Huruf Hiragana, dan Huruf Katakana sesuai dengan sistematika penulisan huruf  kana, yakni:  yoon  拗音
  • Huruf Hiragana, dan Huruf Katakana sesuai dengan sistematika penulisan huruf  kana, yakni:  choon-sokuon 長音・促音

2) ‘Kelompok Ahli’ menjadi 2 kelompok, pembahasan pada

  • Khusus pada huruf hiragana saja. sesuai dengan sistematika penulisan huruf kana, yakni: hiragana dakuon-handakuon 濁音・半濁音,  hiragana yoon 拗音, hiragana choon-sokuon 長音・促音.
  • Khusus pada huruf katakana saja. sesuai dengan sistematika penulisan huruf kana, yakni: katakana dakuon-handakuon 濁音・半濁音,  katakana yoon 拗音, katakana choon-sokuon 長音・促音.

Langkah-langkah pelaksanaan sama seperti pada penyusunan kelompok kecil, hanya pada bahasan choon-sokuon 長音・促音 tidak mempergunakan tabel kosongan

Bagan pembagian kelompok

‘Kelompok asal’:

dakuon-handakuon                       yoon  拗音                                    choon-sokuon 

濁音・半濁音                            Hiragana & Katakana      長音・促音

Hiragana & Katakana                                                              Hiragana & Katakana

 

 

Hiragana                                                                     Katakana

–   dakuon-handakuon                                             –   dakuon-handakuon                     

濁音・半濁音                                                        濁音・半濁音

–   yoon 拗音                                                         –   yoon 拗音

–   choon-sokuon                                    –   choon-sokuon 

     長音・促音                                                            長音・促音

‘Kelompok ahli’

Contoh format tabel kosongan dakuon-handakuon  濁音・半濁音

ga

Za

da

ba

pa

gi

Zi

zi*

bi

pi

gu

Zu

zu*

bu

pu

ge

Ze

de

be

pe

go

Zo

do

bo

po

Contoh format tabel kosongan    yoon 拗音

Kya

gya

sha

ja

cha

nya

Kyu

gyu

shu

ju

chu

nyu

Kyo

guo

sho

jo

cho

nyo

Hya

bya

pya

mya

rya

Hyu

byu

pyu

myu

ryu

hyo

byo

pyo

myo

ryo

Di akhir siklus Kedua ini diadakan kegiatan yang sifatnya hanya untuk pelengkap ketuntasan belajar Huruf Kana, yaitu dengan mengajak siswa mengimajinasikan huruf kana dalam sebuah gambar dengan tujuan agar mudah mengingat bentuk dari huruf-huruf kana tersebut.  Pembagian kelompok besar ini tidak menggunakan pendekatan jigsaw. Berikut adalah contoh hasil dari kegiatan tersebut:

Huruf hiragana  も (baca: mo) diimajinasikan seperti gambar MOnyet

Huruf hiragana  ひ (baca: hi) diimajinasikan seperti gambar HIdung

Huruf katakana  オ (baca: o) diimajinasikan seperti gambar Orang-orangan sawah

Huruf katakana  ト  (baca: to) diimajinasikan seperti gambar TOngkat

6. Penutup

Mengajar bahasa Jepang untuk penguasan huruf Kana dengan menggunakan Metode Pengajaran Kooperatif diharapkan baik guru mau pun siswa lebih bisa menggunakan waktu secara efisien, karena guru hanya sebagai fasilitator, sedangkan masing-masing siswa diberi tanggung jawab sesuai dengan porsinya, jadi gurunya lebih bisa mengatur energi dan siswa menjadi aktif. dengan dasar pengelompokan heterogenitas, dan dengan teknik pengajaran dengan pendekatan jigsaw, siswa merasa senang, karena mereka bisa saling mengenal karakter teman, saling menghargai, dan saling hormat dalam sekelompoknya. Jadi kelas terkesan aktif dan dinamis dan tetap terarah.

Kelemahanan Metode Pembelajaran Kooperatif ini, jika guru kurang jeli dalam pembagian kelompok, kelas akan terkesan tidak seimbang. Kecermatan guru juga menjadi hal yang penting, karena tulisan yang ditulis siswa tidak proposional, salah coretan, atau pun salah urutan coret, akan mempengaruhi kemampuan siswa pada tahap pembelajaran selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bogdan, Robert. 1990. Riset Kualitatif untuk Pendidikan: Pengantar Ke Teori dan

Metode. Penerj: Munandir.Jakarta: Depdikbud Dikti

Halpern, Jack. 1990. 新漢字英字典 New Japanese-English Character Dictionary.

Tokyo: Kenkyusha

Hayashi, Oto. 1990.日本語教育ハンドブック.Tokyo: Oshukan shoten

Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif.Surabaya: University Press

Kimura, Muneo. 1988. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran Bahasa Jepang. Penerj:

Ahmad Dahidi dan Akahane Michie.Bandung: FBS IKIPBandungdan The

JapanFoundation

Kimura, Shuo. 1992. “初級レベル学習目標” dalam日本語教育辞典 (ed Ogawa,

Yoshio.Tokyo: Oshukan shoten

Kitazaki, Junko.1992. “読むことの学習段階” dalam日本語教育辞典 (ed Ogawa,

Yoshio.Tokyo: Oshukan shoten

Koike, Seiji. 1992. 日本語辞典.Tokyo: tokyodo shuppan

Kokusai Koryu Kikin, 1979. 日本語かな入門インドネシア語出版.Tokyo:

Bonjinsha

Kodama, Yasue. 2003. “かなの書き方の指導” dalam Jurnal pendidikan日本語教

育通信第45.Tokyo: TheJapan Foundation

Kodama, Yasue. 2003. “かなを楽しく覚えよう” dalam Jurnal pendidikan日本語育

              通信第46.Tokyo: TheJapan Foundation

Nintosa、yuki. 1992. “グループ指導” dalam日本語教育辞典 (ed Ogawa,Yoshio.

Tokyo: Oshukan shoten

Ogawa, shigeru. 1998, みんなの日本語.Surabaya: PTPLB

Ogawa, Yoshio. 1992. 日本語教育辞典.Tokyo: Oshukan shoten

Sirazaki, Yuse. 2005. “年少者教育とは?” dalam Jurnal pendidikan日本語教育通

信第51.Tokyo: TheJapan Foundation

Yokomizo, Shin’ichiro. 2001. “アクション・リサーチ-日本語教師の自己成長

のために” dalam Jurnal pendidikan日本語教育通信第39.Tokyo: The

Japan  Foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s