Gallery

Nilai sebuah “maaf”

Ruteku hari ini, pakai subway Meijo-line 地下鉄の名城線, dan oper pindah Tsurumai-line 地下鉄の鶴舞線. Rute ini aku lakoni dalam seminggu dua kali pada hari-hari mengajar Bahasa Indonesia di Nanzan University 南山大学di daerah Yagoto 八事. Sebelum sampe pada stasiun terakhir Akaike 赤池駅, tempat aku oper naik bis Meitesu 名鉄バス, tuk menuju apartemen, ada sesuatu yang tidak enak di hati. Karena memang pada hari ini aku sempat memperhatikan bagaimana seorang masinis subway ini mengoperasikan kendaraannya.

Tiba-tiba kereta berhenti. Bisa dibayangkan,…”ada apa ya?”. Dalam kondisi seperti terowongan gelap (wajar aja kan, orang namanya, subway….) kereta berhenti lebih dari 5 menit. Kegalauan aku liat di beberapa wajah. Tapi, hebatnya mereka tidak panik, tapi tetap menunjukan perilaku sigap. Hal ini terlihat dari sikap beberapa orang yang tadinya tidur, mereka langsung melek sambil mendekap tasnya masing-masing. Kalau aku tidak salah tangkap, penyebab berhentinya, karena pasokan listriknya terganggu. Beberapa kali masinis berikan pengumuman.

Setelah, semuanya bisa teratasi, kereta berjalan lagi. Sampai di stasiun Akaike 赤池駅 , ada hal yang membuat aku terbengong-bengong,…sepanjang peron, berdiri petugas stasiun beserta para masinisnya juga, menyapa penumpang yang turun dengan permintaan maaf…   Go-meiwaku kakete, moushi wake gozaimasen   ご迷惑かけて、申し訳ございません. Wooowww,…betapa loyalnya mereka pada profesinya.

Meminta maaf adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan oleh banyak orang di belahan dunia mana pun. Bagi orang Jepang, karena meminta maaf susah dilakukan, maka  dalam melakukan bekerjanya dilakukan dengan serius, dan diupayakan tidak membuat kesalahan, agar tidak perlu mengumbar maaf yang sebetulnya tidak perlu mereka lakukan.

Aku pikir, yang membedakan kita dengan mereka, karena kita Negara yang ber Tuhan dan percaya Tuhan itu ada. Dalam beberapa orang, sering kesalahan itu di pindahkan atau mereka meng-kambing hitamkan situasi atas nama Tuhan. Sehingga pada akhirnya, mereka berpikir,  bekerja tanpa keseriusan yang tinggi pun tidak ada masalah. Karena, ada pikiran bahwa Tuhan Maha Pengasih. Dan saat mereka berbuat kesalahan pun, pada akhirnya permintaan maafnya hanya kopong tak berisi.

Ini adalah pelajaran berhargaku, hari ini. Aku hanya membayangkan,…alangkah indahnya kalau hal yang seperti ini juga ada di Indonesia-ku. Bekerja dengan serius, supaya kesalahan bisa diperkecil dengan tujuan agar tidak perlu mengumbar maaf, akibat kesalahan yang timbul. Dan tentunya semua itu bekerja disertai dengan niatan atas nama Tuhan.

2 thoughts on “Nilai sebuah “maaf”

  1. MS says:

    Aku setuju Tuti dlm segala kehidupan hrs bernilai ibadah, bekerja itu jihad kita mencari nafkah tuk keluarga hrs dimulai dg doa, dan memberi kepuasan pd stake holder dr situ kepuasan hati bs dirasakan, tetapi kalau kita TIDAK SENGAJA/DI LUAR KEKUASAAN berbuat salah harus berbesar hati tuk minta maaf krn manusia tidak ada yg sempurna. Masalahnya di negara tempat asalnya Tuti banyak agama hanya dibuat ritual, tiap hari ke masjid, gereja, pura tapi masih menipu, fitnah, rebutan kekuasan apalagi korupsi tidak ingatkah doanya dlm sholat malikinya humidin dst yg artinya Allah yg mempunyai hari pembalasan dst dibaca 17 x sehr semlm, mungkin pendidikan kita yg salah bahwa kesuksesan hanya diukur dr materi, harta dan jabatan saja … Wallahualam bisshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s