Gallery

Konsep religius manusia Jepang

Konsep religius manusia Jepang: kombinasi antara agama dan alam. Shūkyō to Shizen 宗教(しゅうきょう)と自然(しぜん)

Dalam pemikiran manusia Jepang, 宗教shukyõ  ‘agama’ dan 自然shizen ‘alam’ merupakan satu kesatuan unsur pedoman hidup. Cara mereka memandang suatu keyakinan beragama, tidak sama dengan cara berpikir orang yang mengenal faham monoteisme. Manusia Jepang memiliki kepercayaan bahwa manusia dan Tuhan mempunyai hubungan yang sangat dekat, namun alamlah yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi.

Ada beberapa faktor pemikiran tentang alam. Mereka meyakini bahwa alam sebagai tempat suci yang merupakan tempat tinggal para dewa dan roh-roh nenek moyang. Alam dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Konsep tentang alam merangkum kedua aspek sikap terhadap sesuatu yang dianggap Tuham. Alam adalah kekuatan pemelihara yang penuh kebajikan yang harus dihargai oleh manusia. Dan juga merupakan perwujudan dari sumber kejadian. Manusia dapat masuk ke dalam inti realitas dan menyatu dengan alam melalui pemahaman atas bentuk-bentuk alam. Dan Alam tidaklah terpisah dari para dewa atau terpisah dengan manusia tetapi menyatu dengan keduanya (Bellah, 1992:82).

Shinto 神道 memiliki arti harfiah “jalan Kami”, sering disebut sebagai keyakinan  asli manusia Jepang. Shinto bukan hanya sekedar keyakinan, namun juga merupakan cita-cita dan cara hidup mereka. Shinto mewarnai perjalanan hidup bangsa Jepang sampai sekarang dan masih akan berlanjut dalam waktu yang tidak dapat dipastikan (Sutrisno, 1993:119). Shinto pada mulanya perpaduan antara faham animisme dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam (Ali,1981:56). Orang Jepang menganggap bahwa semua gejala alam dan benda-benda alam baik benda hidup maupun benda mati dianggap memiliki roh.

Kami adalah obyek persembahan dalam Shinto. Konsep mengenai 神Kami pada awalnya terdapat dalam 古事記Kojiki dan 日本書記Nihon Shoki. Pada dasarnya kata ini dipakai dengan disertai rasa hormat yang tinggi karena menyangkut roh-roh yang suci yang mempunyai keutamaan dan kelebihan tertentu (Sutrisno,1993:121). Bagi orang Jepang kata 神Kami adalah para dewa yang berdiam di khayangan.

Dalam rentangan sejarah fenomena 神Kami dimulai sejak orang meyadari pada hal-hal yang berhadapan dengan peristiwa pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Ritual keagamaan keagamaan diselaraskan dengan gejala alam seperti badai, guntur, juga benda-benda alam seperti matahari, bulan, batu karang, gunung. Tidak ketinggalan roh-roh para pahlawan, orang yang berbudi luhur, panglima perang yang gagah berani, para samurai, sarjana pandai yang luar biasa juga dikaitkan dengan kekuatan 神Kami (Sutrisno,1993:121)

Gunung adalah salah satu gejala alam yang menjadi obyek sesembahan penganut ajaran Shinto. Gunung dipercaya sebagai tempat tinggal para 神Kami atau para dewa. Dewa-dewa tersebut dinamakan 山の神Yama no Kami. Yama no Kami terbagi menjadi dua macam, yakni dewa yang memerintah gunung-gunung dan dewa yang ada hubungannya dengan tanah pertanian. Dewa gunung jenis kedua ini yang dipuja oleh para petani untuk mendapatkan perlindungan terhadap hasil panen mereka (Ali,1981:59). Selain diyakini sebagai tempat tinggal para dewa, gunung juga diyakini sebagai tempat bermukimnya roh-roh orang yang sudah meninggal. Keyakinan inilah yang membuat gunung disucikan dan dihormati oleh orang Jepang seperti halnya gunung Fuji (Lawanda,2000:20).

Untuk menghormati para Kami tersebut dibuatkan kuil-kuil pemujaan disekitar lereng gunung. Dalam pembuatan kuil dan perawatannya tidak bisa dipisahkan dengan keindahan alam alam sekitarnya. Mereka berusaha menyatukannya sehingga fikiran orang mudah diarahkan dari yang duniawi menuju pada yang lebih tinggi dan mengarah keilahian (Sutrisno,1993:123).

Kemudian Shinto berkembang dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap pola fikir manusia Jepang. Mulai dari perayaan tahun baru hingga proses penanaman padi, sekaligus pada saat memanennya. Padi sangat cocok ditanam dalam kondisi alam Jepang, padi juga mendapat tempat istimewa sebagai bahan makanan suci bagi rakyat Jepang. Dengan tradisinya yang panjang, budidaya padi bukanlah sekedar sebuah kegiatan pertanian, melainkan sebuah kegiatan budaya dengan beragam ritual keagamaan. Menurut mitos Jepang, padi dianugerahkan kepada rakyat Jepang oleh dewi matahari yaitu 天照御神Amaterasu Omikami (Aneka Jepang:12).

Padi melambangkan karakter esensial (karakter utama) negeri Jepang, proses penanaman padi merupakan sebuah kegiatan suci yang pantas dipersembahkan pada para dewa. Seperti halnya pada upacara naik tahta kaisar (upacara penobatan) diadakan serangkaian ritual [Daijousai] yakni, upacara kaisar mempersembahkan sesajen kepada leluhurnya setelah upacara penobatan’, dengan cara memilih dua petak sawah yang disebut Yukiden dan Sukiden dari dua lokasi di Jepang, dan kemudian beras yang dihasilkannya dipersembahkan kepada Amaterasu Omikami dan dewa-dewi lainnya. Hingga kinipun di berbagai daerah di Jepang orang masih menyelenggarakan berbagai festival (berupa tarian, musik, dll yang dilakukan secara beramai-ramai) yang berhubungan dengan budidaya padi, pemujaan kepada dewi padi serta permohonan akan panen yang berlimpah, dan syukuran atas panen yang berhasil (Aneka Jepang:12).

Selain dalam proses penanaman padi, perayaan tahun baru, masih banyak juga kegiatan-kegiatan yang menggunakan ritual Shinto. Seperti perayaan yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam lainnya seperti industri perikanan. Dan juga pada acara-acara sosial, yaitu dalam upacara penobatan kaisar Jepang biasanya menggunakan upacara perayaan dengan ritual Shinto. Karena mereka menganggap bahwa hubungan antara dewa-dewa Shinto dan keluarga kekaisaran berlangsung secara berkesinambungan, dan keluarga kaisar tetap memikul beberapa tanggung jawab tertentu dalam pemujaan nenek moyang serta para dewa yang mempunyai hubungan dengannya (Bellah,1992:72).

Aspek-aspek struktur sosial ajaran Shinto cenderung lebih rumit dibanding dengan yang ada pada ajaran Budhisme. Dan pada intinya manusia Jepang tidak mau direpoti dengan suatu ajaran yang mana yang dia mau anut. Yang penting semuanya baik dalam kehidupan keseharian mereka. Lahir dan mengharapan kesehatan, berkah rejeki ngikut ajaran Shinto. Mati diberkati oleh pendeta Budha, Dan menikah dengan berbangga hati memakai wedding dress di depan gereja-gereja megah yang sengaja dibangun sebagai tempat resepsi. Itu semua adalah gambaran kehidupan beragama manusia Jepang.

2 thoughts on “Konsep religius manusia Jepang

  1. Berapa referensinya adalah sebagai berikut:

    Bellah, N. Robert. 1992. Religi Tokugawa: Akar-akar Budaya Jepang. Jakarta:
    Gramedia. Penj: Wardah Hafidz

    Sutrisno, Mudji dan Christ Vrehaak 1993. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius

    http://www.id.emb-japan.go.jp/aneka.html
    (majalah ANEKA JEPANG, yang diterbitkan oleh kedutaan besar Jepang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s