Gallery

Hal-hal yang pamali dr kacamata manusia Jepang/ Imikotoba 忌詞 (いみことば)

Imikotoba 「忌詞(いみことば)」berasal dari:

Kata imi 「忌(いみ)」 berarti: suatu tanda untuk mengabaikan suatu hal, yang berkaitan dengan tempat, waktu, tindakan atau kata-kata yang dipercaya dapat menjadi hal yang tidak baik. Dan kata kotoba 「詞(ことば)」berarti: ‘istilah atau ungkapan’. Jadi, ada dua arti dari imikotoba, yang pertama yaitu kata-kata yang diabaikan, dan yang kedua adalah kata-kata yang tidak baik.

Ada kata-kata tertentu yang jika diucapkan terutama di suatu tempat yang dianggap suci, dianggap dapat mengotori, melemahkan, membawa kutukan, dan membawa sial. Untuk menggantikan kata yang tergolong dalam Imikotoba, ada beberapa ungkapan yang telah disepakati dalam suatu kelompok atau komunitas tertentu.

Contohnya, pada ritual prosesi Shinto, ada istilah-istilah dalam agama Budha yang dihindari, seperti Hotoke 「仏(ほとけ)」 (Budha), 「僧(そう)」 (Rahib). Selain itu, kata shi  「死(し)」 yang berarti kematian dan kata chi 「血(ち)」 yang berarti darah juga dihindari. Istilah-istilah dalam agama Budha dihindari karena agama Budha biasanya berhubungan dengan upacara kematian.

Ada juga ungkapan yang dihindari jika malam telah tiba. Misalnya untuk menyebutkan kata shio 「塩」 yang berarti garam, ada istilah tersendiri yaitu “nami no hana”  「波(なみ)の花(はな)」 yang berarti bunga ombak. Istilah pengganti tersebut dipergunakan karena kata shio 「塩(しお)」 pengucapannya hampir mirip dengan kata shi yang berarti kematian.

Seperti halnya shio 「塩(しお)」, karena bunyinya sama dengan shi, orang Jepang menganggap angka 4 sebagai angka sial, begitu juga angka 9, yang bunyinya sama dengan “Ku” 「く」singkatan dari “kurushii” yang berarti penderitaan. Kedua angka tersebut disebut Imikazu 「いみかず」.Jika Imikotoba adalah penggunaan kata-kata yang sebaiknya dihindari, maka Imikazu adalah penggunaan angka-angka yang sebaiknya dihindari. Oleh sebab itu, hotel atau rumah sakit banyak yang tidak memiliki kamar nomer empat dan sembilan.

Salah satu jenis lain dari Imikotoba, adalah yamakotoba 「やまことば」, yaitu jenis Imikotoba di kalangan para pemburu. Kata-kata yang termasuk yamakotoba kebanyakan mengacu pada binatang. Misalnya kata “seta” untuk menggantikan kata yang berarti anjing, “wakka” untuk kata yang berarti udara dan “hedari” untuk kata yang berarti darah. Kata-kata tersebut merupakan kata-kata serapan dari bahasa Ainu.

Kata-kata serapan dari bahasa asing tersebut tidak dipergunakan di beberapa prefekture. Misalnya kata kuma 「熊(くま)」yang berarti beruang, di prefektur Akita, disebut ”itachi”. Di prefektur lain, beruang disebut “shishi” yang berarti binatang berkaki empat, karena kata kuma di daerah tersebut, mengacu pada panci bergagang.

Contoh lain dari Imikotoba adalah kata-kata kaeru 「帰(かえ)る」 dan modoru「戻(もど)る」. Kata-kata tersebut dihindari pemakaiannya dalam pidato sambutan pada suatu upacara pernikahan, karena dianggap bisa mempengaruhi pengantin perempuan untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya. Selain itu, kata Wakareru 「わかれる」(berpisah), owaru 「終わる」(berakhir), hanareru 「はなれる」(berjauhan), kiru 「切(き)る」(memotong) juga dihindari, karena dikhawatirkan bisa mempegaruhi keretakan dalam kehidupan rumah tangga kelak.

Berikut adalah beberapa contoh ucapan pengganti yang dipergunakan dalam suatu upacara pernikahan.

①Ucapan penutup acara pernikahan :

広縁を終わりにします。 Hiroen o owari ni shimasu     (Kita akhiri upacara ini)

diganti menjadi

広縁をお開きにします。Hiroen o ohiraki ni shimasu   (Kita tutup upacara ini).

②Ucapan ketika mempersilakan memotong kue tart pengantin:

ウェディングケーキを切るWedingu keeki o kiru  ( memotong wedding cake)

diganti menjadi

ウェディングケーキにナイフを入れる

Wedingu keeki ni naifu o ireru   ( memasukan pisau ke wedding cake).

Jika kata-kata yang berarti ‘pulang’ tidak boleh di ucapkan pada suatu upacara pernikahan, kata-kata yang berarti ‘jatuh’ 落ちる (おちる) tidak boleh diucapkan pada saat upacara penerimaan murid baru atau di kalangan orang-orang yang bergerak dalam bidang pendidikan karena jika terdengar oleh seorang pelajar yang sedang menghadapi ujian masuk sekolah atau universitas. Karena kata ‘jatuh’ merefleksikan suatu kegagalan.

Pada kasus lain, Imikotoba menjadi satu bagian bahasa rahasia yang digunakan dalam kelompok tertentu, seperti Yakuza, artis penghibur, tenaga pekerja, dan lain sebagainya. Tujuan penggunaan Imikotoba sebagai bahasa rahasia intern kelompok adalah untuk menguatkan persatuan dan menyingkirkan orang luar, atau dengan kata lain menciptakan suasana ke-eksklusifan dalam grup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s