Gallery

Letupan asa: apresiasi-ku tuk mahkluk yang bergelar ibu.

Ibuku adalah manusia biasa, nyaris tak ada sesuatu yang istimewa dari beliau. Yang membuatnya beda dari kebanyakan orang adalah,

Ibuku pandai berhitung tanpa memakai rumus apa pun.

Ibuku sanggup sadarkan aku agar tetap melek dari kebutaan sikap hidup

Ibuku sanggup balikkan sisi kelemahannya menjadi energi positif

Ya Allah…ternyata aku belum sanggup mengikuti alunan hidup ibuku, perempuan yang luar biasa.

Kemampuan berhitung beliau melebihi juara olimpiade matematika dunia yang sesungguhnya. Jika di depan ibuku tersedia angka `sepuluh`, dan 5 tempat yang harus diisi dengan angka `sepuluh` itu, apa yang kira-kira akan dilakukan beliau? Akankah beliau membagikan `sepuluh` itu sama rata ke dalam 5 bagian tersebut? Ternyata bukan!! Bagi ibuku bukan `sepuluh` dibagi `lima`, melainkan 5 bagian itu harus diisikan sama rata, jadi kelimanya harus diisikan sama penuhnya. Woow….pemikiran yang luar biasa!!

Beliau melihat angka tersebut pada sisi yang berbeda dari cara pikirku saat itu. Ilustrasi itu tadi adalah gambaran dialog antara aku dan ibuku, 14 tahun silam. Bagi beliau, punya anak lima orang, bukannya 100 persen dibagi lima, tapi 100 persen dikali lima. Jadi, diperlukan energi 500 persen tuk merawat dan mendidik 5 orang anak. Penyataan ibuku itu selalu terbayang-bayang saat aku harus “bertengkar” dengan anakku selama hidup di negeri orang seperti saat ini. Posisiku sebagai ibu sekarang ini punya kewajiban untuk “memelekkan” membuka mata dan hati anakku. Agar dia tahu bahwa;

Inilah rimba kehidupan,….

Inilah relita yang harus dihadapi,…

Inilah sesuatu hal yang wajar, sepahit apa pun harus dilalui oleh tiap insan manusia.

Tapi dengan segala keterbatasanku menghadapi hidup ini, rasa pesimis itu sering menderaku. Saat awal-awal kehidupanku jauh dari tanah air.

Hidup di negeri dimana doraemon lahir yang notabene situasi dan kondisinya sangat berbalik dengan bumi yang kupijak sejak lahir, sangatlah berat kurasakan. Terkadang berharap untuk dimaklumi dan bermimpi memperoleh toleransi penuh sebagai orang asing. Tapi harapan itu ada kalanya tak terpenuhi. Termasuk toleransi kehidupan beragama sekali pun, tak berhak diharapkan.

Aku cuman bisa menyampaikan pada anakku;

”Anakku,… ini lah jihad kita. Walau pun kita tak miliki sebilah pedang pun, dan tak sekali pun  terdengar suara alunan orang beradzan”.

“Anakku,…. yang bisa kita lakukan hanyalah, menunjukan perilaku yang agamis. Karena, setelah kita mengamati, merenungi, ternyata orang-orang sekeliling kita hidup sekarang ini adalah sebenarnya orang-orang yang lebih religius daripada orang-orang yang mengaku beragama”.

Aku contohkan dalam sebuah janji yang merupakan dasar perilaku terkecil dari sebuah interaksi. Menghormati sebuah janji adalah hal yang sangat penting dari sebuah interaksi komunikasi. Di negara ini, dalam keadaan cuaca dan kondisi yang bagaimana pun, orang yang terlibat dalam suatu janji harus berusaha untuk saling menghormati. Luar biasa,….bukankah ini salah satu ajaran dalam keyakinan orang yang beragama? Tapi, di negara tempat lahirku, betapa mudahnya bikin janji dan akan semudah itu juga mengkambing hitamkan suatu kondisi, untuk mengingkari sebuah janji. Itulah kenyaannya.

“waduh,…mendung tebel banget,…kayaknya mau hujan nih,….besok, kapan-kapan saja ya”. Bicara seenteng itu tanpa menyadari posisi lawan kita dalam janji tersebut bisa berakibat fatal bagi pihak lain. Mugkin saja dia dimana kita terikat janji dengannya seharusnya sudah menggeser keperluannya dan mungkin sebenarnya waktu itu juga bisa mengubah nasibnya. Dan tanpa kita sadari juga, mengingkari janji dengannya akan berpeluang mengubah cara pandang mereka tentang diri kita.

Itulah gambaran yang cukup susah untuk membuat anakku `melek`, bahwa kita ada di negeri yang walau pun tak beragama tapi ada kenyataan yang tak bisa dipungkiri mereka jauh lebih religius dari orang yang berkoar-koar  merasa beragama.

Ibuku adalah manusia biasa yang selalu menyadarkan aku agar tidak putus asa untuk “membuka mata” anakku, Saat keputus asaan itu menghampiri, aku selalu ingat kata-kata ibu sewaktu berdialog dengan beliau. Saat itu, aku mendapat sebuah berkah, aku tervoniskan kandunganku harus diangkat, saat usiaku masih 31 tahun. Aku katakan sebuah berkah, karena ini sudah merupakan kehendak yang terbaik dari yang Kuasa

Masih terlalu muda tuk ngalami menopause yang menurut usia biolgis, aku terseret kearah ketuaan 20 tahun lebih awal dari masanya.

Masih muda banget tuk hadapi kenyataan bahwa aku bukan perempuan utuh, karena rahim sudah tak kumiliki.

Masih muda banget tuk hilangkan mimpi miliki anak lagi selain anak yang sudah kulahirkan,   tuk melengkapi kebahagian berumah tanggaku.

Aku marah, betapa besar keinginan protes pada Tuhan yang tak adil padaku. Disinilah  peran ibuku sangat besar  untuk pompa semangatku. Beliau lontarkan dua pernyataan yang coba aku jabarkan dengan interpertasiku sendiri.

Pada pernyataanya yang pertama, “Coba lihat, seberapa besar peran orang di sekelilingmu” ujar beliau. Dan ternyata peran suamiku memang sangat besar untuk tunjukan bahwa aku masih bisa berperan jadi istri yang baik. Peran teman-temanku juga tak kalah besar tuk sadarkan, bahwa aku harus banyak bersyukur. Karena di antara mereka ada yang masih ikhtiar memiliki momongan bahkan ada yang masih ikhtiar untuk berkeluarga.

Pernyataan ke dua,  “`satu` atau pun `lima` itu hanyalah  sebatas angka, essensinya jauh lebih dalam daripada  itu. Diberi amanah Allah satu anak atau lima anak, bahkan seratus pun tidak ada istilah berat dan ringan dalam kamus membimbing anak. Coba kita berpikir, anak satu bisa jadi ringan, sekaligus bisa jadi berat. Jika nantinya pada saat membimbing hasilnya tak seperti yang diharapkan. Karena hanya ada satu dan tak punya cadangan untuk junjung nama baik kita sebagai orang tuanya.” Ya Allah…ternyata aku memerlukan waktu yang tak sedikit untuk bisa memahami semua jalan yang telah Engkau takdirkan untukku.

Ibuku adalah manusia biasa, yang bisa menbalikkan kelemahannya menjadi energy positif. Ibuku seperti kebanyakan ibu-ibu yang lain, cerewet, suka mau tahu, dan sering tak kuat menahan marah. Hal ini disadari betul oleh ibuku, bahwa ini kekurangannya sebagai seorang manusia. Kebiasaan kurang bagus itu bisa menjadi energi positif yang berlipat ganda jika anak-anaknya melalaikan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat sosial.

Dalam konteks kekurangannya inilah aku menemukan hal yang luar biasa sebagai seorang ibu dalam diri ibuku. Aku merasakannya sebagai bentuk pesan yang luar biasa tertancap dalam ingatanku. Pesan itu merupakan bekal kokoh untuk berjalan pada rel kehidupan yang keras. Karena hidup yang sebenarnya bukanlah pada kawasan teman main satu RT, satu sekolah, ataupun teman kerja disekitar kita. Karena hidup yang sebenarnya adalah rimba yang penuh dengan binatang buas yang siap memangsa kita jika kita lengah.

Ibuku, menjadi pemompa semangatku setiap kali hati ini menjadi kempis meragu dalam menghadapi hutan rimba Jepang ini. Karena terkadang keterbatasanku, kebutaanku, ketulianku dan kebisuanku menjadi betul-betul buta, tuli dan bisu yang sesungguhnya.

Jika kita tak bisa membela diri saat keyakinan agama kita dicerca…..

Jika kita tak bisa membeli diri saat kebesaran negara kita dihina….

Jika kita tak bisa menaikkan diri saat harga diri kita direndahkan….

Itu semua akibat dari keterbatasan bahasa dan minimnya pengetahuan budaya dimana aku hidup sekarang.

Anakku…tak perlu muluk-muluk tuk berguna bagi nusa dan bangsa. Tapi jika ada 10 orang disekelingmu saja, kamu bisa mempengaruhi hal positif yang selama ini kamu pelajari, dengan begitu kau sudah berguna tuk 100 orang. Bahkan mungkin saja akan menyebar menjadi 10.000 orang! Jika Allah menghendakinya.

Dan ibuku, betul-betul manusia biasa yang tak seperti biasanya. Ibu….kau pantas dapatkan trophy dari Yang Maha Kuasa sebagai ibu yang terbaik didunia untuk anak-anak yang dilahirkannya. Selamat ibuku!! Kupersembahkan goresan sederhana ini untuk peringati saat Allah menentukan engkau lahir di dunia ini pada 13 Mei, 65 tahun yang lalu. I love u Mom…(memori di 13Mei2011)

2 thoughts on “Letupan asa: apresiasi-ku tuk mahkluk yang bergelar ibu.

  1. atik larasati says:

    Beruntung sekali aku membaca ini lewat sharing retno di FB,
    beruntung sekali aku mengenal ibumu, dan kemarin sempat ketemu
    just like the old time …. meski puluhan tahun tidak bertemu
    tidak ada yang berubah ….. yang aku ingat dari ibumu adalah beliau mmg agak “cerewet” … tapi itu karena beliau ingin semua perfect, memastikan bahwa semua mmg ok, mungkin setype ama ibuknya Retno ya, n beda jauh ama ibuku yang kalem ….. he he he, but they are all great mam, super mam
    agak beda memang dengan Parastuti yang “kalem” tampak luarnya
    meski ternyata bisa keras juga
    bersyukur kita mempunyai ibu yg inspiring.. yang mampu memberi kekuatan kepada kita, yang selalu mensupport kita
    semoga kita bisa seperti beliau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s