Gallery

Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam Pengajaran Pendidikan Sosial di Negara Jepang

1. Pendahuluan
Sougoutekina Gakushuu no Jikan menjadi salah satu pertanda bahwa dalam kurun waktu 30
tahun terakhir ini sistem pendidikan Jepang mengalami perubahan yang cukup berarti. Diawali
dari sebuah pertanyaan “Apakah dengan memahami isi buku teks pegangan siswa, peserta didik
dijamin mampu “bertahan hidup” setelah terjun ke masyarakat?”. Pertanyaan ini yang mendasari
lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan. Pemikiran bahwa banyak permasalahan sosial
muncul yang belum tentu bisa terpecahkan dengan cara memahami dan menuntaskan buku teks
pegangan siswa saja, memperkuat lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan. Karena masih
banyak anggapan di kalangan pengajar bahwa memahami identik dengan menghafal, siswa bisa
mengerjakan tes, kemudian nilai hasil tes menjadi tolok ukur keberhasilan peserta didik.
Sougoutekina Gakushuu no Jikan, merupakan bagian dari pelaksanaan proses kegiatan belajar
mengajar yang terwujud berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah disesuaikan dengan
kondisi siswa, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal siswa. Tema yang diangkat dalam tulisan
ini adalah penerapan Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam proses belajar mengajar yang
berkaitan dengan pengajaran Pendidikan Sosial. Topik ini berkaitan dengan pengajaran tentang
permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat, misalnya tema yang berkaitan dengan
masalah kesehatan, kesejahteraan, informasi-komunikasi dan pemahaman lintas budaya antar
bangsa.
Akhir-akhir ini permasalahan sosial yang muncul adalah penerimaan tenaga kerja asing dalam
bidang kesehatan dan kesejahteraan. Permasalahan sosial ini merupakan masalah dalam
bidang kesehatan dan kesejahteraan yang juga terkait dengan pemahaman lintas budaya. Oleh
karena itu, pelaksanaan Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam pengajaran Pendidikan Sosial
ini sangatlah diperlukan untuk mengarahkan cara berpikir peserta didik dalam menyikapi dan
mengatasi permasalahan, agar tujuan dari pemerintah Jepang mendatangkan tenaga kerja
asing bisa terlaksana dengan baik.

2. Latar Belakang Lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan
Istilah Ikiru chikara menginspirasi lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan. Definisi ikiru
chikara adalah pembinaan dan pengembangan kemampuan bertahan hidup peserta didik sesuai
dengan kondisi lingkungan hidupnya. Sougoutekina Gakushu no Jikan sudah dilaksanakan sejak
tahun 1998 pada level sekolah dasar, dan lebih disempurnakan lagi tiga tahun kemudian pada
level sekolah menengah [5]. Sebetulnya Sougoutekina Gakushu no Jikan sudah menjadi sebuah
pemikiran sejak tahun 1977. Pada saat itu, karena dirasa materi pelajaran yang dipahami peserta
didik terlalu banyak, maka materi pelajaran dikurangi 10%. Istilah yang mencuat pada saat itu
adalah Yutori Kyouiku [7]. Istilah yutori kyouiku tidak dapat diterjemahkan dengan padanan kata
yang tepat. Beberapa pakar menyebutkan definisinya sebagai flexible education ataupun clam
free education.
Keurang lebih sepuluh tahun kemudian, ikiru chikara dan yutori kyouiku mendasari lahirnya
Sougoutekina Gakushu no Jikan. Bersamaan dengan itu, lahir pula kebijakan Gakkou
shuuitsukaseika (hari sekolah menjadi 5 hari dalam seminggu) dan kebijakan pengurangan
materi ajar. Semua kebijakan tersebut bertujuan agar peserta didik lebih diarahkan untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan keluarga, rumah, dan wilayah
tinggalnya. Diusahakan sedapat mungkin peserta didik mengalaminya secara langsung,
misalnya dengan lebih banyak bergaul dan beriteraksi dengan orang lain terutama orang asing,
yang dapat membentuk kepribadian yang terbuka dan diharapkan bisa menyelesaikan masalah
yang timbul dalam kehidupan sosial dimasa mendatang [7]. Jadi prinsip pembelajaran dalam hal
ini adalah perolehan pengetahuan bagi peserta didik yang pada dasarnya merupakan
pribadi-pribadi yang berbeda satu sama lain, dan pelaksanaannya tidak harus di bangku sekolah,
tetapi dapat dilangsungkan di alam, dan atau dalam kehidupan masyarakat sosial.
Banyak orang yang keliru dalam memahami definisi yutori kyouiku. Mereka berpendapat bahwa
dengan yutori kyouiku peserta didik menjadi santai dan menjadi tidak tekun pada akhirnya
berakibat pada menurunnya kualitas mutu pendidikan. Perubahan ini pun tidak lepas dari pro dan
kontra, terutama setelah Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2007
(berdasarkan data tahun 2006). Jepang mengalami penurunan peringkat pada bidang
pemahaman bacaan dari peringkat ke14 menjadi ke 15, bidang matematika dari ke 6 menjadi ke
10, dan bidang sains dari peringkat ke 2 menjadi ke 6. Sougoutekina Gakushuu no Jikan dan
yutori kyouiku dianggap menjadi penyebab menurunnya peringkat PISA. Sampai sekarang para
pakar pendidikan Jepang masih terus mengkaji bagaimana pelaksanaan Sougoutekina
Gakushuu no Jikan menjadi lebih baik [6].
Sougoutekina Gakushu no Jikan pada dasarnya tidak bisa disebut dengan istilah bidang studi.
karena tidak ada buku pengangan siswa dan tidak ada jampelajaran yang pasti. Pada prinsipnya,
Sougoutekina Gakushu no Jikan memfasilitasi hal-hal yang seharusnya diketahui peserta didik
dalam lingkup kesehariannya, yang tidak termuat dalam buku teks pegangan siswa. Dalam
Gakushuu Shidou Youryou yang merupakan panduan kurikulum pendidikan yang dikeluarkan
oleh kementerian pendidikan Jepang, tertulis bidang-bidang studi apa saja yang bisa dikaitkan
untuk dikolaborasikan dalam proses kegiatan menerapkan Sougoutekina Gakushu no Jikan,
yaitu kokusai rikai (pemahaman lintas budaya antar bangsa), jouho (informasi-komunkasi),
kankyou (lingkungkan), rika (sains), fukushi (kesejahteraan), kenkou (pengetahuan kesehatan),
chiiki bunka (kebudayaan daerah), dan geijutsu (seni) [4].
Tujuan dan sasaran pembelajaran yang utama adalah bagaimana peserta didik bisa
mempertahankan hidup ditengah-tengah permasalahan yang muncul disekitarnya. Sasaran
utamanya adalah, peserta didik diarahkan untuk menemukan topik belajar mereka sendiri,
memutuskan permasalahan sendiri dengan cara berpikir subyektif. Tujuan utamanya adalah
mengembangkan kualitas dan kemampuan diri untuk memecahkan masalah dengan lebih baik
dibarengi dengan dukungan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan sekolah [4].
Dalam pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan, ada tiga aspek yang harus diperhatikan,
yaitu manusia-budaya, alam, dan sosial-masyarakat. Prinsip yang ditekankan adalah learning to
live together, dalam arti tidak hanya menjadi manusia unggul dalam bidang kognitif saja, tetapi
juga mampu hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat. Tiga kata kunci yang
mendasari pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan adalah setsujitsusei (bukan merupakan
paksaan yang bisa menyebabkan keputusasaan), genjitsukan ga aru (ada sesuatu yang nyata),
dan kyoudou teki de aru (adanya suatu kolaborasi). Jadi, pemilihan topik/tema pengajarannya
berdasarkan masalah yang muncul secara nyata di dalam masyarakat, pemecahan masalahnya
sebatas kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik, dan kemudian harus ada
kolaborasi dengan bidang studi lain dan kolaborasi dengan instansi-instansi masyarakat [3].
Pada tingkat sekolah dasar (SD), peserta didik diarahkan pada kegiatan pengembangan untuk
membangkitkan ketertarikan diri terhadap sesuatu. Pada tingkat menengah (SMP dan SMA),
diarahkan pada pembentukan moral dan pengetahuan praktis kehidupan yang dikaitkan dengan
bidang studi tertentu (dapat merupakan gabungan dari lebih dari dua bidang studi). Pelaksanaan
pada tingkat SD difokuskan pada pengembangan diri yang dimulai dari skala terkecil, yaitu
keluarga. Kemudian meningkat ke masyarakat kecil (sosialisasi sesama teman sekelas). Pada
tingkat SMP, kegiatan ditekankan dengan cara eksplorasi, yaitu belajar untuk mengaitkan suatu
masalah dengan teori yang telah dipelajarinya di ruang kelas, kemudian lingkup interaksi lebih
diperbesar, dengan teman satu sekolah. Di tingkat SMA, kegiatan pembelajaran ditekankan pada
pendalaman suatu permasalahan dan keterkaitannya dengan berbagai bidang ilmu dan lingkup
interaksi diperluas dengan intansi diluar sekolahnya.
Dalam Gakushuu Shidou Youryou yang merupakan panduan kurikulum pendidikan yang
dikeluarkan oleh kementrian pendidikan Jepang, tertulis bahwa jumlah jam pelaksanaan
Sougoutekina Gakushu no Jikan pada tingkat SD kelas 3-4 sebanyak 105 jam pelajaran per
tahun, kelas 5-6 sebanyak 110 jam pelajaran per tahun. Tingkat SMP kelas 1 sebanyak 100 jam
pelajaran per tahun, kelas 2 sebanyak 155 jam pelajaran per tahun dan kelas 3 adalah 235 jam
per tahun. Tingkat SMA secara total mulai kelas kelas 1 sampai kelas 3 adalah 105-210 jam per
tahun. Pelaksanaannya tergantung pada kebijakan dan kebutuhan masing-masing sekolah. Ada
sekolah yang menyelenggarkan secara rutin per minggu, per bulan, per semester dengan waktu
yang tertentu. Ada juga sekolah yang tidak menentukan secara periodik, misalnya jika tahun
bersangkutan mempunyai rencana menyelenggarakan acara-acara tahunan sekolah, mulai
persiapan sampai pelaksanaannya dapat memanfaatkan jam-jam pelaksanaan Sougoutekina
Gakushu no Jikan ini [2].
Faktor pendukung seperti dana diperoleh dari Parent Teacher Association (PTA), dinas
pendidikan daerah, dan lain sebagainya. Sarana dan prasarananya memanfaatkan apa yang
dimiliki masing-masing sekolah, seperti perpustakaan, ruang komputer-internet, ruang audio
visual, ruang serba guna, dan kebun sekolah. Penilaian dan evaluasi yang disarankan ada
beberapa cara, seperti penilaian porto folio. Kelebihan dari Porto folio adalah sifat “keberlanjutan”
dan penilaiannya secara indivual. Oleh karena itu porto folio dinilai sangat tepat untuk
mengevaluasi hasil pelaksanaan Sougoutekina gakushu no jikan, karena sifat penilaiannya
bukan “produk” tetapi “proses”.

3. Kolaborasi dengan Kokusai Rikai Kyouiku
Seperti yang sudah diterangkan di atas, definisi Kokusai Rikai Kyouiku adalah pemahaman lintas
budaya antarbangsa, keterkaitannya dengan pengajaran Pendidikan Sosial sangat erat, yakni
sehubungan dengan masalah-masalah sosial dalam masyarakat Jepang yang muncul sebagai
fenomena permasalahan masyarakat moderen. Dalam Gakushuu Shidou Youryou yang
merupakan panduan kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh kementrian pendidikan Jepang
tertulis bahwa untuk bisa memahami budaya masyarakat lain diperlukan pengetahuan tentang
pemahaman budaya milik sendiri. Dengan begitu akan timbul kesadaran pada perbedaan yang
dimiliki orang atau masyarakat orang lain dan nilai-nilai budaya yang berbeda dari orang lain [5].
Banyak cara yang dipakai untuk mewujudkan pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan
terkait dengan pengenalan budaya asing, misalnya dengan mengundang orang asing datang ke
sekolah ataumewancarai langsung ke tempat orang asing tinggal atau bekerja. Cara yang paling
sederhana dan semua orang (pengajar) bisa melakukannya adalah dengan memanfaatkan
media otentik dan aktual. Surat kabar mudah didapat dan selalu ada disekitar pengajar dan
peserta didik. Kreatifitas pengajar untuk menyajikan hal ini betul-betul diuji, karena
masing-masing budaya atau kelompok masyarakat yang diakui sebagai warga asing mempunyai
beragam budaya, bahasa dan dengan segala permasalahan yang bagi orang Jepang terkadang
tidak masuk di akal.
Pemakaian surat kabar sebagai bahan ajar atau Newspaper In Education dalam dunia
pendidikan dan pembelajaran di Jepang beberapa puluh tahun dewasa ini berkembang pesat.
Pemanfatan surat kabar dinilai sangat tepat sebagai pengajaran problem solving, karena surat
kabar bersifat aktual. Tetapi ada juga kekurangannya, yaitu karena informasinya bersifat “tidak
terbatas”, sehingga permasalahan akan muncul apabila pengajar tidak memiliki cukup
pengetahuan umum yang memadai.
Bidang kajian pemahaman lintas budaya antar bangsa dalam pendidikan Jepang termasuk maju.
Contoh masalah sosial yang berhubungan dengan bidang kajian ini adalah banyaknya jumlah
pekerja asing disektor industri. Pekerja asing jumlahnya cukup banyak dan menjadi
permasalahan dilematis tersendiri bagi negara Jepang. Jepang membutuhkan tenaga-tenaga
kerja asing tersebut tetapi sebaliknya juga sangat kewalahan dalam mengatasi
permasalahan-permasalahan yang timbul pada saat warga asing tersebut berinteraksi dengan
warga asli.
Dalam pandangan penulis, Jepang adalah negara yang tertata bagus dalam tata sosial
masyarakatnya. Salah satu penyebabnya adalah kondisi yang miskin akan sumber daya alam.
Oleh karena itu, segala sesuatunya ditentukan oleh peraturan yang harus ditaati oleh warganya,
tidak terkecuali warga pendatang. Karena terikat peraturan yang kaku, terkadang terkesan
bahwa perasaan sebagai manusia tidak dihargai. Hal ini yang menyebabkan warga asing sulit
diterima karena ketertutupan diri mereka sendiri. Sebaliknya, permasalahan dari sisi warga asing
adalah permasalahan komunikasi termasuk juga pengetahuan budaya dan kemampuan bahasa.
Berkaitan dengan terwujudnya perjanjian kemitraan ekonomi (EPA) termasuk di dalamnya
program penerimaan tenaga kerja perawat dan caregivers (perawat untuk para manula) dari
Indonesia yang sudah terealisasi sejak bulan Agustus 2008, jumlah pekerja asing di Jepang
semakin banyak.
Perserikatan bangsa bangsa (PBB) memperkirakan bahwa di tahun 2040 mendatang jumlah
orang tua yang berusia diatas 65 tahun berjumlah 1.240.000.000 orang, diantaranya 70.000. 000
orang adalah orang Asia termasuk Jepang. Saat ini 30% dari penduduk Jepang adalah orang tua
yang berusia lebih dari 65 tahun. Jumlah orang Jepang yang berusia 100 tahun atau lebih tercatat
sebanyak 25.554 orang. Berdasarkan perhitungan statistik dari total 100.000 penduduk Jepang
terdapat sekitar 20 orang yang berusia di atas 100 tahun [8]. Angka ini adalah data tiga tahun
sebelum terealisasinya program EPA yang pertama, jadi pada saat sedang dirumuskannya
pembicaraan EPA tersebut.
Pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan jika dikaitkan dengan bidang kajian Kokusai Rikai
kyouiku akan ada pembahasan bagaimana peserta didik nantinya bisa berinteraksi dengan para
caregivers dengan meminimalisir permasalahan-permasalahan yang diprediksi akan timbul.
Bagaimana peserta didik menyikapinya setelah nantinya terjun ke masyarakat. Sedangkan
permasalahan bagi pihak pekerja asing adalah kurangnya pengetahuan mereka tentang bahasa,
budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada masyarakat Jepang.
Kelemahan utama pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan adalah kepekaan pihak sekolah
untuk menentukan tema pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah yang ada.
Pengadaan sarana dan prasarana sangat erat kaitannya dengan dana, akan tetapi sepenuhnya
ketidak-adaan dana bukan sepenuhnya merupakan penghalang yang utama. Ada Karena
masalahnya muncul dan ada disekitar peserta didik, maka pemecahannya juga di sekitar tempat
tinggal mereka. Jadi, buku teks pegangan siswa tidak selalu bisa menjamin terbentuknya
kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang timbul. Kelemahan yang
kedua yaitu berkaitan dengan faktor sumber daya manusia, terutama pengajar. Diperlukan
kreativitas dan peningkatan pengetahuan dalam mengajar.

4. Kesimpulan
Dalam hal kesehatan dan kesejahteraan, negara Jepang mempunyai angka harapan hidup lebih
tinggi dan piramida penduduknya berbalik dengan Indonesia. Permasalahan ini sangat
menghantui mereka. Misalnya jika ada suatu pertanyaan secara pribadi kepada mereka, “Siapa
yang akan merawat anda jika anda tua?” Atau, “Mampukah anda menyerahkan orang tua anda
atau diri anda sendiri kepada orang asing dengan segala keterbatasan yang dimilikinya?” Mereka
mengakui banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Oleh karena itu,
pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan dalam pengajaran Pendidikan Sosial bisa
dianggap sebagai alternatif penyelesaian.

5. Daftar pustaka
1. Harada K. 2010. Shakaikakyouiku no Furontia Osaka: Hoiku shuppansha. Hal 51-52.
INOVASI Vol.17/XXII/Juli 2010
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 60
2. Nishimura K dan Kuno H, (ed). 2004. Chiiki Karikyuramu de Sougouteki na Gakushuu wo Tsukuru. Tokyo:
Meiji Tosho. Hal 27-28.
3. Kojima K. 2003. Sougou teki na Gakushuu: Handbook. Tokyo: Gyousei. Hal 68-69.
4. Kojima K. 2005. Sogou tekina Gakushuu-Shidouan Shuu. Tokyo: Tosho bunka. Hal 46-49.
5. Nihon shakaika kyouiku gakkai. 2000. Shakaika kyouiku Jiten. Tokyo: Gousei. Hal 324-325.
6. Kebijakan dari Kementrian Pendidikan Nasional Jepang. URL:
http://www.mext.go.jp/a_menu/shotou/sougou/020501.htm. Diunduh tanggal 25 Mei 2010.
7. Perubahan mengenai panduan pelaksanaan Kurikulum Pendidikan di Negara Jepang. URL:
http://www31.ocn.ne.jp/~matsuo2000/D/Data03.htm. Diunduh tanggal 26 Mei 2010.
8. Data Kementrian Kesehatan Tenaga Kerja dan kesejahteraan Jepang tanggal 16 September 2005. URL:
http://www.rofuku.go.jp/oshirase/oshirase_h20.html. Diunduh tanggal 25 Mei 2009.

Dimuat di Jurnal INOVASI Vol.17/XXII/Juli 2010
Jurnal Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 58

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s