Gallery

Tentang “hai” 。「はい」について

Pemahaman Lintas Budaya Pembelajar Bahasa Jepang Orang Indonesia

Ungkapan “hai” dalam Percakapan Lingkungan Kerja Keperawatan

Parastuti

Abstraksi (要旨)

インドネシア人の日本語学習者における異文化理解

- 医療現場の対話に出てくる「はい」の表現 -

Parastuti

日本は20世紀後半から少子高齢化時代に入ったと言われている。社会的諸問題の中でも、とりわけ介護・福祉分野に携わる労働力不足は深刻な現実問題としてとりあげられるようになってきている。その状況の中、介護・福祉分野における労働力不足と相俟ってEPA(Economic Partnership Agreement)に基づく看護士の受け入れプログラムがスタートした。

日本人と日本に滞住する外国人の間で発生する諸問題を解決する方法の一つとして、「内なる国際化」があるといわれる。この解決方法の一つとしては、人の交流を通じた個々の文化や習慣の相互理解が必要不可欠であり、留学生や外国人労働者などの受け入れは有効な手段だと考えられる。

学習者は日本語が話せる、聞けるようになる、書ける、読めるようになることは学習者自身が勉強するしるしである。しかし、その能力が生活に直接かかわる意味を持つ場合については、言葉の習得の問題だけではなく、どうやって日本文化や日本社会に合わせることを要求されるのかは、日本語教育が教育として機能するために大切である。本研究はファストステップとして「日本語母語話者として日本語教師から見たインドネシア人の学習者における異文化理解とコミュニケーションスキル」の全体的なテーマを深く研究を続けたいと思う。

キーワード:  インドネシア人の日本語学習者、異文化理解、「はい」の表現、医療現場

I.  Pendahuluan

Bagaimana kita mempraktekan Bahasa Jepang yang telah kita pelajari dengan baik dan secara alami? Salah satu jawaban dari pertanyaan klasik ini adalah dengan cara memperoleh pengetahuan tentang pemahaman lintas budaya. Pemahaman ini diharapkan bisa menjembatani antara budaya asal pembelajar dan budaya bahasa target yang sedang dipelajari. Jika ingin bisa berkomunikasi Bahasa Jepang dengan alami, diperlukan pengenalan secara totalitas mengenai cara pandang dan budaya sosial masyarakat Jepang. Salah satu tujuan dari pemahaman itu adalah untuk segera bisa beradaptasi dan bertahan hidup di Negara Jepang, baik sebagai status pelajar asing, status pekerja asing atau pun status yang lain (Izumi Tanaka, 2010, p.198).

Akhir-akhir ini penelitian tentang Perawat Asing yang ada di Jepang ini menjadi trend. Hal tersebut muncul karena fenomena Negara Jepang dewasa ini, yakni permasalahan sosial berkaitan dengan tingginya angka harapan hidup dan kecilnya angka kelahiran pada akhir pertengahan abad ke 20. Salah satu imbasnya adalah kurangnya tenaga kerja dari segala sektor, termasuk sektor tenaga medis. Untuk itu pemerintah Jepang mengadakan kerjasama dalam bentuk perjanjian EPA (Economic Partnership Agreement), termasuk di antaranya dengan Indonesia.

Dalam hal kesehatan dan kesejahteraan, negara Jepang mempunyai angka harapan hidup lebih tinggi dan piramida penduduknya berbalik dengan Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat menghantui mereka, “Siapa yang akan merawat anda jika anda tua?” Atau, “Mampukah anda menyerahkan orang tua anda atau diri anda sendiri kepada orang asing dengan segala keterbatasan yang dimilikinya?”

Dari pertanyaan itu muncul suatu permasalahan, yang berkaitan dengan pergeseran budaya antara meraka dan orang asing. Di sinilah pemahaman lintas budaya dari kedua belah pihak berperan besar. Penelitian ini memfokuskan permasalahan pada pemahaman lintas budaya bagi perawat Indonesia yang bekerja di Jepang.

Penulis beranggapan bahwa perawat tersebut bisa mewakili kondisi pembelajar Bahasa Jepang orang Indonesia. Meskipun berstatus sebagai pekerja, namun para perawat ini memperoleh pembelajaran bahasa Jepang yang lebih tersistematis bila dibandingkan dengan status pekerja yang lain. Mereka mendapatkan bekal kemampuan Bahasa Jepang yang cukup karena ada tuntutan harus lulus ujian negara yang tingkat kesulitannya setara dengan perawat Jepang, agar bisa memperoleh ijin bekerja permanen. Saat bekerja, mereka menghadapi manusia, bukanlah mesin. Untuk itu pengetahuan tentang pemahaman lintas budaya Jepang untuk menunjang kemampuan berkomunikasi sangatlah diperlukan.

II. Permasalahan, Tujuan, dan Metode Penelitiahan

Tujuan akhir penelitian ini adalah bagaimana para perawat asing bisa berkomunikasi dalam lingkungan kerjanya dan bertahan hidup dengan latar belakang yang beda. Penelitian ini adalah bagian dari penelitian besar yang temanya adalah “Pemahaman Lintas Budaya Pembelajar Bahasa Jepang Orang Indonesia, dari Sudut Pandang Pengajar Native”.

Dan penelitian kali ini lebih bersifat uji coba, dan lebih bersifat usulan tentang pemahaman penggunaan ungkapan “hai” dalam lingkungan kerja keperawatan sehubungan Pemahaman Lintas Budaya Pembelajar Bahasa Jepang orang Indonesia Fokus penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Pembelajar Bahasa Jepang Orang Indonesia memahami dan menggunakan ungkapan “hai” pada percakapan level dasar.
  2. Bagaimana Pembelajar Bahasa Jepang Orang Indonesia memahami dan menggunakan ungkapan “hai” pada percakapan dalam situasi lingkungan kerja keperawatan.
  3. Bagaimana Pembelajar Bahasa Jepang Orang Indonesia memahami dan menggunakan ungkapan “hai” pada percakapan dengan situasi sesungguhnya berkaitan dengan Ilmu Budaya Jepang.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian Pemahaman Lintas Budaya Pembelajar Bahasa Jepang orang Indonesia, sehubungan dengan ungkapan `Hai` dalam lingkungan kerja keperawatan ini adalah sebagai berikut.

Langkah 1: Untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemakaian ungkapan “hai” pada percakapan yang setara dengan pembelajaran Bahasa Jepang level dasar ini, penulis membuat angket. Respondennya adalah para pekerja dan mahasiswa yang memiliki masa tinggal sekitar 3~5 tahun, sejumlah 7 orang. Contoh percakapan dalam angket tersebut, sebagian besar diambil dari buku “Minna no Nohongo I”.

Langkah 2: Untuk mendapatkan mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemakaian ungkapan “hai” pada percakapan lingkungan kerja keperawatan. Beberapa dialog yang ada di video drama TV “Nurse no o-Shigoto”, ditranskripsikan kemudian dianalis.

Langkah 3: Untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang yang berhubungan dengan pemakaian ungkapan “hai” pada percakapan dengan situasi yang sesungguhnya berkaitan dengan Ilmu Budaya Jepang. Penulis menetapkan cara pandang yang berhubungan dengan “察しの文化Sasshi no Bunka”, untuk menetapkan hipotesis.

III, Tinjauan pustaka.

Pemahaman Lintas Budaya dan peran pengajaran bahasa Jepang, khususnya Budaya Jepang bagi pembelajar orang Indonesia sangat erat kaitannya dengan kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup dalam masyarakat Jepang. Proses pembentukan kemampuan ini tentunya tidak lepas dari peran pengajar Bahasa Jepang terutama pengajar Native, seperti yang tertulis dalam buku  「異文化適応教育と日本語語教育2-社会派日本語教育のすすめ」(Izumi Tanaka, 1996, p. 29-30). Pada awalnya pembelajar dikondisikan untuk membandingkan budaya Bahasa Ibu dan budaya Bahasa Target. Budaya yang dimaksud di sini adalah cara pikir dan karakteristik sosial masyarakat. Selanjutnya, masing-masing pembelajar memahami budaya satu dengan yang lain, dengan cara mengadakan penilaian berdasarkan persepsi sendiri. Pengajar memfasilitasi suasana belajar, sehingga para pembelajar bisa saling memahami masing-masing budaya dan kebiasaan. Dengan begitu akan timbul kesadaran dan pemahaman bahwa, dalam suatu lingkungan kecil ini pun telah terjadi perbedaan budaya masing-masing individu. Karena itu dibutuhkan penyelarasan dengan suatu pemikiran bersama sebagai anggota sosial suatu masyarakat. Hal inilah yang dikatakan sebagai 異文化理解 `Ibunka Rikai`.

Pada intinya, baik pengajar maupun pembelajar, harus bisa menempatkan posisinya pada posisi lawan bicaranya. Dengan demikian, pemahaman budaya Jepang tidak seharusnya hanya menjadi tuntutan bagi pihak pembelajar saja. Para pengajar pun memiliki kewajiban untuk memahami kesulitan para pembelajar dalam memahami Budaya Jepang. Dalam hal ini pula, pengajar native berperan sebagai pintu gerbang bagi para pembelajar sebelum mereka masuk dalam lingkup sosial masyarakat Jepang yang sesungguhnya.

Meskipun ungkapan “hai” sering dianggap sepele, namun dalam hal pemahaman Lintas Budaya, ungkapan “hai” ini memegang peranan penting. Dalam suatu komunikasi Bahasa Jepang, ungkapan “hai” mempunyai kategori dan fungsi yang sangat rinci.  Pada awal tahap pembelajar hanya berkisar pada respon suatu percakapan. Namun pada tahap lanjut, ungkapan “hai” mempunyai fungsi yang lain, yakni sebagai bagian dari Aizuchi (Kazuko Miyake, 2011, p. 101). Aizuchi diperlukanuntuk memperlancar dan memberikan kesan yang positif dalam suatu percakapan.

Penulis membatasi Kategori dan Fungsi ungkapan “hai” pada tahap awal pembelajaran Bahasa Jepang (Kazuko Miyake, 2011, p. 105), sebagai berikut.

1.  “Hai” merupakan jawaban kalimat positip dari sebuah pertanyaan イエス・ノーのイエスにあたる肯定の返事(応答)する「はい」。

2.  “Hai” menyatakan respon karena aksi/ panggilan dari lawan bicara 名前を呼ばれての返事する「はい」。

3.  “Hai” merupakan respon, pada pernyatakan lawan bicara dan mewujudkannya dalam tindakan 了解する「はい」/分かった「はい」。

4. “Hai” menyatakan setuju dengan pernyataan lawan bicaranya 同意する「はい」.

5.  “Hai” merupakan pertanda `turn`, si pembicara memberikan kesempatan bicara pada lawan bicaranya 促しやターンを終える。

7.  “Hai” menyatakan paham akan isi pertanyaan dari lawan bicaranya, dan kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri 質問を受けたしるし。理解する・分かった「はい」。

8. “Hai” sebagai filler pengisi disela-sela seseorang sedang bicara, tidak mempunyai makna khusus フィラーの働きの「はい」。

Ungkapan “hai” yang sering dianggap simpel ini, ternyata mempunyai makna yang cukup bervariasi. Ungkapan “hai” ini yang berhubungan dengan Teori Budaya Jepang日本文化論, adalah Sasshi no Bunka 察しの文化. Bahasa Jepang memiliki 敬語 Ragam bahasa Sopan yang tentunya sangat terkait dengan Sasshi no Bunka 察しの文化 ini.  Selain Sasshi no Bunka 察しの文化, ada Uchi Ishiki「ウチ意識」, yaitu kesadaran akan menempatkan dirinya sebagai orang yang berposisi orang luar atau sebagai orang yang berposisi orang dalam, pada saat berkomunikasi dengan orang lain. Dan ketiga adalah prinsip berpikir secara meyeluruh Zentai shugi「全体主義」. Pada penelitian ini penulis membatasi kajian hanya pada Sasshi no Bunka 察しの文化yang ada kaitannyanya dengan ungkapan “hai”.

Pada cara pandang Sasshi no Bunka 察しの文化, Jika muncul ragam penolakan dalam suatu komunikasi, masing-masing individu yang terlibat akan menggiring alur percakapan dengan ungkapan yang punya makna negatif (menolak), tanpa merubahnya ke bentuk kalimat negatif. Para induvidu yang terlibat dalam suatu percakapan tersebut sebisa mungkin menempatkan dirinya pada posisi lawan bicara. Ini merupakan bentuk saling menerima diantara para individu yang terlibat dalam sebuah komunikasi. Hal ini sangatlah penting untuk diketahui para pembelajar Bahasa Jepang Orang Asing (Izumi Tanaka, 1996, p. 45)

IV. Analisis ungkapan “hai” pada dialog percakapan

  1. Analisis ungkapan “hai” pada dialog percakapan level dasar.

Bagaimana pembelajar Bahasa Jepang Orang Indonesia memahami ungkapan “hai” pada awal masa pembelajaran, dapat dilihat pada hasil angket di bawah ini.

Kategori dan fungsi ungkapan “hai”
no Dialog percakapan A b c d E f g
1 Setting:  -Orang Jepang:マイクミラーさんですか。Orang asing :はい、そうです 71% 29%
2 Setting: menerima teleponCalon pengunjung:もし もし。Petugas museum :はい、ヤマトびじゅつかんです 14% 42% 28% 14%
3 Setting: di Kantor posPembeli:80円の切手を5枚とはがきを2枚ください。Petugas kantor pos:はい。全部で500円です 14% 86%
4 Setting:-A:東京はニューヨークより人が多いですね。B:はい、多いです。 14% 71% 14%
5 Setting: di kelasGuru:はい、今からCDを聞いてください。 14% 28% 14% 42%
6 Setting: -A:説明会に行きますか。B:はい。用事があるから、行きません 100%

Hasil dari pengamatan pengambilan data sebagai berikut adalah sebagai berikut. Dialog percakapan 1, yang menjawab bahwa ungkapan “hai” merupakan jawaban kalimat positip dari sebuah pertanyaan. (イエス・ノーのイエスにあたる肯定の返事(応答)する「はい」) ada 71%. Dialog percakapan 2, responden menjawab bahwa, ungkapan “hai” menyatakan respon karena aksi/ panggilan dari lawan bicara 名前を呼ばれての返事する「はい」, ada 42%. Dialog percakapan 3, responden menjawab bahwa, ungkapan “hai” merupakan respon, pada pernyataan lawan bicara. Dan mewujudkan respon tersebut dalam sebuah tindakan 了解する「はい」/分かった「はい」ada 86%. Dialog percakapan 4, responden menjawab bahwa, ungkapan “hai” menyatakan setuju dengan pernyataan lawan bicaranya同意する「はい」, ada71%.

Dialog percakapan 5, responden menjawab bahwa, ungkapan “hai” merupakan pertanda `turn`, si pembicara memberikan kesempatan bicara pada lawan bicaranya. 促しやターンを終える, ada 14%. Dialog percakapan 6, responden menjawab bahwa, ungkapan “hai” menyatakan paham akan isi pertanyaan dari lawan bicaranya, dan kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri. 質問を受けたしるし。理解する・分かった「はい」, ada 100%.

Pembahasan lebih lanjut dari hasil angket ini adalah pada dialog percakapan 2 dan dialog percakapan 5. Pada dialog percakapan 2 ini, ungkapan “hai” menyatakan respon karena aksi/ panggilan dari lawan bicara 名前を呼ばれての返事する「はい」, hanya ada 42%, Sebagian responden memilih jawaban `hai` menyatakan sebuah respon akan pernyatakan lawan bicara. Dan mewujudkan respon tersebut dalam sebuah tindakan. Sedangkan pada dialog 5, responden menjawab bahwa, ungkapan “hai” merupakan pertanda `turn`, si pembicara memberikan kesempatan bicara pada lawan bicaranya 促しやターンを終える, hanya ada 14%. Hampir semua responden menjawab bahwa ungkapan “hai” sebagai filler pengisi disela-sela seseorang sedang bicara, tidak mempunyai makna khususフィラーの働きの「はい」。

Dialog percakapan nomer 1, 3, 4, 6 adalah sesuai dengan yang dipaparkan oleh Kazuko Miyage. Yang menarik adalah, hampir disetiap dialog percakapan, kecuali dialog percakapan no 6, pasti ada responden yang mengira bahwa ungkapan “hai” dialog percakapan tersebut, merupakan ungkapan “hai” jawaban kalimat positip dari sebuah pertanyaan (イエス・ノーのイエスにあたる肯定の返事(応答)する「はい」). Dan pada dialog percakapan no 6, semua responden menjawab, bahwa ungkapan “hai” menyatakan pemahaman akan isi pertanyaan dari lawan bicaranya, dan kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri 質問を受けたしるし。理解する・分かった「はい」。

Hasil analisis tersebut masih diperlu diperdalam dengan interview lanjutan agar penulis mengerti mengapa para responden memilih jawaban tersebut. Sebetulnya inti dari penelitian ini adalah pada contoh dialog percakapan nomer 6, yang menyatakan bahwa Jawaban `hai` ini menandakan si pendengar paham akan isi pertanyaan dari lawan bicaranya, dan kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri 質問を受けたしるし。理解する・分かった「はい」, selanjutnya akan dibahas pada Analisis ungkapan “hai”dan Sasshi no Bunka 察しの文化。

2. Analisis ungkapan “hai” pada dialog Percakapan di lingkungan kerja Keperawatan

Dialog percakapan pada video drama TV “Nurse no o-Shigoto” dijadikan sebagai sumber data ini, cukup mudah dipahami. Karena merupakan cerita yang bersifat humor dengan peran tokoh utama yang cukup mudah ditangkap oleh orang asing. Ide  ceritanya juga simpel. Dan tentu saja isi dari ceritanya, tidak berdasarkan cerita yang riil, dan mungkin tidak akan terjadi di lingkungan kerja yang semunya orang Jepang. Namun, kecenderungan terjadi pada lingkungan kerja yang ada orang asingnya, sangat mungkin. Oleh sebab itu dialog percakapannya bisa dijadikan prototype, sebagai model dialog percakapan dan dianggap bisa mewakili untuk memperoleh gambaran suasana lingkungan kerja keperawatan.

Pada penelitian kali ini, penulis menganalisnya berdasarkan Kategori dan Fungsi ungkapan “hai” yang telah dibahas di atas. Hasil dari pengamatan awal ini akan berkembang pada penelitian tahap lanjut, untuk membuat pilihan ganda. Dan yang menjadi respondennya adalah para perawat yang bekerja magang di daerah sekitar propinsi Aichi. Setelah menjawab, akan dilanjutkan dengan interview, kenapa responden memilih jawaban tersebut.

Berikut ini adalah cuplikan dari cerita episode ke 9, berdurasi sekitar 2 menit. Asakura (tokoh utama) diberi kepercayaan kali pertama oleh Kepala Perawat untuk mandiri, tanpa didamping oleh seniornya.

時間:01:32:20~01:34:07会話する場所:ナース ステーション登場人物tokoh pemeran: 朝倉: perawat baru (朝)・婦長: kepala perawat (婦)・主任: kepala ruang (主) 尾崎先輩: perawat senior (尾)・同僚: sesama perawat ruang (同) 1.  あなたは『どんな「はい」だ』と思っていますか (kategori dan fungsi ungkapan “hai” a ~ g)2, あなたは朝倉がどんな表情だと思いますか。3. あなたは朝倉がどんなことを言おうとしているか想像してください
あんたねえ、清潔と不潔の区別も付けられないでどうするのよ 1. はい ①fungsi ungkapan “hai” menyatakan setuju dengan pernyataan lawan bicaranya  (同意する「はい」)2. うれしそうな顔をしている(ほめられる)明るい顔(いいことを言われるから)

3.「その通りです」と思っている

「自分がみとめてくれて、ありがとう」と思っている

だからあれはうっかりしてて~
そんなんじゃいつまでたっても一人立ちできないわよ
朝倉さんもう随分なれたようですね
はい ①  
あのう看護部長兼婦長 1. はい  ② ungkapan “hai” menyatakan respon karena aksi/ panggilan dari lawan bicara名前を呼ばれての返事する「はい」2.不審な気持ち・少し驚いた感じ疑問の気持・不思議な感じる顔

3.「何を言われるだろう」と思う。

「これから何を言われるだろう」と思う。

ああっ。。婦長でもいいわよ
婦長、随分慣れたって、朝倉さんのどこが。。
足立さん、、
はい
それから朝倉さん
はい ②  
ふたりともこれまでは先輩と一緒に患者さんを受け持っていただきましたが、明日、からは一人で患者さんを受け持ってもらいます。  いいですね 1.  はい ③  はい ④ungkapan“Hai” merupakan respon, akan pernyatakan lawan bicara. Dan mewujudkannya dalam tindakan.了解する「はい」/分かった「はい」

2.  うれしそうな顔をしている。

うれしくて、驚いている顔をしている。

自身がある気持ち

3.「間違えないように再確認で相手に十分に確かめる」と

思っている。

「わかりました。任せて下さい」と思っている。

はい ③  
婦長!あの、足立さんはともかく、朝倉はまだ、。。。
まだってどうゆう意味ですか?
まだ一人立ちするには早すぎるっていうことでしょう。
そ~んなのやってみないとわかんないじゃないですか
あら!わかるわよ
どうしてですか
たって私主任なのよ
でも朝倉さんの場合これ以上指導してもそんなにかわりはないんじゃないですか
まあ、。。とりあえずやってみましょう
そうですよねあたってくだけろですよね
あたってくだけるのは患者さんなのよ. それじゃこまるのよ. わかってる?
わかっています
朝倉さん、足立さん、頑張ってくださいね
はい ④  
いよいよ私も一人立ちか
そんなににたにたしてあんた、大丈夫なの?
先輩本当に長い間お世話になりました。ようやく私も一人立ち、つまり一人前とみとめられたわけです。これもひとえに尾崎先輩や皆様のおかげだと感謝しております。 1, はあ~い ⑤   Ungkapan “Hai” sebagai filler pengisi disela-sela seseorang sedang bicara dan tidak mempunyai makna フィラーの働きの「はい」2.うれしさがにじみ出てい顔夢心地というかうれしくて先輩の何を思うと関係ない気持

気分がよくなる。 うれしくて、夢心地

3.(一人だけということ)自分に対しての同意とおもっている。

一生いって    *松:一人前を否定
はあ~い ⑤ 

Dari analisa di atas, bisa dilihat bahwa dalam durasi sekitar 2 menit saja ada beberapa ungkapan “hai” yang mungkin bisa terdeteksi oleh pembelajar. Karena sumber data berupa gambar gerak, raut muka atau gesture bisa lebih membantu pemahaman kategori dan fungsi ungkapan “hai” ini. Penulis juga mengamati pada saat tokoh utama mengucapkan ungkapan “hai”, kira-kira raut mukanya bagaimana, pertanyaan itu dinyatakan pada pertanyaan no 2, yakni 「あなたは朝倉がどんな表情だと思いますか」。Dan kira-kira ucapan apa yang ada dibenak tokoh utama ada dinyatakan pada pertanyaan no 3, yakni 「あなたは朝倉がどんなことを言おうとしているか想像してください」。

3. Analisis ungkapan “hai” dan Sasshi no Bunka 察しの文化

Di atas penulis sudah menyinggungnya, mengenai ungkapan “hai” ini menandakan si pendengar paham akan isi pertanyaan dari lawan bicaranya, dan kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri 質問を受けたしるし。理解する・分かった「はい」。 Kategori dan Fungsi ungkapan “hai” tersebut, sebagai pengantar untuk memahami ungkapan “hai” dan Sasshi no Bunka 察しの文化 ini, penulis akan menganalisa “tabel doraemon”。

あなたは自分がノビタになったつもいで、ノビタになって、表現してください。質問:この子は好きですか?
  (Y / N 質問) 必ず最初に「はい」を答えてください
はい、すきです。 (かわいい) はい、好きです
いいえ、好きじゃないです。(ずるい・じまん過ぎ・いたずらこ) はい。きらいです.
いいえ、好きじゃないです.(いじわる・ぼうりょく・いたずらこ) はい。きらいです。 
はい、大好き。 (よくたすけてくれる) はい。すきです。

Jika pada kolom kiri, Nobita ditanya, “Apakah suka Suneo?”, “Apakah suka Giant?”, jawabannya pasti akan sama dengan siapa saja yang paham pada alur cerita anime Doraemon ini. Karena jawaban tersebut merupakan ungkapan “hai” yang berupa jawaban kalimat positip dari sebuah pertanyaan (イエス・ノーのイエスにあたる肯定の返事(応答)する「はい」). Tetapi akan berbeda permasalahannya pada pertanyaan pada kolom kanan.

Pada kolom kanan ini Nobita diharuskan menjawab `hai`. Dalam hal ini berhubungan dengan Kategori dan Fungsi ungkapan “hai” yang menyatakan bahwa si pendengar paham akan isi pertanyaan dari lawan bicaranya, dan kemudian mengemukakan pendapatnya sendiri 質問を受けたしるし。理解する・分かった「はい」. Analisis ini adalah sebuah pengantar untuk masuk pada  ungkapan “hai” dan Sasshi no Bunka 察しの文化.

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak Kriteria dan Fungsi ungkapan “hai” yang mungkin saja tidak diajarkan di dalam kelas, akan tetapi ditemui pada komunikasi sehari-hari. Misalnya, pengalaman teman Jepang seorang ibu rumah tangga. Bagaimana cara menolak, seorang sales asuransi yang mau mengirimi sebuah pamflet. Berikut ini dialog percakapannya:

Setting: pembicaraan di telpon

Sales asuransi (laki-laki): 資料を送りさせていただきたいんですが。

Ibu rumah tangga: はい。結構です。うちはいいです

Walaupun hati dalam keadaan mendongkol, si Ibu rumah tangga, tidak mengeluarkan ucapan “iie”. Ketika penulis bertanya, kenapa tidak langsung menolak dengan menggunakan kata “iie”? 「相手が察するのを願っている」Itu jawabannya. Dia harapkan lawannya menebak dengan jitu, apa yang dia inginkan

Bagi pembelajar level dasar Bahasa Jepang Orang Indonesia, ada kemungkinan akan mengatakan “iie”, sebagai ungkapan penolakan. Dan ada kemungkinan juga, pada   pembelajaran Bahasa Jepang level lanjut, akan menjawab dengan penolakan yang halus. Berdasarkan dari penelitian tahap awal ini, penulis ingin menggali lebih dalam lagi, bagaimana pemahaman mereka berdasarkan Sasshi no Bunka 察しの文化.

V. Penutup

Dalam kehidupan kesehariannya jika para perawat bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik, permasalahan sebagai orang asing akan berkurang. Saling bisa memahami perbedaan budaya antara warga pendatang dan masyarakat sosial Jepang, akan bisa mendukung tujuan dari kedua belah pihak. Termasuk dalam hal peningkatan kemampuan ketrampilan Bahasa Jepang dalam rangka persiapannya untuk memperoleh sertifikat kelulusan ujian Negara tersebut.

Pengembangan selanjutnya dari penelitian ini, adalah 1) Tentang aizuchi dan ibunka rikai dalam pembelajaran Bahasa Jepang. 2) Variasi Jawaban `hai` dan pemakaiannya  うん、はい、ええ、そうそう、dan lain sebagainya. Dua hal tersebut akan dihubungkan dengan pemahaman pembelajar Bahasa Jepang orang Indonesia terhadap Kategori dan Fungsi ungkapan “hai” sehubungan dengan pemakaian dalam berkomunikasi sehari-hari di lingkungan kerja keperawatan.

Pustaka Rujukan参考文献

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, Jurnal Inovasi, 2010, Sougoutekina Gakushuu no Jikan, dalam Pengajaran Pendidikan Sosial di Negara Jepang,  INOVASI Vol.17/XXII/Juli 2010, halaman 59~

みんなの日本語・初級Ⅰの会話表現 スリーエーネットワーク

三宅和子2011「日本語の対人関係把握と配慮言語行動『「はい」の談話展開上の機能と特徴』」ひつじ書房 p.101~

山田泉1996「異文化適応教育と日本語語教育2-社会派日本語教育のすすめ」 凡人社

青木直子、尾崎明人「編」山田泉2010「日本語教育学を学ぶ人のために『異文化間コミュニケーションと日本語教師』」世界思想社 p.198~209

Di presentasikan tgl 28 Okt 2011, di Univ Soerdirman dalam Seminar International “Strategi Pembelajaran Bahasa Jepang di Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi di Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s