Gallery

Estetika Zen dalam “Jembatan Impian” karya Tanizaki Jun`ichiro

A. PENDAHULUAN

Hubungan manusia dengan kesenian adalah pencapaian ekspresi pengalaman keindahan atau pengalaman estetika. Dalam pengalaman estetika, manusia sebagai subyek yang melebur ke dalam obyek. Contoh dari estetika yang murni, pada saat manusia menyerahkan diri pada sesuatu yang indah secara totalitas, manusia tidak bisa melihat simbol dan keindahan yang disimbolkan. Karena jika simbol secara kongkrit sudah diwujudkan dalam bentuk tertentu, maka simbol mempunyai ketidak tentuan, karena pengalaman estetik bersifat labil, artinya suatu saat orang bisa lupa atau tidak lagi menangkap simbol sebagai simbol (Driyakarya ,1980: 7-21)

Obyek pertama dari pengalaman estetika adalah alam sebagai penjelmaan keindahan, karena alam dihayati sebagai penjelmaan dari ide keindahan  dan menjadi simbol dari keindahan. Jadi kesenian sebagai simbol menyebabkan hati manusia melayang ke alam yang  indah. Menurut Budi Darma (1999: 42-61) makna simbol adalah pengabstraksian dari dunia makro atau dunia besar ke dunia kecil. Jadi simbol-simbol Jepang merupakan pencerminan tingkah laku orang-orang Jepang dalam menghadapi kehidupan nyata dari hari ke hari.

Ajaran Zen 禅selalu mengharmonisasikan antara manusia dan alam semesta. Dan selalu menjunjung tinggi jiwa-jiwa atau getaran-getaran perasaan manusiawi tidak seharusnya dikutuk. Kematian dan kenikmatan seks adalah termasuk getaran kemanusiawian yang termasuk pengalaman estetika yang harus dialami manusia. Kenikmatan indrawi manusia harus dihargai dan ditempatkan pada tempatnya.

Estetika Zen 禅adalah pengalaman estetik yang dianut oleh masyarakat Jepang yang percaya pada ajaran Zen禅. Hal ini sangat cocok dengan kehidupan keras Jepang yang sosial tetapi juga masuk ke dalam atmosfir modern yang jenuh karena kemewahan, keteraturan dan kecanggihan tekonologi yang tidak berbatas. Oleh sebab itu diperlukan suatu kehidupan yang penuh cita rasa dari suatu kekayaan tetapi tidak terikat pada uang, kenikmatan kesenangan seksual tetapi tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan mengetahui segala keruwetan duniawi tetapi mampu melepaskan diri (Reischauer, 1982:79-80).

Estetika Zen 禅dalam hal ini bisa diketahui melalui latar yang tergambar dalam karya sastra ini. Salah satu peran latar dalam suatu karya sastra adalah untuk membandingkan sebuah karya sastra dengan kehidupan nyata. Dan latar pada dasarnya adalah lingkungan dimana para tokoh itu berperan. Lingkungan dapat dianggap sebagai penentu pokok sebagai timbulnya suatu kondisi fisik dan sosial tertentu, karena ketautannya sebagai penentu pokok tidak dapat dikontrol oleh siapapun. Latar juga merupakan ekspresi atau cerminan pikiran dari kehendak manusia, terutama terlihat pada sebuah lanskap atau latar alami. Penggambaran latar alami ini menandakan bahwa manusia dan alam terdapat suatu korelasi yang jelas (Wellek, Warren, 1985: 280, 285, 290-291). Analisis perwatakan para tokoh bisa dikaji melalui latar, karena latar sangat mempengaruhi perwatakan para tokoh.

B. LATAR ESTETIKA ZEN

Latar dalam suatu karya sastra, seperti halnya tokoh merupakan unsur yang harus dikaji, jika ingin membandingkan sebuah novel dengan kehidupan nyata. Latar pada dasarnya lingkungan, dan lingkungan dalam skup terkecil adalah rumah. Jadi penggambaran rumah seseorang adalah perluasan dari diri si tokoh.  karena rumah sebagai pembentuk suasana bagi para tokoh yang tinggal di dalamnya.  Lingkungan dapat dianggap sebagai penentu pokok sebagai timbulnya suatu kondisi fisik dan sosial tertentu, karena kekuatannya sebagai penentu  pokok  tidak  dapat dikontrol oleh siapa pun (Wellek, Warren, 1995: 280,290-291).

Latar dalam tugasnya sebagai pembentuk novel, cenderung simbolis jika ingin mengganti gambaran fisik latar dengan ‘perasaan’, dalam teori modern disebut atmosphere  (suasana) dan tone (nada), walaupun beberapa pengarang lebih cenderung menggambarkannya secara verbal. Latar juga merupakan ekspresi atau cerminan pikiran dari kehendak manusia, terutama terlihat pada sebuah landskap atau latar alami. Penggambaran latar alami ini menandakan bahwa manusia dan alam terdapat suatu korelasi yang jelas  (Wellek, Warren, 1995:  283, 290-291)

Hubungan manusia dengan kesenian adalah agar manusia dapat  mengekspresikan pengalaman keindahan atau pengalaman estetika. Sesuai dengan ajaran Zen禅, dalam proses pengalaman estetika, manusia sebagai subyek yang melebur ke dalam obyek. Contoh dari estetika yang murni, pada saat manusia menyerahkan diri pada sesuatu yang indah secara totalitas, manusia tidak bisa melihat simbol dan keindahan yang disimbolkan. Karena jika simbol secara kongkrit sudah diwujudkan dalam bentuk tertentu, maka simbol mempunyai ketidak tentuan, karena pengalaman estetik bersifat labil, artinya suatu saat orang bisa lupa atau tidak lagi menangkap simbol sebagai simbol (Driyakarya, 1980: 7-21)

Pengabstraksian realita pada dunia makro ke dalam dunia mikro seperti dalam “Jembatan  impian” tercermin dalam  beberapa  sajak dan puisi Jepang, syair-syair Cina yang menyimbolkan tingkah laku para tokoh,  taman beserta kolam merupakan simbol dari alam semesta, karena segala unsur dalam taman mencerminkan keheningan diumpamakan dengan akal budi yang mampu menjernihkan semuanya dalam ketenangan. Ketidak simetrisan dan gayasudut tunggal selalu mewarnai karya seni Jepang, terlihat jelas pada ruangan upacara minum teh dan taman. Tamanbagi mereka merupakan simbol kosmos untuk ditujukan sebagai bagian totalitas kemolekan dunia. Haiku俳句, kolam, dan tea house茶室 adalah gambaran kehidupan manusia yang kering dan berat, dan menyedihkan. Oleh sebab itu manusia ingin segera melepaskan dari dunia kecil tersebut ke dunia yang besar. Jepang adalah bangsa yang kaya simbol, setiap detail memiliki makna

Obyek pertama dari pengalaman estetika adalah alam sebagai penjelmaan keindahan, karena alam dihayati sebagai penjelmaan dari ide keindahan  dan menjadi simbol dari keindahan. Jadi kesenian sebagai simbol menyebabkan hati manusia melayang ke alam yang  indah. Menurut Budi Darma (1999: 42-61) makna simbol adalah pengabstraksian dari dunia makro atau dunia besar ke dunia kecil. Jadi simbol-simbol yang tercermin pada karya-karya estetis, merupakan pencerminan tingkah laku orang-orang Jepang dalam menghadapi kehidupan nyata dari hari ke hari.

Konsep yang mendasari estetika Zen禅 adalah sabi dan wabi侘び. Kemampuan untuk menghantarkan orang sampai pada kedalaman atau kejauhan yang trasendental di tengah keserbanekaan realitas ini disebut wabi侘び. Pada dasarnya manusia dalam diri manusia ada arus kerinduan kuat untuk suatu kali kembali pada alam, akrab, dan merasakan getaran getarannya, Zen 禅membantu manusia Jepang untuk selalu bersahabat dengan alam dan Zen 禅selalu mendobrak pada mereka yang mendewakan hasil buatan manusia, ini adalah pengungkapan dari istilah sabi (Mudji Sutrisno, 1993: 135). 日本の美学の基礎的は「侘び」と「寂び」です。茶道に両方から一つに和 (harmony) になっている. Terdapat suatu keharmonisan yang menyatu dari paduan sabi dan wabi.

Wabi 侘びmerupakan implikasi dari dua hal yang berkontradiksi. Hal-hal yang berkontradiksi tersebut adalah antara kemewahan dan kesunyian, antara kemegahan dan kesederhanaan, antara elegan dan kekosongan. Jadi merupakan symbiotic aesthetic karena terdiri dari double code yang ambigu. Misalnya, terlihat kesan glamour dari rasa manis kue-kue yang disajikan walau dengan bentuk dan warna yang tidak menyolok karena memakai warna-warna alami. Dan Wabi侘び juga berfungsi memberi dorongan untuk ‘membatasi’ hal-hal yang bertujuan memamerkan atau memperlihatkan suatu kemakmuran atau keadaan yang mencolok.

Contoh lain dari Wabi dan Sabi adalah berikut, terdapat kesan elegan ada pada atap tea house茶室, walaupun terbuat dari sejenis rumput. Kesan elegan tersebut berpada dengan kesan mewah tertangkap pada rangkaian bunga ikebana生け花 yang biasa disebut chabana茶花walaupun terangkai dengan menggunakan ranting dan jenis bunga yang terbatas, yang kadang hanya tumbuh sesuai musim. Implikasi dari paduan inilah yang disebut Wabi侘び. Dan Sabi adalah keindahan yang diperoleh di antara elemen keberadaan dua simbiotik yang berkontradiksi.

Estetika Zen禅 yang termasuk dalam Estetika timur menganggap bahwa kehampaan  mempunyai arti dan memliki sesuatu yang menarik perhatian. Misalnya kaligrafi 掛け軸dan lukisan tinta hitam絵の具, sepertiga bagian di sudut kiri dibiarkan kosong. Juga pada ikebana生け花, ruang diantara tangkai-tangkai mempertegas ruang di antara ranting-ranting yang sudah terisi, jadi kombinasi antara terisi dan hampa inilah yang bisa menciptakan pengalaman estetis. Jadi dari kehampaan atau kekosongan dianggap bisa ‘menampilkan’ sesuatu, oleh sebab itu kehampaan bersifat selalu dinamis  (Sutrisno, 1993: 117-118).

.

C. PERILAKU PARA TOKOH YANG DIPENGARUHI LATAR ESTETIKA  ZEN

Latar Estetika Zen dalam karya ini, mempunyai maksud bahwa latar yang berdasarkan Estetika Zen ini mengacu makna ‘jembatan’. Makna ‘Jembatan’ ada dua, yaitu: Jembatan dalam arti kongkrit berbentuk fisik, diwujudkan dalam lanskap taman 庭低 dan lanskap rumah. Dan yang lain adalah Jembatan dalam arti abstrak (non fisik) diwujudkan dalam berbentuk waka 和歌 / sajak dan syair-syair Cina 漢詩.

Jembatan dalam bentuk fisiknya adalah, suatu struktur bangunan sedemikian rupa yang bisa menyeberangkan manusia dengan segala keperluannya untuk bisa memindahkan dari satu tempat ke tempat lain antara ujung jembatan yang satu ke ujung jembatan yang lain. Demikian juga makna Jembatan dalam Jembatan Impian atau The Bridge of Dreams atau Yume Ukihashi 夢の浮橋 menyeberangkan atau melewatkan masa demi mencapai impian-impiannya.

Peran latar estetika Zen wujud fisik ini berbentuk jembatan dalam arti yang sebenarnya. Arti jembatan 橋 adalah, menyeberangkan atau menghantarkan sesuatu

dari tempat yang satu ke tempat yang lain. ‘ Jembatan’ dalam arti kongkrit, jembatan yang dipakai sebagai sarana untuk melampiaskan perasaan, menyampaikan informasi kepada tokoh lain.

Estetika Zen pada latar dalam “Jembatan Impian” 夢の浮橋mewujudkan keterkaitan antar simbol-simbol latar dan karakter tokoh. Pada taman Jepang, begitu masuk pintu gerbang akan terkesan rendah, tapi begitu memasuki jalan setapak berbatu akan semakin meninggi seolah olah seperti gunung menyimbolkan kekerasan, sedangkan kolam simbol dari kelembutan.

Terkadang dari tempat ketinggian tersebut dibuat air terjun, seperti halnya “sarang bangau” 鶴の巣 (nama rumah dalam “Jembatan Impian”夢の浮橋) air terjun itu dihubungkan dengan pipa kecil dari sungai terdekatnya, yaitu sungai Kamoかも, dan tak jauh dari itu ada jembatan batu sempit, Jembatan Aoi あおいnamanya.

Latar yang selalu melingkupi kehidupan ayah adalah lanskap rumah yang menyimbolkan arogansi watak tokoh ayah sehingga membentuk perilaku Amae 甘え. Dalam keterpencilan rumah ‘Sarang Bangau’ 鶴の巣 yang letaknya agak masuk ke dalam hutan, ada suatu keindahan taman yang terawat baik oleh ahlinya. Ayah sangat menikmati suasana rumah tinggalnya, walaupun orang luar mempunyai kesan lebih sunyi dan terpencil dari yang sebenarnya, karena luas rumah dengan penghuninya tidak imbang. Dengan suasana rumah seperti ini Ayah ingin diperhatikan oleh orang-orang  tertentu dengan porsi perhatian yang banyak. […と云う造園の技術のすぐれた庭師が凡精を凝らしたもなので、実際よりは余程奥深く幽邃な感じを写えた。] (Hlm: 371).

Bagi tokoh utama, Tadasu, patung yang terdapat di seberang kolam yang ada di rumah tersebut sangat mneyeramkan itu terdapat patung yang bagi Tadasu, patung tersebut  berwajah seram, yang lebih menyeramkan dan menakutkan daripada binatang kecil kaki seribu yang banyak terdapat di rumah minum teh. Bangunan rumah minum teh 茶室 banyak terdapat kaki seribu, karena bangunan tersebut sudah sangat tua, dan merupakan satu-satunya bangunan yang dibeli kakek Tadasu dari luar dalam bentuk jadi, tidak membangun bersama-rumah yang sekarang dihuni. [私は百足よりも、池のほとりや築山のところどころにすえてある、五つ六つの石の羅漢の方が恐れがあった。] (hlm: 373).

Air yang mengalir dari sungai Kamoかも yang ada di dekat rumah tersebut juga mengalir ke kolam dan diatasnya ada bumbung air yang selalu terdengar bunyi keletak.Ada juga titian setapak diatas kolam yang akan menghantarkan tokoh utama untuk menyeberangi mimpi-mimpinya.

Di atas kolam tersebut juga ada jembatan berupa titian batu. Tokoh utama Tadasu sewaktu kecil sangat suka sekali menyeberangi titian batu di atas kolam tersebut. Ibunya selalu kuatir karena kolam itu ada bagian lubang yang dalam, tempat sementara ikan, jika kolam tersebut dikuras dan dibersihkan. Sebetulnya teriakan ibunya, agar Tadasu selalu berhati-hati menyeberang titian ini adalah pertanda bahwa dalam perjalanan hidup Tadasu akan penuh dengan rintangan-rintangan dalam mencapai impiannya untuk atau merasakan kerinduan pada ibunya. […母に叱られる折もあった。池の中程に土橋があって、… 。…一筒所人間の背よりも深く掘り下げたところがあって、…] (hlm: 372).

Oleh kakek Tadasu semasa hidupnya, air dari Sungai Dangkal sengaja dialirkan ke arah kolam menggunakan bambu sebagai pipa dengan dataran ketinggian, sehingga jatuh seperti air terjun ke kolam yang langsung ditampung oleh seperangkat alat bambu, disebut bumbung air 添水. Begitu air terjun memenuhi bumbung yang dicanggah dengan kaki-kaki bambu di bagian tengah akan terguling, menimbulkan bunyi keletak, karena terantuk papan kayu yang terpasang di bawahnya [流れが池に落ちる途中に、青竹で造った添水と云うものが仕掛けてあって、水が一編竹筒の中に溜まり、パタンと云う音を立ててから下に落ちる。 ] (hlm: 371,372).

Bumbung bambu tersebut harus terbuat dari bambu yang masih hijau. [竹筒が青々とした竹で、切口が真っ白にくっきりしていないと面白くないので、始終植木屋が竹を取り替えに来た。] (hlm:372). Bumbung bamboo添水ini menunjukkan kerinduan Tadasu pada ibunya yang selalu tumbuh, dengan ditandai  bumbung bambu yang harus diperbaharui jika sudah tidak berwarna hijau. Jika keinginan-keinginan Tadasu bersifat selalu ‘segar’ berkaitan dengan bumbung bamboo 添水tersebut, maka aliran air sungai yang melewati bumbung bamboo 添水itu berkaitan  dengan penyaluran kerinduan Tadasu yang tidak bisa terus menerus, seperti halnya air yang melewati bambu tersebut. Karena jika air sudah tidak memenuhi bumbung bamboo 添水, air akan langsung jatuh ke kolam. Bumbung bamboo 添水akan dialiri air lagi, setelah bumbung bamboo 添水tersebut berbunyi keletak, yang berarti air sudah ditumpahkan ke kolam, bumbung bamboo 添水siap menerima aliran air yang baru.

Pada saat Tadasu berusia sekitar 18 tahun, Ayahnya divonis tidak akan lama hidup, dikarenakan sakitnya sudah parah. Sewaktu beristirahat karena sakit, bunyi keletak yang dihasilkan oleh bumbung bamboo 添水dari sungai dangkal yang ada di kolam dirasa sangat menganggu ayah. Karena suara yang dihasilkan oleh bumbung bamboo 添水itu tidak membuat tentram dihati, tetapi sebaliknya syaraf-syarafnya seperti menegang, sehingga bumbung bambu tersebut diangkat […庭の添水の音をさえ喧しいと云って…bahkan bunyi keletak bumbung air di kolam juga dirasa terlalu keras, lalu menyuruh agar bumbung itu diangkat dari kolam.] (hlm: 396) .

Pada suatu hari menjelang hari kematian ayah diawal bulan September turun hujan lebat dan angin ribut sehingga sungai meluap dan membanjiri kolam dan

mengotori air kolam. [瀬見の古川が氾濫し、池へ逆流して池の水が泥のように濁っていた日のことであった。] (hlm: 396).  Dengan terkotorinya kolam dari air sungai dangkal ini menandakan motivasi perilaku Amae Ayah berdampak pada perilaku Amae Tadasu yang sebetulnya Ayah telah diperhitungkan akibat yang akan terjadi. Tetapi menurut Ayah, apa yang telah dilakukan adalah yang terbaik baginya dan bagi anaknya.

‘Jembatan’ dalam wujud fisik dan wujud non fisik muncul secara bersamaan pada saat Okane (kepala para pembantu sejak kakek Tadasu masih hidup) berpamitan mau ijin berhenti kerja dikarenakan usia, pada saat itu Tadasu berusia sekitar 17-18, sekitar awal bulan Oktober. [… 二人で下鴨神社経お参り尾したこたがあったが、…berjalan-jalan disekeliling pohon, kemudian menuju Jembatan Aoi ] (hlm: 383). Okane bermaksud  menceritakan apa yang ia ketahui selama ia bekerja di rumah Tadasu. Pada awalnya tadasu menolak karena ia merasa harus patuh sesuai dengan perintah ayahnya, tetapi okane mendesaknya untuk mau mendengarkan ceritanya.

Jembatan dalam wujud fisik dipergunakan Okane sebagai tempat untuk sebagai menyampaikan informasi mengenai Tsuneko pada Tadasu.  Karena Okane menangkap sesuatu yang tidak beres mengenai Ayah. Sedangkan Jembatan dalam wujud non fisik menjadi perangkai dari peristiwa satu dengan peristiwa lain. Tadasu semakin simpati pada Tsuneko, setelah menerima informasi dari Okane. Karena dalam pandangan Tadasu, Tsuneko mengorbankan dirinya untuk kebahagian Tadasu demi mencapai mimpinya. Sampai akhirnya terjadi insest antara Tsuneko dan Tadasu, membuahkan Takeshi, lahir sekitar bulan akhir Mei tahun berikutnya .

Bunyi keletak yang dihasilkan oleh bumbung bamboo 添水dari sungai dangkal yang ada di kolam dirasa sangat menganggu Ayah karena sakitnya semakin parah, sehingga syaraf-syarafnya menegang […庭の添水の音をさえ喧しいと云って…] (hlm: 396). Sehingga Tsuneko menyuruh tukang kebon Kawajima untuk memotongnya.

Pada saat itu Tadasu merasa kehilangan bunyi keletak tersebut.  Setelah meninggalnya Ayah, Tsuneko yang merasa kesepian menghidupkan bumbung air tersebut […添水の水の音を復活させる…パタンパタンと云う懐かしい音又聞ける。] (hlm: 398). Dan Tadasu menyambutnya dengan sukacita karena kerinduan terhadap ibunya bisa diteruskan lagi, dengan cara yang tidak sama seperti yang pernah Tadasu lakukan sebelumnya.

Dalam hal menikmati bunyi keletak, Ayah dan Tadasu berbeda. Diakhir hidupnya, Ayah merasa terganggu dengan bunyi keletak yang dihasilkan bumbung bamboo 添水tersebut. Perbedaan dalam hal ini menandakan bahwa motivasi perilaku Amae Ayah terhadap Tsuneko, berbeda dengan perilaku Tadasu terhadap Tsuneko. Perilaku Amae 甘えTadasu terhadap Tsuneko tidak terdapat motivasi, tetapi menimbulkan dampak penyimpangan seksual. Keindahan bunyi keletak bumbung bamboo ini adalah bentuk realisasi konsep Wabi  詫びdan Sabi 寂び. Tetapi tidak semua orang mengalami keindahan tersebut dengan kadar yang sama, seperti halnya yang terjadi pada tokoh utama Tadasu dan Ayahnya.

D. Simpulan

Kajian Estetika Zen dalam ‘Jembatan Impian’ 夢の浮橋ini difokuskan pada perilaku para tokoh, yaitu tokoh Ayah terhadap tokoh ibu tiri Tsuneko dan perilaku tokoh Tadasu terhadap Tsuneko yang dipengaruhi latar wujud Fisik dan latar wujud Non Fisik. Latar Fisik dan latar non Fisik ini dikaji berlandaskan filsafat dalam Estetika Zen 禅, yaitu karya seni yang mengandung unsur Wabi 詫びdan Sabi 寂び. Perilaku Amae 甘えpara tokoh yang dipengaruhi Estetika Zen 禅, mempunyai arti bahwa latar yang berdasarkan Estetika Zen 禅ini mengacu kepada motivasi dan dampak para tokohnya. Perilaku Amae 甘えini mempunyai kecenderungan bergantung pada orang lain dan berharap orang lain tersebut mau mau melakukannya.

Perilaku Amae 甘えpara tokoh yang dipengaruhi Estetika Zen 禅, mempunyai arti bahwa latar yang berdasarkan Estetika Zen ini mengacu kepada motivasi perilaku Amae 甘えAyah terhadap Tsuneko. Kajian ini merupakan penegasan bagi kajian sebelumnya, yaitu pembuktian bahwa estetika Zen berpengaruh pada perilaku Amae para tokoh, khususnya perilaku Amae 甘えAyah terhadap Tsuneko. Tsuneko bersikap Amae 甘えpada ayah, dan membiarkan ayah berlaku amaeru 甘える, menggantungkan dirinya pada tsuneko. Wujud perilakunya terlihat pada perilaku memaksa ayah terhadap tsuneko sebagai isteri ke dua.

DAFTAR PUSTAKA

Asoo, Isoji. 1983. Sejarah Kesusasteraan Jepang.Jakarta: UI-Press. Penj: Staf Pengajar JurusanAsiaTimur Seksi Jepang, Fak. Sastra, UI

Benedict, Ruth. 1972. Kiku to Katana.Tokyo: Shisosha. Penj: Matsuji Tanikawa

Benedict, Ruth. 1979. The Chrisanthemum and the Sword.Tokyo: the Charles E. Tuttle Co.

Benedict, Ruth. 1982. Pedang Samurai dan Bunga Seruni: Pola-pola Kebudayaan  Jepang. Jakarta: Sinar Harapan..  Penj Pamudji

Bellah, N. Robert. 1992. Religi Tokugawa: Akar-akar Budaya Jepang.Jakarta: Gramedia. Penj: Wardah Hafidz

Chiba, Kenji. 1990. Nihon Bungaku Kenkyu Shiryo Shishu: Tanizaki Jun’ichiromonogatari 18 Tokyo: Yuseido

Darma Budi. 1999. “Wajah-wajah Jepang” dalam Budaya Jepang Masa Kini . Ed.

Djojok Soepardjo dan Wawan Setiawan.Surabaya: Bintang

Doi, Takeo. 1992. Anatomi Dependensi: Telaah Psikologi Jepang.Jakarta: Gramedia. Penej: Arifin Bey

Doi, Takeo. 2001. Tsuzuki [Amae] no Kozo.Tokyo: Kobundo

Golden, Arthur. 2000. Memoar Seorang Geisha. Jakarta: Gramedia

Haryono, Joharni. 1999. “Perempuan Jepang dimata PerempuanIndonesia” dalam

Budaya Jepang Masa Kini . Ed. Djojok Soepardjo dan Wawan Setiawan. Surabaya: Bintang

Kosasih, Benny. 2000. “Tubuh, Fenomenologi dan Zen” dalam Focus Jurnal Filsafat edisi Mei 2000, hlm.17-35

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.Jakarta:  Gramedia

Lan, Nio Joe. 1961. Sastera Jepang Sekilas Mata.Jakarta: Gunung Agung

Luxemburg. 1991. Tentang Sastra .Jakarta: Intermasa

Miyauchi, Junko. 1990. “[Shisei] [Yume no Ukihashi] Nado: Ugokanai Mizu no

Shuhen” dalam Nihon Bungaku Kenkyu Shiryo Shishu: Tanizaki Jun’ichiro: monogatari 18 . Ed. KenjiChibaTokyo: Yuseido

Nakae, Chie. 1981. Masyarakat Jepang.Jakarta: Sinar Harapan. Penej: Bambang Kusriyanto

Okuno, Kenji. 1971. “Tanizaki Jun’ichiro Bungaku Album” dalam Gendai Nihon no Bungaku: Tanizaki Jun’ichiro-shu. Ed. Yukio Ozaki, dkk.Tokyo: Gakushu Kenkyusha – Gakken

Reischauer, Edwind. O.1982.  Manusia Jepang:.Jakarta: Sinar Harapan. Penj Bakrie Siregar

Reischauer, Edwind. O. 1980. The Japanese.Tokyo andVermont: the Charles E. Tuttle Co

Rosidi , Ajip. 1989. Mengenal Sastra dan Sastra Jepang.Jakarta : Airlangga

Sakurada, Mitasu. 1981. Hito to Bungaku Series: Gendai Bungaku Album: Tanizaki Jun’ichiro.Tokyo: Gakushu Kenkyusha

Sangharaksita, Y A Mahasthavira. 1995. Zen: Intisari Ajaran. Yayasan Penerbit Karaniya

Soepardjo, Djodjok. 1999. Komunikasi dan hubungan personal orang Jepang (makalah dibawakanpada Simposium Internasional: Orang Jepang dalam hubungan Internasional)

Sumardjo, Jacob. 1985. Dari Khasanah Sastra Dunia.  Bandung: Alumni

Suryohadiprojo, Sayidiman. 1982. Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjoangan Hidup. Jakarta: UniversitasIndonesia, Pustaka Bradjaguna

Sutrisno, Mudji dan Christ Vrehaak 1993. Estetika Filsafat Keindahan.Yogyakarta: Kanisius

Tanizaki Jun’ichiro 1964. Yume no Ukihashi.  Tokyo: Koronsha

Tanizaki Jun’ichiro. 1971. “Yume no Ukihashi” dalam Gendai Nihon no Bungaku: Tanizaki Jun’ichiro-shu. Ed. Yukio Ozaki, dkk.Tokyo: Gakushu kenkyusha

Tanizaki, Junichiro. 1976. Jembatan Impian.Bandung : PT Pustaka Jaya.

Penej: Sugiarta Sriwibawa  (terjemahan dari “The Bridge of Dreams” dalam Seven Japanese Tales, oleh Howard Hibbett)

Tohata, Seichi. 1974. An Invitation to Japan’s Literature.Tokyo:Japan Culture  Institute

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995, Teori Kesusasteraan,Jakarta: Gramedia

Lampiran 1

Sinopsis

Jembatan Impian*   karya Tanizaki Jun’ichiro mengisahkan impian seorang anak manusia yang selalu merindukan ibunya. Tokoh utama Tadasu, adalah anak tunggal dari sebuah keluarga berada. Ibunya meninggal saat Tadasu berusia 5 tahun. Setelah ibu Tadasu (Chinu) meninggal, Ayah Tadasu berniat mencari seseorang sebagai penganti istri dan ibu bagi Tadasu. Sejak berjumpa dengan Tsuneko, Ayah Tadasu berniat untuk mensenyawakan Tsuneko dengan Chinu.

Kehidupan Tsuneko sebelum bertemu dengan Ayah Tadasu sangat pahit, ayahnya bangkrut, dan kemudian dipaksa kawin dengan pedagang kaya yang telah membiayai Tsuneko sekolah calon Geisha. Tidak berapa lama menikah diceraikan suaminya, Ayah Tadasu mengangkatnya dari kehidupan yang pahit. Untuk membalas budi Ayah Tadasu, Tsuneko menyanggupi apa yang diminta ayah  Tadasu, termasuk seolah-olah menjadi ibu kandung Tadasu.

Ingatan Tadasu terhadap ibunya kembali terangkat setelah kedatangan Tsuneko. Termasuk ingatan masa kecil usia 4-5 tahun pada saat itu ibunya yang memperlakukan Tadasu selayaknya bayi yang masih menyusui. Keadaan ini berlangsung hingga Tadasu berusia 18 tahun. Hubungan Tadasu dan ibunya membuahkan Takeshi yang dianggapnya sebagai adik tirinya. Pada saat itu Tadasu mulai memahami akan maksud ayahnya dan Tadasu berusaha mencari informasi tentang Tsuneko. Tadasu merasa simpati pada sikap Tsuneko yang telah berkorban banyak untuk dirinya dan ayahnya.

Saat Tadasu usia 20 tahun, ayahnya meninggal, sebelunmya sempat menjodohkan Tadasu  dengan Sawako, anak tukang kebon sejak kakek Tadasu.Parasanak keluarga beranggapan bahwa Ayah Tadasu sengaja menjodohkan Tadasu dan Sawako hanya untuk menutup-nutupi agar hubungan keduanya terus berjalan. Sampai akhirnya Tsuneko meninggal, Tadasu beranggapan meninggalnya Tsuneko, karena pembunuhan berencana oleh Sawako. Kemudian Tadasu menceraikan Sawako yang memang pada awalnya bertujuan untuk mengincar harta kekayaan. Pada akhir cerita, Tadasu menjual rumah dan memutuskan untuk hidup bersama dengan Takeshi yang dianggapnya sebagai satu satunya warisan ibunya.

* Yume no Ukihashi = Jembatan Impian = The Bridge of Dreams

Oktober 2005

One thought on “Estetika Zen dalam “Jembatan Impian” karya Tanizaki Jun`ichiro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s