Gallery

PROSES TRANSENDENSI PARA TOKOH DALAM “JEMBATAN IMPIAN” KARYA: TANIZAKI JUN’ICHIRO

l. Pendahuluan

Orang Jepang terkenal mempunyai sifat ketelitian dan kesabaran yang tinggi dalam mengatur kehidupan kesehariannya. Seperti yang ditulis Budi Darma dalam kumpulan artikel Budaya Jepang Masa Kini (1999 : 59 ).  Ketelitian menentukan kesabaran dan kemampuan yang besar untuk menunggu momentum-momentum penting dalam kehidupannya. Ketelitian, kesabaran dan kemampuan yang besar ini tercermin, misalnya dalam hal menyajikan makanan, khususnya sashimi, irisan tipis ikan mentah yang tertata dengan rapi, seni ikebana (seni merangkai bunga), cha no yu (upacara minum teh) yang sampai sekarang masih terpelihara dengan baik.

Ketelitian menentukan kesabaran dan kemampuan yang besar untuk menunggu momentum-momentum penting dalam kehidupannya ini, juga tergambar dalam novel Jembatan Impian atau The Bridge of Dreams atau Yume no Ukihashi karya Tanizaki Jun’ichiro. Arti jembatan dalam bentuk fisik-nya adalah, suatu struktur bangunan sedemikian rupa yang bisa menyeberangkan manusia dengan segala keperluannya untuk bisa memindahkan dari satu tempat ke tempat lain antara ujung jembatan yang satu ke ujung jembatan yang lain. Demikian juga makna Jembatan dalam Jembatan Impian atau The Bridge of Dreams atau Yume no Ukihashi ini, mempunyai arti menyeberangkan atau melewatkan masa tokoh-tokoh-nya, dengan kesabaran untuk menunggu momentum-momentum penting dalam hidupnya demi mencapai impian-impiannya.

Dalam novel ini di gambarkan pelaku tokoh hampir semuanya murung, karena mereka berpikir kehidupan adalah hanya menunggu waktu untuk menghantarkan obsesinya untuk menyeberang melalui Jembatan untuk mencapai mimpi-mimpinya. Digambarkan pula pelaku tokoh semuanya suka akan kesendirian. Menurut Budi darma, kesendirian adalah kekuatan, karena dianggap bisa hidup sendiri tanpa memerlukan bantuan siapapun, seperti anggapan kebanyakan orang pada jaman Tokugawa (ibid:52). Digambarkan pula pelaku tokoh utama yang laki-laki semuanya pengagum wanita, tidak terbtas wanita itu sebagai ibu ataupun istri ataupun kekasih.

Penulis novel inipun pengagum wanita, kekagumannya terhadap wanita bisa terlihat dalam karya sastra ini. Pendapat Budi Darma (ibid;1999:51), Tanizaki kagum terhadap wanita, karena alasan historis, estetis, dan biografis. Alasan historis, dalam rangka peremajaan karya sastra dia menerjemahkan cerita klasik Jepang Kisah Genji (Genji Monogatari) yang merupakan salah satu roman tertua di dunia dan sampai sekarang dianggap sebagai contoh keunggulan sastra Jepang.

Tanizaki juga selau menggunakan haiku (puisi suasana) untuk mencapai konsep estetika yang matang dan dia terapkan dengan baik dalam karya sastranya. Lalu, alasan estetis, menurutnya wanita adalah makhluk yang mengagumkan. Keindahan wanita sering dilukiskan sebagai sesuatu yang aneh yang sering disembunyikan masyarakat itu sendiri dan kecantikan wanita sebagai makhluk yang lemah lembut dan tak berdaya, tetapi sesungguhnya menyembunyikan kekuatan dan suatu keindahan yang sangat misterius. Hal ini jelas dilukiskan pada salah satu karya besarnya yang berjudul The Key ( kagi ).

Dan alasan biografis dia selalu bangga terhadap ibunya dan tak bisa melepaskan kenangannya terhadap ibunya.  Orang Jepang pada umumnya , menurut Joharni Harjono (1999:115), anak perempuan semasa kecilnya mengabdi kepada ayahnya, setelah menikah pada suaminya, setelah tua mengabdi pada anak laki-lakinya.  Seorang perempuan Jepang jika dia terlalu sayang kepada orang laki-laki terdekat dalam keluarganya, cenderung menyalurkan rasa cintanya yang berlebihan jika dia nantinya punya anak laki-laki. Oleh karena itu kasus Oedipus kompleks ini banyak sekali terjadi di Jepang. Menurut teori Freud, Oedipus kompleks ini merupakan hasrat antara anak laki-laki untuk memiliki secara seksual dengan ibunya dan kadang merasa iri terhadap bapaknya. (kamus psikologi, Kartini Kartono; 1987:318).

Untuk mencapai mimpi-mimpinya, para tokoh menggunakan tokoh yang lain sebagai alat penghubungnya (proses transendensi). Sikap yang bagaimanakah yang mendorong para tokoh untuk ber-transendensi?. Dan bagaimanakah bentuk media yang dipakai untuk ber-transendensi  itu ?. Dampak negatif apakah yang timbul dikarenakan  transendesi?. Untuk itu penulis mencoba menganalisisnya.

II. Pembahasan

A. Transenden

Transendental adalah hal-hal yang berhubungan dengan transenden, sedangkan transenden adalah term yang dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang berada melampaui kesadaran dan kognisi, dan bertentangan dengan dunia material(Lorens Bagus, Kamus Filsafat : 1119-1120). Menurut Abu Hanifah (1950:141) transendensi sama dengan melampaui, dan transendensi bertentangan dengan imanensi. Sedangkan imanensi menyatakan ada di dalam lingkungan-lingkungan pengalaman (keseharian), dan tak keluar daripadanya, merupakan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri

Salah satu hasil transendensi adalah karya seni. Karya seni diciptakan untuk membuat manusia lebih halus berperasaan dan lebih berperilaku. Karya seni, termasuk juga karya sastra, dipakai oleh manusia sebagai alat penghubung yang bisa menghantarkan si penikmat (manusia) tersebut pergi melampaui keduniawian (tempat dibalik alam nyata). Untuk bisa menghantarkan si pembaca, diperlukan suatu karya yang baik. Dan Karya sastra yang baik harus bias menimbulkan imajinasi pembacanya. (Budi Darma; 1984:9). Antara pencipta dan hasil karyanya dibutuhkan proses transendensi. Demikian pula hubungan antara sipembaca dan karya sastra yang dibacanya diperlukan proses transendensi untuk bias menikmatinya.

Kehalusan perasaan, kerinduan yang luhur termasuk pra transenden yang merupakan awal dari transendensi. Setiap orang mengalaminya, tergantung dari kwalitas masing-masing orang. Misalnya ada dua orang menikmati karya seni foto. Orang yang pernah pergi ke tempat yang tergambar di foto tersebut langsung bisa menikmati dan mengenangnya sebagai salah satu bagian dari perjalanan hidupnya. Orang yang satunya, jika orang tersebut mempunyai kwalitas transendensi yang tinggi, dia akan mempunyai mutu yang sama dalam mencerna gambar dalam foto tersebut, walaupun belum pernah sekalipun pergi ke tempat tersebut.

Bagi sebagian orang, agama atau Tuhan adalah merupakan sumber transenden yang utama. Pada waktu orang berkomunikasi dengan Tuhannya dan melepas rutinitas kesehariannya barang beberapa menit, berarti orang tersebut menjalani proses transendensi. Proses Transendensi diperlukan untuk mencapai mimpi-mimpi tersebut. Sebetulnya media dalam transendensi bisa menggunakan apa saja, benda, bau, ataupun orang. Dipakainya orang sebagai alat penghubung ini sebagai hal yang lebih bersifat alamiah dibandingkan dengan alat penghubung yang lain.  Hal ini dipengaruhi oleh ajaran Budha. Yaitu konsep Mono no Aware yang berisi ajaran tentang kepekaan atau kecintaan terhadap segala sesuatu yang berada di alam ini, baik berupa benda ataupun kejadian-kejadian alam.

C. Karakter Tokoh dan Latar Cerita

Menurut Panuti, yang dimaksud tokoh adalah: individu yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Tokoh bersifat rekaan, tidak ada dalam dunia nyata. Mungkin  aja ada kemiripan dengan individu tertentu dalam hidup ini, maksudnya tokoh tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan seseorang yang sudah pernah dikenal. Tokoh bisa berterima oleh pembacanya, jika mempunyai sifat yang sudah dikenal atau berelevansi dengan pembaca, setidak-tidaknya ada sesuatu pada diri tokoh yang juga ada pada diri pembaca (1988:16-17).

Menurut Sudjiman yang tertulis dalam buku karangan Panuti Sujiman, latar secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun latar cerita. Latar juga memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagai mana adanya. Latar juga berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh. Latar dibedakan menjadi, latar sosial, yang mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok social dan sikapnya, adat-kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain yang melatari sebuah peristiwa. Konflik pribadi terhadap konveksi moral adalah bersifat universal, hal ini juga bagian dari latar social. Satu lagi, yaitu: latar fisik, yang menggambarkan tempat dalam wujud fisiknya, yaitu bangunan, daerah dan sebagainya (1988:44-47)

B. Rekayasa Tokoh dan latar sebagai Alat Transendensi

1. ‘Sarang Bangau’ sebagai latar

Ayah Tadasu keturunan dari generasi yang menjunjung tinggi tradisi yang kental dan keturunan orang yang berada. Hal ini terlihat dari gambaran situasi rumahnya. “Sarang bangau” julukan kakek Tadasu untuk rumah tersebut, karena dulu bangau-bangau malam sering turun di halaman.          Letak “Sarang Bangau” di tepi sebuah jalan sempit  di daerah timur Kyoto, dekat kuil Shimogamo. Sebuah kuil selalu dikelilingi hutan, jika sedikit menembus hutan akan terlihat bangunan utama rumah di bagian kirinya tampak sebuah jembatan batu. Sering disebut dengan “Jembatan Aoi”.  Pintu halaman rumah  tepat  ada didepan mata jika orang berdiri tepat di atas jembatan tersebut.

Yang paling mengesankan dari “Sarang Bangau” adalah pemandangan halaman yang luas dan sangat indah jika dipandang dari bangunan tambahan semacam pavilyun untuk upacara minum teh semasa kakek Tadasu  masih hidup, sesudah meninggal dipakai baca dan belajar seni lukis. Tempat upacara minum teh ini memang memerlukan keheningan yang menyatu dengan keindahan alam dan ditata dengan dengan kesan yang sangat polos sesuai dengan ajaran Budha, yaitu Wabi (rasa kesederhanaan dan ketenangan ) dan Sabi ( rasa kesederhanaan yang murni ).

 

 

2. Tokoh Ayah Tadasu : Egois dan memaksakan kehendak

Ayah Tadasu suka sekali tinggal di “sarang bangau”, karena dia menyukai ketenangan dan kesunyian. Tinggal bersama anak semata wayang (Tadasu) dan istri yang sangat dicintainya (Chinu) dan beberapa pembantu dan tukang kebunnya adalah masa atau kenangan yang tak akan bisa terlupakan. Sehingga dia merasa kehilangan sekali ketika istrinya meninggal sewaktu megandung adik Tadasu. Ketika Tadasu ingin mengenang wajah ibunya, dengan sengaja untuk mengaburkan ingatan dimusnahkannya foto-foto ibunya hanya disisakan satu yang tidak begitu bagus. Di sini Tadasu merasakan sifat ayah yang egois.

Satu lagi sifat ayahnya yang kurang disukai Tadasu, selalu  memaksakan kehendaknya, ini dirasakan oleh Tadasu pada saat-saat awal pertemuan dengan ibu tirinya, yang pada akhirnya Tadasu sudah tak bisa membedakan antara ibu kandungnya dan ibu tirinya. Walaupun Tadasu selalu ingin mencoba mengingatnya, dalam hal yang kecil saja, misalnya nama, Tadasu tak bisa membedakan yang mana yang mempunyai nama asli Chinu. Hanya Karena keteguhan dan kekerasan hati Tsuneko, ia berhasil mensenyawakan dirinya dengan Chinu yang asli. Sehingga tak berapa lama dia menikah, ayah Tadasu sudah mulai menghilangkan kebiasaan berdoa pada pagi dan sore hari untuk arwah istrinya.

 

3. Tokoh Ibu tiri Tadasu : Tegas dan rela berkorban

Ibu tiri Tadasu tidak hanya rela berganti nama dari Tsuneko disamakan dengan nama ibu kandung Tadasu ( Chinu ), tetapi juga melakukan apa saja yang biasa dilakukan ibu kandungnya demi pengabdiannya pada ayah Tadasu, suami keduanya yang selisih usianya cukup banyak. Sebetulnya dia sudah pernah menikah pada usia muda, terpaksa untuk melunasi hutang ayahnya. Karena tidak ada kecocokan, dia merasakan kepahitan hidup. Pada saat itulah dia bertemu dengan ayah Tadasu .

Ibu Kandung Tadasu sering menulis sajak dengan gaya tulisan kanji kuno. Ibunya yang sekarangpun pandai menulis sajak. Tapi gaya tulisan yang dipakai berbeda dengan kebanyakan yang dipakai  wanita pada saat itu. Dia memakai gaya tulisan yang tebal dan tegas, sesuai dengan sifat aslinya. Sampai Tadasu dewasa pun sebetulnya dia ingin memberikan kesempatan pada Tadasu untuk mengenang ibunya. Tadasu pun sebetulnya merasa aneh ketika dia mengucapkan kata “ ibumu “ kepada Tadasu, untuk membedakan antara diri sendiri dengan istri pertama suaminya. Hal ini terjadi ketika dia baru saja melahirkan Takeshi. Setelah usia perkawinannya yang ke dua belas.

4.  Tokoh Tadasu : Pemuja Ibu

Tadasu kecil juga sering membaca sajak karya masing-masing ibunya, dia merasa dekat sekali dengan sajak yang dinamakan “jembatan Impian”, berbunyi

Bila burung dendang musim panas

     Datang bernyanyi di sarang bangau

     Aku melewati Jembatan Impian

Sajak itu ditulis di sehelai kertas kerut panjang dan digantungkan disebuah ruangan beralaskan tatami, dan biasanya di bawahnya ada rangkaian bunga selalu turut menemaninya. Walaupun tak memahami makna, Tadasu selalu diajarkan untuk menjunjung tinggi benda tersebut sebagai pusaka warisan.

Ibu Tadasu digambarkan sebagai sosok wanita cantik. Tubuhnya alit dan semampai , dengan kakinya yang putih seperti buah apam, Tadasu selalu ingin bisa mengenang segala sesuatu tentang ibunya sepanjang dia hidup. Pada awalnya dia tidak bisa menerima pengganti ibunya. Ketika ibu tirinya juga melakukan hal yang sama dengan ibunya, duduk di tepi kolam sambil mengayun-ayunkan kaki di dalam air, yang terlihat kakinya lebih indah dari biasanya, dan ketika Tadasu juga ingin merasakan kelembutan paha ibunya pada waktu ia duduk dipangkuannya, dirasakan kasih ibu barunya tak ada beda dengan ibunya yang meninggal.

Oleh karena itu pada waktu ayahnya memaksakan untuk menerima pernyataan bahwa Tsuneko mirip dengan ibu aslinya sebetulnya ia berontak, tapi tak dilakukannya karena Tadasu mempunyai sifat penurutnya . Juga pada waktu pengasuhnya membicarakan jati diri ibu barunya, dia tak menanggapinya karena ingat pesan ayahnya untuk selalu mentaatinya. Dan karena lambat laun, Tadasu merasakan seolah-olah ibunya adalah ibunya yang dulu pernah pergi dan sekarang telah kembali pulang .

D. Analisis Tokoh sebagai “Jembatan”

1. Kemiripan tokoh: antara  ibu kandung dengan ibu tiri

Semua orang mengatakan kalau Tsuneko mirip dengan Chinu. Ketika Tadasu pertama kali bertemu dengan penganti ibunya yang telah meninggal, sebetulnya ia tak mempunyai kesan kalau wanita yang baru dikenalnya itu penjelmaan dari ibunya. Namun ketika ia mencoba memperhatikan sikap wanita itu sewaktu bercakap-cakap dengan ayah terlihat tenang, bebas dan berwatak sabar, kesan Tadasu berubah  (Tanizaki : 23 ).

Namunwajahnya yang lembut dan bulat, tubuhnya yang ramping, suaranya yang tenang dan sabar, terutama sikapnya yang sopan dan halus ketika kami bertemu, serta kecantikan yang menarik – benar-benar serupa dengan ibuku, dan membuatku merasa akrab dengannya.

Ayahnya pun mengatakan hal yang serupa dengan hal yang ada dalam pikiran Tadasu, beberapa saat setelah wanita itu pulang. (Tanizaki: 24)

Engkau mengatakan tidak dapat lagi mengingat wajah ibumu dengan jelas , tapi engkau akan segera akan menemukan banyak persamaan pada wanita itu. Sudah barang tentu tidak ada dua manusia yang serupa benar. Kecuali jika mereka kembar. Itu sebabnya aku tidak mempersamakannya. Yang kumaksud ialah kesan dari padanya, ketenangannya, keramahan pribadinya, manis dan sopan – sungguh, itulah sebabnya aku mengatakan ia seperti ibunya.

Tidak hanya Tadasu dan ayahnya yang mempunyai perasaan bahwa wanita tersebut mirip dengan ibu Tadasu. Para pelayan dirumah Tadasu  pada awalnya juga mempergunjingkan atau mengecam majikan yang baru

(Tanizaki : 26 ) .

Mungkin karena keramahannya dan sikapnya yang wajar, menyebabkan para  pelayan patuh seperti terhadap ibuku yang terdahulu.

2. Kemiripan tokoh: antara Tadasu dengan Ayah     

Banyak orang yang mengatakan bahwa Tadasu mirip sekali dengan ayahnya. Ketika ayahnya memperkenalkan Tadasu kepada calon ibunya, wanita itupun mengatakan tentang kemiripannya dengan ayah (Tanizaki:23).

“ engkau Tadasu, bukan ?” Ia bertanya sopan, dengan logat Kyoto yang sempurna. “ Engkau tampak serupa dengan ayahmu .“

 

Ketika ayahnya merasa hidup tak lama lagi, ayahnya berkata kepada Tadasu dan ibu tirinya. Seolah-olah menyerahkan semua tanggung jawabnya terhadap istrinya kepada  Tadasu. Karena, ayahnya berpendapat wajah Tadasu sangat mirip dengan dirinya (Tanizaki : 47)

“Aku tak akan hidup ….Apa yang menyedihkan hatiku ialah tentang ibu tirimu .Ia masih menempuh kehidupan dimasa depan, dan sepeninggalku hanya engkau yang dapat menjadi tumpuan hatinya. Karena itu peliharalah ibu tirimu sebaik-baiknya – sayangilah dengan segenap hatimu. Setiap orang mengatakan wajahmu mirip dengan denganku. Akupun berpendapat demikian. Bila kelak bertambah dewasa, engkaupun akan lebihserupa denganku… 

 

3. Kemiripan Tokoh: antara Adik dengan Ibu

Tiga tahun setelah kematian ibu tirinya yang misterius itu. Tadasu memutuskan bercerai dengan Sawako, anak tukang kebun yang dijodohkan oleh ayahnya. Dan berniat hidup menyendiri dengan Takeshi bersama dengan Okane, pengasuh sejak kecil. Tadasu berpikir hanya melalui Takeshi sajalah ia bisa merasakan terus kasih dan kehangatan ibunya. (Tanizaki : 58)

Apa yang menyenangkan hatiku ialah, bahwa ia serupa benar dengan ibu. Bukan hanya wajahnya, tetapi pun sikap tenang, jujur dan dermawan. Aku tak punya keinginan untuk kawin lagi , aku hanya ingin hidup selama mungkin bersama Takeshi, yang merupakan stu-satunya warisan ibu. 

E. Analisis Transendensi Antar Tokoh

Sejak lahir sampai usia empat tahun, Tadasu tak pernah merasa kekurangan dalam hidupnya. Baik lahir maupun batin, keduanya orang tuanya, terutama ibunya dan pengasuhnya ( Okane ) selalu mencurahkan perhatian sepenuhnya. Kehangatan kasih ibu ingin selalu didapatkannya. Setelah ibunya meninggal, ayahnya mencarikan pengganti ibunya dengan sempurnanya. Sehingga Tadasu merasakan ibunya tidak meninggal, tetapi pergi dan sekarang telah kembali pulang, termasuk juga suasana yang pernah hilang setelah ibunya meninggal. Hal ini sesuai dengan  yang pernah dikatakan ayahnya sewaktu pertama kali bertemu dengan ibu barunya.  ( Tanizaki: 27 )

     “Tidakkah engkau ingin ibumu sekarang menyanyikan lagu seperti itu?”

     “Ya, kukira…,” sahutku cepat, dan sadar bahwa hatiku berdegup.

     “kemarilah, tidur bersama aku malam ini.”

    Tanganku digandengnya dan diajaknya aku kekamarnya. Tempat tidur sudah disiapkan, tapi ayah belum masu,Ibu msih berpakaian lengkap, masih mengenakan  sabuk. Sinar lampu masih terang. Aku dengar bunyi keletak bumbung air. Semuanya mengingatkan masa lalu. Ibu berbaring lebih dulu, kepalanya diletakkan di atas bantalan kayu (rambutnya diatur menurut ukalan gaya kuno), lalu mengangkat selimut agar aku menelusup di bawahnya.

 

Ayah Tadasu selalu mengatakan “anggaplah ia sebagai ibu kandungmu. Jangan memandangnya sebagai ibu tiri.” Dan pada kenyataannya Tadasu memang tidak bisa lagi membedakan diantara keduanya. Jadi seolah-olah ibunya menjelma kembali (Tanizaki : 28).

     “sayang sekali – engkau sudah menghisap begitu keras.

Apakah engkau akan mencoba terus ?”

     Sambil menganggukkan kepala aku menghisap terus. Sekali lagi, dalam bayang-bayang redup, terasa diriku terhanyut oleh bau harum minyak rambut  dan air susu ibuku dahulu.Dunia impian menerawang – dunia yang kukira sudah lenyap selama-lamanya – kini menjelma lagi.

    Kemudian ibu menyanyikan lagu nina bobok masa dahulu, dengan irama yang telah kukenal benar :…

 

 

Ketika ibunya baru saja melahirkan Takeshi, payudaranya terasa sakit karena tidak meneteki bayinya. Karena Takeshi telah disingkirkan oleh ayah Tadasu. Tadasu merasa kecewa karena sebetulnya dia mengharap kehadiran adiknya. Pada suatu hari ketika Tadasu ingin membaca di pavilun tanpa disengaja Tadasu bertemu dengan ibu tirinya di pavilyun ( dulunya tempat upacara minum teh, tergambar suasana hening dan sunyi), ibunya sedang memeras air teteknya. Pada waktu itu yang kesan yang ditangkap Tadasu, ibunya dengan sengaja menyodorkan dirinya supaya Tadasu menikmati air susu tersebut. Dan justru kenangan ibunya bangkit dengan indahnya. Setelah kejadian itu ada perasaan malu dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Semakin kuat tekadnya semakin keinginan itu datang sehingga niatnya untuk mengambil Takeshi pun kabur. (Tanizaki : 39 )

Alam fikiran ibu memang merupakan rahasia bagiku,tapi perbuatanku dan sikap yang kuambil dapat disebut tidak wajar juga. Pada sat aku melihat dadanya, yang terjadi begitu tiba-tiba, rasanya aku kembali pada dunia impian yang telah lama kurindukan, kembali dirangkum oleh kenangan lama yang selalu membayangi diriku selama bertahu-tahun. 

 

 

 

Tadasu selalu berkeinginan untuk dapat selamanya mengenang ibunya. Setelah ibu tirinya meninggal, dia memutuskan bercerai dengan Sawako, anak tukang kebon yang telah dijodohkan ayahnya. Karena takeshi adalah satu-satunya warisan “ibu”nya, dia ingin hidup selamanya dengan Tadasu. (Tanizaki : 59)

Karena ibu kandungku meninggal selagi aku masih kanak-kanak, sedangkan ayah dan ibu tiriku meninggal selagi remaja, maka inginlah aku hidup untuk Takeshi sampai dewasa. Aku ingin merangkulnya dalam kesunyianku.

 

Ayah Tadasu ingin istrinya selalu hadir dalam kehidupannya. MisaInya ngin selalu tetap menikmati permainan koto istrinya (Tanizaki : 23).

Adapun koto itu bukan milik ibuku  – polos, tanpa hiasan. Tapi sikap ayahku yang sedang mendengarkan, kiranya sam pula dengan sikapnya tatkala mendengarkan permainan ibuku dulu.

 

Tadasu diharapkan oleh ayahnya supaya menciptakan suasana agar Tsuneko (ibu tirinya) tidak merasa kehilangan setelah ayahnya meninggal dunia (Tanizaki : 47).

“Aku tak akan hidup…… Jika tirimu selalu dekat denganmu, ia akan merasa aku masih hidup. Aku harap engkau dapat mengganti diriku, anggaplah itu sebagai tujuan utama hidupmu, sebagai stu-satunya kebahagiaan yang kau cita-citakan.

 

Pada hari pernikahan Tadasu dengan Sawako, ibunya meninginkan Tadasu untuk memakai kimono ayahnya, dengan harapan seolah-olah suaminya menghadiri pernikahan anaknya (Tanizaki : 55).

Upacara perkawinan kami berlangsung pada suatu hari yang cerah dibulan November tahun itu. Untuk mengikuti kemauan ibu, aku mengenakan kimono sutera hitam milik ayah sebagai pengganti pakaian pagi.

III. Penutup dan simpulan

Karena pengaruh agama Budha, menurut Budi Darma, orang Jepang selalu berpegang pada filsafat Agama Budha yang mengajarkan dimana berpijak harus selalu memperhatikan filsafat bumi, sebagai landasan utama, filsafat angin bergerak dengan mobilitas yang tinggi, filsafat langit sebagai perwujudan alam semesta , filsafat air dan api sebagai sumber rejeki dan simbol semangat yang menyala. Karena itu orang jepang mudah sekali menyesuaikan diri, kalau mereka menginginkan supaya bisa menembus masyarakat lain (Budaya Jepang Masa Kini ;1999:45).  Oleh karena mereka cenderung untuk berpikir dan bertindak praktis. Misalnya dalam hal beribadah, tidak mau berpikir ke satu tujuan akan beribadah di suatu tempat. Dimana dia melewati sebuah kuil pada waktu itu juga hatinya tergerak untuk mengharap sesuatu, dia akan berhenti untuk berdoa, tanpa mengindahkan kuil Budha atau kuil Shinto.

Dalam karya Tanizaki ini juga terlihat sikap praktis para tokoh-tokoh nya demi mencapai impian-impiannya. Karena ibu kandungnya (chinu) meninggal waktu mengandung adiknya, Tadasu menggunakan ibu tirinya (Tsuneko ) untuk selalu bisa merasakan kehangatan kasih ibu, mendengar lagu-lagu nina bobok untuk mengiringi tidurnya. Supaya bisa abadi mengenang ibu kandungnya, Tadasu menggunakan adik tirinya yang tak lain adalah anaknya sendiri (Takeshi). Oleh karena itu pada akhir cerita dia memutuskan untuk hidup bersama dengan Takeshi.

Karena Takeshi mirip dengan ibu tirinya (Tsuneko) sedangkan ibu tirinya sendiri sejak ayahnya memutuskan untuk menikahi selalu menyakinkan pada Tadasu bahwa ibunya yang dulu pergi sudah kembali lagi. Dan memang pada akhirnya Ayah Tadasu berhasil mensenyawakan istri kedua dengan istri pertamanya. Sebetulnya semuanya ini hasil rekayasa yang baik dari ayah Tadasu. Karena dia betul-betul mencintai istrinya membuat keinginannya untuk selalu bersama, akhirnya dia membuat segala sesuatunya tidak ada sedikitpun yang berbeda, sesudah istrinya (Chinu, ibu Tadasu) meninggal. Setelah ayah Tadasu merasakan hidupnya tak lama, ia menyuruh Tadasu untuk selalu dekat dengan ibu tirinya (Tsuneko) , supaya ibu tirinya bisa merasa tetap hidup karena semua orang mengatakan Tadasu mirip sekali dengan ayahnya yang tak lain adalah suami keduanya .

Untuk mencapai impian-impian tersebut para tokoh menggunakan tokoh yang lain sebagai alat penghubungnya (proses transendensi). Hal ini hubungannya dengan sifat praktis orang Jepang pada umumnya. Dipakainya orang sebagai alat penghubung ini karena orang lebih bersifat alamiah. Banyak tafsiran mengenai “alamiah”. Seperti misalnya pada kasus pelacuran, kasus oedipus kompleks (kedekatan anak laki-laki terhadap ibunya yang berlebihan) mereka bisa menanggapi lebih ksatria dan sportif dalam menghadapi kenyataan. Oedipus kompleks ada sejak jaman dulu, dikutuk, dimusnahkan pun tetap muncul dan ada di pojok manapun didunia ini, oleh karena itu mereka menganggap hal tersebut bagian dari alam. Segala sesuatu yang merupakan bagian dari alam dianggap bersifat alamiah.

Dampak yang timbul, seperti yang sebetulnya ingin dikemukakan secara implisit oleh Tanizaki, ialah hal-hal yang menurut pandangan orang-orang beragama adalah kasus penyimpangan moral, tetapi bagi sebagian orang lain “penyimpangan moral” tersebut adalah bagian dari alam dan hal-hal yang bersifat alamiah tersebut sangat diperlukan pada proses transendensi. Jadi bisa dikatakan, orang-orang tersebut, demi mencapai impiannya, moral dinomerduakan.

LAMPIRAN

Ringkasan isi cerita

Sikap sinis  keluarga ayah Tadasu sebetulnya tidak dipicu oleh perkawinan ayah Tadasu dengan isteri keduanya, namun karena ayah Tadasu dianggap telah mengipas-ngipasi Tadasu untuk melakukan hubungan insest dengan dengan ibu tirinya. Dan hal ini adalah memang kehendak ayah Tadasu, yang akhirnya membuahkan anak bernama Takeshi, disebabkan karena ayah Tadasu betul-betul mencintai istrinya. Ketika Takeshi lahirpun harus disingkirkan dari rumah, supaya tidak menjadi bagian dari keluarganya.

Tadasu sendiri , tidak mampu membedakan nama ibu dia dan nama ibu tirinya. Karena ibu tirinya pun menggunakan nama yang sama dengan ibu aslinya yaitu Chinu. Pada waktu Ibunya meninggal karena melahirkan adiknya, Tadasu masih kecil. namun dia hafal betul bau wangi tubuh ibunya dan betapa cantik bentuk buah dadanya, karena sampai usia 4 tahun dia netek ibunya. Karena tidak ingat wajah ibunya, maka dalam pikiran sadar dan pikiran tidak sadarnya, sering menganggap ibu tirinya adalah ibu aslinya. Hal ini juga hasil rekayasa ayahnya. Maka dari itu ketika dia merindukan tetek ibunya, dia menyedotnya dan menumpahkan kerinduannya itu terlampiaskan pada ibu tirinya, yang tak lain adalah ibunya sendiri bagi Tadasu. Sering orang mengira bahwa ibu tiri ini adalah tak lain kakak Tadasu sendiri, karena usia yang terpaut jauh sekali dengan ayah Tadasu.

Mula-mula ibu tirinya adalah anak seorang pengusaha, kemudian bangkrut dan menjadi geisha. Kehidupan perkawinannya tidak mulus,dan dicampakan oleh suaminya yang kayaraya, saat itulah ayah Tadasu menerimanya. Sebetulnya dirinya paham hanya digunakan sebagai pengisi waktu. Pada waktu ayah Tadasu sakit dan dilarang berhubungan seks, ibu tirinya dengan setia merawat suaminya dan dirinya pun tahu kalau suaminya sangat mencintai isteri pertamanya, karena pada waktu sakitnya bertambah parah sering mendengung-dengungkan nama isterinya.

Akhirnya ayah Tadasu meninggal, sesuai pesan ayahnya Tadasu menikah dengan Sawako yang sebetulnya hanya ingin menguras hartanya dan berhasil membunuh ibu tiri Tadasu tanpa bisa dibuktikan kebenaranya. Pada akhir cerita Tadasu memutuskan hidup menyendiri dengan takeshi.

20000302

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia

Darma, Budi. 1984. Sejumlah Esai Sastra. Jakarta: Karya Unipres

Hanifah,  Abu. 1950. Rintisan Filsafat jilid 1. Jakarta : Balai Pustaka

Isoji, Asoo. 1983. Sejarah Kesusteraan Jepang  (Nihon Bungakushi).Jakarta : U.I

Press. Penerjemah , Staf Pengajar Jurusan Asia Timur seksi Jepang. Fakultas

Sastra Univ. Indonesia

Kartini, Kartono. 1987. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya

Rosidi , Ajip.1989. Mengenal Sastra dan Sastra Jepang. Jakarta : Airlangga

Sartini.1999. Nilai-nilai Budaya Jepang (Jurnal Filsafat Seri ke-29 )

Soepardjo, Djojok ; Setiawan, Wawan. 1999. Budaya Jepang Masa Kini. Surabaya

: CV Bintang

Sujiman, Panuti. 1988, Memahami Certa Rekaan. Bandung: Tarate

Tanizaki, Junichiro. 1976.Jembatan Impian, Bandung : PT Pustaka Jaya.Penerjemah,

Sugiarta Sriwibawa

Tohata, Seichi. 1974. An Invitation to Japan’s Literature. Tokyo : japan Culture

Institute

*Catatan Perkuliahan angkatan , Jurusan Sastra Jepang.1988. Universitas  Padjajaran   pengajar, Ninik Syafirin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s