Gallery

Mereka Mencari Tuhan di Toilet

Lagu “Toire no Kamisama” dari Alunan suara lembut Uemura Kana, begitu menusuk hatiku. Titik kulminasi perenunganku tepat pada syair bait berikut,

女神様がいるんやで

Megami ga iru`n ya de
だから毎日キレイにしたら女神様みたいに

Dakara mainichi kirei ni shitara megami mitai ni
べっぴんさんになれるんやで

Beppin san ni nareru `n ya de

Ada hubungannya apa Tuhan (Kamisama) dengan toilet (toire) bagi orang Jepang?

Amatlah naïf sekali, jika kita menangkap dibalik syair itu dengan pikiran telanjang tanpa ada usaha sedikit pun untuk menginterpretasikan dari sudut yang beda sebagai orang yang mengaku beragama. Apa yang ada dibalik syair itu, adalah sesuatu yang indah yang bisa kita jadikan pelajaran berharga.

Kenapa toire harus bersih, dan kita tidak boleh malas untuk membersihkannya?

Apakah karena ada Megamisama, yang sangat cantik bersemayam di dalam toilet. Atau kah karena toilet bersih, maka Megamisama mau datang nyambangi dan betah tinggal di Toire. Dan yang lebih penting lagi, jika kita mau membersihkan toilet, kita akan jadi cantik tertulari kecantikan Megamisama itu. Secara logika, jika toilet bersih, kita memulai hari dengan melepas hajat, dan memulainya dengan sebuah kebaikan. Dengan begitu, akan ada sebuah harapan, akan ada sebuah kebaikan akan menghampirinya.

Jika kita mau mencoba berpikir secara ilmiah, tempat yang selama ini kita anggap paling kotor saja, mau membersihkannya, tentunya semua yang tempat yang bersih akan menjadi semakin lebih bersih. Dan kebersihan adalah sumber dari segala keindahan dan kesehatan. Dengan begitu kesehatan fisik dan psikis akan tetap terjaga. Dengan begitu semua kegiatan kita yang bersumber pada kegiatan peribadahan, akan bisa terlakoni dengan lancar.

MMhhhm…..kenapa mereka yang mengaku tak berTuhan bisa mempunyai keyakinan seperti itu ya. Sedangkan kita yang percaya adanya Tuhan dan juga mempunyai slogan yang sudah mendarah daging, yakni “kebersihan itu daripada iman” itu tidak bisa atau belum bisa melakukan seperti yang meraka lakukan.

Sebuah bahan perenungan yang tidak ada habisnya. Mereka tidak berTuhan, jadi mereka tidak akan melakukan yang betul-betul sebuah tindakan yang tak rasional.

Lalu, bagaimana dengan kita? Kembali pada lagu “Toire no Kamisama”. Apa yang bisa kita ambil dari lagu ini, rasanya kita perlu instropkesi diri terhadap hidup bersih dari segala sesuatu yang terlihat mata ataupun yang tak kasat di mata. Jika mata terbiasa melihat segala sesuatu yang bersih, yang tidak kasat mata pun secara otomatis akan melahirkan perilaku yang “bersih” juga, dalam konteks nurani yang bersih, hati yang bening penuh keihlasan pada Yang Kuasa.

Ada beberapa cerita tentang toilet ini yang berhubungan dengan tahun baru. Menyambut tahun dengan segalanya baru, segalanya bersih dan berharap setahun kedepan hidupnya bersih dari segala permasalahan. Termasuk kesehatan. Jika sehat lahir batin, semuanya bisa teratasi, dan semuanya bisa kerja dengan baik, Jika bisa bekerja dengan baik, tentu bisa terhindar dari segala tindak kejahatan, Sebagian dari mereka juga memasang kagami mochi seperti mochi yang berbentuk yuki daruma yang berarti cermin di tempat tempat di mana mereka berharap Tuhan mau menghampirinya, termasuk di toilet. Dengan kagami mochi sebagai panduannya, Tuhan itu masuk ke rumah, dengan harapan supaya terberkati selama setahun ke depan. Dan saat menjelang tahun baru, orang tua (perempuan) yang paling tua dan masih sehat dirumah itu akan membersihkan toilet. Dengan harapan jika bagian yang kotor dan kasat mata ini aja kita rajin bersihan, tentu saja yang tak kasat mata juga akan terbersihkan dengan sendirinya.

Sejak aku mendengarkan dan merenungkan lagu itu, terbersit keingin-tahuan tentang bagaimana konsep mereka terhadap Tuhan atau Kamisama. Jika kita tanya kepada anak-anak yang sedang study tour ke tempat-tempat peribadatan, akan ada suatu jawaban yang sukup mengagetkan ketika kita tanya, kenapa tali tampar besar itu harus dibunyikan sebelum kita berdoa di depan rumah Tuhan itu. Ya, tali itu untuk membunyikan genta dan setelah itu tangan dipertemukan seperti tepuk tangan beberapa kali untuk “membangunkan” Tuhan, jawaban yang cukup mengejutkan.

Pandangan anak-anak muda Jepang terhadap Tuhannya, akan lebih mengejutkan lagi. Rata-rata mereka berpikir tidak percaya adanya Tuhan. Tapi percaya sebagai manusia, diluar kemampuan manusia ada sesuatu yang memiliki kekuatan lebih besar daripada dirinya. Yakni berupa, batu, pohon, sungai, laut dan lain sebagainya. Dan kayaknya mereka hanya sekedar “memanfaatkan Tuhan itu saat sesuatu kejadian menimpa dirinya”. Kenapa mereka bisa berpikiran seperti itu? Dalam teori sejarah budaya Negara Jepang, keberadaan Tuhan itu berubah-ubah sesuai jamannya mengikuti penguasa pada saat itu. Dalam kurun waktu tertentu, mereka menganggap Kaisar, atau Shogun (panglima samurai) sebagai Tuhan. Tentu saja dengan berbagai kepentingan, mereka membuat semacam pernyataan atas nama Tuhan (baca: Tenno, Shogun dll). Tujuan utamanya adalah untuk menggiring penduduk membayar pajak dengan tanpa rasa terpaksa.

Sambil merenungkan syair lagi “Toire no kamisama” ini aku terus berpikir.

Tadinya aku berpikir,..apa yang ada di balik syair lagu itu adalah sesuatu yang tak pantas direnungi. Ternyata aku salah. Mereka yang selalu mencari Tuhannya sampai di pojokan toilet pun mereka lakoni, demi mencari hakekat dari “bersih” itu. Tujuannya agar kehidupan berjalan dengan tenang, damai, yang kesemuanya itu diawali dengan sesuatu yang bersih.

Dan pada akhirnya kita kembali pada diri kita masing-masing, Akankah melihat dari sudut pandang orang Jepang yang selalu mencari-cari Tuhannya. Ataukah kita yang merasa memiliki Tuhan, tetapi hal-hal yang terdekat dengan kita, luput, tidak kita perhatikan. Padahal, kita memiliki pengetahuan bahwa kebersihan itu bagian dari iman. Alangkah mubazirnya pengetahuan itu jika tidak diaplikasikan dalam tindakan kita sehari-hari. Secara logika, jika kita bersih hidup kita jadi lebih tertata dan lebih sehat. Dan jika kita sehat balik lahir dan batin, kita bisa maksimal beribadah. Jadi baik secara vertikal atau pun secara horizontal bisa berjalan dengan seimbang. Dan aku merasa pencarian Tuhan itu sebetulnya tak perlu jauh. Pencarian Tuhan itu cukup ke relung dan lubuk hati kita masing-masing. Dan aku merasa beruntung karena tidak perlu mencarinya kemana-kemana. Tidak juga di toilet……………….

Teman-teman bisa iku merenungi di:

http://www.youtube.com/watch?v=Z2VoEN1iooE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s