Gallery

“Apakah anda suka Jepang?”

Pertama kali mengajar Bahasa Indonesia mahasiswa Jepang di suatu Universitas swasta yang cukup bergengsi di Nagoya ini, muncul suatu tantangan dalam diriku sebagai seorang pengajar. Mahasiswa Jepang tidak biasa bertanya, mengungkapkan ide atau pun berpendapat. Kelas diam, seperti kelas mati tanpa roh dan sebagian tertidur, itu lazim dan sah-sah saja. Bagi aku pun hal itu juga tidak masalah, daripada ngobrol sedangkan gurunya menerangkan dengan susah payah. Yang jadi masalah adalah, jika mata kuliah itu adalah Mata Kuliah Percakapan. Mau tidak mau mereka harus membuka mulut, dan ini adalah tantangan bagiku.

Hari ini tantanganku terjawab. “Sensei, apakah anda suka Jepang?”pertanyaan itu terlontar dari salah satu mahasiswaku kelas Mengarang Bahasa Indonesia hari ini. Apa kira-kira jawaban yang ku berikan padanya?. “Tidak suka” itu jawabku. Spontan kuliat perubahan pada 7 orang raut wajah yang menatapku keheranan, terutama pada raut muka si penanya.

“Anda tidak bertanya, kenapa saya tidak suka?” umpanku. Si penanya diam masih bingung, kok ya ada orang asing yang menjawab seperti itu, mungkin itu yang ada dalam benaknya. Pancinganku mengena, mahasiswa lain bertanya “Kalau tidak suka mengapa sensei datang ke Jepang?”.

Karena ada tanya pada diri, kenapa orang lain suka, sedang saya membencinya pun tidak, menyukainya pun tidak, karena itu rasa penasaranku akan Jepang semakin tinggi. Dalam rangka menguak tentangmu aku datang. Itu yang ada dalam benakku. Aku coba jelaskan apa-apa yang dalam benakku, dengan bahasa yang mudah ditangkap mereka.

“Berawal dari tidak suka, saya jadi ingin tahu. Manusia Jepang itu seperti apa. Bagaimana cara pikirnya dalam menghadapi dunia luar dirinya. Bagaimana cara pikirnya untuk mempertahankan miliknya. Bagaimana cara pikirnya untuk menghadapi alamnya. Saya ingin membandingkannya antara Jepang dan Indonesia bukan untuk mencari baik dan buruknya. Tapi saya mau cari apa yang bisa dipakai untuk sebuah pembelajaran hidup”.

Para mahasiswaku akhirnya manggut-manggut,…sepertinya tahu, tapi apakah mereka memahami sepenuhnya, aku juga tidak tahu. Semoga, berawal dari sebuah pertanyaan yang kelihatannya sederhana ini, bisa saling membuka mata hati dari anak-anak bangsa yang beda identitas kewarganegaraan ini.

2 thoughts on ““Apakah anda suka Jepang?”

  1. Copas atas nama akun FB Yani Taufik
    Kalau mahasiswa Jepang tidak biasa bertanya, mengungkapkan ide atau pendapat. Lalu bgm cara mereka menyampaikan pendapat? Padahal kalau mereka kesulitan menyampaikan ide, bgm kita mengetahui permasalahanya?

    Komentar balik dari aku:
    Yani Taufik, yo kuwi permasalahane,…Mereka diam, merasa jadi pihak penerima, dan pada beberapa orang (yg rajin) ingin juga menerima lebih banyak. Tp,. jarang ada yg mau bicara. Ada banyak faktor penyebab mereka diam itu. 1. Cara menghargai orang yg yg sedang berpendapat, berceramah (termasuk Aktivitas Belajar Mengajar, dalam hal ini mereka hebat,…aku suka). 2. ada jg semacam ketakutan dicemooh teman lain.
    Padahal kalau mereka mau mengemukakan pendapatnya terutama pada saat kita bicara pada tatap muka pertama kuliah tentang “aturan permainan selama satu semester”,..akan lebih mudah bagi sipengajar tuk menuhi “needs” mereka.

  2. Karena aku belum temuakn fitur supaya komentar bisa masuk,…sementara ini aku copas dari komentar a n akun face book Ulfa Handayani

    Hehe, jawaban sensei yang ‘nggak lazim’ dan cenderung kontradiktif dengan apa yang semula mereka pikirin, membuat kelas percakapan akan menjadi seru, akhirnya. Paling enggak, akan memunculkan dialog-dialog lebih lanjut yang kemudian kelas menjadi hidup dan ga kehilangan roh… Sensei, cerdik…;)
    Just sharing… dulu, semula saya fikir, orang Indonesia adalah orang yang paling pemalu. Terutama dalam mengeluarkan pendapat. Padahal dalam kelas bahasa, yang penting adalah bercakap-cakap bukan diam-diaman. Orang yang cenderung ‘rame’pun, ketika masuk kelas bahasa akan diam beribu bahasa…*halah, jadi ingat saya sendiri.
    Orang Jepangpun, paling enggak yang berinteraksi dengan saya, juga memiliki kecenderungan sama kok… Terutama cewek, mereka cenderung diam kalau enggak dicolek. Saya heran juga, apa sih penyebabnya? Mungkin factor bahasa. Tidak semua orang Jepang bisa bahasa Inggris ketika berada di tempat asing. Dan mereka berpikir, mau ngomong pakai bahasa Jepang, belum tentu orang Indonesia memahaminya…Akhirnya, diampun menjadi pilihan. Tapi ternyata, kalau terpaksa, orang Jepang adalah orang terpede yang saya temuin lo dalam menggunakan bahasa Jepangnya (kapan-kapan, pengen deh, mengupasnya ;)).
    Dari semua itu, menurut pengamatan saya, ternyata, untuk membuat mereka bicara, gampang aja kok, tinggal kita memberikan umpan pertanyaan. Seperti sensei tadi. Hehehe, saya juga percaya, tidak ada orang yang sebenar-benarnya pendiam lahh…
    Halah, kok jadi puanjangggg begini ya commentnya…maaf ya Paras Tuti sensei….:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s