Gallery

Dilema Piramida Terbalik

「外国人の看護士・介護福祉士は信頼できるのか?」”Gaikokujin no kangoshi/ kangofukushishi ha shinrai dekiru no ka?”

“Bisa gak mempercayakan dirimu pada perawat dan caregivers (perawat panti wreda) yang bukan sebangsa denganmu?” Pertanyaan ini adalah awal sebuah tanya tuk melihat fenomena sosial Jepang.

Kenapa begitu? Dalam hal kesehatan dan kesejahteraan, Jepang mempunyai angka harapan hidup lebih tinggi dan piramida penduduknya berbalik dengan Indonesia. Permasalahan ini sangat menghantui mereka. Pemberitaan tentang datangnya para perawat itu sudah marak sejak awal tahun 2008. Pemberitaan itu muncul berkaitan dengan program EPA(Economic Partnership Agreement/経済連携協定). Salah satu programnya adalah penerimaan tenaga kerja perawat dan caregivers. Dan sepertinya akan terus menjadi pembicaraan sepanjang masa, selama Jepang masih kuatir dengan kenyataan pertumbuhan penduduknya yang sangat lambat.

Perserikatan Bangsa Bangsa memperkirakan bahwa di tahun 2040 mendatang jumlah orang tua di bumi ini yang berusia diatas 65 tahun berjumlah 1.240.000.000 orang. Diantaranya, 70.000. 000 orang adalah orang Asia termasuk Jepang, Saat ini 30% dari penduduk Jepang adalah orang tua yang berusia lebih dari 65 tahun.

Jumlah orang Jepang yang berusia 100 tahun atau lebih, tahun 2007, tercatat sebanyak 25.554 orang. Berdasarkan perhitungan statistik dari total 100.000 penduduk Jepang terdapat sekitar 20 orang yang berusia di atas 100 tahun. Angka ini adalah data pada saat dirumuskannya program EPA, tiga tahun sebelum terealisasinya program EPA yang pertama. Sekarang ini (2013) sudah masuk angkatan yang ke 6. Melihat angka-angka itu bukan tidak mungkin Jepang mempunyai ketakutan akan hal ini.

Dilema mereka semakin nyata, dengan adanya beberapa kasus yang berkaitan dengan pekerja asing, tidak terkecuali juga terhadap pekerja medis. Masalah pemahaman budaya dan bahasa menjadi kendala utama. Disamping itu aturan hidup dalam sosial masyarakat sangat memberatkan bagi pekerja medis. Yang dirasa paling memberatkan adalah,  tuntutan yang mewajibkan para pekerja medis tersebut lulus ujian nasional yang tidak pandang bulu. Bagaimana tidak berat, soal-soal ujian itu ber-kanji! ber-hiragana! ber-katakana! Dan soal ujian tidak ada perbedaan baik tuk pekerja medis native maupun pekerja medis asing.

Sebetulnya tidak hanya permasalahan pada lulus ujian nasional saja. Saling memahami budaya antara penduduk asing dan penduduk asli juga merupakan permasalah tersendiri. Misalnya mentaati peraturan tertulis atau pun tak tertulis. Untuk memajukan negaranya Jepang yang tidak kaya akan sumber alam ini, segala sesuatunya ditentukan oleh peraturan yang harus ditaati oleh warganya, tidak terkecuali warga asing.

Karena terikat peraturan yang kaku, terkadang terkesan bahwa, perasaan sebagai manusia tidak berfungsi. Hal ini yang menyebabkan warga asing sulit diterima karena dari ketertutupan dari diri mereka sendiri, sehingga tidak mudah menerima warga asing tersebut. Sebaliknya, permasalahan dari sisi warga asing adalah, permasalahan komunikasi termasuk juga pengetahuan budaya dan kemampuan bahasa.

Dan pada kenyataannya setelah berjalan masuk tahun ke tiga. Semua serba dilema, Baik dari pihak Jepang maupun Indonesia. Baik dari kepentingan individu maupun kepentingan negara. Misalnya jika ada suatu pertanyaan secara pribadi kepada mereka,

“Siapa yang akan merawat anda jika anda tua?” Atau,

“Mampukah anda menyerahkan orang tua anda atau diri anda sendiri kepada orang asing dengan segala keterbatasan yang dimilikinya?”Banyak dari mereka mengaku yang tidak bisa menjawab. Ada semacam dilema bergayut dalam individu Jepang.

Sebaliknya jika ada pertanyaan secara pribadi pada para pekerja medis “Bisakah dirimu bertahan hidup dalam sosial masyarakat budaya Jepang yang terikat pada aturan yang serba kaku? Ada semacam dilema bergayut dalam individu Indonesia.

Ya,..semuanya serba dilema. Imbas dari piramida terbalik Jepang ini juga membawa anak-anak bangsa yang berkualitas tuk tidak mengabdikan dirinya pada bangsa tercinta ini untuk sementara waktu dengan batas yang tidak jelas. Seiring berjalannya waktu, mereka tahu, harapan tidak selalu sesuai dengan realitanya. Harapan itu adalah tuk mendapatkan ilmu dan teknologi dalam bidang medis, selain peningkatan hidup tentunya.

Sertifikat itu alasannya. Selama belum mendapatkan sertifikat lulus ujian Negara, mereka tidak mendapat kewenangan bekerja sebagai perawat seperti yang biasa mereka kerjakan di Indonesia. Akibatnya, ketrampilan mereka dalam bidang medis pun  mengalami penurunan. Balik lagi pada tanya diri sendiri, pada niat diri. Karena, hanya niat dan kekuatan diri saja yang bisa jadikan lebih berarti dan bermakna tanpa mengenal ruang dan waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s