Acara pembacaan surat dalam acara pernikahan orang Jepang

Acara pembacaan surat dalam acara pernikahan orang Jepang

(Dari “dengar”, ke “baca”, ke “tulis”, ke “bicara”)  

“Budaya dengar ke budaya baca” orang Jepang itu dimulai sejak TK. Diawali dengan pembacaan buku cerita bergambar oleh guru dan orang tuanya, berlanjut ke tahap SD. Sejak SD, kebiasaan itu sudah berkurang, karena si anak sudah bisa membaca sendiri. Kebiasaan baca itu berlanjut terus sampai tahap SMA. Ada waktu wajib baca selama sekitar 30 menit sebelum pelajaran di mulai pada setiap harinya. Kebiasaan tersebut ditunjuang dengan fasilitas yang baik. Misalnya, perpustakaan lengkap dan nyaman. Dan yang terpenting, ada suatu kesadaran akan keterbutuhan mencari informasi lewat tulisan.

Kebiasan tersebut ini juga berdampak positif pada “budaya tulis”. Mereka rajin sekali untuk membuat `record`, mem-`file`, menulis `report` untuk sekedar meninggalkan jejak pada penerusnya, pada orang yang akan mengantikan posisinya dan meneruskan tanggung jawabnya.

Tetapi ada satu hal yang membuat mereka terkesan “kurang”. Mereka menjadi tidak pandai mengungkapkan perasaan secara spontanitas. Misalnya, perasaan mereka tertuang pada surat yang dibacakan pada saat prosesi pernikahan. Surat yang berisi rasa terima kasih pada orang tuanya itu dibaca dihadapan orang tuanya. Jadi pada saat prosesi sungkeman (adat pernikahan Jawa), digantikan dengan pembacaan surat dari si anak ke orang tuanya. 今まで育ててくれて、ありがとう!!  Ima made sodatete kurete, arigato!! …“Terima kasih Ayah, Ibu,…kalian berdua sudah merawatku, mendidikku, dan telah menjadikan aku orang”. Begitu kira-kira isi suratnya.

Mmmhhm,..aneh ya,…surat untuk orang yang bersangkutan dibacakan oleh si penulisnya dihadapan orang yang dituju dalam surat itu,…….tapi itulah Nippon!!.

Alangkah lebih indahnya, jika kita pandai ungkapan perasaan yang berdasar pada sebuah referensi yang kta baca, tidak hanya bicara asal, tanpa rujukan. Semoga dengan cara-cara seperti itu, kita bisa menjadi bangsa yang lebih dihargai dimata dunia.

by Paras Tuti on Sunday, May 8, 2011 at 10:49am

 

2 thoughts on “Acara pembacaan surat dalam acara pernikahan orang Jepang

  1. Rita san,..banyak yang beda, walau dalam Indonesia sendiri jg daerah satu dengan yang lain jg beda. Salah satunya adalah pada tamu undangan dan bagaimana cara merespon undangan tersebut.
    Undangan harus dikembalikan pada calon pengantin, menyatakan datang atau tidak.
    Jumlah undangan tidak pernah banyak, sejumlah 100 jiwa termasuk kerabat.
    Ini karena mahalnya biaya pernikahan. terutama pada anggaran makannya.

  2. rita agustina says:

    Mba tuti, cerita nya sangat inspiratip, bahwa dari kebiasaan dengar, baca, tulis, bicara membuat mereka susah untuk mengungkapkan isi hati…berbeda dgn budaya kita ya walaupun kita pun juga menjunjung adat ketimuran. tulisan ini menarik sekali tapi selain budaya baca surat itu apakah ada hal lain yg unik yang bisa diceritakan disini mba….terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s