Gallery

PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG

PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA DALAM

PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG

Oleh: PARASTUTI

Adapepatah Goo ni haireba goo ni shita gae, yang berarti jika masuk ke suatu desa, patuhilah aturan dalam desa itu. Hal ini berarti untuk bisa diterima disuatu komunitas masyarakat, ikutilah aturan yang mereka miliki, bukan berarti, menanggalkan identitas diri dan bangsa.

Pemahaman lintas budaya adalah perbedaan pemahaman yang dialami dialami seseorang dalam pembelajaran bahasa asing. Jadi persilangan tersebut terjadi antara budaya yang dalam bahasa sumber dan yang ada dalam bahasa sasaran pembelajar. Jika terjadi kesalahan pemahaman dalam berinteraksi, akibatnya akan menjadi fatal. Seperti misalnya pada saat perkenalan, jika yang satu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, tetapi yang lain akan membungkuk, apa jadinya? Dua orang yang baru akan memulai berinteraksi tersebut akan merasa malu dan ini akan menjadi suatu hambatan dalam menjalin komunikasi lebih lanjut.

1. Ungkapan

Dalam hal salam, kalimat sapaan, dan ungkapan-ungkapan yang tidak dimiliki dalam budaya dan bahasa sumber pembelajar, tetapi sangat sering dipakai oleh masyarakat Jepang adalah sebagai berikut.

a. Saat perkenalan

Ungkapan-ungkapan berikut, tidak ditemui dalam Bahasa Indonesia, misalnya: hajimemashite, dozo yoroshiku onegai itashimasu, yang menyatakan bahwa sesudah perkenalan ini diantara mereka berdua ada saling interaksi dan saling membutuhkan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perkenalan, adalah, memperkenalkan diri dengan suara keras, terutama pada saat menyebutkan nama sendiri, hal ini untuk menghindari salah ucap pada nama orang yang baru dikenal. Perkenalan tersebut disertai dengan saling menukar kartu nama adalah

b.  Saat Berkunjung

Jika bertamu ke rumah orang Jepang sebaiknya membawa sesuatu hadiah atau oleh-oleh untuk menunjukan rasa terima kasih atas undangannya. Ketika memberikan sesuatu ada ungkapan yang biasa mereka sampaikan,  “Tsumaranai mono desu ga,… (Barang ini mungkin bagi anda tidak berharga, tetapi saya persembahkan untuk anda dari hati yang tulus)”. Ungkapan ini pun juga diucapkan, sekalipun untuk barang yang berharga.  Mereka tidak akan mengucapkan sesuatu hal yang seperti orang Barat lakukan. Misalnya, “Ini, sangat enak lho, pasti anda akan menyukainya”, kecuali jika sudah merasa saling akrab. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh tradisi mereka yang mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah suatu kebajikan.

Bagi tuan rumah sebagai pihak yang menerima hadiah, tidak lazim jika membukanya pada saat tamu belum pulang. Hal ini merupakan ajaran dari budaya Jepang untuk selalu mempertimbangkan segala sesuatu agar tidak membuat malu orang lain, terutama bila hadiah yang diberikan itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan.

c.  Saat dijamu makan

Sebelum makan, ungkapan yang mereka ucapkan adalah “itadakimasu (Mari kita nikmati)”. Dan sebaiknya tamu juga mengucapkannya, agar lebih menimbulkan perasaan akrab dengan tuan rumah.

Selanjutnya bagaimana tata cara makan mereka? Orang asing yang tidak biasa menggunakan sumpit dan tidak tahu tata caranya sebaiknya bertanya secara terus terang.  Selanjutnya, begitu selesai makan dan minum, tuan rumah akan melontarkan tawaran  “Mou ippai ikaga desu ka ? (Mau menambah lagi)”. Pada saat seperti itu  sebaiknya dijawab “iie, kekko desu ( tidak, sudah cukup)”, terlepas masih ingin menambah atau tidak. Ketika tuan rumah mendesak tamunya agar menambah lagi sebaiknya berkata ”Sumimasen (Maaf, telah merepotkan), dan kemudian menerima tawarannya. Dewasa ini gaya kebiasaan Barat telah masuk dalam masyarakat Jepang. Jadi jika ditanya “Mou ippai ikaga desu ka? (mau menambah lagi?)”, mereka akan menjawab “Arigato (Terima kasih)” dan langsung menerima tawarannya. Hal seperti ini, sekarang sudah dianggap lazim dan sopan.

d.  Sikap membungkukan badan

Orang Jepang selalu membungkukkan badan berkali-kali dalam satu kesempatan. Membungkukkan badan juga dilakukan ketika menerima hadiah, menerima kebaikan dari orang lain dan untuk mengungkapkan rasa terima kasih. Pada saat membungkukkan badan disertai ucapan, “Arigato gozaimasu” (Terima kasih), “irasshaimase” (Selamat datang ke tempat toko/ restoran, kami, apa yang bisa saya bantu?).

Selain itu membungkukkan badan juga dilakukan pada saat mengucapkan kata minta maaf “sumimasen,” dan ungkapan permohonan “onegai shimasu.” Pada keadaan tersebut jika isi permohonannya penting atau lawan bicara status sosialnya lebih tinggi, membungkukkan badan tidak hanya satu kali tetapi berkali-kali dan sangat dalam. Bagi orang asing mungkin hal yang aneh, sebab orang Jepang selalu membungkukkan badan seperti itu diberbagai situasi.

Orang asing merasa bingung dengan kata sumimasenkarena maknanya sulit dipahami. Sumimasentidak hanya digunakan sebagai ungkapan permintaan maaf, tetapi juga bisa digunakan untuk mengantikan kata yang bermakna terima kasih seperti halnya arigato. Membungkukkan badan penting dalam hubungan sosial dengan orang Jepang, dan sangat erat hubungannya dengan etika dalam berinteraksi sosial.

Sebagai orang asing, jika dalam situasi tertentu mendapatkan kesulitan untuk memakai ungkapan apa yang cocok digunakan, sebaiknya ucapkan “Domo,” karena kata ini bisa  diucapkan disegala situasi, untuk menyatakan terima kasih, maaf, dan lainnya.

2.  Konsep dan Pemikiran

Banyak konsep dan cara berpikir orang Jepang yang susah dipahami dan terkadang tidak masuk akal bagi orang asing.

a. Taat azas dan disiplin diri

Adasuatu gambaran yang mencerminkan taat azas dan disiplin diri yang tinggi yang bagi orang asing, terkadang mencerminkan kekakuan atau ketidak-flesibelan. Misalnya, Seandainya ada seseorang memasuki sebuah kafe, dan kemudian memesan minuman kopi dengan dengan jenis tertentu, tetapi karena tidak tertulis dalam menu, pemesanan tersebut ditolak, padahal bahan kopi dari jenis tertentu tersebut ada di kafe tersebut.

Tetapi pada disituasi yang lain, ada kejanggalan yang mesti kita perhatikan. Ketika  lampu lalu lintas berwarna merah, kendaraan berhenti, hal ini adalah umum berlaku di seluruh dunia. Namun di banyak negara walaupun lampu berwarna merah, jika tidak ada mobil yang lewat, orang akan menyeberang dengan tenangnya. Tetapi, orang Jepang tidak akan melakukan hal yang demikian, mereka akan menunggu sampai lampu merah berubah menjadi hijau, dengan catatan ketika orang tersebut ‘sendiri’, dalam arti, tidak sedang dalam kelompoknya. Mereka patuh seperti hal-hal tersebut di atas, jika seorang diri di tempat umum, namun mereka akan memperlihatkan sikap yang berbeda ketika, mereka ada dalam kelompoknya. Oleh karenanya jangan kaget ketika mendengar lelucon yang mengatakan, “Lampu merah tidak perlu ditakuti jika semua orang menyeberang bersama-sama.”

b. Mengemban tanggung jawab secara moral

Tanggung jawab moral seperti itu tidak hanya pada hubungan antara orang tua dan anak, tetapi dalam berbagai situasi. Misalnya sebuah agen travel memesankan hotel untuk pelanggannya, dan pada saat pelanggan tersebut menginap, di hotel terjadi kebakaran dan pelanggan tersebut mengalami luka bakar, semestinya agen travel tersebut tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, pada kondisi yang berlaku dalam konsep pemikiran masyarakat Jepang, agen travel tersebut akan mengeluarkan biaya perawatan. Hal ini dikarenakan orang Jepang berpendapat bahwa secara emosional, ada tanggung jawab pada orang yang telah kita beri rekomendasi.

Contoh lain adalah sebagai berikut. Pada suatu saat, seorang pramusaji restoran melakukan kesalahan dan menumpahkan minuman di pakaian pengunjung, kesalahan ini sebenarnya merupakan masalah sederhana, dan tidak ada hubungannya dengan pihak restoran. Sebetulnya masalah bisa selaesai dengan cara pramusaji meminta maaf pada pengunjung restoran tersebut. Akan tetapi di Jepang, pada kondisi demikian pemilik restoran langsung minta maaf dengan sungguh-sungguh, dan merasa turut bertanggung jawab secara moral. Karena, kualitas restoran termasuk juga pemiliknya, tercermin pada pramusaji yang merupakan ujung tombak usahanya.

c.  Penjamin, perantara, dan garantor

Keberadaan penjamin, perantara, dan garantor adalah mutlak diperlukan dalam setiap menjalin dan berinteraksi dalam segala bidang, terutama jika mereka akan menjalin hubungan dengan orang asing. Rekomendasi dari pihak lain sangat mereka perlukan, untuk bersama memikul tanggung jawab secara moral. Ini adalah bentuk KKN yang sangat berbeda dengan yang ada di Negara lain.

d.  Ekspresi diri

Orang Jepang tidak menunjukkan ekspresi perasaan secara langsung, hal ini muncul dari watak/ karakter yang berasal dari kerendahan hati orang Jepang. Mereka lebih suka mengungkapkan ekspresi yang sebaliknya. Misalnya, seorang pemenang tidak terlalu mengungkapan kegembiraan, karena selalu mempertimbangkan perasaan lawan yang kalah. Pesumo yang menang dalam suatu pertandingan tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah yang gembira setelah menerima penghargaan, malah terbesan sedih. Ekspresi orang Jepang yang seperti itu bagi orang asing terlihat aneh. Kerendahan hati adalah karakteristik perilaku tradisional orang Jepang.  Sama seperti halnya ketika memberikan hadiah akan mengatakan “tsumaranai mono desu ga, dozo” “Terimalah, tetapi maaf ini hanyalah sesuatu barang yang tidak berarti.”

Orang-orang yang duduk dalam kereta api pada suatu perjalanan, tidak akan memberikan tempat duduknya, walaupun orang yang berdiri di dekatnya lebih tua.  Meskipun  sebetulnya orang yang duduk tersebut sudah lelah duduk, ingin berdiri, tetapi untuk memberikan tempat duduknya pada orang lain, ada semacam kekhawatiran jika hal tersebut menjadi perhatian  penumpang sekitarnya. Watak atau sifat malu orang Jepang yang seperti ini sering disalahartikan oleh orang asing

e. Rasa dosa dan rasa malu.   「罪(つみ)と恥(はじ)」

Jepang adalah termasuk pada golongan bangsa yang menekankan pada kebudayaan malu. Ruth Benedict menyatakan bahwa kebudayaan rasa dosa menekankan pada pola perilaku yang dikendalikan oleh nilai-nilai dari dalam atau rohaniah, tetapi disalurkan keluar berupa permohonan maaf. Sedangkan kebudayaan rasa malu menekankan pada standar nilai luar yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Rasa malu dalam kalangan orang Jepang ialah akan muncul dengan tajam sekali, apabila yang bersangkutan merasa bahwa tindakannya akan mengakibatkan sebuah penghianatan pada kelompok dimana dia menjadi anggota. Dan untuk selanjutnya akan merasa malu seumur hidupnya, jika diasingkan dari kelompoknya. Mereka akan merasa berkhianat apabila bertindak secara pribadi tanpa memberikan perhatian kepada kemauan kelompok. Oleh sebab itu, mereka akan merasa malu dalam melakukan sesuatu, jika bertindak berdasarkan kemauannya sendiri saja.

Dalam pandangan mereka rasa malu itu tidak bisa dihapus begitu saja, tetapi harus dilenyapkan dengan cara melenyapkan seluruh jiwa raganya. Beda dengan rasa dosa, dengan cara minta maaf, akan terhapus rasa dosa tersebut

Referensi

Bellah, Robert. 1992. Religi Tokugawa Akar-Akar kebudayaan Jepang.Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Benedict, Ruth.1946. The Chrysanthemum and The Sword : Patterns of

Japanese Culture.CLeveland: World Publishing Co.

Benedict. 1970. Pedang Samurai dan Bunga Seruni. Pamudji, penerjemah.

Tokyo: The Charles E. Tuttle Company.

Danandjaja, James. 1997. Foklor Jepang Dilihat Dari Kacamata Indonesia.

Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Hasegawa, Katsuyuki. 1998. Rules of the Japanese.Tokyo : YAC Planning, Inc.

Parastuti.2001. Mengenal Budaya Negeri Matahari Terbit. UNESAUniversity

Press.

Soepardjo, Djojok dan Setiawan, Wawan (Editor). 1999. Budaya Jepang Masa

Kini (Kumpulan Artikel). SYLFF IKIP Bandung dengan IKIP Surabaya

…………..1996.  英語で話す 「日本の心」. Eigo de Hanasu [Nihon no Kokoro].

Tokyo:  Kodansha International.

Pernah dipresentasikan Di UPT, ITS, Surabaya
November 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s