Gallery

Peran Komunikasi Lintas Budaya untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Budaya Etos Kerja Masyarakat Jepang

Peran Komunikasi Lintas Budaya untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Budaya Etos Kerja Masyarakat Jepang

                                                                      Oleh: Parastuti

0. Abstraksi

Beberapa panduan-panduan yang berdasarkan konteks komunikasi lintas budaya sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman budaya etos kerja masyarakat Jepang. Panduan-panduan tersebut lebih menitik beratkan pada ajaran agar seseorang diharapkan banyak mempelajari diri sendiri, merendahkan hati, agar bisa lebih menghormat lawan bicara pada saat komunikasi berlangsung. Dengan begitu, rasa saling menghargai dari kedua belah pihak akan muncul secara alami agar terjadi keharmonisan dalam berkomunikasi.

1. Pendahuluan

Jepang danIndonesiatelah membina persahabatan yang sangat erat, berlandaskan hubungan kerja sama dan pertukaran di berbagai bidang seperti ekonomi, politik, kebudayaan dan lain-lain. Hubungan persahabatan seperti itu, bukanlah sesuatu yang dapat dibangun dalam sehari saja. Sejarah yang panjang dalam hubungan kedua negara, jika ditilik satu persatu, ternyata merupakan kristalisasi dari rangkaian peristiwa dan usaha di mana orang Jepang dan orangIndonesiaberpikir bersama, merasakan suka dan duka bersama.

Dalam bidang kebudayaan, pada dasarnya banyak kesamaan antara kebudayaan Jepang danIndonesia. Karena sesama negaraAsiakeduanya memiliki pola-pola kebudayan yang mirip dalam perwujudannya. Kebangkitan bangsa Jepang dari kehancuran perang dunia tak lepas dari daya kreativitas bangsa tersebut. Di balik daya kreativitas itu ada beberapa nilai pendukung, misalnya: nilai etos kerja, kemitraan, persaingan sehat dan nilai-nilai kompromistis.

Etos kerja dalam masyarakat Jepang ditengarai sebagai salah satu produk kreatif kemanusiaan dari bangsa Jepang untuk kembali bangkit mengejar ketertinggalan bahkan berhasil melampauinya. Etos kerja menaungi setiap sudut budaya bangsa Jepang. Rumah-rumah dengan arsitektur detail dan bergaya seni tinggi, produk-produk teknologi tinggi, taman-taman yang tertata apik dan memancarkan keindahan adalah contoh-contoh kecil produk kreatif yang mencerminkan etos kerja yang tinggi dari masyarakat Jepang.

Adapepatah 郷に入れば郷に従えGou ni haireba gou ni shitagae, yang berarti jika masuk ke suatu desa, patuhilah aturan dalam desa itu. Hal ini berarti untuk bisa diterima disuatu komunitas masyarakat, ikutilah aturan yang mereka miliki, bukan berarti, menanggalkan identitas diri dan bangsa. Dari dasar pemikiran inilah pemahaman lintas budaya mempunyai peran yang sangat besat. Pemahaman lintas budaya adalah perbedaan pemahaman yang dialami dialami seseorang dalam pembelajaran bahasa asing. Jadi persilangan tersebut terjadi antara budaya yang dalam bahasa sumber dan yang ada dalam bahasa sasaran pembelajar. Jika terjadi kesalahan pemahaman dalam berinteraksi, akibatnya akan menjadi fatal. Seperti misalnya pada saat perkenalan, jika yang satu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, tetapi yang lain akan membungkuk, apa jadinya? Dua orang yang baru akan memulai berinteraksi tersebut akan merasa malu dan ini akan menjadi suatu hambatan dalam menjalin komunikasi lebih lanjut.

Dalam kajian sosiolinguistik, terutama teori kedwibahasaan pengertian komunikasi lintas budaya dimaksudkan untuk memberikan penekanan bahwa adanya permasalahan komunikasi antar penutur yang beretnis tertentu dengan mitra tutur yang beretnis lain dan perbedaan etnis antara keduanya  mengakibatkan adanya julukan orang asing sebagai pembeda.

Untuk memahami komunikasi antar manusia yang berasal dari daerah yang  memiliki latar belakang budaya yang berbeda, hendaklah direnungkan lebih lanjut tentang perilaku komunikasi sehari-hari. Jika seseorang dihadapkan kepada orang yang berbeda (dalam hal perbedaan kelompok, ras, etnik, agama, atau perbedaan kelas), yang bersangkutan  melihat orang lain sebagai manusia yang berasal dari kelompok lain atau orang asing. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nababan (1991: 51) bahwa, kunci untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang bahasa adalah dengan mengikutkan atau memahami kebudayaan masyarakat penutur bahasa tersebut.

2. Hubungan antara Bahasa dengan Kebudayaan dalam Komunikasi Lintas Budaya

Istilah “kebudayaan” menurut Van Peursen (1988: 233) adalah suatu hasil karya dan merupakan tanggung jawab sipenciptanya, yaitu manusia itu sendiri. Dan kebudayaan dilukiskan secara fungsionil, sebagai relasi terhadap rencana hidup manusia dan nampak sebagai suatu proses belajar yang sedang dijalankan umat manusia, jadi perkembangan kebudayaan adalah hasil terlaksanaanya manusia itu sendiri. Konsep kebudayaan dalam arti luas adalah seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan hanya bisa dicetuskan sesudah melalui proses belajar. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, dan kebudayaan itu sendiri merupakan suatu keseluruhan sistem perangkat simbol yang terdiri atas pengetahuan, norma-norma, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, seni, adat-istiadat, kebiasaan, keterampilan, dan bahasa.

Jika dalam kontak pada suatu masyarakat yang sama terdapat lebih dari satu kebudayaan, maka kelompok yang satu harus bisa saling memahami satu dengan yang lain. Karena bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak mungkin menyebar dan dipandang sebagai sesuatu yang terpisah. Artinya, jika suatu kelompok ingin memahami dan mengadaptasikan dirinya dalam budaya lain yang sedang berada dalam konflik, maka harus memahami bahasa yang digunakan oleh kelompok yang memiliki budaya tersebut meskipun dengan variasi yang beragam. Perbedaan variasi ini pada hakikatnya menunjukkan perbedaan bahasa antar anggota masyarakat yang memiliki kebudayaan yang terpisah. Jadi, pada umumnya akan timbul dan berkembang dwibahasawan (orang yang menguasai dua bahasa) atau bahkan multibahasawan (orang yang menguasai lebih dari dua bahasa) dalam suatu lokasi yang berada dalam kontak budaya. Sebaliknya, dalam sistem kognisi individu dalam masyarakat tersebut terjadi kontak bahasa (Chaer dan Leonie Agustina, 1995:135)

Komunikasi lintas atau antarbudaya memang merupakan komunikasi yang rumit, bukan karena prosesnya, tetapi karena perbedaan dunia antara orang kita dengan orang asing yang terlibat dalam komunikasi tersebut.  Untuk menjembatani komunikasi lintas budaya, menurut Schramm (dalam Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, 1990: 19-21)  diperlukan empat prasyarat yaitu (1) menghormati anggota budaya lain sebagai manusia, (2) menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki, (3) menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak, dan (4) komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang budaya yang lain.

3. Komunikasi Lintas Budaya dalam Konsep Etos Kerja Masyarakat Jepang

Peran Komunikasi Lintas Budaya untuk upaya meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja masyarakat Jepang sangatlah besar. Dalam konteks Bahasa Jepang, hal tersebut tercermin dalam hal, diantaranya, yaitu, Manner atau Tata Cara dalam konteks komunikasi lintas budaya dan bagaimana cara mengolah perasaan dalam konteks komunikasi lintas budaya untuk meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja dalam masyarakat Jepang.

Yang dimaksud manner adalah upaya saling memahami dalam bertingkah laku untuk tidak membuat orang lain bertambah repot, bertambah susah, dan juga tidak menambah beban orang lain (常識的な心得joushiki na kokoro u). Hal ini wajib dilakukan dalam kehidupan keseharian masyarakat Jepang, bagi mereka hal ini bukanlah hal yang susah, karena konsep dasar pemikirannya adalah satu dengan yang lain berusaha untuk melaksanakan ‘aturan-aturan’ tersebut. Jadi, ada suatu pemikiran, jika dirinya tidak mau dibuat repot orang lain, maka dia tidak akan membuat kerepotan bagi orang lain (人に迷惑をかけないhito ni meiwaku o kakenai). Hal tersebut di atas terwujud dengan cara:

  • Menjaga ekspresi atau mimik raut muka agar tetap menyenangkan pada saat komunikasi baik verba atau pun non verba berlangsung (表情 hyoujou).
  • Menjaga perasaan, ungkapan, perkataan sesuai dengan aturan atau kebiasaan pada saat komunikasi baik verba atau pun non verba berlangsung (態度 taidou).
  • Menjaga perbuatan, perilaku sesuai dengan adat sopan santun pada saat komunikasi baik verba atau pun non verba berlangsung (動作 dousa).
  • Menjaga agar suasana tetap ‘hangat’ pada saat komunikasi berlangsung (身だしなみ midashi nami).

Untuk selanjutnya, bagaimana cara mengolah perasaan dalam konteks komunikasi lintas budaya untuk meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja dalam masyarakat Jepang. Hal tersebut, jika dikaji dari salah satu sistem tulisan yang dipakai dalam Bahasa Jepang, yakni 象形文字 shokei moji, sistem pembentukan kanji dengan cara meniru bentuk-bentuk bagian dari alam semesta. Jadi, kata yang berarti ‘orang’, ditulis dengan kanji   hito , terbentuk dari 2 coretan yang saling menopang pada kedua sisinya. Dari bentuk huruf tersebut, terkuak maksud, jika salah satu penopang tersebut diambil akan terjadi kepincangan, begitu juga manusia, dalam berkomunikasi perlu satu dengan yang lainnya saling menopang agar komunikasi tersebut berjalan dengan baik. Jadi, yang dinamakan hubungan atar kemanusiaan adalah saling bekerja sama, saling memahami, saling menghormati dalam segala bidang apa pun (Imaizumi; 1995:10).

Secara historis mengapa negara Jepang unggul daripada negara lain yang sama sama hancur pada saat perang dunia ke 2, mempunyai dasar dan alasan sebagai berikut.  Sebelum perang, negara Jepang sangat miskin, dan hidup dengan alam yang sangat ganas. Jika mereka tidak bekerja dengan keras, maka mereka tidak akan bisa bertahan hidup. Dua alasan tersebut menjadikan orang Jepang pekerja keras. Secara logika jika otak dipacu dengan keras agar bisa bertahan hidup, maka, perasaan naluri manusia sebagai dasar manusia akan ditinggalkan, hal tersebut terjadi karena tidak adanya keseimbangan yang bagus antara jiwa, perasaan dan otak. Kesemuanya itu berdampak pada kemunduran hebat bagi Negara Jepang. Masyarakat Jepang menyadari betul akan hal ini, karena sudah hampir terjadi pada sekitar tahun 80an, sebagai akibat mengabaikan keseimbangan antara jiwa, perasaan dan otak.

Berdasarkan hal tersebut di atas, orang Jepang membuat semacam pedoman tata cara berkomunikasi untuk meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja dalam masyarakat Jepang sesuai dengan pernyataan Imaizumi (1995:11), yakni ‘5 ungkapan perasan hati’ (日常の五心 nichojou no itsutsu kokoro), yaitu sebagai berikut:

  • 「はい」という素直な心 (’hai’ to iu soujiki na kokoro), mengucapkan “hai” yang berarti “ya”, merupakan ungkapan kepolosan hati pada saat merespon suatu pembicaraan pada saat komunikasi berlangsung.
  • 「すみません」という反省な心 (‘sumimasen’ to iu hansei na kokoro), mengucapkan “sumimasen” yang berarti “maaf”, merupakan ungkapan penyesalan hati pada saat komunikasi hasil dari intropeksi diri perenungan diri pada saat merespon suatu pembicaraan pada saat komunikasi berlangsung.
  • 「おかげさまで」という謙虚な心 (‘okage sama de’ to iu kenkyo na kokoro), mengucapkan “okage sama de” yang berarti “berkat doa anda semua”,  merupakan ungkapan kepasrahan hati dan kerendahan diri untuk lebih menghormat lawan bicara pada saat merespon perhatian yang diterima dari orang lain sewaktu komunikasi berlangsung.
  • 「私がします」という奉仕の心 (’watashi ga shimasu’ to iu houshi no kokoro) mengucapkan “watashi ga shimasu” yang berarti “saya yang akan mengerjakannya”, merupakan ungkapan ketulusan & keiklasan hati pada saat merespon setelah melakukan suatu perbuatan yang ditawarkan dari orang lain yang dianggapnya sebagai bentuk pelayanan.
  • 「ありがとうございます」という感謝の心 (’arigato gozaimasu’ to iu kansha no kokoro) mengucapkan “arigatou gozaimasu” yang berarti “terima kasih sebanyak-banyaknya”, merupakan ungkapan pernyataan terima kasih pada saat menerima sesuatu baik barang atau pun perlakuan dari orang lain.

Dalam konteks komunikasi lintas budaya untuk meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja dalam masyarakat Jepang ada suatu istilah, yakni 良い人間関係とはyoi ningen kankei to wa, yang dinamakan hubungan antara yang manusia yang harmonis ada beberapa panduan yang harus di pahami. Menurut Imaizumi (1995:15), panduan-panduan tersebut adalah sebagai berikut:

  • 自己と他者の区別を認職する (jibun to tasha no kubetsu o ninshiki suru) dalam berkomunikasi, harus ada kesadaran bahwa diri pribadinya berbeda dengan pribadi orang lain. Dengan adanya pemikiran ini diharapkan tidak menunutut yang berlebihan dengan cara membandingkan diri sendiri dan orang lain.
  • 相手にも五分の理を認める (aite ni mo gobu no ri o mitomeru) dengan saling memahami satu dengan yang lain, orang akan sadar baik pada kekurangan diri mau pun pada kemampuan orang lain. Dengan begitu bisa belajar dari orang lain pada sisi baiknya.  
  • 相手を重視する  (aite o juushi suru) menghargai pihak lawan. Dengan saling menghargai, saling memberi perhatian akan lebih mempertinggi kualitas komunikasi.
  • 相手の立場に身に置く(aite no tachiba ni mi ni oku) dengan cara selalu meletakan diri sendiri pada posisi pihak lawan, akan lebih mudah menyelami kondisi lawan. Dengan begitu diri kita lebih mudah memperbaiki diri sendiri dengan cara mempelajari kekurangan pada pihak lawan, karena hal-hal berupa masalah yang tadinya tidak tampak, akan tampak jika kita melihat diri orang lain, jadi kita lebih bisa instropeksi diri.

Panduan-panduan di atas pada dasarnya seseorang diharapkan banyak mempelajari diri sendiri, merendahkan hati, agar bisa lebih menghormat lawan bicara pada saat komunikasi berlangsung. Dengan begitu, rasa saling menghargai dari kedua belah pihak akan muncul secara alami. Inilah yang dinamakan keharmonisan dalam berkomunikasi.

4. Penutup

Adapepatah 郷に入れば郷に従えGou ni haireba gou ni shitagae, yang berarti jika masuk ke suatu desa, patuhilah aturan dalam desa itu, dengan tanpa menanggalkan identitas diri dan bangsa. Dari dasar pemikiran inilah pemahaman lintas budaya mempunyai peran yang sangat besat. Jadi persilangan tersebut terjadi antara budaya yang dalam bahasa sumber dan yang ada dalam bahasa sasaran pembelajar. Dalam kajian sosiolinguistik, terutama teori kedwibahasaan pengertian komunikasi lintas budaya dimaksudkan untuk memberikan penekanan bahwa adanya permasalahan komunikasi antar penutur yang beretnis tertentu dengan mitra tutur yang beretnis lain dan perbedaan etnis antara keduanya  mengakibatkan perbedaan yang cukup signifikan.

Untuk memahami komunikasi antar manusia yang berasal dari daerah yang  memiliki latar belakang budaya yang berbeda, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan. Diantaranya yaitu manner adalah upaya saling memahami dalam bertingkah laku untuk tidak menambah beban orang lain. Dengan cara: Menjaga ekspresi atau mimik raut muka agar tetap menyenangkan, menjaga perasaan, ungkapan, perkataan sesuai dengan aturan atau kebiasaan, menjaga perbuatan, perilaku sesuai dengan adat sopan santun, menjaga agar suasana tetap ‘hangat’ pada saat komunikasi berlangsung. Selain itu ada ‘5 ungkapan perasan hati’, yang merupakan ungkapan-ungkapan yang pada dasarnya merendahkan diri sendiri untuk menghormat lawan bicara agar komunikasi dapat berjalan dengan baik. Jika dalam komunitas yang kecil komunikasi bisa terjalin dengan baik, maka dalam komunitas besar pun tidak timbul masalah. Beberapa panduan-panduan yang telah disebut di atas, sangat berperanan besar sekali meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja masyarakat Jepang

6. Kepustakaan

 Alwasilah,  A. Chaedar. 1986. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: suatu Pengantar.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hasegawa, Katsuyuki. 1998. Rules of the Japanese.Tokyo: YAC Planning, Inc.

Imaizumi, Shigeko. 1995. ビジネスマナーBijinesu mana.Tokyo:Tokyo Horei Shuppan

Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. 1990. Komunikasi antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nababan, P.W.J.1991. Sosiolinguistik: suatu  Pengantar.  Jakarta: Gramedia.

Bellah, Robert. 1992. Religi Tokugawa Akar-Akar kebudayaan Jepang. Jakarta:  Gramedia Pustaka Utama.

Benedict. 1970. Pedang Samurai dan Bunga Seruni. Pamudji, penerjemah.  Tokyo: The Charles E. Tuttle Company.

Van Peursen, C.A.1988. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Pernah dimuat dalam Kumpulan Artikel Kejepangan (Pusat Kajian Jepang-UNESA, November 2006

One thought on “Peran Komunikasi Lintas Budaya untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Budaya Etos Kerja Masyarakat Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s