Gallery

Getar Cinta Dalam Tautan Awan

Jikalau cinta berada di awan dan melangit saja bisa kuat, apalagi jika berada di tanah dan membumi, jelas semakin kokoh. Itu buah pikir Putri, begitu selesai mengikuti kursus ikebana khusus orang asing.

Ada unsur ten, jin, chi yang bermakna langit, manusia dan bumi. Ketiganya harus berkolaborasi untuk menyampaikan suatu getar keindahan pada penikmatnya. Keindahan itu tercipta dari kesunyian, ditandai adanya ruang yang muncul diantara batang ranting, bunga, dan sedikit dedaunan.

“wowww,…begitu agungnya getar keindahan itu, tak ubahnya sebuah getar cinta yang tercipta dari kesunyian relung hati”. Renung Putri sambil mengayuhkan sepedanya.

Sesampainya di rumah, sebuah apartemen sederhana, atau lebih tepatnya sebuah kamar, langsung dinyalakannya note-book, mencari-cari kabar dari kekasihnya di tanah air. Putri selalu membayangkan rumahnya kandang kelinci, seperti yang pernah dibikinnya waktu SMA. Yang membedakan, hanyalah seperangkat peralatan elektronik, untuk membantu kesehariannya, terutama saat musim dingin.  Dengan peralatan itu, Putri menghangatkan makanan tanpa nyalakan api, cebok dengan toilet duduk yang bisa semprotkan air hangat, dan bisa tidur di kasur beralirkan listrik.

Dari semua itu, ada satu yang tidak bisa lepas dari kehidupan Putri, sebuah note book, yang setiap saat menjadi alat pentransfer rasa kangen pada kekasihnya. Putri selalu menyiram, memupuk cintanya agar tumbuh subur dari dasar bumi. Cinta itu mengalir dalam hati seorang anak manusia dan selalu dititipkan pada awan berarak di langit biru.

Hari ini ada teguran

“kok kangen terus sama aku….apa stok kangenmu masih banyak?” tanya Putri

“Pasti gudang kangenmu gede, bisa tulari aku yang semestinya gak kangen” pikir Putri

Hari ini ada belaian

“aku kok ngantuk ya,….boleh sandar di lenganmu gak?” rajuk Putri

“Pasti lenganmu kokoh, aku bisa tertidur pulas walau dalam duduk” angan Putri

Hari ini ada pujian

“aku kok bingung  ya,….bisa gak bikin kepalaku jadi dingin?” harap Putri

“Pasti hatimu kayak kulkas, hatiku bisa adem walau cuaca panas” puji Putri

Dan itu semua, betul-betul hanya diawang-awang, karena sewaktu tsunami datang diiringi sirene yang meraung-raung, Putri tak sempat meraih note booknya.

Putri hanya diam termenung, di tempat penampungan yang sama sekali tak familier baginya. Dan Putri yakin pada getar cinta dalam kebisuannya kali ini, sanggup hasilkan energi lebihi gelombangtsunami.

Pada saat bersamaan di seberang lautan,…sang kekasih menerima telepon.

“Selamat malam pak, disaku seorang gadis korban gempa-tsunami kami ditemukan secarik kertas bertuliskan nama dan nomer telpon ini”.

Seakan napas itu tercekat setelah telepon dari KBRI Tokyo itu ditutupnya dengan perlahan.

*Tak ada yang tak berbekas, tak terkecuali coretan yang kembali pada “Rindu dan Kehilangan”   Terinspirasi peristiwa Tsunami-Gempa bumi Jepang Utara 東日本大震災, 11032011, 15:10pm.  by Paras Tuti on Saturday, July 16, 2011 at 10:41am *My Notes FB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s