Gallery

…ku rasakan semakin “tuli”…

Negara ini begitu sunyinya,..

Sehingga aku rasakan sejak injakan kaki kali pertama sampai saat ini, semakin lama kadar ketulian kupingku semakin bertambah.

Negara ini begitu heningnya,..

Bisa bayangin ga orang yang rajin menyapaku “Ohayo !!”, pergi begitu aja tanpa ada tanda-tanda yang bisa aku baca. Hampir tiap pagi, Ojiisan menyapa kami. Saat dia ambil koran. Saat dia pergi belanja sendiri,  naik sepeda dengan sehatnya dan selalu terlihat gembira.

Dan seakan kami merasa dekat, walau hanya bertegur sapa sebatas salam. Ini salah satu tanda, betapa sempitnya ruang hidup mereka,…karena semua gerak gerik Ojiisan itu bisa tertangkap oleh mataku.

Negara ini begitu sepinya,..

Tersadar Ojiisan udah pergi. Pada saat itu secara kebetulan aku liat dari balik kaca rumah, beberapa orang turun mobil tuk membawa kota kecil tempat abu. Ternyata, itu abu Ojiisan. 3 minggu lalu ambruk, 2 hari lalu meninggal, pagi tadi diperabukan dalam usia kira-kira 85 thn.

Rumah kami hanya berjarak 5 meter,… tapi sayang, aku tak mendengar apa pun suara, baik dari rumah itu maupun dari sekeliling para tetangga.

…bener-bener, Sunyi, Hening dan Sepi…

*dalam balutan Topan No12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s