Bagaimana Caraku Berdoa

Tuhan,

Beri kami ketajaman

Tuk merasakan tanda tanda doa kami berterima

Saat kumandangkan asma

Tuhan,

Tuntun kami dalam kesadaran

Tuk merasakan sinyal sinyal doa kami terhantar

Saat hati ini bergetar

Tuhan,

Ajari kami membentuk kekuatan

Tuk tak henti merindu akan hadir MU

Saat menganyam bulir bulir rindu

Tuhan,

Terangi hati ini dalam kelembutan

Tuk terus merasakan damai hati menghalau galau

Saat hati ini meleng dari Mu

Tuhan,

Bagaimana caraku berdoa

Pada ketajaman, kesadaran, kekuatan, kelembutan akan hati ini

Kuyakini,….semuanya bekenan olehMu

Foto koleksi pribadi
Ketintang, 2015 Juli 02

CLBK

Ini obrolan obrolan teman lama yang keluar di beberapa grup sosmed semalem. Berbagai pengakuan-pengakuan yang selama ini terpendam menguar begitu saja dalam balutan guyonan-guyonan santai menyegarkan. Ya,..terpendam hampir mendekati sepertiga abad. Hehe,…kadang memang perlu Cerita-cerita Lama Belum Kelar (CLBK) ini dijadikan suatu selingan hidup kita yang secara tak sadar telah menciptakan dunia sendiri yang terkadang menyeret dalam rutinitas kebosanan hidup.

Cerita-cerita itu tak luput dari cerita cerita cinta yang bikin penasaran, bikin geli, bikin senyum kita mengembang bebas. Kenapa begitu? Karena usia hampir tengah abad ini pun tak pernah surut dengan permasalahan cinta.
Kadang pengen ngerti aja, seberapa jauh kekuatan cinta itu.
Kadang bingung aja, dengan yang namanya cinta.
Kadang penasaran aja, bagaimana cinta itu bisa teraba.

Cerita Lawas Bangkitkan Kenangan (CLBK)
Yang satu bicara bahwa cintanya pada seorang cowok sebangku kuliah, bukan cinta PERTAMAnya tapi cinta HARAPANnya. Dan terbukti dengan cinta yang dia pegang rapi itu, membawanya ke berbagai realita, tanda harapan itu berubah wujud menjadi kenyataan. Dan cinta HARAPANnya ini terespon dengan senyum bijak sang suami pendamping hidupnya sampai sekarang.

Cinta Lima belas tahunan Bekukan Kenangan (CLBK)
Yang satu lagi cerita bicara bahwa cintanya masih utuh belum terurai sama sekali. Dan dia berniat tuk biarkan terpendam sampai akhir hayatnya. Dirinya tersadar akhir-akhir ini setelah melewati perkawinan jelang seperempat abad, bahwa cintanya hanya pada seorang itu. Dan tumbuh subur sejak usia lima belas tahunan dan tak pernah mati. Dia biarkan membeku tanpa berniat mencairkannya, karena dia sangat hormat pada orang-orang sekelilingnya, terutama dengan sang suami pendamping hidupnya yang selalu menjadi pelindungnya.

Cinta Lama Belum Kelar (CLBK)
Yang satunya lagi juga cerita. Ada juga seorang cowok menaksir adik kelas jaman kuliah. Bagaimana bisa tersambungkan walaupun puluhan tahun tak tersambung? Eeehh.. ternyata sosmed pegang peranan, Dengan begitu sampai sekarang masih juga pesan itu mengalir terkirim, walaupun sekedar  berbunyi, “Apa Kabar?” dan si cewek dengan santainya hanya menjawab sesuai dengan kebutuhan, “Baik baik saja”, tanpa mencoba menanyakan kembali kabar lawannya.

Bagaimana cerita-cerita dirimu terawali dan terakhiri? Semua bermula diri sendiri yang pegang peranan, dan mau tidak mau harus disadari, semuanya akan berefek pada orang sekeliling dimana diri ini hidup. Sampai kapan cerita cintamu terpendam dan terurai adalah diri sendiri yang merasakan. Dan bagaimana cerita cintamu menjadi inspirasi bagi semua orang, hal itu adalah suatu kebijakan dari diri sendiri juga.

Kewajiban senyum dan Keharusan Senyum Bagi Orang Jepang dan Orang Indonesia

Sekilas dua kata ini, kata ‘wajib’ dan ‘ harus’, bisa dikatakan sama arti, tetapi bisa juga dikatakan beda pada nuansa bahasanya, dikarenakan konteks yang beda. 

Coba buka KBBI. Kosa kata ‘wajib’, artinya: mempunyai kewajiban; bertanggung jawab; mempunyai tanggung jawab. Kosa kata ‘harus’, miliki arti sesuatu yang harus dilakukan atau yang mesti terjadi.

Kalau kedua kata tersebut digabung dengan kata ‘senyum’ ditambah lagi berdasarkan konteks cara pikir orang Jepang dan cara pikir orang Indonesia, apa ‘rasa bahasa’nya berubah ya…. Okeey, pembaca,…kali ini saya coba sedikit menguraikannya.

Dalam nuansa sosial masyarakat Jepang, ‘senyum’ itu sebuah keharusan, saat orang sedang bekerja baik dalam bidang pelayanan publik atau pun dalam bidang pelayanan yang ada hubungannya dengan hiburan. Mengapa begitu? Ada aturan yang yang bersangkutan dengan kata pelayanan, yang mengandung arti ramah dan senyum.

Karena berdasarkan aturan, jadi jika tidak ada dalam lingkar peraturan itu, hilanglah senyum itu. Dalam peraturan itu tertulis, jika sedang bekerja harus melayani dengan dengan baik dan harus senyum dengan baik. Oleh karenanya harga sebuah pelayanan di Jepang ini mahalnya setengah mati. Harga yang kita bayarkan waktu makan, itu sudah termasuk harga senyum itu. Dan pajak yang kita bayarkan itu termasuk senyum yang kita dapatkan, saat mengurus segala sesuatu untuk urusan hidup jangka panjang hidup di Jepang ini. jadi, wajar banget, kalau kita kita dapatkan layanan yang ramah dan penuh senyum.

Apakah semua orang Jepang, melakukan pelayanan dengan keramahan disertai senyum? Tidak juga. Wongnamanya aja manusia, ada juga yang tidak seperti itu. Hal itu tidak akan dialami atau ditemui orang-orang yang berkunjung hanya sementara saja di negara ini. Kenapa begitu? Karena orang yang datang sebagai wisatawan atau pun tinggal jangka pendek, belum tentu punya kesempatan untuk perhatikan hal tersebut. Dan yang lebih penting lagi, mereka tidak merasakan membayar pajak yang cukup mencekik apalagi bagi pelajar asing.

Jadi bisa dibayangkan, jika orang-orang Jepang itu tidak memahami aturan dalam kerja ini. Pasti kayak robot aja. Mengucapkan salam dengan sekenanya. Tersenyum dengan terpaksa dlsb. Tetapi, ga pa pa, ternyata mereka juga masih sewajarnya manusia,….legaaa.

Sedangkan dalam nuansa sosial masyarakat Indonesia yang dikenal dengan ramah tamah dan senyum manisnya, ‘senyum’ itu sebuah kewajiban. Adanya suatu kesadaran bahwa ramah tamah dan senyum itu ada hubungannya dengan suatu keikhlasan dan ketulusan. Dalam segala situasi, jika berhadapan (berinteraksi) dengan seseorang untuk menjaga hubungan kemanusiaan, ada kewajiban untuk ramah, didasari dengan ikhas 

Jadi alangkah indahnya orang-orang Indonesia, yang sejak dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah dan murah senyum ini bekerja dengan penuh senyum. Tidaklah diperlukan suatu peraturan yang tertulis. Karena dasarnya kita memiliki senyum yang tulus itu. Karena, menunjukkan keramahan dan senyum saat bekerja adalah suatu kewajiban sebagai manusia. 

Memang akan lebih baik lagi, jika pelayanan itu diimbangi dengan upah yang cukup. Dengan begitu bisa konsen bekerja yang ditandai dengan pelayanan yang baik dan senyum yang renyah. Dan alangkah indahnya Indonesiaku, pastilah akan menjadi lebih harum, jika segala pelayanan disertai dengan senyum yang mengembang.

Dengan begitu bisa dipastikan, karena pelayanan yang baik menjadi cikal bakal Negara yang besar. Dan Negara kita akan menjadi lebih baik dibandingkan dengan Negara mana pun juga, karena kita miliki senyum yang hangat, senyum yang manis, dan penuh persahabatan.

 

 

Siapa Bilang, Indonesia tidak Lebih Maju dari Jepang

Pembaca yang budiman, maaf kalau terkecoh dengan judul. Ini hanya uneg-uneg penulis sehubungan dengan fasilitas akses internet selama hidup sementara di Jepang. Sekali lagi, tulisan ini juga atas dasar pengalaman seorang yang sudah tidak muda lagi, tetapi masih ngeyel untuk bisa studi di Negara orang lain.

Baru saja salah satu stasiun TV menayangkan acara, pengambilan angket tentang kesulitan apa yang dirasakan oleh turis mancanegara ketika berwisata di Tokyo dan sekitarnya. Jawabannya adalah akses internet. Ya! Tidak setiap tempat internet itu bisa terakses, walaupun di pusat-pusat keramaian. Acara TV ini berkaitan dengan persiapan Jepang sebagai tuan rumah menghadapi Olimpic mendatang

Hal tersebut, senada dengan pengalaman penulis saat ini. Di Universitas tempat studi, jika ingin mengakses di luar tempat yang sudah ditentukan, harus mendapatkan password khusus terlebih dahulu. Dan terus terang wegah banget untuk mengurusinya.

Pengalaman yang lain, pada tahun 2006, penulis pernah traning selama 2 bulan. Di Tempat training itu hanya ada satu ruangan saja yang bisa akses internet selain di perpustakaan. Padahal di Indonesia waktu itu, Wartel sudah menjamur.

Sekarang di tahun 2014, penulis hanya mengenal laptop dan PC dengan sambungan internet pakai kabel saja. Jadi, sampai sekarang, tidak kenal dengan yang namanya smartphone dengan fasilitas WA, Line, BB dlsb. Karena apa? Karena HP yang dimiliki tidak bisa di-setting internet. Harus ganti pesawat, harus berlangganan internet. Dengan begitu harus mengeluarkan biaya ekstra sedikitnya 600.000rb rup per bulan. Belum lagi ganti pesawat yang notabene harus belajar lagi cara penggunaannya.

Yang penulis tahu, HP di sini, tidak diisi pulsa, tetapi sudah langsung bikin perjanjian dengan satu perusahaan telpon. Waktu yang diperlukan untuk pengurusan agar bisa pegang HP ini makan waktu seharian. Entahlah apa istilahnya, sampai sekarang pun menggunakannya hampir 7 tahun ya, gak mudeng juga.

Yang paling menyakitkan hati adalah, saat kita mau putuskan perjanjian, terkena biaya pemutusan sekitar 1,5 jt rup. Mengapa begitu? Karena masa perjanjian yang diperbaharui secara otomatis itu, masanya hanya per 2 tahunan. Jika kita pulang ke tanah air atau memutuskan perjanjian tidak tepat pada tenggat waktunya, harus bayar!! Walaupun kita adalah pemakai setianya, tidak pernah pindah ke lain hati. Tapi, kali ini kasusnya penulis mau pulang ke Tanah air, bukan pindah ke lain hati, tapi ya terkena juga jika akan memutusnya. Ribet khan? Dan kesannya sangat kaku tidak bersahabat.

Jadi bisa bayangkan betapa keribetan-keribetan yang dulunya waktu di Surabaya, jika ada sesuatu yang menyangkut dengan PC, misalnya, tinggal njawil mahasiswa atau saudara atau tetangga yang paham piranti ini, untuk sekedarmijetin computer. Selama hidup di Nagoya, hal seperti itu tidak bisa penulis dapatkan dengan mudah.

Mengapa begitu? Kondisi tempat dan bidang ilmu yang ditekuni sangat berpengaruh. Jika universitas tempat studi, sedikit sekali orang Indonesia yang bisa dimintai tolong ditambah juga bidang ilmu yang ditekuni jauh dari IT, tidak mudah untuk bisa merawat piranti yang vital bagi orang yang sedang studi. Belum lagi kalau bidang studinya memerlukan keyboard dengan tuts huruf Jepang untuk menunjang kecepatan dan ketepatan menulis thesis. Maksudnya, tidak setiap teman Indonesia yang bisa dimintai tolong ini, paham juga dengan tulisan-tulisan yang keluar dari layar monitor ini (karena Japanese ver). Wajar saja, karena tulisannya semua kayak cacing kepanasan.

Jadi begitu piranti itu ngadat, runtuhlah dunia ini. jika masih ada garansi, untuk dikembalikan lagi ke tokonya, perlu waktu sekitar 1-2 bulan. Jika sudah habis masa garansi, tinggal menunggu kesempatan dibawa pulang ke Surabaya. Sudah berapa biji saja yang sudah dibawa, baik itu yang rusak atau terlanjur beli tapi merasa semakin tidak praktis dalam penggunaan.

Dalam hal ini, penulis merasakan hidup sangat tertinggal dengan teman-teman yang ada di tanah air. Walaupun dikatakan bertempat tinggal yang serba berteknologi tinggi. Tetapi jika tidak didukung pengetahuan, ya apalah artinya. Oleh karenanya, penulis pesan, bawalah pengetahuan tentang IT ini sebanyak-banyaknya, jika akan studi ke sini. Karena tidak sebanyak orang Indonesia yang paham IT, walaupun bukan bidangnya. Di Jepang, hanya orang-orang yang yang memang disiplin ilmunya pada IT saja yang paham. Karena itu biaya maintenance dan service piranti ini mahal setengah mati.

Satu hal yang bisa digaris bawahi. Negara besar dengan teknologi canggih, seperti Jepang ini, jika kita hidup jauh dari pusat wisata dan dan pusat bisnis, kita hanya terima fasilitas standart yang ada di seluruh Negara. Misalnya, Universitas tempat studi ada di pucuk gunung, istilahnya secara jarak tempuh hanya beberapa puluh km saja jaraknya, dari pusat kota, hanya fasilitas standart saja yang ada. Walaupun dikatakan fasilitas itu sangat jauh modern dari fasilitas yang ada di tanah air, tetap saja tidak bisa kita gunakan secara maksimal sesuai dengan kebutuhan kita pribadi.

Yang menjadi pembeda adalah, Indonesia sangat sporadis dalam fasilitas yang berbau teknologi ini. Sedangkan Jepang tingkat keseragamannya tinggi. Di Indonesia, jika suatu tempat bisa dijangkau dengan IT, bisa dipastikan, tempat itu akan jauh lebih maju daripada Jepang. Sedangkan di Jepang, ada unsur keseragaman yang tidak mengenal tempat. Baik di desa atau pun di kota besar. Dan satu lagi “dinding” di Jepang ini sangat tinggi dan tebal. Mereka sengaja membuat dinding itu, terutama dalam menghadapi orang asing, dalam bidang apa pun.

Jadi, siapa bilang Indonesia tertinggal dari Jepang? Karena pada kenyataannya, akses internet itu sangat mudah, hanya mengeluarkan puluhan ribu rupiah saja, sudah bisa mengaksesnya.

*Sekali lagi, tulisan ini hanya dari kacamata pengalaman penulis. Di lain tempat, lain individu, mungkin merasakan hal yang beda.

Semakin Tinggi Usia, Semakin Bergelora

“Kami adalah sekelompok manusia penuh semangat yang tak pernah mengenal kata TUA” 「老い知らない元気もの」baca: Oi shiranai genki mono. Ini adalah cuplikan bait terakhir dari lagu mars sebuah komunitas di sebuah kota kecil di Jepang Tengah.

Belajar tak mengenal usia. Usia tinggi, bukanlah hambatan. Pembelajaran sepanjang usia. Kata-kata itu rasanya sudah ratusan kali bertebaran di kepala penulis. Tetapi, entah mengapa kata-kata itu terasa sangat melekat di kepala penulis pada suatu siang di penghujung akhir musim panas ini.

Apa yang dilakukan orang-orang Jepang tatkala memasuki masa usia lanjut? Kemarin penulis mendapatkan pengalaman langka sehubungan dengan kesempatan berbicara tentang Indonesia di depan banyak orang Jepang. Kenapa penulis katakan langka? Betapa tidak, penulis yang usianya, beberapa tahun kedepan masuk setengah abad ini, kemarin dalam sebuah ruangan berisi 50 orang, penulis adalah yang termuda.

Sempat terhenyak dibuatnya. Begitu masuk ruangan, terlihat para member dari komunitas ini yang sedang persiapkan acara sebuah seminar. Ada yang siapkan proyektor, terima tamu, latihan gitar untuk iringi lagu mars, mengatur meja kursi, semua dikerjakan sendiri oleh mereka. Semua orang bergerak tidak ada yang diam. Dan,….semuanya berambut silver, kerut menghiasi wajah mereka. Bahkan banyak yang tertatih-tatih dengan tongkatnya berjalan mondar-mandir. Penulis perkirakan usia mereka rata-rata sekitar 70-90tahun. Katanya di kelompok ini, yang paling tua berusia 91 tahun. 

spanduk

Slogan yang tertulis di spanduk (koleksi pribadi)

Slogan yang tertulis itu adalah: 「地名 chimei  から kara  歴史文化を rekishi bunka wo  楽しむ tanoshimu」artinya: “Menikmati dengan cara menelusuri budaya dan sejarah dari nama sebuah tempat”. Komunitas mereka adalah perkumpulan sekelompok orang yang tertarik pada nama sebuah tempat beserta nilai historisnya. Anggotanya seluruhnya ada 200 orang. Yang penulis datangi adalah cabang di kota Ogaki. Propinsi Gifu, arah barat dari Nagoya, sekitar 1,5 jam ditempuh mobil.

peta

Salinan sebuah peta kuno (koleksi pribadi)

Apa sih yang mereka kerjakan, sepertinya semuanya semua yang hadir sangat menikmatinya. Satu bulan sekali mereka itu bergantian presentasi, melaporkan apa-apa yang sudah mereka kunjungi dan mereka teliti tentang nama sebuah tempat. Jadi yang sangat suka memelototi peta, mencari tahu cerita legenda yang bersangkutan dengan tempat tertentu beserta nilai historisnya, misalnya mengapa ada perubahan nama pada suatu tempat, sepertinya pas sekali kalau mau bergabung dengan komunitas ini.

Sebagian dari mereka adalah orang yang tidak pernah tinggal diam, selalu melakukan perjalanan. Walaupun hanya ke kota tetangga. Dalam perjalannya, jika mereka mendapatkan suatu info akan dituliskan dengan format sederhana, tidak perlu dhakik-dhakik dan dipersentasikannya, pasti akan mendapat perhatian dari anggota yang lain. Dan sekali dalam setahun ada pertemuan tingkat nasional dari seluruh daerah di Jepang.

Rasa saling menghargai ini yang membuat mereka menikmatinya. Dan inilah cara mereka bergaul dan berinteraksi. Setelah pensiun, setelah anak-anaknya mandiri, sisa hidupnya mereka isi dengan cara seperti ini, agar masih bisa untuk berguna bagi orang lain. Dan itu sesuai dengan lagu mars yang selalu dinyanyikan setiap awal pertemuan. Menurut mereka, sesuatu yang digali, akan terus muncul sesuatu yang menarik hati. Jadi begitu asal usul nama sebuah nama tempat tertemukan, pasti akan muncul hal-hal yang menarik lainnya. Sebagian dari mereka adalah dulunya pegawai yang banyak mendapat tugas ke luar negeri, seorang pengajar dan pegawai negeri pemerintahan.

ngantuk

Suasana saat acara berlangsung (koleksi pribadi)

Sempat penulis perhatikan, mungkin karena usia, banyak juga yang tertidur dan tergagap-gagap kembali untuk berusaha menyimak yang sedang didiskusikan. Bawa minuman sudah pasti, karena konsumsi tidak bakal ada (silakan perhatikan gambar dalam foto). 

Selain penulis, ada 2 orang lainnya yang menjadi pembicara pada hari itu dan seorang member sesepuh pemberi wejangan. Pembicara pertama sekitar 85 tahun, kedua 80 tahun dan yang memberikan wejangan 88 tahun. Karena terkena stroke, bicara dan berjalannya tidak lancar, tetapi ulasan dan wejangannya luar biasa.

Apa sih yang mereka dapatkan dari hal seperti ini? Toh mereka harus keluarkan uang tuk iuran, makan siang bersama, mengadakan suatu perjalanan baik luar negeri atau pun dalam negeri. Mereka membutuhkan wadah tuk berinteraksi yang diakui oleh masyarakat sosial. Mereka mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menebus sebuah wadah, tempat dirinya beraktualisasi. Komunitas ini, bukan bergiatan untuk memberikan suatu perlakuan secara langsung, misal seperti komunitas pemerhati mahasiswa asing. Tetapi mereka lebih pada aktivitas melatih kinerja otak pada masa akhir hidupnya.

Orang yang merasa tidak begitu pandai menata diri saat interaksi sosial secasa langsung, mengikuti komunitas semacam ini sangat dianjurkan. Mereka akan puas jika hasil dari sebuah  perjalanannya terwujud menjadi sebuah buku, walau hanya sebatas pada konsumsi kalayak mereka sendiri. Sedikit dan kecil itu bukan masalah, tetapi beraktualisasi diri dalam usia yang tinggi ini otomatis berwujud menjadi semangat yang besar pada masa akhir hidupnya.

Ini adalah gambaran kegiatan para warga senior penduduk di kota Ogaki, Jepang Tengah. Tidak semua melakukan hal-hal yang menurut khalayak ramai ini positip. Banyak juga yang bergiatan menghabiskan waktu masa tuanya dengan kegiatan yang lain. Simak dalam tulisan: Begitu Susahkah Mereka Menjalin Pertemanan?